Musim Dingin di kota Ini

maya khusnan
Karya maya khusnan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 April 2017
Musim Dingin di kota Ini

Seorang pria berjalan semakin mendekat sambil menunjukkan senyum terbaiknya, menampakkan sederet gigi putihnya. Wanita berbaju putih melangkah menjauh dengan wajah takutnya, berusaha menghindari tatapan pria dengan senyum terbaik itu. Dengan peluh memenuhi sekujur tubuhnya, wanita itu berusaha mencari sesuatu untuk menghalangi pria dengan senyum terbaik itu. Akan tetapi dia hanya menemukan ruangan kosong. Gelap dan menyesakkan. Menghimpit tubuhnya yang kurus. Mimpi ini lagi ! umpatnya.

***

Musim dingin dikota ini terjadi sepanjang tahun. Hingga penduduk lupa bagaimana hangatnya rengkuhan sang mentari. Rutinitas pagi dimulai dengan senyum merekah dari bibi penjaga toko diujung jalan. Wardah menyambut senyum itu dengan anggukan sopan dan bergegas menuju halte yang ada diseberang jalan. Bus nomor 10 yang selalu ditumpanginya merapat. Wardah mengeluarkan kartu pembayaran digitalnya dan menempelkannya dimesin pembayaran bus. Seperti biasa, dia memilih duduk di bangku paling belakang dan mulai sibuk dengan bukunya, sembari mendengarkan musik. Memulai hidup sendirinya.

Selama perjalanan menuju kampusnya itu, seorang remaja seumurannya mendesak tempat duduknya. Dia bergeser untuk memberikan tempat kepada si remaja itu.

“ Kamu Wardah?”

“ Iya, maaf..kamu siapa?”

“ Panggil saja Ken, mahasiswa baru tahun ini”

Sejenak tercipta jeda diantara percakapan mereka, seseorang pak tua menyela diantara tempat duduk mereka. Ken canggung untuk memulai percakapan dan Wardah telah kembali sibuk dengan dunianya. Bus melaju membelah keramaian.

Suasana ruang 1 yang lenggang membuat Wardah merasa nyaman berlama - lama. Beginilah dia, sosok yang menyukai keheningan. Mencintai kesendirian layaknya seorang sahabat lama. Menciptakan jarak dengan orang di sekitarnya. Memulai hidup sendirinya yang sepi dan hampa.

Ken teringat buku psikologinya yang di pinjam Sadam. Dia berniat mengambilnya dari Sadam, saat sudut matanya menangkap siluet sosok yang selalu menarik perhatiannya tengah duduk sendirian di ruang 1. Wardah yang seperti biasa selalu sibuk dengan buku – bukunya. Yang  bahkan tidak mengenalnya, seorang mahasiswa baru terbaik universitas mereka.

***

Tidak selalu harus ada penjelasan dari setiap hal yang kita benci di dunia ini. Seperti halnya cinta, dia juga tidak memerlukan penjelasan. Hal itu tumbuh dengan sendirinya. Menyeruak masuk ke dalam relung hati terdalam, mengendap lama.

Itulah yang dirasakan Wardah saat itu. Merasa hidupnya tidak akan sempurna tanpa senyum sosok itu, lelaki pujaannya. Dunia akan baik – baik saja asal ada dia, hidup tanpa penyesalan apapun. Bersama Atta, cinta pertamanya.

Kenangan bahagia itu pulalah yang kini menghalanginya, menghalangi senyumnya. Hanya sesak yang tersisa. Berganti dengan serangkaian mimpi buruk yang melumatnya setiap malam. Mimpi buruk itu datang terus menerus menghantuinya. Mengingatkannya tentang waktu terburuk dalam hidupnya. Waktu yang selalu berusaha dia hapus dalam ingatannya.

***

Ken pertama kali mengenal Wardah dari seorang teman lamanya yang kebetulan berada di sekolah yang sama dengan Wardah saat SMA. Wardah memiliki mata tajam yang menawan. Bersinar cerah. Namun, semenjak kembali dari liburan panjang kelulusan, tatapannya seolah menyimpan luka yang tidak terobati. Membuat semua orang berusaha melenyapkan luka itu agar mata menawan itu kembali bersinar.

Semenjak itu, Ken selalu memperhatikan Wardah dan berusaha mencuri kesempatan untuk mendekatinya. Ken tidak pernah tau kalau hal itu tidak akan mudah.

***

Liburan kelulusan telah tiba. Wardah berencana menghabiskan masa liburannya dengan melakukan pengamatan ilmiah bersama lelaki pujaannya, Atta. Mereka dan beberapa teman sekelas berencana akan menyewa sebuah vila di wilayah utara Melabuh. Mereka akan mengamati perkembangbiakan penyu di penangkaran di pesisir pantai Melabuh.

Wardah teringat pertemuannya dengan Atta dulu. Hari itu mendung bergelanyut di langit hatinya. Hari kematian lelaki spesialnya. Atta mendatanginya yang menyendiri di sudut taman belakang rumahnya. Sejak bundanya pergi saat dia kecil, papanya adalah harta paling berharga milik Wardah. Papa yang dengan sangat baiknya memerankan peran seorang papa dan bunda untuk Wardah, mengajarinya banyak hal. Mengajarinya arti sebuah kemandirian, kejujuran dan tentunya makna sebuah kebahagiaan sejati. Papanya yang seorang pengusaha itu, tidak pernah membuat Wardah merasa kekurangan kasih sayang. Papa adalah seorang sahabat yang mendengarkan semua keluh kesah Wardah di sela – sela kesibukannya. Papa adalah segalanya untuk Wardah. Hingga hari gelap itu datang, papanya ditemukan tidak bernyawa di hotel yang diinapinya dalam sebuah perjalanan bisnis. Remuk redam hati Wardah saat itu, papanya yang penuh senyum bersahaja itu meninggalkannya sendirian. Polisi mengatakan bahwa ada kemungkinan papanya mati dibunuh. Saat itulah, ditengah hiruk pikuk pemakaman papanya, Atta datang dengan membawa senyum terbaik. Senyum yang dengan mengingatnya saja Wardah dapat melalui hari dengan penuh keceriaan. Senyum yang melupakannya pada luka dihatinya.

Atta adalah seorang anak pindahan di sekolahnya. Mereka berada di kelas yang sama. Atta seorang anak yang penuh dengan keceriaan. Matanya yang lebar seolah – olah tersenyum saat dia menatap, menawarkan kehangatan. Mereka bertetangga sejak hari kematian papa Wardah. Pak Hendra, papa Atta juga seorang pengusaha seperti papa Wardah. Atta hanya tinggal dengan papa dan seorang pembantu dirumahnya. Wardah tidak mengetahui keberadaan mama Atta. Atta selalu menutupi cerita tentang mamanya, seolah hal itu adalah sebuah aib.

Meski ada di kelas yang sama, usia Wardah dan Atta terpaut 2 tahun. Karena sering berpindah sekolah, Atta harus sering mengulang jenjang sekolahnya. Maka takdir mempertemukan mereka di kelas yang sama, kelas 2 SMA Nusa Bangsa ini.

Sejak Atta datang dengan senyum terbaiknya itu, Wardah menemukan sosok pengganti papanya, sosok yang menjaga dan melindunginya. Dan seiring melesatnya sang waktu, dia menyayangi penyelamatnya itu.

Di hari Atta melihat Wardah di sudut taman belakang rumah di hari kematian papa Wardah, Atta seperti menatap sebuah cermin, cermin tentang dirinya yang menangis di sudut kamarnya saat mamanya pergi. Pergi meninggalkan dia dan papanya setelah perang hebat antara mama dan papanya. Mama Atta yang seorang guru kesenian itu, ternyata memiliki seorang anak selain Atta dengan mantan kekasihnya dulu. Mama dan papa Atta memang terpisah beberapa tahun karena tuntutan pekerjaan. Papa Atta saat itu baru tiba dari Jepang untuk urusan bisnis. Papa Atta yang merasa dikhianati mengusir mama Atta. Atta yang saat itu baru berusia 8 tahun hanya bisa menangis disudut kamarnya. Maka karena cermin itulah, Atta datang pada Wardah dan berikrar untuk menjaganya. Memenuhi kewajibannya yang tertunda.

***

Wardah menyukai bunga mawar merah. Taman rumahnya di penuhi dengan mawar merah dari berbagai jenis. Warna merah yang berani, pikirnya. Sejak kematian papanya, Wardah tinggal bersama Om Reza, adik papanya. Wardah menjalani rutinitas hariannya tanpa senyum semenjak hari menyakitkan itu. Hari paling menyakitkan setelah hari kematian papanya. Hari yang selalu ingin dia hapus dalam ingatannya.

***

Hanya ada kenangan indah sejak Wardah mengenal Atta. Lembaran hidup kelamnya telah berganti menjadi lembaran penuh kebahagiaan. Waktu jualah yang menyadarkan Wardah bahwa dia begitu mengagumi malaikat penyelamatnya itu. Wardah jatuh hati pada malaikat dengan senyum terbaik itu.

Atta selalu menyukai waktu yang dia habiskan bersama Wardah. Hingga  dia lupa diri, bahwa dia tidak boleh menyukai Wardah seperti ini.

***

Ken mengikuti wardah keluar dari kampus menuju halte. Dia sedang berusaha menciptakan kesempatan untuk lebih mengenal sosok Wardah. Tapi, saat dia memberanikan diri menyapa Wardah, Wardah berlalu begitu saja. Dia seperti biasa, sibuk dengan musik yang didengarnya. Ken menghela nafas pelan. Ini keterlaluan, pikirnya.

***

Atta kecil berusaha mencari tahu tentang anak dari mamanya. Dia mengikuti mamanya setiap sepulang sekolah. Suatu hari mamanya berhenti disebuah taman bermain tak jauh dari sekolahnya, memandangi sesosok gadis dengan mata tajam menawan.

***

Ken yang merasa terluka dengan semua keacuhan Wardah, bertanya kepada Ria, teman Wardah saat SMA dulu.

“ Kenapa sih dia? Cuek banget”

“ Sepertinya permasalahan psikologi Ken”

“ Maksud kamu dia gila?”

“ Hampir, hahaha” candanya

***

Seharusnya dia membencinya, sosok bermata tajam menawan itu. Dialah yang membuat mamanya pergi. Seharusnya berjalan seperti itu. Tetapi tuhanlah yang menulis skenario ini. Dan kita hanya dapat menerima.

***

Wardah sedang menyirami bunganya saat Ken tiba di rumahnya. Ken beralasan akan meminjam buku psikologi Wardah. Wardah mengambilkan dan menyerahkan pada Ken. Wardah berlalu, kembali sibuk menyiram bunga – bunga mawar merahnya. Ken kembali menghela nafas.

***

Hari itu, saat mereka sibuk dengan pengamatan penyu, papa Atta menjemput Atta tiba – tiba dengan raut wajah penuh amarah. Atta menolak untuk pulang dengan papanya. Mereka bertengkar hebat. Wardah menyusul Atta yang pergi dengan papanya dan Wardah terhenyak. Bukan karena pertengkaran hebat antara Atta dan papanya, namun karena kaitan dirinya dengan pertengkaran itu.

Setelah papanya pergi, Atta mencari wardah di villa, tapi Wardah tidak ada di sudut manapun di villa. Atta mencari Wardah di pantai, tapi tidak ditemukan juga. Lalu Atta menuju tebing di atas bukit, dan menemukan Wardah di sana. Diam menatap ombak yang menerjang tebing dengan kuat.

“ Kamu disini?” tanya Atta lega.

“Siapa kamu?”

Atta yang heran berusaha membalik tubuh wardah menghadapnya. Dan tampaklah, mata tajam menawan itu basah dengan air mata.

“Siapa kamu?” ulang Wardah

Atta terhenyak dan melangkah mundur.

“Apa maksudmu Wardah?”

“Aku bertanya siapa kau?!” teriak Wardah dengan frustasi.

“Apa kamu..mendengar aku bertengkar dengan papa?”

Entah kata apa lagi yang keluar dari bibir dengan senyum terbaik itu, Wardah tidak kuasa mendengarnya. Dia berlari melompati tebing. Menyatu dengan gelombang ombak yang ganas.

***

Kata orang, waktu akan membasuh lukamu, menjadikannya tak terasa sakit lagi. hal itu yang selalu ditunggu oleh Wardah. Menunggu semua luka ini mengering dan mengelupas, hilang tanpa bekas.

***

Setelah siuman hari itu, Wardah tak menemukan Atta dimanapun. Tapi itu lebih baik, karena dia tidak akan sanggup menghadapinya. Lelaki dengan senyum terbaik yang dia cintai. Dan yang dia sadari, semenjak hari itu, hatinya tidak pernah merasakan apapun selain pedih.

***

Sejak pertengkaran Atta dan papanya yang mengungkap semuanya , sejak itu pula, bagi Wardah, musim dingin terjadi sepanjang tahun di kota ini. Begitu dingin dan menyakitkan. Akhir ini bukan karena Ken kurang berusaha atau apapun, tapi bagi Wardah, hatinya sudah lama tenggelam.

***

 

 

(epilog)

1 hari sebelum kematian papa Wardah.

Terdengar ketukan dari pintu kamar 102 yang ditinggali papa Wardah. Tanpa sedikit pun rasa curiga, Pak Darren, papa Wardah membukakan pintu untuk tamunya itu. Seorang remaja tanggung tampak penuh kemarahan membekap mulutnya dengan bius. Sesaat kemudian pak Darren sudah kehilangan kesadarannya. Saat sadar, tangannya sudah terikat.

“Pergilah dengan tenang pak tua, meski kau telah menghancurkan keluargaku” desisnya marah

“Kamu siapa?”

“Aku? Aku adalah seorang anak yang kau pisahkan dari mamanya”

“Tunggu..kau..”

“Dasar lelaki biadab! Perebut istri orang! Pergi kau ke neraka!” teriaknya kalap sambil menyuntikkan obat dengan kadar tinggi ke dalam tubuh pak tua itu

“ Atta! Hentikan!”

Suara pak Hendra dari depan pintu menyadarkannya. Tentang apa yang telah dia lakukan.

 

 

 

  • view 100

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    5 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Cerpen dengan alur cepat ini membuat pembaca tak kan bosan menikmatinya. Selalu penasaran menanti akhir kisah. Apalagi, sang kreator, Maya Khusnan, membuat alur yang acak secara tertib, membuat mau tidak mau pembaca jadi ingin tahu.

    Inti kisah sangatlah pilu. Jalinan cinta antara dua orang yang memang tidak seharusnya mencintai karena cerita masa lalu orang tua masing-masing membuat cerita semakin getir. Hingga pada akhirnya tak semua bersatu, masing-masing tokoh mengakhiri penderitaan dengan cara masing-masing. Atta yang memilih pergi karena tak sanggup menahan beban rasa bersalah terhadap Wardah dan Wardah yang menutup hati untuk Ken. Sekadar saran tempo di beberapa bagian terlalu cepat sehingga dramatisasi kurang maksimal. Secara keseluruhan, fiksi ini seru!