Anak Kecil dan Jawaban Dari Makam

maulanasatrya maulanasatryasinaga
Karya maulanasatrya maulanasatryasinaga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Februari 2016
Anak Kecil dan Jawaban Dari Makam

Cerpen : Maulana Satrya Sinaga

?Anak Kecil dan Jawaban Dari Makam

Tuan ingin mengetahui hal apa dari orang yang dikubur disini?

Aku tak menyangka dia bisa berbicara dengan orang mati. Makin banyak ia bertanya pada seseorang makin banyak pula pertanyaan di dalam kepalaku. Hari ke hari semakin banyak saja orang yang berdatangan, untuk menanyakan suatu kemustahilan. Dari tukang becak sampai anggota dewan. Mereka berjajar di depan gubuknya seperti barisan semut, ada yang duduk di tanah dengan lapis koran bahkan ada sampai ke pagar perkuburan. Gila! Saat aku melihat, nomor antrian itu hingga dua ratusan. Di tambah hampir seluruh makan yang sudah dia tanya-jawabkan.

Siapa sebenarnya dia?

Ridwan kecil terpukul. Hatinya hancur. Ibunya meninggal. Tubuh ibunya hitam, koyak-koyak terbakar. Setabung gas yang meledak membuatnya jadi sebatang kara. Ridwan lebih terpukul lagi mengingat perkataan ibunya sebelum pamit pergi sekolah. ?Ibu, mau memasakkan sayur asam,? Ridwan berlari riang kesekolahan.

Ia berharap pulang cepat agar mendapat makanan kesukaan. Sungguh, keinginannya pulang cepat terkabul. Namun, bukan sayur asam yang di dapat melainkan daging panggang.

Ibunya dikuburkan di samping makam ayahnya yang meninggal enam tahun silam. Saat itu Ridwan baru pandai berjalan. Ayahnya tertimpa besi bagunan saat bekerja dan kini, Ridwan sebatang kara.

Ia Tak mau pulang dari pekuburan, dari ba`da dzuhur dimakamkan hingga ishya menjelang, Ridwan tetap menangis di makam. Berulang warga kampung memujuk, bahkan ada beberapa yang iba dan ingin menjadikannya anak. Namun, hati Ridwan setegar nisan. Ia tetap bertahan di makam. Warga hanya bisa membuat gubuk kecil di tengah perkuburan dan ia terlihat senang.

Hari-berhari terlewati, warga yang mengantarkan makanan untuknya dan masih memujuknya untuk pergi dari kuburan itu. Namun, seiring warga sering melihat ia tengah berbicara sendiri. Warga mulai enggan merinding lewat pekuburan. Sebagian menganggapnya gila. Sebagian ingin memasungnya. Namun, warga berfikir ulang. Dia tidak menganggu bahkan tidak melukai orang-orang.

Bagaimana bisa ia bisa bercerita? Darimana awal cerita?

Sore itu, saat petang ketika seorang penziarah datang, Ridwan tiba-tiba menghampiri dan bercerita.

?Ibu, kata anak ibu, ibu jangan sedih lagi di rumah. Ia sudah bahagia di sini. Di sini ia bermain dengan cahaya, ia titip salam dan jangan lagi ibu memegang boneka. Buang saja boneka kesayangannya itu. karena akan terus membuat ibu sedih.?

Ibu itu terkejut. ?Apakah anak ini bisa berbicara pada orang mati,? lalu dari mulut ke mulut cerita ini cepat menyebar, beberapa orang ada yang percaya dan ada yang tidak. Hingga satu persatu datang dan membuktikan kebenarannya.

Tidak ada kotak infak disediakan di depan gubuk, tidak ada juga harga patokan untuk menyampaikan pesan dari orang mati kepada orang hidup. Hanya sumbangan se-ikhlasnya yang disalamkan di tangannya. Seperti seorang ibu tua dan anak gadisnya yang datang hari ini. Ia malah tak menerima selembar uang dari tangan mereka.

?Ibu, mengapa masih menyimpan dendam. Dendam akan mempersulit kita untuk menuju syurga. Maafkanlah Bu, maafkan jurangan kambing itu yang berteriak dan membangunkan warga-warga lalu menghajarkku hingga aku kehilangan nyawa. Kehilangan kalian. Maafkan juga warga-warga itu. Ibu jangan menyalahkan diri sendiri, karena ibu sakit aku jadi mencuri. Kirimlah doa buatku Bu, itu saja.? ?Itu pesan anak ibu,? kata Ridwan lagi.

Ibu itu menangis deras, anak gadis disebelahnya menyabarkan ?menggosok-gosok punggungnya-. Lalu dari dalam kantong, ibu itu mengeluarkan selembar uang. Anak kecil itu menolak dan tersenyum ikhlas.

Dari antrian terdengar suara ribut-ribut. Seorang bapak berjas hitam dan kilat sepatu pansus membuka perdebatan.

?Aku buru-buru, aku tidak mau mengambil nomor antrian. Kalau kalian keberatan nomor antrian kalian aku beli.?

Anak kecil itu datang, menengahkan.

?Ayo, Pak. Tunjukkan makamnya,? Ridwan hanya menunjukkan rasa maaf kepada warga lewat matanya. Ia juga tahu, kalau orang berkuasa tidak dipertamakan akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi di belakang.

Mereka duduk dipinggir makam. Berhadapan.

?Katakan kepadanya, dimana ia menyimpan surat penting perusahaan. katakan kalau aku berhasil merebut perusahaan itu, akan aku bagikan juga hasilnya kepada istri dan anaknya.?

Anak kecil itu menutup mata, tangan kanannya menyentuh batu nisan. Semenit mulutnya nampak komat-kamit kecil.

?Ada di bawah karpet meja kerjanya, Pak.?

?Hahaa, kau memang sekretaris Bos paling jujur Nanto, aku akan menguasai perusahaan Bos kesayanganmu itu.?

?Tapi, Pak ada hal lain. Katanya, jangan terlalu mengejar harta. Bapak telah berkecukupan. Dan, api itu sangat panas.?

?Akh, sudah aku pergi. Belum penting itu. Nanti aku taubat,? lelaki itu melangkah pergi sambil menjatuhkan satu ikat uang ke tangan Ridwan. Sesekali ia melirik arloji dan masuk ke dalam mobilnya lalu hilang ditelan rerimbun pohon-pohon di sekitar makam.

Dan terus begitu, hingga giliran-giliran berikutnya. Namun, aku makin penasaran akan komat-komit mulutnya.

Apa yang ia ucapkan? Apakah mantra atau pertanyaan?

Suatu malam ketika hujan, anak laki-laki sungguh kesepian. Aroma segar bunga-bunga masih ia rasakan, ia terus berdoa kepada sang pencipta agar ibu dan ayahnya juga bercerita. Ia terus berdoa dengan ayat-ayat yang didapatnya di pengajian. Ia ingin tahu apakah doa dapat membuat ibunda dan ayahnya tak kesepian juga di dalam. Tidak kedinginan, tidak kelaparan, tidak kegelapan.

Sayup-sayup ia memejamkan mata. Ia mencoba mendengar butir hujan jatuh ke tanah, suara angin membelai dedaunan, suara katak, lalu seiring hening ia mulai ia mendegar jerit kesakitan orang-orang. Tangis-tangis lirih. Ia ketakutan karena sungguh, hampir semua jeritan itu keluar dari makam. Ia juga melihat hanya sedikit makam yang bercahaya. Pelan-pelan ia mendengar suara ibu bapaknya yang menyapa. Ia sedikit tenang.

Lalu ? Benarkah apa yang ia bilang?

Sungguh, berselang hari warga makin ramai. Dari mulut kemulut cerita ini menyebar, seperti flu yang tertular. Sangat cepat. dan, selalu orang-orang mengangguk ketika ditanya kebenarannya.

Hay ! tapi, tetua-tetua kampung tak semudah itu membiarkan.

Maghrib, para tetua kampung membawanya pergi dari makam. Gubuknya dibakar. Ia akan dititipkan di pesantren terdekat. Karena ada rahasia yang harus tetap menjadi rahasia.

Namun, sebelum Ridwan dibawa, seorang perempuan bersikeras ingin tetap bertanya, ia menantang warga dan para tetua. Ia bersikeras bahkan berlutut meminta tolong.

?Aku tidak ingin bertanya apa-apa, tolong Dik, sampaikan saja maafku pada makam ini.?

Para tetua terenyuh hatinya dan mereka mengizinkan. Atas permohonannya yang sangat lirih dari perempuan manis, bertahi lalat di sudut bibir.

Mereka berjalan perlahan, membelah semak-semak ilalang yang setinggi lutut. Sesekali perempuan itu mengibas kakinya yang terlihat gatal dan perih.

?Tolong sampaikan padanya, maafku.?

Anak kecil itu mulai melakukan ritual. Setelah selasai, perempuan itu menyalamkan dua lembar uang ratusan. Perempuan itu dihampiri seorang laki-laki. Laki-laki itu merangkulnya.

?Hey, Hey, Hey,? teriakku. Kerongkonganku sakit. Serasa meminum racun. Melegak seperti terbakar. Namun perempuan itu tak mendengar tetap melangkah pergi.

Mata anak kecil itu menatap makam dan dengan senyum dan ia bertanya.

?Tuan hendak bertanya apa?? Tanya Ridwan sebelum ia dibawa tetua kampung.

Medan, 2015

  • view 439