Lorong Cinta

maya khusnan
Karya maya khusnan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Maret 2017
Lorong Cinta

Harus bagaimanalah ini, Allahku?

*

1

Aku Naila, Naila Salimah. Seorang Mahasiswi santri di salah satu pesantren terkenal di Jawa. Hidup di pesantren sejak menyelesaikan sekolah dasar di rumah, tepatnya di Banyuwangi membuatku memiliki banyak pengalaman berharga. Hari ini tepat 14 tahun berlalu sejak  hari keberangkatan ke pesantren. Akhir tahun lalu, studi S1 di kampus milik pesantren dengan gelar cumlaude menjadi awal sebuah cerita baru. Cerita tentang penantian panjang akan datangnya sesosok imam hidup, imam yang akan menentukan arah hidup dan harapan masa depan.

Usia yang mencapai 26 tahun menjadi momok yang menghantui hati, membuat perasaan resah memenuhi rongga dada mengkhawatirkan banyak hal, tentang siapakah dia sosok yang selalu kutunggu, tentang akankah sosok itu segera hadir, dan tentang ribuan pertanyaan yang semakin menyesakkan. Rasanya tak kurang seluruh usaha dan perjuangan dikerahkan untuk mengundangnya mendekat, menjemput seluruh pengabdian tertundaku. Doa yang terlantun di setiap helaan nafas mengiringi penantian, namun apalah daya manusia lemah? penantian menjelma seolah jalan panjang tak berujung. Allah..kuatkan hambamu ini! pekik hatiku.

Tanpa lelah abah yai berusaha membantu usaha penantian ini dengan mengajukan beberapa pilihan. Namun Allah kiranya masih mengukur seberapa layaknya seorang Naila dalam membina bahtera rumah tangga. Kak Salman yang merupakan 1 diantara beberapa calon yang di ajukan abah yai memutuskan mengakhiri taaruf yang sempat kami lakukan dengan alasan akan melanjutkan studinya terlebih dahulu. Aku hanya dapat menangis tergugu di sudut kamar merasa betapa tidak adilnya Allah dengan segala pilihan skenarioNya. Kekecewaan serta kesedihan itu menggelayut lama dalam sel darah, terpompa keseluruh tubuh.

“Kenapa La? apa kamu masih kecewa pada Salman?” tanya bu nyai.

“Saya hanya manusia bu..tentu rasanya benar-benar tidak nyaman. Apalagi kita bertaaruf dalam masa yang tidak bisa dibilang sebentar.”

“Sabar Naila..pasti Allah punya jalan cerita yang lebih indah buatmu,” nasehat beliau.

“Naila kadang berfikir, apa salah Naila bu..hingga Allah tega seperti ini pada Naila” gumamku menahan sesak.

“Astagfirullah..istighfar La..kenapa kamu sampai berfikiran seperti itu? Ini sudah suratan takdir yang harus kamu lalui dengan lapang, Salman mungkin bukan yang terbaik untukmu.”

Aku beristighfar memohon ampun pada Allah karena meragukan kasih sayangNya. Sejak hari itu, tiap detik waktu yang bergulir menjadi saksi seluruh rasa penghambaan padaNya. Memang butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengobati seluruh luka ini, namun dukungan dari semua teman dan keluarga membuat fase itu berjalan lancar, tanpa kusadari waktu yang melaju membawa sebuah kabar.

“Mbak Naila mau ikut takziyah?” tanya bang Zaenal, supir bu nyai.

“Memang siapa yang meninggal bang?”

“Mas Salman mbak, yang dulu di kenalkan sama mbak Naila.”

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..detak jantung spontan melesat lebih cepat mendengar kabar itu. Ini baru 5 bulan sejak kami memutuskan taaruf yang kami lakukan. Aku merenung memahami semua jalinan takdir ini. Seandainya 5 bulan lalu kami meneruskan rangkaian proses taaruf itu dan berakhir indah di pelaminan, mungkin hari ini Naila Salimah telah menyandang gelar janda. Inikah rahasia dibalik skenarioMu ya Allah? Betapa bodohnya makhluk  yang sempat menyalahkanMu ini, batinku sesak.

2

“Saya Aan,” ujar lelaki bermata teduh di hadapanku.

“Saya Naila”

Bu nyai mengajukan seorang calon, kata beliau dia orang yang baik agamanya. Segala hal tentang dia adalah kualifikasi imam yang baik, kecuali 1 hal yang sejak perkenalan pertama kami selalu menghantui pikiranku. Aan yang seorang santri penjaga kalam Allah itu berprofesi sebagai seorang tukang kayu di pasar. Sepotong rasa tidakterima pada takdir menghantui. “ Naila Salimah yang menyelesaikan studi S1 dengan gelar cumlaude harus bersanding dengan seorang tukang kayu?” guratan kata dalam hati terdalam menggocang otakku. Apalagi ini ya Allah..betapa beratnya belajar ikhlas atas semua ketetapanMu. rintihku. Kilasan bayangan menyedihkan tentang hidup bersama Aan begitu mengganggu, semakin meragukan insan yang bimbang ini.

Musyawarah panjang antara orang tua dan kyai teriring hangat, mengharap kebaikanlah yang muncul sebagai kesimpulan. Pengalaman menjadi pijak landasan, aku memasrahkan semua pada hasil keputusan musyawarah dan berserah kepadaNya. Detik penantian hasil menguarkan aroma sesak, sesaknya sebuah pengharapan. Harapan besar atas terciptanya keluarga surgawi.

Ayah menyetujui calon yang diajukan kyai, beliau berkata bahwa Aan akan jadi imam yang baik di masa depan.

“ Agama dan akhlaqnya bagus, terimalah nduk,” kata ayah.

Ummi juga mengatakan hal yang sama, beliau dengan sepenuh hati merestui hubungan taaruf dengan Aan. Tapi aku? kenapa lagi-lagi berat? Salman yang dikenalkan sebelumnya adalah sarjana lulusan Mesir dan penghafal al quran, dia juga telah bekerja menjadi salah satu dosen di Universitas bergengsi di Banyuwangi, sedangkan Aan? lagi-lagi bayangan hidup sulit dengannya menghantuiku, inikah nasib perawan tua? siapa lagi yang akan menerimaku jika menolaknya? batinku bimbang.

Suatu pagi bu nyai memanggilku mengajak berdiskusi.

“Bagaimana La? bukankah nak Aan juga baik?” selidik beliau.

“Iya bu. Semua tentang Aan dapat saya terima dengan baik.”

“Lalu kenapa kamu tak lekas memberi jawabanmu?”

“Saya masih perlu berfikir bu,” ujarku beralasan.

“Apa yang kamu fikirkan La? tentang dia yang hanya seorang tukang kayu?” tebak bu nyai.

Aku yang terkejut karena bu nyai mengetahui apa yang ada dalam benak hanya dapat mengangguk kecil.

“Rizki itu Allah yang ngatur..kamu ndak perlu ikut campur. Usaha lalu pasrahkan, selebihnya bagian Allah La”

Diskusi pagi itu di akhiri dengan linangan air mata keraguan yang meleleh hangat dari sudut mata.

3

“Saya bisa mengerti seandainya mbak Naila menolak saya,” ucap Aan.

“Saya masih belum memutuskan,” jawabku singkat.

“Karena seorang yang terpelajar lagi penghafal kalam Allah seperti mbak Naila pantas mendapatkan yang lebih baik dari saya yang hanya tukang kayu ini,” jelasnya merendah.

Aku jadi tak enak hati padanya. Lelaki bermata teduh itu memiliki hati seindah emas.

“Kamu lelaki yang baik mas Aan, hanya saya yang masih terlalu banyak berfikir. Mohon kesabarannya menanti istikhoroh saya.”

Dia hanya mengangguk mantap mendengar penjelasan yang kuutarakan di pertemuan kedua kami. Malam harinya aku meratap bercerita semua beban hati pada sang Khaliq.

“Harus bagaimanalah ini, Allahku? Apa ini memang yang terbaik? Maafkan hamba yang terlalu dungu memahami kedendak muliaMu Allah..aku yang terlalu sering mendosa padaMu tetapi Kau tetap melimpahi rahmatMu.”

Aku mantapkan hati memilihnya, memasrahkan segala pilihan pada Allah. Dengan segenap kekuatan meyakinkan pilihan atas Aan Muhammad sebagai pendamping, imam keluarga, dan  abah dari anakku. Menerima segala kelebihan dan kekurangan lahir bathinnya, seperti penerimaan tulusnya terhadap sosok tak sempurna ini.

4

Pernikahan kami di langsungkan 2 bulan kemudian di pesantren, dengan pesta sederhana nan penuh khidmat. Aan si tukang kayu itu, memperkenalkan aku pada seluruh keluarganya dengan bangga. Kami bersyukur dapat saling melengkapi satu sama lain, belajar menerima segala kurang, dan memaafkan segala salah. Tatapan kasih sayang terpancar jelas dari mata beningnya.

Keesokan harinya, Kami pulang ke rumah keluarga mas Aan di Jombang, ribuan orang berjajar menjemput kedatangan kami.

“Selamat datang gus Aan,”ucap salah seorang penjemput dengan takdzim kepada suamiku.

Tatapan tak mengerti yang kuarahkan padanya hanya disambut dengan sebuah anggukan kecil, dia tersenyum simpul. Aan Muhammad ternyata adalah seorang putra kyai masyhur di Jombang. Dia yang sejak kecil tinggal di pesantren teman Abahnya dengan suka rela menawarkan membantu mengelola hasil perkebunan milik pesantren. Inilah rahasia indah yang Allah hadiahkan padaku, seorang hamba yang masih belajar memahamiNya. Terima kasih Allah.

  • view 61