NIAH

maulida aziizah
Karya maulida aziizah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 April 2016
NIAH

Niah

            Gemuruh ombak menyapu bibir pantai. Riuh. Setiap hari. Pemuda pemudi ramai menyambut bapaknya pulang dari peraduan. Ada yang menarik perahu, melipat jaring, dan ada yang langsung mengangkut ikan dan dimasukkan ke kotak besar berisi es dan garam. Niah salah satunya, gadis yatim yang sangat taat pada bapaknya, setiap hari  menunggu para tengkulak dari pulau seberang untuk membeli ikan-ikannya. Dan pada suatu hari dia pergi meninggalkan pulau itu. Dingin. Kejam.

            Sepulang dari pantai Niah langsung menuju rumah yang lebih mirip pondok bambu, berjajar panjang dan sangat asri. Ibu-ibu mengenakan busana dari kain songket dan perhiasan dari biji-biji yang dironce, sedangkan bapak-bapak hanya mengenakan sarung atau celana hitam saja dengan perhiasan akik. Terlihat mereka bercanda ria dengan keluarga dan sesamanya. Anak-anak bermain di halaman, begitu gembira sambil melambai kepadanya “Niah...Niah...!!!”. Pemandangan budaya yang sangat melekat dipelupuk Niah. Kemudian dia berhenti di antara rumah-rumah itu, terlihat paling bagus dan terawat. Iya itu rumah Niah, anak kepala desa. “Permisi Abah...” melepas sandal, masuk dan menaruh keranjang bekas ikan di ruang paling belakang. Luas rumahnya. Di sebelah ruangan itu terdapat bilik luas yang dibiarkan kosong, tikar-tikar masih tergelar di sana.

            “Abah mau ke mana? Abah sudah sarapan?”, tanya Niah.

            “Sudah, Abah mau bertemu teman dari kota, kamu lebih baik ikut dari pada di rumah sendirian” Kata bapaknya.

            “Baik bah” merapikan bajunya yang bau ikan.

            Tak lupa mengunci pintu. Mereka bergegas ke arah bibir pantai di ujung utara, di sana ada sebuah balai pertemuan. Untuk menuju balai tersebut mereka harus berjalan sekitar 2 kilometer. Sepanjang perjalanan abahnya menceritakan mengenai teman yang akan ditemuinya. “Kamu pasti sudah sering bertemu dengannya, Bahar namanya, pemuda juragan ikan dari pulau seberang, dia langganan bapak...” Seperti tidak perlu komentar. “Dia akan menyewa balai pertemuan desa, setelah ini akan kurapatkan bersama perangkat desa jika memang untuk keperluan yang bermanfaat” tambahnya. Niah hanya mengangguk saja.

            Setengah jam berjalan akhirnya mereka sampai di balai tersebut. Kondisi balai yang tua, tidak ada yang merawatnya. Kayu sebagai penyangganya juga sudah aus, genteng-genteng banyak yang berlubang. Memang balai ini tidak pernah digunakan.

“Cukup luas juga ya bah, sayang kalau dibiarkan begini saja”, gumam Niah.

Abah menimpali, “benar, maka dari itu abah berniat menyewakannya kepada bahar”.

            Tiba-tiba dari sudut ruangan muncul Bahar, “Ohhhh! Abahh..” (mendekat dan menyalami Abah dengan gaya anak kota). “Iya, saya mengajak Niah, anak abah yang sering kamu ceritakan itu” ucapnya sembari tertawa kecil. Niah langsung menyalami pemuda yang memang sudah tidak asing lagi dengannya. Dia yang sering sekali mengajak Niah ngobrol saat dia sedang menunggu ikan di pesisir.

            “Hm, rupanya pemuda ini yang hendak menyewa balai pertemuan desa”, gumam Niah.

            Sejak lima tahun terakhir ini Bahar mengambil ikan dari abah Niah menggantikan ayahnya yang meninggal. Setiap hari. Setiap pagi. Pemuda yang ternyata seorang sarjana pendidikan ini mampu mengemban amanah untuk meneruskan usaha sarden ayahnya.

            “Pagi-pagi sekali aku berangkat ke pulau ini sebelum fajar tiba, sehingga siangnya aku bisa mengajar di sekolah bah” Bahar bercerita kepada abah dengan semangat.

            “Ya, ya, ya, kau memang anak berbakti Bahar, aku yakin jika balai ini kusewakan kepadamu pasti akan kau rawat dengan baik”, sambung abah.

            Mereka masih asyik mencermati kondisi balai sambil berbincang-bincang.

            “Oh ya, mas Bahar mau menggunakan balai ini untuk apa nantinya?” Ucap Niah.

            “Tentu untuk hal yang bermanfaat Niah, kemarin proposal saya mengenai pemberdayaan desa terpencil diterima dan didanai oleh pihak kementrian pendidikan, rencananya saya akan menjadikan balai ini menjadi sekolah kecil-kecilan. Karena menurut saya tempat ini sangat strategis mengingat masih tertinggal pendidikannya jika dibanding daerah lain”, Bahar memaparkan pendapatnya dengan yakin.

            “Em, jadi setelah itu mas Bahar mengajar di sini?” tanyanya polos.

            “Bisa jadi seperti itu”, jawabnya.

            Abah menimpali, “lalu siapa yang akan meneruskan usaha ikan ayahmu nak?”

            “Saya juga sempat berfikir ke situ bah, mungkin untuk sementara nanti saya akan menyuruh bang Hasan menggantikan saya ambil ikan. Bang Hasan kakak sepupu saya, kabarnya seminggu yang lalu dia dipecat dari perusahannya. Nah dengan itu saya akan lebih aktif mengajar di sini”, jelas Bahar.

            “Abah doakan semoga cita-cita nak Bahar membangun desa ini tercapai, saya juga sangat menginginkan desa yang kaya sumberdaya alam dan manusianya”.

            “Iya Bahar, aku juga rindu suasana dulu saat mamak masih hidup. Dia selalu mengajak anak-anak dan muda mudi desa belajar di rumah. Dalam bilik itu”. Ucap Niah sembari membayangkan bilik besar di rumahnya.

            “Maksudmu?” Bahar bertanya heran.

            “Ramai sekali Bahar, anak-anak bersahutan menjawab soal-soal yang mamak beri” semakin ngelantur

            “Mamaknya dia ini seorang guru, dia ditugaskan di kota. Tapi belum selesai masa kontrak mengajarnya di pulang” tegas Abah.

            “Mamak memilih mengajar di rumah, karena mamak tau bahwa anak pulaunya juga haus pendidikan, 5 tahun mengajar di rumah mamak meninggal karena sakit” Niah menambahkan.

            “Ah, rupanya kau ni anak seorang guru Niah. Tenang saja, aku akan mengembalikan suasana seperti dulu. Suasana yang tentunya kamu impi-impikan. Bahkan kamu bisa ikut saya mengajar nanti” mengembalikan semangat Niah

            “Benar Bahar? Apa bisa? Aku tidak memiliki ijazah” jawab Niah murung

            “Sudah, masalah ijazah tidak jadi persoalan, saya yakin kamu bisa” bahar mencoba menenangkan

            “Bagaimana Bah?” Niah meminta persetujuan

  • view 72