Rindu tak berujung

May nurul hasana
Karya May nurul hasana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Januari 2018
Rindu tak berujung

                                            Rindu tak berujung

derasnya hujan, menaungi kalbu. Kelabu sendu ciptakan tangis yang pilu. Riak gemericik hujan, seolah tahu hati sang pemilik rindu tengah pilu. Terdengar isakan menyayat hati yang membuat siapapun akan meringis pilu. Gadis sendu itu tengah menatap sayu jendela,seakan membiarkan hati kosongnya terisi. 

Dan kini, isakan itu mereda.tergantikan oleh linangan hujan buatan yang manusia sebut air mata. Kaca tipis di selaput matanya, rengkah, pecah sudah. Membuat genangan itu membasahi pipi merona gadis cantik nan jelita itu. 

Diamnya seolah mengisyaratkan bahwa ia amat terluka .terduduk seorang diri di kursi kayu yang mana adalah penghias kamar si gadis sendu. Ruangan itu tampak hampa. Seolah ia paham, bahwa sang majikanpun sama. 

Gadis itu tengah termangu,menatap asiknya hujan diluar sana menari ria. Menyuguhkan orkestra tuhan yang amat indah. Seolah lepas dari segala duka. 

Nirmala, gadis cantik yang sangat kentara darah arabnya. Hidung yang mencuat dengan indah, mata tajam yang mempesona, rahang tirus yang cantik, serta kulit putih layaknya salju. Gadis sendu bernama nirmala itu kini duduk memeluk kedua kakinya. Matanya terlihat sembab. Namun isakan dan tangisnya mereda sudah. 

Rindu itu lagi. 

Kerinduan beriring penyesalan yang terus menerus menghantuinya. Andai saja ia dapat memutar waktu. Segalanya akan berjalan lebih indah. Tak sekejam takdir yang menaungi gelap hidupnya kini. 

Dan kini kepingan memori itu berputar lagi. Bagai kaset rusak yang terus berpusing. Membuatnya ingin menghantamkan kepalanya ke dinding segera. Bayangan saat ia berjalan pulang ke rumahnya, namun banyak terdapat jiran tetangga berdatangan memenuhi rumah gadis itu. Alangkah terkejutnya ia saat baru selangkah menapakkan kakinya ke dalam. Terpampang jelas wajah sang ibu tergeletak dengan kaku di kelilingi para tetangga yang khusyuk membacakan doa yasin. Seketika ia pucat pasi. Ketakutan menjeratnya kini. Hatinya hancur lebur. Namun ia masih tak percaya akan apa yang terjadi. Kakinya melemas. Pandangannya berkunang. Dan semuanya kini gelap. 

Nirmala terbangun. Mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang tak asing. Setelah beberapa jam pingsan, akhirnya ia siuman kembali. Nirmala memejamkan mata sejenak. Mencoba menrtralisir rasa pusing yang menghinggapi kepalanya.lantas bayangan ibunya berkelebat di benaknya. "ibu"teriak nirmala. Ia berlari menuju ruang tamu. Berharap bahwa kejadian yang diingatnya tadi hanyalah mimpi. Namun sayang seribu sayang, kenyataan menamparnya keras. Suara yasin dan isak tangis itu seakan jadi saksi. Bahwa ia tak bermimpi. Dengan segenap kekuatan nirmala bertanya pada tetangganya"dimana ibu saya? "tanya nirmala dengan perasaan cemas. "ibu kamu sudah dikubur satu jam yang lalu nir. Kamu yang sabar ya".ucap tetangganya itu tak tega melihat nasib nirmala. 

Gadis itu bungkam. Merutuki kesalahannya. Andai saja ia tak pergi hari ini. Andai saja ia tak menyetujui ajakan dosennya untuk mengadakan rapat karena ia merupakan asisten dosen. Andai saja ia tetap dirumah menjaga ibunya. Ibunya pasti takkan terjatuh di tangga saat akan turun ke lantai dasar rumahnya. 

Kini, nirmala menyesal. "ibu"panggilnya lirih. Ia sudah tak bisa lagi untuk berteriak, seolah suaranya habis tertelan. "maafkan nirmala bu,maafkan nirmala, ibu 

  • "tut tut tut"deringan telpon di nakas sebelah tempat ia duduk terdengar. Membuyarkan lamunan tentang memori masa lalu gadis sendu yang pahit itu.ia membuka lockscreen ponselnya, dan melihat "papa"terpampang disana. Nirmala bersyukur, ia masih memiliki papa yang menyayanginya sepenuh hati.sehingga ia dapat berhenti sejenak dari bayang bayang penyesalan. 

  • view 72