Hujan yang Mengingatkanku

Maz
Karya Maz  Kategori Renungan
dipublikasikan 15 April 2017
Hujan yang Mengingatkanku

Hari ini

Ketika kubuka jendela, kurasakan hawa dingin membiusku pelan. Angin yang menghembus tepat di wajahku, menyentuh halus kulitku. Rupanya langit sedang berduka. Dan jelas saja selang beberapa detik, udara menjelma menjadi titik-titik kecil. Sedingin es, sehangat memeoriku yang kembali terbayang.

Dan tiba juga akhirnya. Hujan mulai bernyanyi perlahan-lahan dan semakin deras derainya. Tiada tanda ia akan berhenti, mungkin hingga malam bahkan esok pagi. Dan lucunya, aku tidak ingin ia berhenti dan berakhir.

Kenapa?

Ada sebersit kenangan yang selalu kurindu dan kunanti. Hujan selalu mengingatkan akan masa kecilku. Ia membawaku ke masa yang tidak bisa kulupa juga tidak ingin kuingat selalu.

Ketika ku kecil, aku selalu berlari dari teman-temanku dan semua hal tentang sekolah yang seperti penjara kebebasan bagiku, hanya untuk segera pulang. Tak kutahu di mana mesti bersembunyi, kecuali kulihat dirimu-tempat teraman juga terbaik yang pernah kumiliki, disampingmu. Kurasakan kebahagiaan mengelilingiku seketika, dan aku juga bisa melupakan segala hiruk-pikuk dunia yang begitu kejam.. 

Ketika kau memelukku, aku bisa merasakan kehangatan setiap hari, aku merasa begitu dekat dan aku tidak lagi merasa sendiri di dunia ini. Namun ketika kau jauh, aku merasa tidak ada yang ingin melihatku, tak tahu ke mana arah yang kutuju, mana tangisan dan mana tawa, dan dunia seperti mengolok-olok dan memalukanku, tak tahu di mana ku harus sembunyikan sedihku dan rasa takutku, aku juga tidak mengerti apa yang terjadi di dunia ini. Ketika kau lihat aku seperti itu, kau hanya memegangku erat dan berkata, "Jangan takut, Aku akan selalu ada di sisimu". Begitu menyentuh dan menenangkan batinku hingga ku tertidur pulas dan melupakan segala rasa gundah di hatiku.

Sejak kau meninggalkanku, yang kau bilang kala itu hanya pergi sementara, aku hanya diam saja dan mengangguk percaya. Namun kau tak jua datang, dan aku akhirnya menyadari kau telah pergi selamanya dan ya, tak akan pernah kembali ke dunia ini.

Mimpi buruk itu datang lagi, dan aku tak tahu lagi apa yang ada di pikiranku. Kau mungkin berpikir aku seperti gadis kecil yang menangis di dalam kamar. Percayalah, aku ingin sekali menangis, tapi air mata ini seperti tidak ingin berbicara dan ia seperti enggan jatuh dari mataku. Kau tahu yang lebih menyakitkan, hatiku tak pernah berhenti menangis sejak kau tak ada lagi di sisiku.

Kadang aku lupa kau tak ada lagi di sini, namun aku berpura-pura kau masih ada, bisa sedikit mengurai kesedihanku kupikir. 

Aku selalu merindukan hujan seperti ini. Seperti kembali membawaku ke masa itu, meski kadang ia hanya berputar-putar di kepalaku dan membuat pikiranku kosong.

Aku begitu bahagia ketika hujan seperti ini datang tapi juga benci ketika ia berhenti. Seperti kutemukan kebahagiaanku kembali hanya untuk melihat ia pergi lagi dan lagi.

Sumber gambar Bag

  • view 71