Hakikat Cinta

maya khusnan
Karya maya khusnan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 April 2017
Hakikat Cinta

Title                : Hakikat Cinta

Genre             : Romance

Main cast        : Joan Lee, Lidya

21 Juli 2015

LIDYA

Akulah yang paling memahami hidupku, bukan orang lain. Tetapi terkadang banyak orang yang berusaha mencampurinya, berusaha mengotak atik pilihan yang kupikir dengan sepenuh dan sekuat hati. Sayangnya ‘orang-orang’ yang ‘mencampuri’ urusanku itu berhak mencampurinya. Mungkin dalam beberapa hal aku akan menerimanya dengan lapang, tetapi batas kelapangan hatiku menciut dalam hal ini, hal yang bahkan baru aku rasakan setelah aku melalui hidup lelahku selama 23 tahun. Ya, aku baru merasakan indahnya mencinta di usi ke 23. Dan aku merasa ini cinta yang benar, terlepas dari semua masalah yang di timbulkan oleh ‘cinta benarku’.

JOAN

Dalam seluruh kehidupan mewahku, aku yang terlahir di keluarga chaebol selalu mendapatkan seluruh hal yang aku inginkan. Kecuali hari ini, saat aku menyusuri kembali jejak kenangan yang aku miliki dengannya, di depan bola mataku sendiri, aku bahkan harus merelakan hal yang paling aku inginkan dalam hidup. Melepasnya dengan senyuman getir.

15 Agustus 2014

LIDYA

“ Ya..Katja[1] !” teriak Park Lee Na padaku.

“ Mau kemana Lee Na ya?” tanyaku.

“ Kau harus mengantarkanku mengambil tugas yang sudah ku kumpulkan di Prof. Joan,” ucapnya sambil menyeretku.

Park Lee Na adalah teman selingkungan apartement denganku, dia seorang yang ceria dan berhati lembut. Omma[2] nya yang tinggal di Busan menitipkan putri semata wayangnya itu padaku. Setiap hari bahkan Omma Lee Na mengirimiku SMS untuk menanyakan kabar Lee Na. Benar-benar menyusahkan.

Aku dan Lee Na berteman sejak kedatanganku pertama kali di Seoul. Dia yang terlalu baik hati itu berusaha membantuku mengangkat seluruh bawaanku menuju kamar apartementku yang ternyata berada tepat disebelahnya. Dengan senyum polosnya dia menemaniku beres-beres seakan kita adalah teman sejak taman kanak-kanak. Sejak hari itu kami sering bersama dan saling merasa nyaman. Kami berada di Universitas yang sama pula, sehingga semakin mempererat persahabatan antara si putih dan si hitam ini.

JOAN

Mahasiswa-mahasiswa itu memang merepotkan, mereka membuat hari-hariku terkuras membaca tugas mereka yang tidak bermutu, membuatku kehabisan waktu bahkan untuk sekedar berkencan. Bukankah menyebalkan? Apalagi beberapa diantara mereka sangat sulit aturannya, menganggap tugas remeh dan sebagainya.

Salah satunya adalah mahasiswi yang sedang aku panggil sekarang. Dengar, itu suara tawa mereka?  Bahkan saat mereka melangkah menemuiku, masih sanggup bercanda sepanjang jalan? Omo..

Terdengar suara ketukan.

“ Masuk!” perintahku. Dan dalam sekejap aku harus terpana dengan 2 wajah yang sama sekali tampak tak berdosa dihadapanku ini. Apa mereka tidak meyadari bahwa semua mahasiswi yang aku panggil selalu berakhir bunuh diri saking stressnya? benar-benar harus diberi pelajaran! umpatku dalam hati.

“Bagaimana mungkin seorang mahasiswi membuat karya tulis seburuk ini Lee Na ssi?” bentakku sambil melempar tugas karya tulis yang dia buat. Dan gadis berkerudung itu tampak bingung.

“Maaf, sebenarnya..” selanya akan berargumen.

“ Kerjakan dengan benar sekarang! disini!” teriakku lagi sambil menunjuk kursi tamu disudut ruangku.

“ Dan kamu, tinggalkan temanmu sendiri disini. Biarkan dia meratapi kebodohannya. Pergilah” aku mengusir gadis berambut sebahu yang menatapku dengan takjub. Mata polosnya menatap temannya pilu.

“Pergilah..kwenchana[3]” ucap gadis berkerudung menenangkan.

*

LIDYA

Siapa sebenarnya lelaki dihadapanku ini? Seorang Profesor? Dengan otak sedangkal itu? Daebak! Dia membuat aku tersiksa di sini mengerjakan tugas Lee Na? Apa dia tidak ingin bertanya siapa namaku?

Na[4] Lidya Park,” ucapku saat Lee Na sempurna pergi.

Mo[5]?” jawabnya enteng.

Ne, Iremi Lidya Park[6]. Bukan Park Lee Na,” serangku.

*

“Lidya! Otte?[7] ” sapa Lee Na melalui line.

“ Kwencana,” balasku.

“ Kau benar-benar baik-baik saja?”

 “ Chrome [8], Na Lidya!” gayaku menyombongkan diri.

Mianhe[9] Lidya..” ujarnya merasa bersalah.

Joengmal[10] kwenchana Lee Na ya..Aku bahkan memberinya pelajaran,” tegasku

“ Apa?”

Aku tersenyum misterius.

*

JOAN

Gadis bernama Lidya Park itu tampak tidak asing di mataku, apa aku pernah bertemu dengan dia sebelum ini? Tapi dimana? Rasanya benar-benar tidak asing. Omo, bukankah dia adalah gadis kenalan Herry? Iya, aku yakin sekali dia adalah gadis itu.

Odisso[11] Herry?” tulisku dalam pesan. Dan Herry dalam sekejap menghubungiku via telpon.

“ Maaf  aku sedang tidak berada di Seoul Prof. Apa kau menghubungiku karena tugasku?”

“Aniyo. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu.” jawabku.

“Apa Prof? tak bisakah kau menanyakannya lewat telp saja? Please, aku bisa mati penasaran,” rengeknya.

“Bukan sesuatu yang penting Herry ya,”

“Ayolah..”

Dan dengan kejam aku menutup sambungan telpnya, memutus rengekan manjanya.

Herry adalah mahasiswa kesayangaku, dia berasal dari Indonesia. Diantara seluruh mahasiswaku, dia adalah mahasiswa terpandai. Orang tuanya juga masih memiliki darah asli Korea, tepatnya dia adalah putra sulung Prof Lee dari Busan.

Dari penampilan dan wajahnya, gadis berkerudung itu kemungkinan besar adalah mahasiswi dari Indonesia juga. Gadis yang pemberani, ingatku sambil menahan tawa.

Ne, Iremi Lidya Park[12]. Bukan Park Lee Na,” katanya dengan ketus.

“Mo? Kamu bukan Park Lee Na kau bilang? Lelucon macam apa ini..” ucapku tak yakin.

Lalu dia mengeluarkan kartu tanda pengenal yang dia miliki, mengangsurkannya padaku. Dan yang tertera memang nama Lidya Park, bukan Park Lee Na.

“Lalu kenapa kau tak mengatakannya sejak awal?” tanyaku menyelidik.

“Karena aku sengaja, aku ingin memberimu pelajaran. Seseorang yang begitu memuja dirinya sendiri layaknya kau Prof!” ucapnya dengan tegas.

Dan dalam sedetik aku terhipnotis. Siapa yang berani sekali mengucapkan kata-kata semacam itu padaku? seorang gadis dari negri antah berantah? Omo..

“Kau manusia, dan sangat mungkin melakukan sebuah kesalahan..bukan begitu?” ujarnya padaku.  Aku masih tak mengerti apa yang dia katakan, sebenarnya apa yang dia harapkan? batinku.

“Bukankah seharusnya manusia memiliki sebuah rasa empati terhadap manusia lain? Lalu kenapa kau bahkan begitu kejam terhadap semua mahasiswamu seolah kau sendiri tidak pernah mengalami sebuah kesalahan pun?” serangnya padaku.

“Apa yang salah dari sikapku?” jelasku.

“Gaya kejammu itu hanya membuat mereka ketakutan. Lihat, kau kejam dan sombong,” jelasnya sambil menunjuk wajahku.

“Lalu apa yang kau harapkan dariku sekarang?” tawarku.

“Kau harus dihukum atas kesalahanmu, kau yang salah mengiraku Lee Na,” jawabnya dengan senyum penuh misteri.

“Oke. Kau menang. Aku akan melakukan apa yang kau mau,” janjiku.

*

10 Juli 2015

JOAN

Hari itu, di hari aku bertemu dengannya untuk pertama kali, bahkan dia dengan berani memaksaku mentraktirnya makan di sebuah restoran kecil di sudut jalan ini. Dia berkata bahwa ini adalah hukuman atas semua kekejaman dan kesombonganku. Mengingatnya saja membuat hatiku hangat. Dan kini selang setahun sejak masa itu, aku menyesali pertemuan kita. Aku berandai andai, apakah jika hari itu aku tidak mengenalnya hatiku tetap sesakit ini sekarang? Apakah cinta hanya memberi sepotong rasa sakit? Bahkan otak encerku tak dapat menolongku agar tak terjatuh pada pesonanya.Hari ini aku kehilangannya, dan bodohnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.

LIDYA

Sejak hari aku mengenalnya, setiap hari terasa berjalan perlahan, menciptakan sekeping kenangan yang hari ini ku sesali. Aku yang telah memiliki seorang calon imam, terjatuh dalam pesona Profesor muda itu. Kami menjalani hari tanpa beban, menikmati tiap  detik yang dapat kita habiskan bersama. Bukannya aku tidak berusaha atas cintaku, aku bahkan mengatakan pada Abahku bahwa aku tidak menerima lamaran Herry karena dia, profesor muda itu. Abahku yang demokratis itu hanya menanyakan 1 hal padaku, 1 hal yang menghalangi cinta kami. “ Apa agamanya Ya?” tanya abah saat itu. Dan aku hanya terdiam. Sejak awal rasa cinta bersemi diantara aku dan dia, kami sering membahasnya dan selalu berakhir buntu. Ommanya marah besar saat dia mengatakan akan mengikuti agamaku. Ommanya yang shock jatuh sakit, koma hingga sekarang. Dan kami memutuskan untuk mengakhiri ‘cinta benar’ kami.

Kami saling melepas bukan karena kami tak sanggup berjuang, justru karena hakikat cinta adalah saling melepas. Bukan memaksakan cinta kami, dan menyakiti banyak hati.

Biodata Penulis

Delim@ adalah nama pena dari Lili Maya, seorang mahasiswi santri IAIBAFA Jombang. Mahasiswi yang menetap di PPP al Amanah yang terletak di Jl KH Wahab Hasbulloh gang pondok (depan madrasah muallimin muallimat)itu dapat di hubungi di 081234372932, akun fb @Delima Ae, atau email ke: mayalili906@gmail.com. Sebagai penulis pemula, delim@ sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca sebagai usaha perbaikan untuk karya-karyanya. J

 

 

 

[1] Ayo

[2] Ibu

[3] aku baik-baik saja

[4] aku

[5] apa

[6] Ya, namaku Lidya Park

[7] bagaimana

[8] tentu

[9] maaf

[10] beneran

[11] dimana

[12] Ya, namaku Lidya Park

  • view 45