tentang kita di sekolah tinggi

Maulana Faqieh
Karya Maulana Faqieh Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 April 2016
tentang kita di sekolah tinggi

Tentang Kita, di Sekolah Tinggi

Di sekolah tinggi, aku pernah berfikir. bahwa yang cepat itu tidak melelahkan dan memudahkan. Tapi tidak untuk detik ini, seakan mindset awalku berubah secara otomatis ketika melihat kebersamaan ini. Aku tidak bisa mengulang cara berfikirku di awal, kini hatiku yang merasakan dengan nalurinya sendiri. Bahwa yang cepat itu menyakitkan. Aku sendiri yang merasakannya, sungguh pedih dan bimbang hati ketika di haruskan untuk berpisah namun sebelum itu kita melihat canda tawa dan air mata yang masih mampu menusuk relung hati. Membuat tekanan yang ingin memeluk dan bersatu kembali. Entah angin apa ini, namun aku yakin sebuah tanda kebaikan.

Di sekolah tinggi, Bak luka yang masih basah dan harus di kupas. Perih dan sakitnya sungguh terasa. Tidak setengah lagi, namun seutuhnya. Aku tidak bisa bicara tentang logika, namun aku bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya hati kecilku ingin tetap disini. Masih ingin di tempat ini bersama kalian semua. Bahagia bersama, ataupun malah mencoba bodoh bersama.

Ini adalah sebuah cerita perpisahan, bukan nostalgia. Di saat kita pernah menciptakan sebuah harapan untuk satu tujuan. Kita malah harus terluka dengan tujuan yang kita ingin itu. Alasannya karena jalan kita berbeda untuk menuju kesana, ada juga yang mengatakan bahwa salah jalan, atau malah ada yang mengatakan bahwa ini adalah pengalaman. Aku sungguh tidak menghiraukan semua itu, bagiku yang terpenting adalah kalian. Bertemu kalian sudah menjadi penopang untuk mencari jalan keluar yang benar. Kerja sama kita pernah dihargai dengan nilai mati. Tapi kita tidak pernah peduli tentang besar kecilnya nilai, yang terpenting bagaimana kita bisa menciptakan sebuah dimensi yang mampu untuk di perhatikan orang banyak. Ya, dengan tangan kita serta otak kita. Pelajaran berharga sekali, dimana kita mencoba mengerti tentang bertahan hidup di dalam sebuah universitas.

Di sekolah tinggi, kisah kita di awali sekaligus di akhiri disini. Ingatkah saat pertama kali kita berjumpa. Ada kalanya kita tidak saling sapa dan berjauhan. Sampai akhirnya hari demi hari kita mencoba untuk beradaptasi. Di dalam sebuah ruangan, hanya ada kita dan satu dosen yang harus kita kenal serta patuhi selama ini. Kita mencoba untuk menghidupkan kotak tertawa, sebagaimana mestinya kita harus lebih bahagia dari yang awal. Karena selama 6 bulan kita harus memperkuat pijakan ini. Tidak bermodal uang banyak, ataupun nama terkenal. Kita sama dan rata. Disinilah kita bergandengan tangan membentuk lingkaran.

Ada yang pernah menjerit untuk mengatakan “pegang yang erat ! kita tidak boleh lepas”.

Ada juga yang mengatakan “sudahlah, ini biasa saja. Tidak ada gunanya”

Atau malah yang lebih parah dari itu. Keluar dari lingkaran dan menjauhi kita. Entah itu disebut perjuangan atau bukan.

Di sekolah tinggi, banyak hal yang kita lakukan disana. Sampai ada yang bosan, ada yang lelah, ada yang memberi semangat, dan juga ada yang bermandikan keringat untuk memikirkan nasib dirinya sendiri. Aku sendiri awalnya tidak yakin kita bisa bertahan lama. Namun setelah lama aku mengenal dan memberi sapa kata. Akhirnya aku menemukan titik terbaik dalam perjalanan ini. Itulah titik persahabatan.  Semakin lama, semakin mencair dan semakin mendarah daging. Berpelukan seperti telletubies sudah tidak saatnya lagi. Yang terpenting kita tetap selalu kompak dan berjalan bersama. Ada sebuah perbincangan yang mengaingatkan aku tentang cita-cita.

“perkenalkan diri kalian dan sebutkan cita-cita” tegas dosen di depan.

Dimulai dari urutan pertama sampai urutan terakhir. Dan beberapa point besar yang aku dapatkan dari sebuah perkenalan untuk meceritakan cita-cita. Yang pertama, aku bisa tau tentang siapa dirinya. Yang kedua, aku bisa tau bahwa sebenarnya kita ada di tempat yang tepat dengan cita-cita yang sejalan. Dan yang ke tiga, aku bisa memanggil namanya dengan penuh percaya diri atas dasar pertemanan. Ini bukan lagi menjadi sebuah perbedaan yang kasar dan keras. Kita memang berbeda, namun kita yakin kita bisa mencapai hasil akhir membahagiakan bersama kelak.

Tentang cita-cita. Aku mendapatkan banyak kriteria dalam satu kategori. Yaitu kita sama-sama ingin menjadi broadcaster. Meskipun ada yang menyebutkan dirinya ingin menjadi kameraman, editor handal, artis, musisi, produser, ataupun sutradara. Tetap saja kita sejalan teman, itu berarti kita ditakdirkan tuhan untuk bertemu dan berjalan bersama. Membawa bekal yang berbeda-beda, menyimpan motivasi yang berbeda-beda, dan menjaga nama yang berbeda-beda. Itulah kita, karena kita adalah kata yang penuh makna untuk kebersamaan.

Teman, aku hanya mengingatkan kembali. Bahwa yang cepat itu meyakitkan. Mungkin kita bisa merasa puas, tapi kepuasan yang kita dapatkan tidak lebih dari sebuah tanda tanya. Terus mengakhiri kata yang menyimpan perasaan ingin tahu, terus menjadi pusat perhatian atas hadirnya sebuah jawaban dan terus menjadi logika yang menyatu dengan pemikiran awal. Ya, itulah tanda tanya. Sama dengan kita. dimana kita masih menyimpan sebuah perasaan ingin bersama. Tapi, inilah kehidupan. Klimaks yang harus di selesaikan satu per satu. Jika kita tidak menghadirkan sebuah dorongan untuk menuju ke sekolah tinggi yang kita tempati selama 1 tahun ini, secara otomatis kita tidak akan pernah menjadi sebuah cerita yang indah sekali. Dengan penuh permohonan aku ingin kita menjadi sahabat, sisakan ruang kosong untuk kita bertemu. Meskipun nanti, kalian menjadi orang besar yang penuh permainan baru.

Di sekolah tinggi, garis bawahi kata kita. cetak tebal dan miring. Perbesar dan tunjukkan pada dunia bahwa di dalamnya ada sebuah pertunjukkan meriah untuk dunia saksikan. Sebuah kemeriahan atas keberhasilan yang tak terlupakan. dari sekolah tinggi, untuk sekolah tinggi.

  • view 127