Rindu di bawah Fuyu

maulanasatrya maulanasatryasinaga
Karya maulanasatrya maulanasatryasinaga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2016
Rindu di bawah Fuyu

Cerpen Maulana Satrya Sinaga

?

Rindu di bawah Fuyu

??????????? Kami bertemu lagi setelah sekian lama tak bertatap muka. Ia hilang, atau mungkin tepatnya lebih kepada menghilangkan diri. Setelah bertemu, kami duduk, lalu saling diam. Hanya terdengar nafas kami yang hangat membelah angin dan dingin. Udara mengabut, akibat nafas kami yang tidak teratur.

??????????? ?Untuk apa kau kemari?? akhirnya ia membuka suara

??????????? ?Rindu.?

??????????? ?Apa kau tahu, aku telah mempunyai suami dan seorang putri.?

??????????? ?Aku tahu, aku telah mendengarnya dari keluargamu. Biarlah, aku tidak mempermasalahkannya.?

??????????? ?Jadi??

??????????? ?Rindu.?

??????????? Kali ini diam lagi, suara nafas kami lagi. Mungkin seperti tadi, berselang tiga menit baru ia membuka suara. Kami belum juga berani untuk bertatapan. Menunduk. Menatap rumput hijau muda tepat di bawah kaki kami. Bangku besi yang berkelang masih diam. Belum memunculkan suara derit dari tubuh kami masing-masing karena kami belum juga beranjak atau menggeser duduk.

??????????? Pembicaraan tadi lembut, tidak ada nada perdebatan. Aku yakin dalam diamnya ia sedang memikirkan ditengah keterkejutan. Aku masih menunggunya mengeluarkan sebait kata karena gilirannya kini. Kecuali ia tiba-tiba melangkah pergi. Terpaksa giliran bicaranya aku rebut.

??????????? ?Aku ataukah kau yang salah??

??????????? ?Pikirlah sendiri.?

??????????? ?Aku sudah terlalu lama berfikir sejak kita saling diam tadi.?

??????????? ?Apa yang kau pikirkan??

??????????? ?Sama dengan pikiranmu.?

??????????? Ia menutup pembicaraan dan giliranku tiba. Kembali kami diam namun tak sampai tiga menit.

??????????? ?Kau sudah tahu tujuanku kesini??

??????????? ?Aku tidak mau mengulang pembicaraan pertama tadi. Aku tahu kau pasti akan menjawab, ?biarlah bukan itu yang aku permasalahkan?.?

??????????? ?Mengapa..??

??????????? ?Maafkan aku.?

??????????? ?Untuk??

??????????? Ia mencari jawaban, membiarkan sejenak dingin mengigit kimono tebalnya. Rambutnya tergerai basah oleh suhu. Aku mulai berani melihat wajahnya. Tetap cantik, bola mata yang bulat, alis yang melengkung dan rambut lurusnya itu. Tak ubahnya tujuh tahun silam.

??????????? ?Maafkan aku, aku terpaksa mencabut cincin tunangan kita dahulu. Saat kau berlayar untuk satu tahun ke depan. Maaf, membuatmu kecewa ketika kau pulang, juga membuat kecewa keluargamu.?

??????????? ?Terpaksa? Kata yang bijaksana. Aku rasa ini semua ada hubungannya dengan orang tuamu.?

??????????? ?Ya.?

??????????? ?Mereka yang memaksa??

??????????? ?Tak perlu aku jawab.?

??????????? ?Ya, aku tahu dan tak perlu aku menanyakan alasannya kepadamu bukan??

??????????? Pembicaraan kami mulai hangat. Mungkin sehangat pemanas ruangan di dalam rumahnya yang bisa aku lihat dari sini. Ia begitu anggun, dengan latar belakang rumah panggung dengan barisan atap bertimpa-timpa seperti sebuah kuil zaman dahulu. Sesekali dapat aku lihat bayangan-bayangan orang lalulalang dari rumah. Mungkin saja mereka pembantunya.

??????????? ?Kau tahu, aku bisa menunggu lama. Tapi orang tuaku tidak. Mereka memaksa saat ada seorang pria yang lebih kaya darimu melamarku. Bahkan paling kaya di negara ini dan mata orangtuaku gelap karenanya.?

??????????? ?Aku tahu, aku kenal betul sifat orangtuamu.?

??????????? ?Maaf.?

??????????? ?Tidak perlu, orangtuamu memang seperti itu. Dahulu sewaktu aku masih miskin pun mereka menolak mentah-mentah. Lalu dengan gigih aku bekerja. Akhirnya aku berhasil meminangmu dengan sejumlah uang yang telah kami sepakati. Tapi, kenapa begitu mudahnya mereka melepaskanmu dariku. Andai mereka tau kerja kerasku siang dan malam? Anjing!? aku melepas nafas, kali ini terasa sangat panjang. ?Luka yang benar-benar Luka.?

??????????? ?Aku tahu! Aku juga tidak punya pilihan lain. Aku merasa seperti barang yang selalu diperjualbelikan. Bukan hanya kau yang luka. Tapi aku juga.?

??????????? ?Maaf.?

??????????? ?Aku bisa menolak, aku bisa kabur, aku bisa bunuh diri. Tapi, aku berfikir ulang. Aku tidak mau mendurhakai orangtuaku. Meski aku tersiksa menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Ayah juga punya serangan jantung kau tahu itu??

??????????? Air mata. Butir air itu meluncur ke pipinya ketika ia menyelesaikan nadanya yang agak keras. Tiba-tiba aku terkenang saat kami dahulu di pesisir pantai. Bertengkar karena lupa menaruh bubu?perangkap kepiting?dimana. Setahuku di bawah nipah-nipah dekat pohon brembang. Namun ia bilang, di pintu air tambak. Perempuan ini, perempuan yang menemaniku sejak kecil. Perempuan yang rela membagi bontotnya, perempuan yang rela memboncengku dengan sepedanya ke sekolah. Perempuan yang rela mencuri beras dari rumahnya untuk kami. Perempuan yang selalu menyabarkan ketika aku rindu ayah yang tak pernah pulang dari lautan. Perempuan ini, hanya perempuan ini, pintu semangat untukku tetap hidup dan aku ingin hidup bersamanya. Selamanya.

Ia menatap mataku, namun secepat itu juga ia memalingkan wajah. Lalu menghapus air itu dari pipinya dengan ibu jari ke kiri.

??????????? ?Ikutlah denganku, mungkin akan terbayar permohonan maafmu karena tujuh tahun aku mencari dan menantimu.?

??????????? ?Kau keras kepala. Aku tidak bisa.?

??????????? ?Apa dengan seiring waktu rasamu juga hilang. Atau kau memang masih takut dibilang durhaka??

??????????? ?Tidak, tidak pernah sekalipun dan ayah juga telah meninggal bukan? Lima tahun yang lalu? kalau Ibu, dia merestui hubungan kita.?

??????????? ?Jadi? Putrimu? Bawa saja dia.?

??????????? ?Bukan itu.?

??????????? Kembali ia diam. Menimbang fikiran. Fuyu telah turun. Satu-satu butir putih itu menimpa kami lalu dengan cepat melahap hamparan rumput muda. Melukis halaman ini menjadi putih. Rambut kami sama-sama putih. Membayangkan berbicara disaat kami telah begitu tuanya.

??????????? Aku hapus bening kabut yang menempel di jam tangan yang aku beli di Swiss ketika berlayar. Aku tertarik karena mereknya sama dengan namanya : Carissa. Nama yang aneh memang untuk perempuan yang tinggal di pesisir. Tidak seperti, Aisyah, Azizah, Zulaiha. Seperti pertama kali aku mendengarnya waktu kami sekelas. Satu SD. Katanya, nama itu diberikan oleh orang tuaku agar suatu saat ia bisa pergi keluar negeri. Dan, memang terbukti. Pukul Enam Gogo JST sekarang. Telah setengah jam kami di halaman ini.

??????????? ?Kau tidak tahu, bagaimana susahnya keluar dari tempat ini. Aku menantu kaisar. Memang tidak ada pengaruh kaisar dalam pemerintahan tapi semua orang sangat menghormatinya dan tidak mudah kita keluar dari tempat ini. Aku tidak mau kau terbunuh.?

??????????? ?Tidak perlu takut, percaya padaku. Panggil saja anakmu.?

??????????? Aku tidak peduli lagi apapun yang akan terjadi. Aku harus keluar dari tempat ini. Meski harus menghadapi empat samurai penjaga gerbang yang memeriksaku sebelum masuk.

??????????? Carissa melambai pada salah satu perempuan yang sedang menyapu. Perempuan itu meletakkan sapunya dengan segera. Berlari kecil tergesa. ?Tomoko motte koi onegai,? perempuan itu mengangguk , membalik badan, menuju ke rumah.

??????????? Tak lama perempuan itu keluar bersama dengan gadis kecil yang cantik. Mirip sekali dengan ibunya : Carissa, hanya kulitnya yang mirip lelaki jepang itu, putih dan bersih.

??????????? ?Kore desu hime.? Dengan sopan perempuan itu menyerahkan

??????????? ?Ja, modotte itte.?

??????????? ?Hai..? lagi-lagi perempuan itu mengangguk, membalik badan lalu menghilang ke dalam rumah bersamaan suara sandal kayunya yang terhenti.

??????????? ?Ini Tomokko, anakku.?

??????????? ?Mirip sekali denganmu.?

??????????? ?Ayo kita pergi.?

??????????? ?Biar aku menggendongnya.? Tomoko menurut, ia diam saja meski rasa penasaran tampak dari alisnya yang terangkat. Aku mengulurkan tangan. Membantu Carissa bangkit lalu menggendong Tomoko.

??????????? ?Kau yakin, Kapten Haris?? Carissa tersenyum, telah lama sekali aku tidak melihat senyumnya. Lama sekali.

??????????? ?Tidak perlu aku jawab ulang bukan?? aku membalas senyumnya.

??????????? Kami mulai beranjak. Puluhan langkah membekas di atas salju. Ia memegang erat tanganku. Dua penjaga menghadang. Dengan cepat aku mengambil sesuatu dari dalam jaket. Melesatkan peluru. Dua penjaga itu tumbang. Dua orang lagi datang, berteriak dari jauh. Memegang samurai. Mencoba membelahku, tapi mereka tak sempat, dada mereka telah tertanam peluru panas oleh pistolku. Carissa menutup telinga, Tomoko mulai merengek dan menangis takut. Penjaga-penjaga lain mulai berdatangan. Kami berhasil membuka gerbang, namun di depan kami masih ada gerbang lain, lain dan lainnya.

Halaman Basah, Medan. 2014

Catatan :

Fuyu??? ??????????????????????????????????? : Musim Salju

JST????? ??????????????????????????????????? : Japan Standart Time

Tomoko motte koi onegai?????? : Tolong bawakan Tomoko kesini.

Kore desu hime?????????????????????? : Ini tuan putri.

Ja, Modotte itte????????????????????? : Baiklah, silahkan kamu masuk ke dalam.

Hai????????????????????????????????????????? : Baik

???????????

?

  • view 175