Polos

Polos

maya khusnan
Karya maya khusnan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 September 2017
Polos

Lingkungan tempatku tumbuh hanyalah sepetak tanah kecil diantara hektaran hamparan tanah membentang di pulau Jawa. Hanyalah sebuah kota kecil yang tidak terpencil.

Lalu aku terlempar sedikit berjarak dengan sekelompok populasi yang sering aku sebut ‘keluarga’, demi membuktikan dawuh Imam syafi’i tentang indahnya merantau. Merantau dengan tujuan mulia, menghilangkan segala keburukan dari diri misal kebodohan dan adab yang kurang santun. Belajar dengan lingkungan yang lebih beragam. Menemui banyak karakter jiwa, saling berbagi dan menyayangi. Maka inilah aku, yang adaku tak lepas dari segerombolan orang bergelar ‘sahabat’.

Kami yang terlahir dengan karakteristik lingkungan yang berbeda, tentu sering pula berselisih tentang beberapa prinsip masing-masing. Mengenai bahasa sehari-hari, selera makanan, ataupun cara kita memandang sesuatu. Namun, tak sedikitpun perbedaan itu yang membuat segalanya nampak mencuat, malah hal inilah keindahan yang kami pelihara dengan kuat.

Lalu tibalah masa merah jambu menyerang benteng pertahanan kami. Diantara beberapa sahabatku, mulai menjalin hubungan romantis ala remaja. Dan aku? Hanya sendiri, karena ketaksanggupan diri memulai. Apa aku sedih? tentu tidak. Aku cukup bahagia turut larut dalam kisah-kisah merah jambu mereka. Meneriaki dengan lelucon atau bahkan dukungan-dukungan. Tak ada yang perlu di khawatirkan disini, hingga terbesit sebuah kata dalam benakku : POLOS.

Atas segala apa yang aku baca, yang aku saksikan, yang aku dengar, aku mulai ragu mengartikan sebuah kata, yakni polos. Seberapa jauh batasan seseorang akan di anggap polos? di mana letak perbedaan polos dengan naif? Di keramaian dunia yang hingar bingar ini, bolehkah aku mengharap sepetak tempat sepi? Aku ingin hanya diam, tanpa mengetahui lebih dalam.

Jagalah, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka.

 

  • view 94