Selamat Pagi Afhseen

maulida aziizah
Karya maulida aziizah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 April 2016
Selamat Pagi Afhseen

?

Afhseen...

Dan udara yang berhembus dari bekas tapak kakimu

Wangi, hening, dingin

Berbekas tetes embun yang kau tinggalkan

Jatuh tepat di ubun-ubun

Menjalar dan menyeruak dalam tubuhku

Dan menyejukkan

Menjadi cinta

Tahun aku berjumpa dengannya adalah tahun kedua aku di SMA, angkatan yang sama, sekelas pula. Tak pernah terpikir sedikitpun waktu itu. Bahwa pertemuan kami membawaku dalan suatu lintasan cerita yang panjang.

????? Namanya Afsheen, bersinar seperti bintang di langit. Yah, dia memang benar-benar bersinar (alias populer). Dari perilakunya, jelas sekali terlihat bahwa dia anak populer. Di SMA dia aktif sebagai anggota OSIS dan atlet basket. Dia juga menjabat sebagai ketua kelas. Dari bisik-bisik tetangga saat SMP dulu dia juga menjabat sebagai ketua OSIS selama dua periode. Aku berharap bisa dekat dengan cowok ini.

????? Oh dewi keberuntungan, mimpi apa akuuu....

????? Terimakasih Ayah Bunda, pemberian nama Adeeva memberiku keberuntungan, tahun ini sistem duduk di kelasku dibuat urut sesuai absen. ?Biar gak pilih-pilih temen?, kata Aaf (nama panggilan Afhseen). Berhubung absenku dan absen Aaf bersebelahan (dia absen satu dan aku absen dua), jadi aku duduk bersebelahan dengan dia. Kebayang nggak sih? Kalau kamu duduk sebangku dengan cowok cakep dan populer?

????? Banyak anak-anak cewek yang ngiri sama aku. Aku diam aja, ku pendam sendiri kebahagiaanku. Kebahagiaanku bersama si doi. Hihihi.

????? ?Ihh, tapi apa mau diperbuat dari seorang yang cuek sepertiku??

????? ?Aku tidak cantik dan tidak populer, banyak teman gadisku yang lebih segalanya dari aku?.

?Ayoolahh Diva, setiap Senin sampai Sabtu adalah hari keberuntunganmuu. Lakukan sesuatu! Kamu menguasai enam dari tujuh hari yang sudah Tuhan siapkan untukmu?. Batinku berontak.

?Ahh, tapi tidak?.

?Tapi bagaimana dengan masa SMA-mu yang hanya tinggal 2 tahun ini? Apa hanya kamu biarkan basi tanpa kisah cinta monyet masa SMA??

?Ya, aku memang perlu ituu!?

?Tidaaaaakkkk!!!?

????? Aku akan tetap pada jalan yang benar. Walaupun dalam hati aku tetap ingin mengenalnya lebih, lebih, dan lebih. Hehe. Lagipula aku yakin cowok seperti dia gak akan merespon banyak dari apa yang orang-orang lakukan. Termasuk apa yang aku lakukan. Walaupun aku sebangku sama Aaf, rasanya tak ada obrolan yang cukup serius di antara kami, malah aku lebih dekat dengan cowok yang duduknya di belakangku.

????? Rafa namanya, sama-sama atlet basket seperti Aaf. Teman dekat Aaf, cakep, santun, dan terlihat lebih gagah dari Aaf, tapi kalah populer. Aku memang sudah kenal Rafa dari kelas satu (karena dia tetangga baruku waktu kelas satu sma). Kita sering jalan bareng ke sekolah, karena sekolah kami hanya berjarak 2 kilometer dari rumah. Jadi tak heran kalau kami gak perlu adaptasi lagi. Sudah tau pribadi masing-masing.

Rafa yang sering ngajak aku ngobrol di kelas, ngajak main sama temen-temennya. Kami terlihat sangat akrab. Aku yakin hal ini memberi pengaruh positif kepada hubunganku dengan Aaf, karena Aaf juga teman Rafa. Yang pasti Aaf secara pelan-pelan akan menangkap energiku. Dia akan merasakan betapa malaikatnya aku. Hue hehe.

????? Aku anaknya memang terkenal cuek. Tapi sebenarnya gak. Cuma males aja ngobrol banyak-banyak sama orang. Apalagi ngomongin hal yang gak penting (sama aja kali yaaa?). Di rumah pun aku cenderung diam. Karena memang gak ada yang di ajak ngomong. Aku terlahir entah dari ayah siapa, entah dari ibu siapa. Aku tidak tau wajahnya. Mereka meninggal jauh sebelum aku bisa ingat apa-apa. Kecelakaan.

????? Kenapa? 15 tahun yang lalu rumah kami kebakaran karena saat itu ibu lagi menyalakan kompor dan meledak. Dan tiba-tiba rumah kami terbakar. Api menjalar ke mana-mana. Kakakku Faza sedang terlelap di sebelahku. Ayah membangunkan kak Faza untuk segera membawaku keluar rumah dan meminta pertolongan. Ayah menyelamatkan ibuku.

????? Entahh, dalam beberapa saat rumah kami sudah lenyap. Pemadam kebakaran tak dapat lagi menyelamatkan sisa-sisa puing rumah kami. Apalagi untuk menyelamatkan Ayah dan Ibu. Tak ada waktu. Potret-potret dan kenangan tempo dulu. Tak ada yang bisa diselamatkan.

????? Dan sekarang, aku hanya punya Faza, kakak yang umurnya terpaut 10 tahun di atasku. Dia laki-laki yang merawatku dari semenjak 15 tahun yang lalu. Kemana sanak keluarga lain? Kami hanya punya tetangga. Tetangga itu keluarga kami. Itu yang kami tau.

Sekarang Faza sudah bekerja di salah satu pabrik tekstil terbesar di kotaku. Dia sangat sibuk, dalam seminggu hanya punya waktu 2 hari untukku. Sangat sibuk mengurusi keluarga kecil kami. Menyelesaikan ini dan itu. Segala tetek bengek kebutuhanku yang tak pernah cukup.

***

????? Aku tak memiliki banyak teman, karena aku tak pandai berteman. Di kelas dua ini aku jadi banyak temen karena kenal dekat sama Rafa, dan sebangku sama Aaf. Gak jarang banyak anak-anak cewek yang menanyakan tentang Rafa dan Aaf kepadaku. Di antaranya ada Bella, Nada, Syahnas, dan banyak lagi. Kami jadi sering ngobrol. Bertanya tentang Aaf, Rafa, dan saling bertukar cerita. Seperti tak ada habis-habisnya yang kami ceritakan. Syahnas yang paling antusias saat bercerita tentang Aaf, aku tau dari bola matanya yang membesar mendengar nama ?Aaf? disebut. Bahkan dia nekat minta di comblangin.

????? Hari demi hari berlalu, kedekatanku dengan Syahnas, Bella, dan Nada yang selalu membawa heboh dan menyenangkan. Akhirnya menarik Aaf dan Rafa untuk turut berkecimpung bersama kami. Mereka berdua (Aaf dan Rafa) jadi sering ngobrol dengan kami. Ngerjain tugas bareng, jalan-jalan bareng. Dan banyak hal yang kami lakukan bareng-bareng.

????? Hal ini tentu membuat Syahnas dan Aaf semakin mengenal dengan baik.

????? Dan ternyata benar...

????? Mereka semakin dekat...

Taukah Afhsenn?

Saat buih bertanya

Di mana dirinya hanyut terbawa air?

Saat coklat bertanya

Di mana dirinya meleleh karena panas?

Saat khawatir ini bertanya

Di mana dirinya ditujukan?

Karena mereka tak tahu

Ke mana semua rasa harus dilepaskan

***

????? Hari-hari yang percuma terlewat begitu saja, aku diam dan semua orang berlalu-lalang. Dari sepersekian detik mereka dapat bergerak ke sana ke mari. Bebas mengeksplorasi kawan-kawan mereka, menjelajah dunia maya dan nyata begitu cepatnya, dan bergosip seolah mereka tau tentang segala seluk-beluk kawan mereka. Dan kalian tahu, siapa sasaran utama mereka?

?Afhseen?

Kepopuleran telah memenangkan segalanya, tanpa kita harus menarik perhatian, mereka akan dengan sendirinya mendatangi kita.

Dan aku, Diva. Tetap terpaku. Meski pada dasarnya aku terlahir sebagai Diva, tapi itu hanya nama.

Tak apalah bagiku, bisa bermain-main dengan mereka pun aku sudah sangat bersyukur.

Tungggu dulu, ini sudah hampir dua minggu. Waktu yang menurutku cepat. Yah, sangat cepat untuk terbentuknya geng di antara kami. Entah diresmikan atau tidak, semua terjadi begitu saja. Dari mula-mula ngobrol di kelas, mengerjakan tugas bareng, jalan-jalan ke Mall bareng. Akhirnya kami jadi satu geng (Afhseen, Aku, Rafa, Bella, Nada, Syahnas, Cilia, Arsa, dan Bimo).

Dari satu geng tersebut, Aaf dan Syahnas yang mendominasi. Syahnas? Ya, dalam waktu dua minggu dia sudah bisa sangat akrab dengan Aaf.

Ahh, aku cemburu.

Cemburu?

Dengan alasan apa?

Untuk meminta senyummu pun aku tak berhak

Apalagi hatimu

***

????? Minggu ketiga. Tidak ada perubahan. Sebangku, tapi tetap saja dingin. Jika sedang bersama dengan teman-teman, aku bisa enak gitu ngobrol sama Aaf. tapi giliran berdua kayak gini. Kaku!

Tapi mengingat Syahnas semakin dekat dengan Aaf, rasanya aku memang harus berbuat sesuatu. Aku harus lebih agresif. Dan pagi ini...

?Selamat pagi Afhseen?. (ceritanya nekat)

?Iya Va, tumben nyapa??. (heran)

?Iseng aja kok, dari pada gak ngomong apa-apa.?,aku menjawab sekenanya.

?Owh? Aaf nyengir gak jelas sambil garuk-garuk kepala, dan dapat aku pastikan kepalanya gak gatal.

?Malu-maluin Va?(bisikku dalam hati, lalu aku pura-pura aja belajar gitu).

Dan semenjak itu aku jadi berani menyapa Aaf, yah minimal mengucapkan selamat pagi. Aku harus memanfaatkan kesempatanku ini. Kapan lagi kalau bukan sekarang.

Dan dari hari ke hari, balasan Aaf semakin baik. Kita semakin akrab.

Dari cerita yang hanya selamat pagi

Aku ingin berbuah sampai pagi lagi

Dari pagi esok sampai pagi esoknya lagi

Berbuah?

Ya, berbuah cinta

Minggu ke Empat

????? Hari ini ulangan harian Fisika, tidak ada yang berani nyontek ataupun main lirik sama temennya. Karena pak Fatkur galak banget. Tapi tiba tiba Aaf memberiku selembar kertas sobekan. Dan ada tulisannya.

?Diva, surat-suratan yuk?

????? ?Apa? Gila kamu Af, sekarang Ujian?

????? ?Please? Aku mau curhat?

????? ?Gak mau!?

?Ayolah!?

?Maksa!?

?Ayolah!!!?

?Oke-oke, tapi nanti aja selesai ulangan harian?

Aaf lalu menyimpan kertasnya, dan kulihat wajahnya memang berbeda hari ini. Dia terlihat murung, tidak ada cahaya bintang lagi di matanya. Mungkin bintangnya jatuh kali yaa, pikirku.

Setelah dua jam berlalu, akhirnya 20 soal mematikan itu berhasil kami ringkus. Semua wajah tampak lega, kecuali Aaf. aku masih tidak percaya dia bisa menjadi aneh seperti ini. Pandangannya kosong, pucat. Sudah seperti mayat hidup saja.

Dia menoleh padaku, dan menatapku dalam.

?Va??

Aku menatapnya, mengerutkan dahi dengan sedikit melotot, ?ada apa??

?Aku pengen curhat?

?Curhat? cowok kayak kamu ternyata juga punya masalah yaa? Ku kira hidupnya seneng terus, mulus terus? Hahaha?, aku tertawa meledek

?Kamu jangan gitu dong, gini-gini aku manusia normal tau!?

?Iya, iya, maaf. Mau cerita apa? Cerita aja?

?Tapi gak di sini?

?Lantas??

?Di rumah kamu?

?Kenapa harus di rumahku sih??

?Masalahku besar Va,kamu teman yang aku percaya menjaga rahasia ini, aku harap kamu mau ngerti. Nanti sepulang sekolah aku langsung ke rumah kamu aja ya. Please. Sekali ini aja?. Aaf menatapku lebih dalam lagi.

?Oke?jawabku singkat karena bingung mau ngomong apaan.

Aku masih mampu berandai

Manakala tatapan itu

Berangsur-angsur

Menjadi tatapan seorang pangeran

Untuk permaisurinya

Tatapan memohon

Memelas

Untuk cinta

***

????? Dalam beberapa saat aku terlelap, dalam kebosanan menunggu guruku yang tak nongol-nongol. Akhirnya aku tertidur, nyenyak sekali. Hampir sejam aku dibuat mabuk dalam mimpi warna warni. Jingga. Biru. Ungu. Merah. Merah muda. Merah pudar. Dan tiba-tiba gelap. Kelam. Seperti ada tangan besar yang mencekik leherku.

????? ?Aaaaaa?, aku berteriak. Bukan dalam mimpi. Tapi nyata.

????? Tangan besar ituuu...

????? ?Ah, gila kamu Af, aku hampir mati dibuatnya? kupukul Aaf dengan tanganku. Dia nyengir kesakitan.

????? ?Mati? Mati dalam mimpii, hahaha! Ayo pulang!? menepuk pipi kanan, kemudian pipi kiriku (mencoba menyadarkanku, mungkin).

????? ?Pulang??

????? ?Iya Va, makanya jangan tidur mulu. Kayak orang mati setahun kamu. Di bangunin tetep aja ngorok!?

????? ?Namanya juga ngantuk?memasukkan buku ke dalam tas

????? Hari ini hari pertama aku pulang bareng sama Aaf, berdua. Hanya kami berdua.

  • view 262