Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 18 April 2017   14:22 WIB
Pahlawanku

01 Maret 2016

Ku buka tiap lembar album foto bersampul merah di atas pangkuanku, tampak senyum hangatmu menghiasi tiap sudut foto kusam yang tertempel diatasnya. Kau tetap tampak sama, senyum hangat dan pelukan menenangkan. Walaupun waktu terkadang dengan kejam memangkas kebersamaan kita, dengan segala tuntutan profesi, dengan seluruh tugas kampus yang menumpuk, tapi tetap ku temukan senyum hangatmu dalam setiap detik kenangan hidup yang kulalui. Kau yang sejak kecil menjadi seorang ibu sekaligus ayah untukku. Hari ini aku ada disini ibu, menemanimu menapak hari yang mulai senja. Mengenang kisah menakjubkan kita.

*

26 juni 2006

“kamu mau mondok nduk?” tanyamu padaku.

“apa mondok menyenangkan bu?”

“tentu, kau akan mempunyai banyak teman disana dan tentunya banyak pengalaman juga dari pada harus tetap di rumah” ucapmu saat itu.

“kau akan menemukan seluruh pengganti kebahagiaanmu disana nanti nduk”

Sebenarnya aku tak tau apa-apa, tentang bagaimana rasanya mondok, tentang apa yang dilakukan di pondok pesantern nanti, terutama tentang bagaimana kau harus berjuang agar putrimu ini dapat mondok, mengenyam semua pendidikan terbaik dengan lingkungan terbaik. Tapi anehnya, aku mengangguk saat kau menyanyakan hal itu padaku. Aku benar-benar tidak tau. Hingga saat aku kau kirim belajar di pondok pesantren, yang membuatku terpaksa jauh darimu, merasakan seluruh kerinduan tanpa dekapanmu, aku hanya bisa menangis merengek dan mengatakan betapa kau terlalu kejam yang dengan tega ‘membuang’ putrimu sejauh ini. Apa aku terlalu tidak berbakti? Apa aku terlalu menyebalkan? batinku.

Setiap helaan nafasmku habiskan dengan menanti dering telpon yang kuharapkan berasal darimu. Aku benar-benar rindu padamu ibu! teriakku dalam hati. Dan hingga hitungan minggu berganti bulan, tak kutemukan sebuah panggilanpun yang mengisyaratkan bahwa aku akan mendengar suaramu melalui telpon, kau seolah tak merasakan beratnya memikul rasa rindu kepada putrimu ini, sedangkan aku? setiap hari aku berperang dengan segala rinduku, bertahan demi senyum bangga di wajahmu karena mempunyai putri yang mendengarkan nasehatmu, nasehat hening tentang kemandirian.

Pagi seolah berjalan begitu lambat enggan meninggalkan embun lembutnya, dan aku tetap disini, di sudut tempat di gantungkannya telpon milik pondok. Setiap dering yang akhirnya kuketahui bahwa bukan merupakan panggilan untukku membuatku sesak. Ajakan teman-temanku untuk bermain bahkan tak pernah ku hiraukan. Padahal kau tau sendiri, saat di rumah bahkan aku lebih memilih bermain dengan teman-temanku dari pada duduk di rumah bersamamu. Aku begitu menyukai ajakan bermain. Lalu kenapa aku jadi seperti ini? rasanya aku bisa mati karena merindu, merindukan seseorang yang bahkan untuk menyapaku melalui jaringan telepon saja dia tak ingat.

*

Suatu hari akhirnya aku terbangun dengan rasa penat, penat merindu tanpa ada balasan rindu. Aku berusaha menikmati hidupku di pondok pesantren dengan ceria. Menghabiskan waktu bersama teman, melakukan banyak hobi, mempelajari banyak hal, meninggalkanmu dalam kenangan. Seiring berjalannya waktu aku mulai menyukai hidup disini, hidup yang dulu selalu aku kutuk karena membuatku sesak merindukanmu. Aku mengikuti banyak kegiatan menyenangkan disini, belajar tentang dunia jurnalis, bersaing dengan teman-teman memperebutkan peringkat pertama di sekolah, belajar tentang arti sebuah tanggungjawab.

Kau hanya menjengukku sebulan sekali untuk mengurus segala administrasi pembayaran pondok pesantren, memberiku uang saku, mengajakku jalan-jalan –kadang- lalu segera pulang. Kau terlihat terlalu tegar ibu. Aku tak pernah melihat mata sedihmu saat meninggalkanku disini, sedangkan aku berjuang begitu keras agar tak terlihat cengeng di hadapanmu. Bukankah ini tak adil? aku ingin merasakan betapa berharganya aku di matamu. Aku selalu berharap kau merindukanku setiap waktu, sampai-sampai kau merasa sesak atas semua rindu itu. Aku ingin kau perlakukan seperti itu. Tapi inilah kau, dengan segala kesedihan yang kau tutup rapat.

*

Hari ini aku pulang ke rumah, menghabiskan masa liburan sekolahku denganmu. Kau menyambutku dengan bahagia, berkata bahwa putri kecilnya telah berubah menjadi seorang wanita dewasa yang cantik. Untuk pertama kalinya aku merasa bangga pada diriku sendiri, yang membuatmu tersenyum bangga. Rasa senang itu membuatku melupakan kekejamanmu karena telah ‘membuangku’.

Masa liburan 2 minggu yang kumiliki terasa berlalu dengan cepat, kini saatnya aku kembali ke pondok pesantren, kembali dengan segala rutinitasku sebagai santri. Lagi-lagi terasa sangat berat pergi darimu. Kau hanya mengantarkan ku hingga teras depan rumah dan mengirim kakak untuk mengantarku ke pondok pesantren. Aku menahan –dengan segala kekuatan yang ku punya- untuk tidak menangis di depanmu. Aku menagis diam-diam di balik punggung kakak yang mengantarkanku dengan motor bututnya.

*

Rutinitas yang padat di pondok pesantren membuatku sedikit demi sedikit melupakan rinduku padamu. Namun tak lupa, disetiap malamku yang pekat, aku memohon kepada tuhan untuk menjagamu tetap tersenyum, menjagamu selalu di rahmati. Hingga suatu hari datanglah kakek ke pondok pesantren untuk menjengukku.

“gimana kabarmu nduk?” tanya kakek dengan suara beratnya.

“baik kek, njenengan bagaimana? sehat kan?” 

“iya nduk, alhamdulillah”

“ibukmu sudah kesini?”

“belum kek” jawabku menyembunyikan perih.

“halah ndak papa, sekali-kali libur dulu di jenguknya.” gurau kakek

Diantara semua cucu kakek, aku adalah cucu yang paling dekat dengan beliau. Kami sering menghabiskan waktu dengan bercerita banyak hal, kakek sering memberi petuah berharganya padaku melalui cerita. Maka mengalirlah cerita itu, cerita yang tidak pernah kusadari.

“tidak ada seorang ibu pun di dunia ini yang ndak sayang sama anaknya” prolog kakek

“Anna tidak pernah bilang kalau ibu ndak sayang sama Anna kok kek”

“memang, tapi kamu terlalu sering salah faham nduk. Dan matamu tidak dapt berbohong pada kakek”

“ibumu itu janda sejak kamu berumur 5 tahun, tapi pernahkah kamu merasa kurang kasih sayang? tidak kan? ibumu dengan kuat berperan menjadi sosok tegas seorang ayah, dan lembut bersahabat seorang ibu. Hanya karena kamu hidup jauh dengannya disini, itu tidak bisa menghapus kenyataan bahwa ibumu menyayangimu nduk..Ini justru menunjukkan betapa besar kasih sayangnya padamu. Ibumu tidak ingin kamu memiliki lingkungan tumbuh yang tidak terjamin, meski karena itu dia harus melawan rasa sakit karena hidup jauh dari putrinya.”

“tapi ibu tidak terlihat seperti itu kek..ibu terlihat nyaman meski tanpaku” sanggahku dengan terluka.

Kakek menggenggam lembut tanganku, seolah mengerti apa yang kurasakan.

“kau hanya belum tau nduk” ujarnya mengakhiri cerita kami.

Malam harinya, di atas ranjang tipisku aku merenung memikirkan seluruh dialogku dengan kakek siang tadi. Apa yang tidak ku ketahui? semua terlihat jelas bahwa ibu tidak menyayangiku sebesar aku menyayanginya. Ibu baik-baik saja jauh dariku, tidak seperti aku yang sangat terluka jauh darinya. Sejak ayahku meninggal di usiaku yang ke 5, aku terbiasa selalu dekat dengan ibu. Saat seluruh teman sekolahku berangkat diantar ayahnya, ibulah yang –dengan sepeda tuanya- mengantarkanku. Saat pengambilan raport dan teman-temanku datang dengan ayahnya, aku datang dengan ibu. Saat teman-temanku bercerita tentang kehebatan ayah mereka, aku tanpa bosan bercerita segala hal tentang ibu. Aku tidak terbiasa jauh darinya, bahkan meski hanya sehari.  Meski aku selalu menghabiskan hari dengan bermain bersama teman-temanku, aku akan gusar jika belum memastikan bahwa ibu ada di dekatku. Aku akan terbangun tengah malam dan minta diantar pulang jika di sabtu malam sepupuku memaksaku menginap di rumahnya. Rasanya duniaku penuh lubang disana sini tanpa ibu, tak lengkap. Maka saran ibu yang mengirimku ke pondok pesantren membuatku sungguh terluka. Ibu seolah bosan dengan semua tinggah manjaku. Aku sangat terluka, dan sialnya akulah yang dulu mengiyakan saran itu dengan ringan.

*

Hari itu aku dan beberapa temanku keluar pondok pesantren untuk membeli keperluan. Aku bertemu Sinta, tetanggaku yang juga mondok namun kami di asrama yang berbeda.

“kamu kok nggak pulang Na?” tanyanya.

“emang kenapa? nggak ada liburan kok” jawabku sekenanya.

“kamu nggak tau ya Na?”

“ada apa memangnya?” selidikku

“kakek kamu meninggal 2 hari yang lalu”

Dan duniaku serasa runtuh siang itu. Kenapa tidak ada yang mengabariku? bahkan ibu dan ke 2 kakakku juga tak memberiku kabar sama sekali. Aku berlari menuju telpon umum di seberang jalan dan segera menghubungi kakakku.

tuut..tuut..

“halo Assalamualaikum” terdengar suara di seberang sana

“Waalaikum salam, ini Anna kak” ujarku dengan suara tercekat.

Aku bahkan belum sempat berkata apa-apa saat air mata di pelupuk mataku terjun dengan bebas. Di seberang sana kakakku berusaha menenangkanku dengan berkata bahwa ini semua sudah suratan takdir. Aku marah besar, ku luapkan amarahku kepada kakak dan tanpa mengucapkan salam ku akhiri sambungan telepon.

Keesokan paginya ibu menelponku. Ibu meminta maaf karena tidak mengabariku. Dengan hati terluka, aku menyalahkan ibu dengan sikapnya. Berkata bahwa ibu begitu tega membuatku mendengarkan kabar itu dari orang lain. Membuatnya terdiam lama. Dan akhirnya akulah yang mengakhiri telpon itu. Aku benar-benar kecewa kepada ibu. Ibu menelponku berulang kali dan aku hanya diam.

*

Kejutan pagi itu membuatku membeku. Ada apa gerangan tiba-tiba kakak sulungku datang menjenguk? bukankah baru seminggu yang lalu dia dan ibu mengirimkan uang sakuku?

“kamu pengen pulang Na?” tanyanya.

“untuk apa? percuma. Semua sudah terlambat. Aku sudah tidak bisa memberikan penghormatan terakhirku pada kakek” jawabku ketus

“memang ibu salah mengambil keputusan untuk tidak mengabarimu, kakak ngerti kamu kecewa, tapi bukan berarti kamu berhak membuat ibu sedih seperti sekarang dengan sikap kekanak-kanakanmu kan?” ucapnya marah

“memangnya apa yang kulakukan? aku hanya tidak menjawab telponnya.” jawabku ringan.

“ ‘hanya’ kau bilang? bahkan tanpa kamu berkata apa-apa, tanpa kamu bertindak apa-apa, ibu sudah terlalu terluka dengan semua rindunya padamu. Bergumam khawatir setiap hari tentang apa yang kau makan hari ini, tentang apa kau baik-baik saja,tentang apa kau kehabisan uang saku, dan segala tentangmu lainnya. Dan sekarang, saat kau sekali saja dikecewakan kau berteriak marah? apa kau pikir apa yang beliau putuskan tidak memiliki alasan? ibu hanya ingin melindungimu, melindungimu dari rasa sakit meski kakak tau bahwa cara yang beliau pilih juga tidak sempurna benar”

“apa kau tau Na? bahkan saat kau terlelap di malam gelapmu, ibu tidak pernah sedetikpun memejamkan matanya guna ‘memaksa’ tuhan selalu menyayangimu, menjagamu setiap saat, menangis tergugu menyebut nama putra putrinya, memohonkan ampun untuk kita. Dan apa yang kau lakukan saat ibu berderai air mata mendoakanmu? kau hanya bisa merengek setiap kau membutuhkan sesuatu, memaksanya menuruti dengan tangismu. Kau tak tau apa-apa Na, dan karena ketidaktahuanmu itu, bukan berarti kau boleh menyimpulkan sesukamu..”

“Ibu telah terlalu berat menjaga kita sendirian sejak kecil Na, bukankah sekarang waktunya kita yang menjaga beliau? beliau mungkin tidak pernah memperlihatkan rasa sayangnya, tapi sungguh hal itu tidak mengurangi esensi dari rasa sayang itu Na ”

Aku tak sanggup mendengarkan lagi semua kata-kata kakakku. Air mata jatuh membasahi pipiku. Aku begitu terluka, sungguh teganya aku yang selama ini bersalah faham pada ibu. Menganggapnya kejam dan tak menyayangiku. Rasa sayangku bahkan tak pantas ku bandingan dengan semua rasa sayangnya.

*

12 Maret 2016

“kamu jadi berangkat ke Jerman Na?” tanya ibu sambil meletakkan buku yang dibacanya.

“entahlah bu, Anna masih istikhoroh”

“berangkat saja, sayang kalau beasiswanya dilewatkan”

“iya bu, InsyaAllah”

Sejak sebulan yang lalu, aku kembali ke rumah setelah menyelesaikan studiku di pondok pesantren. Ibu menjemputku bersama seluruh keluarga besar ibu. Nenek memelukku haru, berkata bahwa Anna mungil yang selalu merengek dulu kini telah membuat semua orang menagis karena bangga. Aku pulang setelah menyelesaikan studi S1 ku dengan sempurna dan menghatamkan hafalan qur’anku. Hari itu menjadi hari paling berharga dalam hidupku, dapat membuat ibuku tersenyum bangga karena prestasiku. Aku berjanji, senyum ibu hari itu akan menjadi senyum pembuka dari senyum-senyum lain yang akan kupersembahkan padanya.

Ibu, kini aku telah tumbuh. Meski aku tau bahwa aku tak akan sanggup membalas semua jasamu padaku, tapi izinkahlah aku melakukan yang terbaik yang aku mampu, mempersembahkan segenap hati dan ketaatanku padamu, Pahlawanku.

*

24 Desember 1999

seorang wanita dengan senyum hangat mengusap air mata yang meleleh di pipinya. Berusaha menguatkan diri atas kenyataan kepergian suaminya.

“ibu, kenapa ibu menangis?” putri kecilnya berlari menuju dekapannya sambil mengusap lelehan air mata di pipinya.

“apa ayah pergi? orang-orang berkata begitu padaku ibu..”

“tetap ada ibu di sampingmu Na..ibu akan menjagamu”

“tidak, akulah yang akan menjaga ibu, aku akan membuat ibu selalu tertawa” ujar putri kecilnya polos

“tentu, kau akan menjaga ibu Na” ucapnya sambil memberikan pelukan hangat.

*

15 Maret 2016

“aku sudah memutuskan tidak akan berangkat ke Jerman bu” ucapku sambil menyerahkan teh yang ku buat pada ibu

“kenapa nduk? bukannya sayang kalau tidak di ambil?”

“universitas di sini juga bagus kualitasnya, aku akan tetap melanjutkan studiku sambil mengamalkan ilmu di sini bu” jelasku

“aku sudah terlalu lama jauh dari ibu, aku akan disini menjaga ibu”

Ibu tersenyum menatapku. “tentu, kau tidak pernah melanggar janjimu Na”

 

#kamus

Nduk               : berarti nak, panggilan untuk anak perempuan di Jawa Timur

Mondok          : tinggal di pondok pesantren

Njenengan       : berarti kamu, panggilan sopan pada orang yang lebih tua

Karya : maya khusnan