kamu yang ku tunggu

humaira may
Karya humaira may Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Februari 2016
kamu yang ku tunggu

Mungkin ini terdengar konyol, tapi aku sendiri tidak pernah mengerti. Akhir-akhir ini, saat seorang lelaki datang untuk meminangku. Perasaanku diselimuti kebimbangan. Bagaimana tidak, hari-hari dimana aku berusaha untuk mulai mempertimbangan tentang jawaban apa yang akan aku berikan pada laki-laki itu. Justru hampir setiap malam, aku memimpikan dirimu. Dalam mimpi itu, kita bertemu dan bercakap-cakap dengan akrab. Aku merasa begitu dekat denganmu. Sementara tenggang waktu aku untuk memberi jawaban semakin sempit. Kamu, yang akrab hadir dalam kehidupanku. Namun, tidak dalam kehiduan nyata melainkan hanya dalam mimpi. Hanya dalam dunia imajinasiku. Apakah dibawah alam sadarku, sebenarnya aku sedang begitu merindunkanmu. Karena kita yang begitu lama tidak bertemu. Aku mulai melawan perasaan ku sendiri. Aku hanya punya waktu tiga hari lagi untuk memberikan jawaban. Aku tidak bisa dengan mudah mengatakan tidak pada laki-laki ini. Dia terlalu baik dan aku bisa merasakan ketulusannya mencintaiku. Dan mengatakan iya bagi ku juga lebih sulit. Dia memang mungkin mencintai ku. Lalu aku, sulit membedakan perasaan ku sekarang. Apakah aku hanya sebatas merasa kasihan padanya atau aku memang mulai menyukainya. Jika aku mulai menyukai laki-laki ini dengan caranya memperlakukan ku. Kenapa bayangan laki-laki itu yang lebih sering dating dalam hidup ku. Pertanyaan-pertanyaan? itu membuatku sulit tidur. Kepala ku terasa pusing. Dan aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Malam terakhir, aku mendapati hp ku berbunyi.

?dek, mas tidak sabar menunggu besok. Kamu tau dek? Harapan terbesar mas saat ini hanya satu, bisa hidup bersama denganmu. Apapun jawaban adek, mas akan berusaha ikhlas menerima. Tapi mas berharap, adek akan memberi jawaban yg mas harapkan.?

aku membaca sms itu dengan perasaan yang semakin kacau. Tuhan, bagaimana mungkin aku akan sanggup mengecewakan laki-laki ini. Aku melihat jam dinding di kamar. Sudah hampir pukul dua belas malam. Dia juga pasti sekarang sedang harap-harap cemas dengan jawaban yang akan aku berikan. Sementara aku, satu detik pun tak bisa ku pejamkan mataku. Waktu terasa berjalan cepat. Detik demi detik ini memaksa ku untuk segera memberikan jawaban. ?nak, apapun keputusan mu? harus kamu pikirkan baik-baik. Ini tentang masa depanmu, menikah itu bukan soal sehari dua hari. Tapi tentang seumur hidup,?pesan ayah terus terngiang. ?dia benar-benar tulus mencintaimu, bibi bisa lihat dari sorot matanya saat menatapmu,?kalimat bibi menyusul hadir.?

Dengan perasaan yang benar-benar sulit untuk aku jelaskan, saat pikiran kalut dan tidak bisa untuk memutuskan apapun. Aku mengambil air wudhu, dengan hati yang sepenuhnya aku pasrahkan pada pemiliknya. Aku sujud dengan linangan air mata. Sujud panjang yang membuat aku tidur diatas sajadah. Aku bertemu dengan dia lagi. Dia, laki-laki masa kecilku yang adalah cinta pertamaku. Kami bertemu ditempat yang sangat indah. Seperti taman tapi tak pernah aku temui taman seindah itu. Dia tersenyum pada ku. Senyum yang sudah hampir sepuluh tahun lebih tak pernah aku lihat. Senyum yang selalu aku rindukan. Entah dimana dia sekarang, tapi bayangan wahahnya tetap hadir dalam kehidupan ku. Dia hanya tersenyum, aku merasa begitu damai melihat senyumnya itu. Dia tidak mengatakan apapun. Dan aku juga seperti terhipnotis dengan senyumannya. Saat sedang menatap wajah itu, aku tiba-tiba terkejut, ?sayang??. Bangun, sudah subuh,?suara ibu samar-samar terdengar dibalik pintu.

Aku bangun dengan perasaan damai. Aku segera mengambil air wudhu untuk kemudian shalat subuh. Kegelisahan hati berganti kedamaian. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi semalam. Aku hanya bisa mengingat bertemu dengan laki-laki itu semalam. Mimpi yang entah itu petunjuk atau tidak. Tapi membuat aku yakin dengan keputusanku. Aku mengambil handphone ku. Sudah ada pesan.

?bagaimana dek??

Aku menarik nafas dalam, kemudian ku hembuskan. Jari-jariku mulai mengetik.

?mas??.. alangkah mulianya hatimu. Adek bisa merasakan ketulusan hatimu. Tapi adek tidak bisa memaksakan perasaan ini. Kamu orang baik mas, semoga kamu bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dari pada adek. Adek tau kamu pasti kecewa, semoga Tuhan mengganti kekecewaanmu dengan kebahagianaan.?

Aku mengirim pesan itu. Mungkin aku hanya bisa menunggu. Menunggu ketidakpastiaan ini. ?

  • view 275