Jejak Pudarmu

Maya Anggraeni
Karya Maya Anggraeni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Maret 2016
Jejak Pudarmu

ku usap bibir cangkir kopiku. setengah hitamnya telah kuteguk perlahan. masih menatap jendela dalam diam. merenung, mencoba memintal rapi benang-benang kusut dalam otakku. menghela nafas dalam, melepas beban yang tertahan dalam hati, menahan sekuat-kuatnya yang tersisa sampai di titik terlemahku. aku, dalam sebuah kedai kopi, dengan ransel besar di samping kursiku dan kursi kosong di depanku, juga bayangmu ada di depanku, duduk di kursi kosong itu.

perjalanan ini berat, tahukah kamu? semakin berat saat kusadari aku berharap perjalanan ini bersamamu. beban ransel ini berat, mengertikah? semakin berat ketika hati ini berusaha keras menahan segala kata yang ingin kuucapkan, yang akhirnya ciptakan rasa lelah yang menyamarkan rasa lelah di pundakku.?

momentum itu beterbangan dalam benakku. aku hanya berusaha kuat di depanmu, bersikap seolah tak peduli dengan romantisme yang kau ciptakan. bukan aku tak peduli, terlalu banyak yang ingin kukatakan namun tiba-tiba menjadi kelu di ujung bibir. bukan aku mati rasa, aku hanya takut pada akhirnya semua ini hanya kebohongan yang kau ciptakan, namun aku telanjur menempatkan kepercayaan ini padamu, aku letakkan namamu dalam sudut hatiku, di suatu sudut yang telah lama hampa. aku hanya berpura-pura kuat ketika hati ini rapuh.

kulangkahkan kaki ini keluar kedai kopi, menyusuri jalan pedesaan dengan udara dingin yang menyusup ke dalam jaket abu yang kukenakan, jaket milikmu yang kau letakkan pada punggungku, saat itu, sebelum pertengkaran itu, di salah satu danau terindah yang pernah kulihat. dan saat ini, aku menyusuri kembali perjalanan saat itu. berusaha menemukan jejak-jejakmu yang pudar oleh waktu.?

satu persatu rumah warga kulewati, sapa ramah mereka lemparkan padaku. aku tersenyum membalas keramahan mereka. satu-dua wajah belum asing bagiku. bapak tani yang dulu menolong kami, ya, aku dengannya, saat kami membutuhkan tempat untuk beristirahat, bapak tani itu terlihat bugar, seperti saat itu. sang istri, juga masih setia menemaninya bekerja di sawah. kenangan itu belum pudar, ternyata.?

aku kembali menyusuri jalan pedesaan setelah berusaha keras berpamitan dengan suami-istri tani yang luar biasa baik itu, aku berjalan sembari mengunyah singkong rebus pemberiannya. hangat, riang ini samar menyusupi hatiku.

masih dengan senyum yang terlukis di wajah untuk membalas keramahan warga yang tak ada habis-habisnya, aku mulai memasuki jalan setapak, jalan menuju danau yang indah itu. danau tempat kau dan aku bertengkar. aku memutuskan pulang saat itu, biarkan dirimu sendiri di pinggir danau. aku ingat saat itu, perjalanan pulangku menjadi sebuah penyesalan hebat. aku terlalu egois.?

jalan setapak itu masih sama, hijaunya masih sejukkan mata. langkah kaki ini mulai terasa ringan ketika jernihnya danau itu mulai terlihat dari kejauhan. dan senyum ini semakin mengembang ketika danau itu sudah di depan mata, aku berdiri di pinggirnya.?

pandanganku menyusuri pemandangan di sekitarku, menghembuskan nafas kencang-kencang, menghela nafas dalam dan siap berteriak, ketika itu aku menyadari sesuatu, bayang di ujung danau, bayang yang mulai menyesakkan benakku selama perjalanan ini. nafasku tertahan.?

aku lihat wajah itu, sama sepertiku, sebuah ekspresi terkejut terlukis dalam wajahnya. sedetik kemudian, aku melihat senyum itu dan tangan yang melambai padaku. bulir air mata menetes di pipiku, hatiku mencelos berharap ini bukan sekedar imajinasi liarku.?

kau berlari menyusuri pinggir danau, berlari mendekatiku dengan ransel besar berada di punggungmu. kau mendekat dan aku bisa mendengar suara nafasmu yang tersengal lelah. kali ini, kau ada di depanku, menatapku heran karena air mata masih menetes di pipiku. kau disini, menepati janjimu setahun yang lalu, ketika kau berpamitan setelah pertengkaran di pinggir danau saat itu, saat itu kau hanya katakan, "aku akan menemuimu disini, tahun depan, tak peduli seberapa marah yang kau simpan untukku."

?

dan sekarang, aku memaafkanmu, memaafkan karena biarkanku menyimpan sesak ini terlalu lama, walau aku sadar, aku egois saat itu.?

?

  • view 88