Cermin

maya khusnan
Karya maya khusnan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 September 2017
Cermin

Aku memang baru hitungan tahun mengenalmu, dan pertemuan kita benarlah singkat. Tak akan ada cerita berlanjut dari perjumpaan semacam itu. Maka inilah kita yang memang adanya tak berkisah.

Aku menatapmu dari balik layar gadget yang kumiliki. Setiap hari hanya berlalu seperti itu, tidak ada yang lebih. Bukan karena aku terlalu menyukaimu seperti yang sering aku ceritakan kepada teman-temanku, melebihi itu kau bagiku adalah seperti sebuah cermin.

aku melihat bayangku di matamu. Berawal dari usia kita yang seumuran, tingkah labil kita menamai medsos, dan hal kecil lain. Aku benarlah melihat bayangku di matamu.

Beberapa sahabat mengatakan, bahwa mungkin aku hanya terlalu saling menghubungkan keadaan. Entahlah. Tapi bagiku ini terlalu sayang untuk di lewatkan, terlepas dari segala kegilaanku padamu sebagai seseorang, aku juga menyukaimu sebagai sebuah cermin.

Kita yang terlahir di masa yang sama, menjalani kehidupan kita di tempat yang sama pula. Kita yang menjadi 'seseorang' yang sama di tempat kita berpijak. Kita yang saling labil menamai diri. Kita yang kemudian mulai mencoba penampilan baru. Kita yang bertemu dalam beberapa kegiatan yang sama. Aku begitu terkejut dengan semua ini.

Hay kau, cerminku yang mempesona. Tak adakah celah bagi kita untuk berbagi senyum? Aku hanya membutuhkannya sekali, itu cukup.

Hay kau, cerminku yang selalu nampak keren. Bolehkah sesekali aku menyuarakan rangkaian cerita yang aku kumpulkan ini? Kepingan yang setiap hari aku pasangkan satu persatu.

Kau cermin yang membanggakan. Semoga aku sanggup menjadi padanmu dengan sempurna. Semoga di mana dan kapanpun kau ada, keberkahan selalu melimpahimu. 

Teruslah menjadi cermin yang suci. Karena tulus senyum mu ramaikan sepinya dunia~

  • view 51

  • Ikhsan Baehaqi
    Ikhsan Baehaqi
    3 bulan yang lalu.
    "Bagaimana aku bisa jatuh cinta padahal belum pernah berjumpa? Seakan aku tak peduli rupamu seperti apa, potongan rambutmu bergaya apa, caramu menyampaikan cerita semenarik apa.

    Bagiku kau sempurna. Terkadang aku iri kepada setiap mereka yang bisa berjumpa denganmu di setiap kesempatan. Mereka bisa melihat kekuranganmu– yang bagiku adalah senyata-nyatanya kata sempurna."