Luka

maya khusnan
Karya maya khusnan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 April 2017
Luka

Apa yang dapat kita lakukan terhadap takdir?

***

Seorang yang pendiam dan ‘lugu’ sepertiku tidak  pernah, bahkan hanya terlintas saja tak ada keberanian dalam diriku untuk mengenal sosok sempurna bagaikan dewa seperti dia. Aku pertama mengenalnya dari bangku pojok yang ku pilih saat ku ikuti mata kuliah di kampusku. Dia yang sangat menawan itu secara kebetulan datang terlambat dan membuatku tertegun memandangnya. kedua kawanku, Zakya dan Iluk yang saat itu juga menatapnya, berkata bahwa dia terlihat sangat cocok untukku, seorang dengan gaya ‘kalem’. dia melangkah dengan begitu menawan menuju bangku paling depan dan mengeluarkan notebook silvernya dan selanjutnya dia mulai tenggelam dalam dunianya. aku yang hanya dapat tersenyum menanggapi candaan kedua kawanku mulai mengalihkan pandangan dari sosok sempurna itu. siapa dia?

Sejak hari spesial itu aku selalu menunggunya. Menunggu dalam setiap detik hampa yang ku punya. Sibuk sendiri dengan duniaku yang sekarang hanya di penuhi pikiran tentang si sosok sempurna itu.  Terkadang aku menyusun rencana agar aku dapat mendekatinya, minimal aku pernah membuatnya menatapku. Hanya itu, sedetik saja hanya tertuju padaku. Apakah aku terlalu berharap sesuatu yang muluk-muluk?

Dan aku menemukan satu titik, satu titik yang dalam bayanganku akan membuat harapanku terkabul. Dia yang adalah seorang teller sebuah bank di daerahku, jelas sekali akan melayani nasabah bukan? ide cemerlang Nay! batinku. Dan dalam waktu sesingkat yang aku bisa, aku memaksa mama untuk memberiku izin membuka rekening dan berjanji akan dengan sungguh-sungguh belajar menabung. Mama terlihat sangat syok dengan perubahan sikapku ini. Dan disinilah akhirnya aku berada.

“ Ada yang bisa saya bantu?” sapanya dengan senyum mematikan.

“ Bisakah membantu saya membuka rekening baru? jawabku gugup

“tentu, tolong isi formulir ini” sodornya.

Aku menulis dengan gugup semua identitas lengkapku dan segera menyerahkan formulir itu padanya. Dia membaca sekilas dan terkejut melihat kampus dimana aku menimba ilmu.

“kita dari universitas yang sama?” tanyanya terlihat bahagia.

“iya. bahkan kita adalah teman sejurusan” jawabku

“oh ya? maaf sekali kalau aku tidak mengenalmu. aku sedikit sibuk bekerja, jadi kurang mengenal teman-teman di jurusan kita.” jelasnya.

“aku bisa mengerti”

“oke, aku berjanji akan mengingatmu Nay!” janjinya.

Ku balas janji mendadaknya dengan senyum lembut.

Sejak hari itu aku memiliki waktu paling berharga sepanjang hidupku, waktu yang selalu ku tunggu, waktu masuk kuliah. Setiap pintu kelas kami dibuka oleh segerombolan mahasiswa yang terlambat, aku selalu menantinya dan sesuai janjinya, dia belajar mengingat gadis ‘lugu’ ini. Hingga kedua kawan baikku mulai curiga dengan gaya curi-curi senyum antara aku dan dia. Mereka memaksaku mengenalkan mereka padanya, karena calon pacar haruslah melakukan pendekatan pada kawan pacarnya, sekonyong aku tertawa terbahak. siapa juga yang akan jadi pacar sosok sempurna itu? sanggahku.

***

Aku mempercayai mereka, kedua kawanku. Aku mempercayai mereka dengan segenap hati yang ku miliki. Mereka bukan hanya seorang kawan, mereka lebih dari itu, mereka layaknya keluarga bagiku. Maka tiada pernah aku menyimpan sebuah rahasianpun dari mereka. Mereka yang membantuku bangkit dari segala beban hidupku yang pahit. Semenjak papa dan mama bercerai, bagiku rumah adalah tempat terakhir yang ku ingat. Dan mereka, kedua kawanku itu selalu menjadi tempat paling nyaman pengganti kenyamanan yang sudah lama tak kurasakan di rumah. Kami melakukan segala hal bersama sejak kecil. Kami saling menyayangi satu sama lain.

“ kamu bisa kenal dia dari mana Nay?” selidik Iluk padaku.

“ ada deh”

“ eh curang banget sih kamu gak mau cerita!” timpal Zakya

“ ato jangan-jangan kalian udah pacaran ya?”

“ enggak guys” seruku

“berharap belum sih..bukan enggak” ralatku

Seketika suasana menjadi ricuh. Iluk berlari berusaha menggoda temannya yang mendapat predikat kalem ini sambil mengacungkan bantal. Zakya menyemangati Iluk dari balik layar laptopnya.

***

Kami yang selalu bertiga kemana-mana jadi terasa sangat sering bertemu sosok sempurna pujaanku itu, baik di kampus maupun saat aku menabung dan kedua kawanku jelas menemani. Keakraban mengalir diantara kita. Dia yang ramah dan supel itu, menyambut baik ajakan berteman dari Zakya dan Iluk. Setiap hari sepanjang minggu, aku jadi bebas menceritakan dia kepada kedua kawanku karena mereka juga berteman baik dengan dia. Terkadang aku merasa khawatir, karena kedua kawanku yang lebih pandai dalam bergaul. Aku khawatir dia malah lebih tertarik kepada salah satu dari kedua kawanku. Tapi bukankah itu hal yang tidak mungkin? karena aku mempercayai mereka.

“ sekarang kamu kok jadi sering sibuk sendiri sih Kya?” tanya Iluk

“he?” jawabnya terbata

“ emang sibuk sama siapa sih di medsos?”

“ ya sama temen lah Luk”

“iya siapa? kayak aku nggak kenal temen kamu aja”

“Pratama, temen kampus”

“ kayak nama baru gitu dalam kamus pertemanan kita? kalian jangan-jangan..??” sambil berceloteh, tangan Iluk yang super panjang itu merebut handphone Zakya dengan kasar. Dan pergulatan seperti yang biasa mereka lakukan pun terjadi di atas kasurku yang sudah kurapikan itu.

“ heh kalian! hentikan..kalian merusak kasurku.” teriakku frustasi

***

 

Isak tangisku masih terdengar meski telah berjalan sebulan sejak peristiwa mengejutkan pagi itu. Aku yang kala itu dengan tidak sengaja membaca arsip pesan di handphone Zakya sambil menunggunya bersiap, menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kutemukan. Zakya yang memang sedikit tertutup itu menutupi sebuah rahasia besar yang tidak seharusnya dia lakukaan, karena itu sangat menyakitiku, membuatku sangat kecewa.

“ sejak kapan kamu berhubungan dengan pratama Kya?” tanyaku saat kita bertiga berangkat kuliah pagi itu

“apa maksud kamu Nay?”

“ sudahlah, aku sudah tau semuanya. Kau berpacaran dengan Ade Pratama, lelaki sempurna pujaanku kan?”

“lalu kenapa? kamu yang salah disini. kamu tak pandai merebut hatinya. Aku selalu menyelamatkanmu dari rasa sakit dan ini balasanmu?” jawabnya berargumen ketus.

Aku semakin tidak faham apa yang di katakan. sekarang kita berada di taman belakang kampus, dan Iluk terpana melihat aku berdebat.

“ Apa yang kau dapatkan selama ini? semua bahkan kau miliki Nay! ini tidak adil untukku! kau selalu merebut segalanya dariku! merebut semua perhatian, merebut semua kebahagiaanku! bukankah sekarang saatnya kau berbagi dengan kawan baikmu ini hah?”

“apa yang kalian pertengkarkan sekarang guys?” sela Iluk tak mengerti

Aku hanya menangis terluka dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut Zakya.

“hanya 1 hal itu yang kuminta darimu bukan? iya hanya Ade Pratama, lelaki sempurna pujaanmu itu. Aku bahkan mengorbankan orang yang paling ku sayangi ada disisimu selama ini. dan bahkan kau tidak akan bersyukur untuk itu? dasar gadis serakah!” umpatnya

“siapa Kya? siapa orang paling kau sayangi yang kau korbankan untukku?” tanyaku disela derai air mata

“kau memang tak tau apa-apa adik mungilku. Kau bahkan tak tau kalau kita adalah saudara? mama bahkan memilihmu dan meninggalkan aku, mama lebih menyayangimu. Bahkan saat aku selalu ada di sampingmu setiap haripun, mama selalu mengancamku agar merahasiakan kebenaran ini darimu. Wanita kejam itu selalu memilihmu! dan yang terpenting, kaulah pembunuh papa! kau sama kejamnya dengan mamamu! membuangku di panti dan merasa aman? jangan bermimpi!”

Aku terhuyung merasakan pening di kepalaku, dunia berputar terlalu cepat di sekelilingku. Jadi apakah ini jawaban atas semua mimpi buruk yang setiap malam kulawan? mimpi tentang kilasan senyum sebuah keluarga yang bahagia dan aku datang merusaknya..

“jadi tak bolehkah aku yang mendapatkannya kali ini? hanya dia sumber kebahagiaanku terlepas dari semua yang telah kau rebut dariku. belajarlah sedikit berbagi adik mungilku sayang..dan yang pasti kau tidak pantas untuknya” ucapnya melukaiku.

semua terasa berputar di sekitarku..apakah rasa ‘suka’ hanya dapat tertuju pada orang yang tepat? lalu siapakah yang berhak mendoktrin apakah dia orang yang tepat atau tidak untukku? seandainya memang dia bukanlah seseorang yang tepat untukku, lalu harus ku namai apa rasaku ini?

Jadi ini hal yang selalu mama khawatirkan tentang zakya? karena dia saudaraku? karena dia menyimpan dendam besar padaku?

Bukankah seharusnya kita baik-baik saja kawan..apa yang terjadi kepada kita?

Ini tidak seharusnya terjadi pada kita, kakakku.(*)

  • view 33