Hoeda [#DibuangSayang]

Mawar Puspadiana
Karya Mawar Puspadiana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Juni 2016
Hoeda [#DibuangSayang]

Cappuccino hangat. Cangkir putih. Gerimis. Meja abu-abu persegi dengan dua kursi yang saling berhadapan. Semua hal itu sudah menjadi simbolik untuk keseharian Hoeda, gadis cantik keturunan Tionghoa yang baru saja menamatkan kuliahnya satu bulan yang lalu.

Cantik? Ya, Hoeda memang cantik. Dengan rambut lurus yang menjuntai sepunggung, mata sipit, kulit putih bersih, hidung mancung, pipi kanan-kiri berlesung, proporsi badan ideal, ditambah sebuah gigi gingsul yang mencuat sehingga menambah daya tarik tersendiri jika ia membuka mulut atau lebih tepatnya saat tersenyum maupun tertawa. Apa yang kau bayangkan? Sempurna? Tidak. Hoeda memiliki cacat di bagian jari tangannya. Ia tak memiliki jari tangan yang lengkap sepuluh, tangan kirinya hanya terdiri dari dua jari, sehingga jumlah semua jarinya hanya tujuh. Cacat fisik itu sudah ditanggung Hoeda sejak lahir.

Kekurangan itu yang memecutnya hingga kini ia bisa meraih impiannya menjadi seorang desainer pakaian wanita. Hoeda sudah memiliki butik dengan kerja kerasnya sendiri. Usahanya semakin maju setiap waktu. Kesuksesan karirnya juga sejalan dengan hubungan asmaranya. Sebutlah Igy, lelaki yang sudah enam tahun menemaninya.

            Takdir siapa yang menduga. Dukun dan paranormal pun sebenarnya tak pantas menyatakan takdir seseorang di masa depan. Sayang, Hoeda akhir-akhir ini sedang tertarik sekali dengan ramalan-ramalan yang beredar di internet. Sore itu, Hoeda datang sendirian ke cafe milik keluarga Igy. Seperti biasa, secangkir cappuccino hangat. Saat itu juga awan masih sendu, maklum ini bulan Desember, musim penghujan.

            Kursi yang berhadapan dengan tempat duduknya itu kosong, seharusnya Igy yang duduk di situ, tetapi ia sedang ada bisnis di luar kota beberapa hari ini. Jadilah Hoeda menikmati semua itu sendiri.

            Seraya menyeruput minuman hangat di cangkir putihnya, jemari Hoeda meraba keyboard laptop. Ia serius mengomentari status temannya di Facebook. Beberapa saat kemudian seseorang dengan nama facebook “Flying Dutchman” menambahkan Hoeda sebagai teman. Awalnya Hoeda mengabaikan begitu saja, tetapi saat dilihat kembali ternyata si Flying Dutchman itu juga berteman dengan ratusan teman Hoeda. Tingkat keingin-tahuan Hoeda meningkat diiringi dengan ngestalk timeline Facebook akun aneh itu. Hoeda mulai tertarik pada beberapa statusnya yang menggunakan bahasa ilmu astronomi untuk menyusun syair puisi. Tanpa buang-buang waktu, ia segera menerima permintaan pertemanan dari akun dengan nama tokoh hantu bajak laut dalam kartun Spongebob itu.

            Beberapa menit kemudian. Rupanya Flying Dutchman juga sedang online. Ia memulai obrolan dengan Hoeda.

            Flying Dutchman: Hai Hoeda, masih ingatkah denganku?

            Hoeda Lie : Masih, kamu kan hantu bajak laut yang sukanya nakut-nakutin penghungi bikini bottom, kan? Eh, apa kabar? Udah dong gentayangannya, kasian tuh Spongebob.

            Flying Dutchman: -_- aku lupa kalau pake nama aneh begini. Duh, bener nih ga tau siapa aku?

            Hoeda Lie : emang kamu siapa kalau bukan bajak laut? Serius deh, aku ga tau apa-apa

            Flying Dutchman: buka album foto saya, kamu akan mengenang masa-masa kita di SMA 5

            Dengan sigap, Hoeda mencari tahu identitas asli dari akun tersebut melalui foto-fotonya. Sekilas memang sulit ditebak, tetapi semakin jadul fotonya semakin terkuak rasa penasaran Hoeda terhadap si pemilik akun itu. Lelaki, alumni SMA yang sama dengan Hoeda, berambut cepak, berwajah chinese, mantan atlit karate.

            Arizal! Astaga, Hoeda termangu mengingatnya. Akun facebook dengan nama samaran Flying Dutchman itu ternyata mantan kekasihnya selama dua tahun di masa SMA.

            Hoeda memulai kembali obrolan dengannya.

            Hoeda Lie: Arizal? Apa kabar? Bagaimana kuliahmu di Bandung?

            Fying Dutchman: Baik. Kamu sendiri? Aku sudah wisuda setahun yang lalu, syukurlah, aku lulus dengan predikat cum laude

            Hoeda Lie: Wow, hebat kamu! Aku juga baik-baik saja.

            Flying Dutchman: Dengar-dengar kamu punya usaha butik sendiri? Boleh dong sesekali ajak aku ke butikmu, siapa tahu aku tertarik dengan baju-bajumu

            Hoeda Lie: Boleh, tapi butikku khusus pakaian wanita

            Flying Dutchman: Yah, nggak apa deh, kan bisa buat nyokap atau tante

            Hoeda Lie:  Eh ya, apa kabarnya si adik kelas dulu? Masih langgeng kan?

            Flying Dutcham: Maksudmu Jihan?

            Hoeda Lie: Yup.

            Fying Dutchman: Jadi kamu belum tahu? Dua bulan yang lalu aku melamarnya, tapi…

            Hoeda Lie: Tapi apa, Zal? Lanjutin dong, jangan setengah-setengah kalau cerita

            Flying Dutchman: Besoknya Jihan kecelakaan, Da.

            Hoeda Lie: Hah? Serius? Terus?

            Flying Dutchman: Dia meninggal..

            Flying Dutchman is offline.

            Tubuh Hoeda bergidik. Ia masih penasaran dengan Arizal, tapi sayangnya Arizal offline secara tiba-tiba. Bersamaan dengan itu, Igy meneleponnya sekedar memberitahu bahwa ia akan pulang minggu depan. Lebih lama dari yang dijanjikan sebelumnya.

            Hoeda mencibir kesal. Sebentar lagi tahun baru 2012. Orangtuanya sedang pulang kampung ke Makassar

 

 

*****************************************************************************************************************************

Tulisan ini ditulis pada bulan Desember 2013. Saya menemukannya kembali tergeletak koma pada sebuah folder tersembunyi di notebook beberapa hari yang lalu. Edisi dibuang sayang. Jika ada yang tertarik untuk melanjutkan cerpen ini, mari berkolaborasi.

  • view 90