Pinus dan Casuarina

maulida aziizah
Karya maulida aziizah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 April 2016
Pinus dan Casuarina

Pinus dan Casuarina

??????????? ?Kreeet! Kreeet! Kreeet!? bunyi dari gesekan kayu ukiran itu terdengar lagi di kuping Casuarina. Memanggilnya untuk beranjak dari tungku panas di depannya, ?Sebentar lagi, sudah hampir masak? (mengaduk bubur brokoli di dalam kuali masak). ?Embok, saya tinggal ya Mbok, ada yang mencari saya di luar sana?.

??????????? ?Jangan pulang malam-malam Cem? kata Embok sembari duduk di depan tungku menggantikan tugas Casuarina.

??????????? ?Ah, tak Mbok, Cem main sebentar saja? Meninggalkan Emboknya.

??????????? ?Kreet! Kreet! Kreeet! Kreeet? terdengar lagi. Menyuruhnya bergegas.

??????????? Casuarina mengambil tas kecil dari rotan dan memasukkan pahatan kayu berbentuk pisau dan beberapa lembar daun kopi yang besar-besar. Tak lupa ia memasukkan puluhan butir buah kopi yang dipanennya kemarin. Bergegas. Berlari ke halaman, berbelok-belok melewati jembatan dari rotan, melompat sungai kecil, menuju ujung kampung, menemui sang empunya suara. Tak sampai 10 menit. Sedikit terengah engah.

??????????? ?Kreeet! Kreet! Lama sekali Sua? sibuk dengan patungnya.

??????????? ?Membantu Embok memasak bubur? jawabnya sambil masih terengah-engah mencoba mengambil oksigen dengan tenang

??????????? ?Sudah terlalu siang, ayo berangkat!?

??????????? ?Baik?

??????????? Pinus berjalan di depan Casuarina. Ia sudah hafal jalan. Menyusuri jalan besar keluar dari kampung. Berbelok ke arah barat, melewati kampung-kampung di ujung perbatasan, tinggal ladang-ladang garapan warga sekitar. Terlewati. Pinus mempercepat langkahnya, Casuarina mengikuti di belakangnya. Mereka ?sudah melintasi jalan setapak. Jauh sekali, sudah sejam meraka berjalan. Masih harus melewati hutan lebat di depan. Sesekali mereka berhenti untuk sekedar memakan apa saja yang mereka temui untuk mengganjal perut ataupun melepas dahaga.

??????????? Mereka mulai memasuki hutan. Suasana menjadi gelap dan dingin. Angin berhembus menggoda, batang batang dan dahan mengayun menyambut Pinus dan Casuarina. Sejak perjalanan tadi mereka lebih banyak diam. Pinus dan Casuarina belum lama kenal, ini kali pertama Casuarina ikut pulang ke rumah Pinus. Rumah Pinus masih harus melewati hutan lebat ini. Mereka terus berjalan, beberapa kali terlilit tumbuhan merambat yang tumbuh tak karuan, tak dihiraukan. Pinus berharap sebelum matahari tegak lurus mereka sudah sampai rumah. Di goda pula mereka dengan adanya binatanag melata penghuni hutan, tak jarang monyet bergelayutan di dahan dan menginjaki pundak mereka. Casuarina sedikit merasa asing dengan keadaan ini, ia baru pertama memasuki hutan. Paling jauh dia bersama emboknya hanya sebatas ladang. Namun Casuarina tak ada rasa takut sedikitpun.

?Itu!? seraya menunjuk ke arah bukit yang mulai terlihat di hadapan mereka

?Rumahmu??

?Iya, Bukit Lembayung? menggandeng tangan Casuarina dan berlari ke arah bukit.

Pinus berhenti tepat di depan bukit. Terlihat bukit tertutup dengan ribuan pohon Pinus. ?Tidak ada celah untuk kita masuk?? Casuarina bertanya. Pinus mengambil kayu ukiran yang digantungkan di lehernya. Dia putar ring kayu yang bertengger pada pinggang patung ukiran itu, ?Kreet! Kreeet! Kreet! Kreeet? suaranya menggema hingga ke ujung. Menyebar dan memantul bergema ke mana-mana. Tiba-tiba barisan pohon pinus di hadapan mereka seperti terbelah memberi jalan.

?Ayo!? menggandeng tangan Casuarina

Mereka mulai memasuki kawasan Bukit Lembayung. Casuarina menginjakkan kaki dengan hati-hati, ?daerah ini terlihat sakral?. ?Sttt, jangan banyak bicara, Sua?. Casuarina diam. Mereka tetap melangkah,sepertinya pohon-pohon Pinus itu tidak senang melihat kehadiran Casuarina. Pohon-pohon itu bergerak mengisyaratkan angin yang membuat merinding. Casuarina mempererat genggamannya pada Pinus. ?Tidak akan ada apa-apa, dia temanku, namanya Sua? berteriak kepada pohon-pohon itu. Pohon-pohon itu terlihat mulai akrab. Seperti sedang berbincang-bincang, daun mereka gemerisik saling bersentuhan.

  • view 92