Lily, 365 Tangkai

maulida aziizah
Karya maulida aziizah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 April 2016
Lily, 365 Tangkai

Dalam titik kejenuhanku mencintaimu

Mengabdi kasih untukmu

Dari aku, pemuja kesetiaan

Pemuja luka dan harapan

Pemujamu, laki-lakiku

Kini aku benar-benar berpaling

Dari kesetiaanku

Darimu

Seluruhnya

Teruntuk pula jiwaku

Teruntuk pula ragaku

Berpaling, aku memang benar-benar telah berpaling

????? Aku, Naylul.Mahasiswi pendidikan Biologi di perguruan tinggi ternama di Indonesia. Usaiku sekarang menginjak 23 tahun. Kalian tau? Aku adalah tipe orang yang sangat setia. Dan bagiku pengkhianatan adalah sesuatu yang menjijikkan yang pernah aku dengar. Hal itu tidak akan pernah aku lakukan. Sedikitpun, tidak. Karena aku akan menjadi hina karenanya...

????? ?Fariz??aku menghampiri ranjangnya, seperti biasa setiap pagi aku selalu berkunjung menengok Fariz dan membawakannya sarapan, atau sekedar memberi bunga.

????? ?Sarapan dulu Riz?ucapku sambil menyodorkan sesuap bubur ke arah mulutnya.

????? Dia kekasihku, sejak dari hari pertama kami menjadi mahasiswa. Kami sering sekelas. Aku tau, dia sangat terlihat tertarik denganku sejak awal, pun demikian dengan diriku. Namun dia ataupun aku baru mengikat komitmen saat kami semester tiga. Seperti kisah cinta di dalam dongeng, aku dan Fariz begitu saling mencintai satu sama lain. Dan kami sudah memiliki komitmen bahwa setelah kami lulus kami akan menikah. Aku tidak tau, Fariz sakit dan sekarang dia koma.

Fariz hanya diam. Tidak menjawab. Sudah 7 bulan dia di sini. Terdiam, terpejam, tidak bergerak. Tapi dia masih bernafas. Banyak sekali selang-selang yang meliliti tubuhnya. Tangannya, biru tertusuk jarum infus.

????? Fariz sakit. Entah kapan dia bisa melewati masa komanya. Masa di mana aku dibuat gila olehnya. Yaa. Gila.

????? Setiap hari, setiap pagi aku membawakan sarapan bubur untuknya. Membawakan bunga Lily. Entah sudah berapa lama aku di sini. Aku memakan buburnya untuk Fariz. Setiap pagi. Entah sudah berapa tangkai bunga Lily yang layu di sebelah ranjang Fariz. Entah. Mungkin aku sudah mulai gila.

????? ?Fariz, lihat betapa membosankannya hidupku, menunggumu. Memakan nasi bubur untukmu, padahal kau tau sendiri aku paling tidak suka bubur. Setiap pagi aku membawa setangkai bunga Lily untukmu. Iya. Kau suruh aku merawat bunga itu. Dan kini, setiap hari bunganya mekar?aku mulai menangis.

????? ?Fariz, bukankah kau janji akan menikah denganku setelah aku lulus kuliah nanti? Hm? Besok hari aku wisuda. Aku berharap hari itu kau melamarku?

????? ?Fariz, tolong jawab! Apa kau sudah tidak ada lagi cinta untukku??tangisku semakin keras. Aku hilang kontrol.

????? Aku berteriak-teriak sekenanya, aku koyak-koyak tubuh Fariz. Dan dia tidak manjawab. Tidak bergerak sama sekali.

????? Tiba-tiba...

????? ?Nay, nay, nay!!! Hei, cukup Nay!! Apa yang kamu lakukan?? seseorang memelukku dari belakang, erat sekali.

????? ?Kamu hanya akan menyakitinya?dia tetap memelukku dan membawa aku keluar kamar Fariz.

????? ?Nay, untuk apa kau masih di sini? Aku melihatmu setiap pagi datang kemari. Untuk apa Nay? Dia tidak akan tau dan tidak akan peduli lagi denganmu. Dia harus berjuang melawan penyakitnya. Sudahlah Nay, lupakan Fariz. Untukku? Ucap Ikmal lirih

????? Aku masih menangis dalam pelukan Ikmal. Sebenarnya aku menyadari bahwa tindakanku sangat bodoh. Aku hanya membuang-buang waktu saja. Satu tahun. Bukan waktu yang singkat untuk seorang wanita bertahan dalam situasi yang sangat? sulit ini. Aku merasakan kehangatan Ikmal. Begitu sangat terasa. Sikapnya yang lembut dan bijak. Mungkin. Aku akan berpaling.

Dan untuk kesekian cinta

Dan untuk kesekian bunga

Dan sepanjang waktu

Yang aku miliki

Hanya untuk merengkuhmu

Kamu

Yang tiada pasti akan kembali

Yang tiada pasti

Dan telah sia-sia

Hidup ini

Menahan harap

Menahan setia

Untuk kamu

Yang tiada pasti akan kembali

Yang tiada pasti

?????

  • view 84