Lelaki Kita

maya khusnan
Karya maya khusnan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 April 2017
Lelaki Kita

Jika mungkin, siapakah yang dapat menghentikan angin yang berhembus?

*

1

Kita memang memiliki banyak kesamaan dalam satu sisi, sisi dimana orang yang sangat kita harapkan menempati altar yang berjarak dengan kita. Kau sangat memahami ‘rasa’nya. Rasa sepi yang ditimbulkan desiran angin lembut yang membuai. Mengantarkanmu pada sebuah mimpi buruk, mimpi yang sama dengan mimpi yang kumiliki. Mimpi kita memang terkadang membawa rasa segar, tapi lebih sering membawa sesak. Kau menuntutnya untuk pergi saja dari malam pekatmu, tapi apa daya manusia lemah macam kita?

Aku yang ceria dan kau yang sedikit gila, kita adalah paduan yang pas dalam hubungan persahabatan ini. Didukung dengan selera kita yang sama dan pemahaman kita terhadap dunia. Kita juga terlalu sering berdebat, kau yang memiliki ‘sosok’ pengganti dan aku yang kukuh tak ingin memilikinya. Kau bilang bahwa hal yang membuatmu ada disini bersamaku adalah karena ‘sosok’ pengganti itu. Dia dengan hebatnya membuatmu terpesona dengan seluruh kebaikan hatinya. Kau yang sempat kesepian kini mulai di rundung tawa. Dan aku ikut bahagia di sampingmu.

Di awal pertemuan kita sekitar 10 tahun lalu, kau sempat berkata padaku bahwa kita tidak akan menang melawan takdir, kita hanya harus belajar menerima dan berdamai denganya. Saat itu aku menangis tergugu disudut ruang tempat kita melepas lelah. Kau dengan kesatria menawarkan pundak mungilmu untuk kusandari. Sejenak aku berfikir bahwa kau sangat keren dengan kerudung mungil di wajahmu, tapi baru kusadari kini bahwa kau hanya bersembunyi di balik kekuatan magis sang kerudung. Kerudung itulah yang membuatmu tampak kuat. Hatimu sama lemahnya dengan aku yang tergugu, yang berbeda adalah waktu. Waktu yang membuatmu mulai terbiasa dengan semua keadaan ini.

Suara tawa mengundang dari orang-orang disekitar kita membuat kita belajar dengan cepat. Belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, belajar bertemu dan menerima orang baru, tapi tentunya aku tetap kukuh menolak menerima ‘sosok’ pengganti seperti yang kau sarankan. Aku berkata padamu bahwa hal itu –selama aku hidup- tidak akan pernah dapat aku cerna dengan otak cerdasku. Kau berkata kalau aku termakan film-film yang ditayangkan televisi dan aku hanya terdiam merenungkan kata-katamu. Aku terkadang berfikir apakah aku terlalu kejam menolaknya, tetapi hatiku tetap berat bahkan untuk sekedar memikirkannya. Ku akui kau memiliki hati yang lebih lapang dariku.

Waktu melesat menoreh banyak kenangan, jalan kita pun semakin menanjak dan akan segera sampai pada tujuan. Kita hanya sedang menunggu waktu yang datang menjemput. Membawa kita kembali pulang dan menggapai cita serta cinta. Harapan kita.

2

Suatu saat aku bertanya padamu tentang bagaimana kau dapat melewatinya, melewati harimu dengan ‘sosok’ pengganti. Kau dengan bangga mengatakan itu hanya karena hatimu yang terlalu lapang. Aku tergelak saat itu dan kau melemparkan buku mungilmu di wajahku. Kau berubah cemberut dan mengomel karena kelancangan pertanyaanku. Aku benar-benar penasaran waktu itu, bagaimana bisa ‘sosok’ pengganti itu dapat merebut tempat dihati sempitmu. Tidakkah itu sangat membebani?

Sejujurnya aku tidak percaya bahwa kau menyayangi ‘sosok’ pengganti itu seperti yang kau ikrarkan dengan bibir tebalmu. Kau hanya membuat pernyataan yang menenangkan hatimu sendiri bukan?

Namun di sela-sela malam pekat kita, terkadang kau menggumamkan rasa syukur karena telah di pertemukan dengan malaikat keluargamu itu. Kau bahkan memanggilnya malaikat, sosok pengganti yang merebut kedudukan terpenting di istanamu. Kau berdoa dengan tekun agar kebaikan selalu melimpahinya, berdoa dengan tulus agar malaikat keluargamu tak bosan menemanimu. Tapi apa daya sebuah doa bila dihadapkan pada takdir? Doa itu mungkin menggumpal dan membesar, menunggu pengalihan dari pencipta. Kau menangis saat doa itu menjelma menjadi sebuah goresan luka di hatimu. Tuhan mungkin sering kali seolah tak menjawab doa-doamu, namun ketahuilah pada hakikatnya yang di limpahkan tuhan pada kita bukanlah apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan. Kau membutuhkan jalan ini untuk menjadi kuat. Dan aku membutuhkan jalan ini untuk terlempar dalam pusara sadar. Mungkin kita perlu kembali mengkaji apa yang di tuliskan tuhan dengan hati yang murni,sehingga tak perlu ada gerutuan panjang yang menguras tenaga. Kita sepantasnya bersama sama mengkaji ulang tentang seluruh perjalanan panjang pemikiran kita, yang terkadang terlalu pasrah di dikte emosi.

Karena akan datang jualah hari ini, dimana kau akan lenyap secara tiba-tiba.

3

Hari ini secara tiba-tiba kau lenyap dan yang tersisa hanya buih. Aku meluangkan banyak waktu untuk mencarimu ke pesisir pantai namun seperti yang seharusnya terjadi, yang tersisa hanya buih. Aku bertanya kesana kemari kemana kau pergi. Tapi mereka hanya diam dalam duka. Aku memahami situasi tak terduga ini dan hanya bersandar di bawah teduhnya nyiur. Berusaha menerima semua yang tergaris jelas dalam suratan takdir. Takdir yang membuat kita mengetahui arti sebuah ‘rasa’ yang terkadang begitu menyenangkan dan menusuk dalam masa yang sama. kita memang tak tau apa-apa.

Aku selalu saja mendesakmu, mengatakan itu bukanlah sebuah cinta. Kau tidak sedang mencintai ‘sosok’ pengganti itu, kau hanya banyak membutuhkannya dan menurutku itulah yang terjadi. Hingga hari dimana kau lenyap dan yang tersisa hanya buih, buih kesedihan di pesisir pantai hatimu.

Hari ini saat aku datang ke rumah kunomu, kau tampak seperti seseorang yang asing. Kau berantakan bahkan secara psikis. Aku tertegun, berusaha menetralkan pikiranku. Menerima setiap keping penjelasan singkatmu.

“aku berpikir kau benar setiap kau berkata bahwa aku tidaklah mencintainya, aku hanya terlalu banyak membutuhkannya dan merasa nyaman. Tapi pada detik dia mulai menjadi kenangan, aku kembali menelaah perasaan yang ku tujukan padanya, akan ku beri nama apa perasaan ini? Dan taukah kau apa yang ku temukan? Hanya satu kata yang mampu melukiskan rasaku padanya sekarang, ‘rindu’. Aku merindukannya dan terluka karena dia memiliki altar berjarak padaku. Aku terluka karena untuk kedua kalinya aku harus terpisah dengan seseorang yang selalu kuharapkan setia menemaniku, sosok ayah. Dan tidak ada yang berbeda antara dia yang digantikan ataukah yang menggantikan, mereka tetap sesosok malaikat dengan sayap kokohnya.” ucapmu di depan pusara ayah tirimu, sosok yang sering kau sebut malaikat dalam istanamu. Kau bahkan menagis dalam diam. Tangisan yang begitu memilukan.

Aku tersentak sesaat karena hal itu begitu sulit di terima oleh otak dalam batok kepalaku. Aku yang memiliki sisi yang sama denganmu –sisi dimana orang yang selalu kita harapkan memiliki altar berjarak dengan kita, sosok ayah- merasa yakin bahwa sosok yang selalu kita harapkan adanya itu tidak patut diganti oleh siapapun, meski penggantinya berhati malaikat seperti yang kau punya. Sosok ayah dalam hidupku hanya tunggal, dan tidak akan ada yang boleh merebut tahtanya dalam keluargaku, itu tekadku sejak menyadari bahwa aku kehilangan sosoknya puluhan tahun lalu. Dan kini saat aku bersamamu, sebuah pemahaman baru yang sulit diterima baik otak maupun hatiku menyerangku dengan sigap. Bahwa siapapun yang membuka hatinya untuk di cintai, dia juga akan dengan mudah mencintai. Dan siapun yang membuka hatinya untuk di rindui, sejatinya dia belajar bagaimana cara merindukan orang lain.

4

Aku selalu merindukannya –seseorang yang selalu kuharapkan, ayahku-, kau tau itu. Bahkan tak pernah sedetikpun dalam hidupku aku melepaskan rasa rinduku ini. Rasa rindu yang membuatku tetap bertahan denganmu disini, dan kau bahkan sangat mengerti itu. Kau merasa aku sudah gila dengan sosok ‘lelaki harapan’ku itu. Aku selalu mendebatmu keras saat kau mebicarakan sosok pengganti ‘lelaki harapan’mu. Kau berkata bukan saatnya kita tenggelam dan mati, tapi ini adalah saat kita kembali dari ketidaksadaran kita. Apa yang kau tau tentang ‘lelaki harapan’ku? Kau tak tau bahkan secuilpun.

Bagaimana aku bisa melepaskan rinduku untuknya? Lelaki  yang bahkan dengan nyawanya menyelamatkan gadis bodoh ini dari sebuah kecelakaan besar. Lelaki  yang membakar dirinya sendiri agar gadis bodoh dalam dekapanya tak tersentuh api. Dan saat tubuh lemahnya sempurna tertutup api, gadis bodoh yang sejak tadi berusaha dia selamatkan hanya menatap diam, tak berusaha berbuat apapun, hanya menatapnya bersatu dengan angin. Apakah dapat ku lupakan bahkan seper sekon detik rasa rinduku padanya? Bahkan memikirkan untuk melepaskan rinduku saja aku tak pantas. Karena itu, hanya inilah yang dapat gadis bodoh ini lakukan untuknya. Mengenang dan menjaga tempatnya, bukan karena aku tak mau belajar menerima ‘sosok’ pengganti untuknya, hanya untuk menebus segala rasa bersalahku padanya.

Aku merinduinya dengan segenap hati yang bahkan tak pernah terpikir untuk terbagi. Aku menyebut namanya dalam setiap detik waktu yang kulewati. Layaknya seorang pecinta, aku mengharapkannya hadir dalam mimpiku yang kelam, memberi secercah warna diantara seluruh kepekatan yang ada. Dengan tamak aku mengharapkanya hanya menjadi milikku sendiri, terpahat jauh di dasar hati.

Ayah, jika aku boleh meminta,tolong katakan 1 hal saja padaku. Tolong katakan bahwa gadis bodoh yang kau selamatkan dulu ini sudah bertahan dengan baik tanpamu, bahwa kau tak pernah menyesal telah menyelamatkannya. Karena hanya rindu ini yang dapat aku persembahkan.

  • view 144