Tasawuf : Melembutkan Hati

maya khusnan
Karya maya khusnan Kategori Agama
dipublikasikan 20 April 2017
Tasawuf : Melembutkan Hati

 

اِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةٌ مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا اِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَاِنَّهُ فَتَحَهَا لَكَ اِلَّا وَهُوَ يُرِيْدُ اَنْ يَتَعَرَّفَ اِلَيْكَ. اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَ اْلأَعْمَالَ اَنْتَ مُهْدِيْهَا اِلَيْهِ. وَ اَيْنَ مَا تَهْدِيْهِ اِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ.

Jika Allah membukakan jalan bagimu untuk mengenali-Nya, tidak usah peduli meski amalmu masih sedikit. Sebab, Dia tidak membukakan jalan tersebut karena ingin memperkenalkan diri padamu. Tidakkah engkau menyadari bahwa perkenalan tersebut merupakan anugerah-Nya untukmu, sementara amal adalah persembahanmu untuk-Nya. Tentu saja apa yang kau persembahkan untuk-Nya tidak bisa dibandingkan dengan apa yang Dia anugerahkan untukmu

THARIQAT

الطَرِيْقَةُ هِىَ الأَخْذُ بِالْأَحْوَطِ فِي سَائِرِ اْلأَعْمَالِ.

Thariqat adalah mengambil (melaksanakan) agama dengan sangat waspada dan berhati-hati di dalam semua amal perbuatan.”

Di antara sikap sangat waspada dan berhati-hati dalam menjalankan agama adalah sifat wara’ dan ‘azimah serta riyadlah.

  1. Wara’ (wira’i)

قَالَ القُشَيْرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ (376-465 ه): " الوَرَعُ تَرْكُ الشُّبْهَاتِ"

            Menurut Imam Abu al Qasim Al Qusyairi (376-465 H), wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang bersifat syubhat (sesuatu yang belum jelas kehalalannya).

Imam Al Ghazali  membagi sifat-sifat wara’ menjadi empat tingkatan :

  1. وَرَعُ اْلعَدْلِ وَهُوَ تَرْكُ كُلِّ مَا يُحَرِّمُهُ فَتْوَى الْفُقَهَاءِ كَالِّربَا وَالمُعَامَلاَتِ الفَاسِدَةِ

Wara’ al- Adli (wara’inya orang yang adil)

Yaitu meninggalkan segala barang haram menurut fatwa fuqaha’, seperti makan barang riba, mu’amalah yang fasidah (rusak).

  1. وَرَعُ الصَّالِحِيْنَ وَهُوَ تَرْكُ الشُّبْهَةِ

Wara’ al- Shalihin (wara’inya orang-orang yang shalih) yaitu meninggalkan barang-barang syubhat (sesuatu yang belum jelas kehalalannya).

  1. وَرَعُ المتَّقِيْنَ وَهُوَ تَرْكُ مَا لَا بَأْسَ بِهِ مَخَاَفةَ مَا بِهِ بَأْسٌ

Wara’ al- Muttaqin (wara’inya orang-orang yang bertakwa) yaitu meninggalkan sesuatu yang tidak ada bahayanya (halal), karena takut dengan sesuatu yang berbahaya (haram).

قَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: " كُنَّا نَدْعُ تِسْعَةَ أَعْشَارِ الحَلاَلِ مَخَافَةَ اَنْ تَقَعَ فِى اْلحَرَمِ

Umar bin Khattab RA berkata: “ Kami meninggalkan sembilan persepuluh dari hal-hal yang halal karena kami takut terjerumus dalam keharaman”.

  1. وَرَعُ الصِّدِّيْقِيْنَ وَهُوَ تَرْكُ مَا هُوَ مُنْفَكٌّ عَنِ اْلأَفَاتِ

Wara’ ash- Shiddiqin (wara’inya orang-orang yang shiddiq) yaitu meninggalkan sesuatu yang terbebas dari Afat (hanya karena takut terlena atau lupa dari Allah).

Dalam istilah lain :

تَرْكُ مَا سِوَى اللهِ فِيْ اْلقَلْبِ

Meninggalkan sesuatu selain Allah di dalam hati”.

  1. ‘Azimah

العَزِيْمَةُ هِيَ لُغَةً القَصْدُ المصَمَّمُ وَ المُرَادُ بِهَا هُنَا الجِدُّ وَالصَّبْرُ عَلَى اْلأَمْرِ الشَّاقِّ عَلَى النَّفْسِ المخَالِفِ لِهَوَاهُ.

Al Azimah menurut bahasa adalah tujuan yang sangat kuat, yang dimaksud disini adalah bersungguh-sungguh dan sabar atas masalah-masalah yang berat menurut nafsu yang bertentangan dengan hawa nafsunya. Contohnya seperti riyadlah.

قَالَ اْلحَسَنُ القَزَّازُ رَحِمَهُ اللهُ: بُنِيَ هَذَا اْلاَمْرُ عَلَى ثَلَاثَةِ اَشْيَاءَ, اَنْ لَاتَأْكُلَ اِلاَّ عِنْدَ الْفَاقَةِ, وَلَا تَنَامَ اِلَّا عِنْدَ اْلغَلَبَةِ, وَلَاتَتَكَلَّمَ  اِلَّا عِنْدَ الضَّرُوْرَةِ.

Al Hasan Al Qazzaz berkata : “ Perkara ini (riyadlah) dibangun atas tiga perkara:

  1. Janganlah kamu makan kecuali saat kekurangan (sangat lapar).
  2. Janganlah kamu tidur kecuali saat rasa kantuk mengalahkanmu.
  3. Janganlah kamu berbicara kecuali saat terpaksa.

 

MEMILIH THARIQAT MENUJU ALLAH

Oleh karena jalan (thariqat) menuju Allah itu sangat banyak dan berbeda-beda, maka masing-masing sufi mempunyai thariqat yang dipilih untuk bisa wushul kepada Allah. Contoh:

  1. Sebagian orang sufi ada yang thariqatnya mentarbiyah masyarakat dengan cara memberikan petunjuk untuk beribadah kepada Allah dan berakhlak mulia.

قَالَ الاِمَامُ الغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللهُ : " مَنْ عَلِمَ وَ عَمِلَ وَ عَلَّمَ فَهُوَ الذِّي يُدْعَى عَظِيْمًا فِي مَلَكُوْتِ السَّمَوَاتِ فَاِنَّهُ كَالشَّمْسِ تُضِيْءُ لِغَيْرِهَا وَ هِيَ مُضِيْئَةٌ فِي نَفْسِهَا وَكَاْلمِسْكِ الذِّي يُطَيِّبُ غَيْرَهُ وَهُوَ طَيِّبُ وَ مَهْمَا اِشْتَغَلَ بِالتَّعْلِيْمِ فَقَدْ تَقَلَّدَ اَمْرًا عَظِيْمًا جَسِيْمًا فَلْيَحْفَظْ آدَابَهُ".

Imam Ghazali berkata: “Barang siapa mengerti, mengamalkan dan mengajarkan maka ia adalah orang yang dijuluki sebagai orang agung di kerajaan langit, sungguh ia laksana matahari yang menerangi pada yang lain, dan ia juga menerangi dirinya sendiri, ia juga laksana minyak misik yang mengharumi pada yang lain, dan ia sendiri harum. Saat ia sibuk mengajar, maka sungguh ia telah memikul perkara yang agung lagi penting, untuk itu ia harus menjaga adab  (tata krama) nya.

  1. Sebagian orang sufi ada yang thariqatnya memperbanyak aurad (amalan-amalan ibadah), seperti: shalat, puasa, membaca al Quran, membaca tasbih dan lain-lain, seperti aurad tertentu yang di tugaskan guru mursyid Thariqat ini adalah thariqatnya al-mutajarridin lil ibadah (orang-orang yang kehidupannya melulu untuk beribadah) dan thariqatnya ash-shalihin.
  2. Sebagian orang sufi ada yang thariqatnya melayani al fuqaha’, ash-shufiyyah dan ahlu ad-din. Amal-amal ini adalah lebih utama daripada ibadah-ibadah sunah, karena amal ini di samping merupakan ibadah juga merupakan pertolongan kepada orang-orang muslim. Syaikh ‘Abdul Qadir al Jilani berkata:

" مَا وَصَلْتُ اِلَى اللهِ تَعَالَى بِقِيَامِ لَيْلٍ وَلَاصِيَامِ نَهَارٍ وَلَكِنْ وَصَلْتُ اِلَى اللهِ بِالْكَرَمِ وَالتَّوَاضُعِ وَسَلَامَةِ الصَّدْرِ".

“Saya dapat wushul kepada Allah SWT bukan sebab shalat di malam hari dan puasa di siang hari, akan tetapi saya wushul kepada Allah dengan sifat dermawan, merendahkan diri (tawadlu’) dan hati yang selamat (hati yang bersih)”.

  1. Sebagian dari orang sufi ada yang thariqatnya mencari kayu bakar dari hutan, mencari ikan laut dan lain-lain. Kemudian ia menjualnya di pasar dengan niat hanya untuk bersedekah. Amal ini adalah ibadah yang sangat bermanfaat karena hal ini menjadi sarana untuk memperoleh barokah doanya orang muslim.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Zainuddin:

وَلِكُلِّ وَاحِدِهِمْ طَرِيْقٌ مِنْ طُرُقٍ # يَخْتَارُهُ فَيَكُوْنُ مَنْ ذَا وَاصِلاَ

“ Dan bagi slah satu dari mereka (orang sufi) adalah mempunyai thariqat dari macam-macam thariqat yang dipilihnya, maka ia akan wushul kepada Allah dari thariqat  tersebut.

كَجُلُوْسِهِ بَيْنَ اْلأَنَامِ مُرَبِّيًا # وَكَكَثْرَةِ اْلأَوْرَادِ كَالصَّوْمِ الصَّلاَ

“Seperti duduk di tengah-tengah masyarakat untuk mentarbiyah, dan seperti memperbanyak wirid, contoh: puasa, shalat, dan lain-lain.”

وَكَخِدْمَةٍ لِلنَّاسِ وَالْحَمْلِ الْحَطَبْ # لِتَصَدُّقٍ بِمُحَصِّلٍ مُتَمَوَّلَا

“ Dan seperti melayani manusia (fuqaha’, ash-shufiyyah dan ahli ad-din) dan seperti membawa kayu bakar untuk bersedekah dengan uang untuk menghasilkan sesuatu yang ada harganya.”

 

Dilihat 1.3 K