Pergi

Mawar Puspadiana
Karya Mawar Puspadiana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Juni 2016
Pergi

Kamu menundukkan kepalamu. Menyembunyikan kerut di keningmu. Kamu lebih memilih memerhatikan seekor semut kecil yang sedang berusaha memindahkan sehelai rambut di dekat kakimu dibanding menatap manusia-manusia di hadapanmu. Padahal mereka tidak sedang menghakimimu seperti sebagaimana yang kamu takutkan, juga tidak akan mengasarimu sedikitpun. Sepertinya kamu pun mengerti, tapi kamu tetap tak mau menengadahkan kepalamu.

Sedari kecil kamu adalah anak yang selalu menciptakan keramaian. Di mana pun kamu berada, selagi Ayah belum memelototimu sebagai isyarat kamu harus diam. Sedari kecil tetangga-tetanggamu juga tahu bahwa kamu adalah periang bin nakal yang hanya takut pada Ayahmu. Sedari kecil pun kalian tahu kamu tak memiliki sosok Ibu. Kamu sangat mendambakan keluarga yang sempurna, tapi kamu juga tak pernah menginginkan bertemu Ibumu sekalipun beliau memang masih ada di bumi ini. Entah di bumi bagian mana.

Lagi-lagi kamu tak mau menatap wajah-wajah di depanmu yang barangkali begitu sumringah menatapmu. Kamu bahkan sekuat mungkin tak ingin mendengar kata per kata yang mereka ucapkan dengan lembutnya. Yang kamu tahu hanya satu: mereka semua wanita. Lantas ada apa dengan wanita? Mengapa kamu sebegitu tidak ingin menanggapi mereka? Seolah-olah yang kamu inginkan adalah ketiadaan mereka dari hadapanmu.

*********

Tiga bulan lalu.

Tiga bulan lalu kamu mencium punggung tangan ayahmu. Kamu berpamitan untuk pergi selama tiga bulan. Katamu, kamu hendak mencicipi rasanya bertahan hidup di desa almarhum pamanmu, di daerah Lampung Barat. Juga kata almarhum pamanmu desa itu sangat indah dan asri, sama indahnya dengan gadis-gadis di sana.

Kamu menetap di sana dengan satu alasan kuat yaitu menemani anak dan istri almarhum pamanmu yang baru saja ditinggal pergi, sementara alasan pendukung lainnya, ya, itu dia, gadis di sana cantik-cantik.

Ayahmu setuju.

Ayahmu selalu setuju selama kamu pandai beralasan juga mempertahankan alasanmu. Juga kamu sebelumnya selalu mengiming-imingi seorang menantu untuk ayahmu. Kamu selalu ingat, ayah ingin kamu menikah di usia dua puluh empat tahun, sementara usiamu kini sudah terlampau lima tahun dari usia yang diharapkan. Maka kamu mengusahakan pepatah ‘sambil menyelam minum air’ selama tinggal di desa almarhum pamanmu.

Sabtu sore kamu sampai di tempat tujuanmu setelah beberapa jam lalu kamu meninggalkan ayahmu sendirian di sebuah rumah minimalis mungil di daerah Kemiling, Lampung Selatan. Kamu disambut dengan hangat oleh seorang wanita yang biasa kamu panggil bibi juga dua anak perempuannya yang masih seimut Afika-oreo. Kalian bertemu di depan pagar kayu sebuah rumah sederhana nan merakyat. Rumah yang terakhir kamu kunjungi dua puluh dua hari yang lalu ketika almarhum pamanmu tergeletak kaku dengan lilitan kain putih menutupi seluruh tubuhnya.

            “Ayuk, A, masuk.” Ajak bibimu dengan logat sundanya yang tak pernah kamu tak suka mendengarnya. Kamu hanya membalas dengan senyum lalu mengikutinya masuk. Menelusuri ruangan-ruangan yang semakin sepi setelah ditinggal satu anggota keluarga saja.

            “Besok pagi kita mulai panen, ya, A. Sagita sama Leoni juga mau ikut bantuin katanya, dari kemarin udah nungguin A’ Govi datang.”

            Sagita adalah anak pertama bibimu. Umurnya delapan tahun. Ia lahir pada 12 Desember. Zodiaknya Sagitarius. Sebab itu namanya Sagita. Sedangkan Leoni adalah si bungsu. Umurnya baru enam tahun. Ia lahir pada 25 Juli. Zodiaknya Leo. Sebab itu ia diberi nama Leoni. Tentang dua anak kecil itu, sejujurnya kamu tidak suka anak kecil. Kamu tidak suka berisik. Kamu begitu benci mendengar rengekan manja anak-anak kecil. Dan kenyataannya kamu harus tinggal bersama mereka untuk beberapa bulan ini.

            “Mereka ga sekolah, Bi?” kamu menanyakan hal yang sebenarnya tak ingin kamu tanyakan.

            “Mereka, kan, lagi liburan semester. Masuknya masih lama, kan, Teh?” Bibi menyambungkan jawabannya kepada Sagita.

            “Masih lama. A’ Govi tinggal di sini juga lama, kan?” giliran Sagita yang memberimu pertanyaan.

            “Iya.” Kamu menjawab sekenanya.

            “A’ Govi tidur di kamar mana, Bunda?” Sagita kembali bertanya dengan mulut yang penuh roti selai nanas.

            “Di kamar Teteh. Nanti Teteh sama Adek tidur sama Bunda.”

            “Aku mau tidur sama A’ Govi, Bun. Boleh, ya?” rengek Sagita yang sekaligus membuatmu komat-kamit dalam hati berharap agar bibi tidak memperbolehkan.

            “Kasian atuh, Teh, Aa lagi capek.”

            Kamu tersenyum mendengar jawaban Bibi.

            “Memangnya boleh, A?”

            Tiba-tiba senyum manismu berubah menjadi masam.

            “Iya. Boleh.” Kamu menjawab dengan jawaban yang sebenarnya tak ingin kamu berikan.

            Tersebabkan oleh jawabanmu sendiri, malam itu kamu tidur dengan bocah delapan tahun.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan ini ditulis pada bulan akhir tahun 2015. Saya menemukannya kembali tergeletak koma pada sebuah folder tersembunyi di notebook beberapa hari yang lalu. Edisi dibuang sayang. Jika ada yang tertarik untuk melanjutkan cerpen ini, mari berkolaborasi! :)