Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 27 Januari 2016   20:07 WIB
Sayana, Penyair itu Kesepian

Cerpen Maulana Satrya Sinaga

Sayana, Penyair itu Kesepian

Lebih lembut dari cahaya bulan adalah senyummu, lebih teduh dari pohon rindang adalah tatapanmu, yang lebih sejuk dari angin laut sehabis hujan adalah ucapanmu, yang lebih hampa dari keheningan tata surya adalah kehilanganmu.

Pemuda itu berjalan di pinggir pantai, rambutnya sebahu, ia sangat tampan, wajahnya cerah namun matanya kosong. Matanya adalah ruang yang tak berujung seperti malam yang sangat gelap tanpa bintang, tanpa apa-apa, seperti ada sesuatu yang hilang. Tak ada yang tahu ia berasal darimana, ia datang tiba-tiba bersama angin saat senja, bersama angin yang kencang. Ketika ia datang, maka warga kampung pesisir itu berkumpul. Mereka sangat senang ketika ia datang. Pemuda itu adalah sepi namun ia mampu menyembuhkan hati-hati orang yang kesepian.

Sepanjang pantai kadang ia bersyair sendiri, setapak-setapak ia jalan. Anggun perlahan, maka warga kampung membawa pulpen dan kertas untuk mencatat syair-syairnya. Kadang ada mereka yang bertanya. Terkadang ia menjawab, namun tetap dengan pandangan ke depan sambil meneruskan langkahnya.

?Kekasihku menikah dengan orang lain, padahal hari pernikahan kami telah ditentukan. Ia telah meninggalkanku tanpa alasan wahai penyair,? perempuan itu mengadu pada pemuda itu dengan linang air mata sederas sungai yang tak bermuara. Ia berbicara sambil berjalan mengikuti langkah yang setapak-setapak itu.

?Berakhir bukan berarti mati, bunga yang indah selalu tumbuh, yang pergi lebih baik tak kembali, yang indah lebih banyak dari yang di depan, andai kita mau melihatnya dan membuka hati, perlahan, pelan-pelan. Ombak yang datang selalu berganti, dan keindahan karang adalah ketika ia tegar tak tumbang,? pemuda itu menjawab, namun ia selalu menjawab tanpa melihat mata sang pe-nanya.

Entah kenapa, lapang hati perempuan, sedikit senyum mengembang di ujung bibirnya, senyum manis yang sudah sebulan tak nampak karena murungnya. Kini ia kembali ke rumah, meninggalkan desakan orang-orang yang ingin bertanya kepada pemuda itu. Puluhan warga kampung yang ingin mendengarkan ia bersyair atau lebih dari itu, mengajukan pertanyaan. Namun diantara banyak pertanyaan yang dilontarkan hingga agak kedengaran bising itu ia hanya memilih salah satu yang dijawab. Entah apa alasannya tiada yang tahu.

?Matamu kosong, apakah engkau kesepian?? pernyataan yang pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan oleh orang-orang. Warga kampung selalu bertanya tentang pasangan atau tentang cara menghibur hati setelah belasan kali pemuda itu kemari namun, pertanyaan seperti ini baru ia dengar dari mulut perempuan ini. Ia bukan penduduk kampung sini, pantas pertanyaannya tak wajar. Tapi perempuan itu sudah berulang kali memerhatikan pemuda itu ketika ia datang kemari, ketika ia datang maka timbul keramaian. Perempuan yang bertanya itu adalah pendatang yang biasa datang untuk memancing ikan di dermaga, sorot matanya tajam dan kecantikannya mengimbangi keindahan senja yang pecah diantara awan dan laut saga.

Tetap saja pemuda itu tak memandang sipena-nya dengan pertanyaan yang tak pernah ditanyakan itu, ia tetap berjalan saja, agak lama ia diam entah mau menjawab atau tidak namun seketika keluar sesuatu dari mulutnya.

?Ini adalah keramaian, sepi yang ramai.?

?Aku tidak mengerti, apa itu kesepian yang ramai, bisa kau menjelaskannya lebih detail?? perempuan itu mengerutkan alis.

?Di dalam mataku ada ombak yang berdesir, ada suara-suara derak dermaga oleh kaki-kaki pemancing, ada suara ikan-ikan bernyanyi dan burung-burung di musim kawin,? pemuda itu berjalan lebih merapat pada air laut, kini mata kakinya telah berulang kali dihampiri ombak laut dan warga kampung masih menyimak lekat percakapan mereka. Percakapan yang menarik.

?Aku mengerti meski tidak sepenuhnya, tapi di dalam matamu apakah terdapat seorang perempuan??

?Ya.?

?Apakah dia hilang??

?Masa lalu adalah kapas yang tertiup angin dan aku bukan seorang pengejar kapas, bukan seorang yang melawan angin.?

?Apakah kau sakit??

Sekian menit, pemuda itu diam. Pertanyaan itu tak dijawab.

?Maksud pertanyaanku, apakah itu membuat kau sakit??

Tak juga terjawab

?Sudahlah perempuan, ia tak mau menjawab pertanyaanmu itu,? berbicara salah seorang dari warga kampung namun, warga kampung tak ada yang bertanya padanya. Ia juga tak bersyair lagi. Namun warga kampung masih melihat perempuan itu, menanti-nanti apa kata-kata yang akan keluar kembali dari mulutnya.

?Kau kesepian bukan? Kau datang bersama anginkan wahai pria? Kau adalah penyendiri yang paling lihai, kau adalah penghibur dari segala macam rasa yang pernah kau rasakan, kau adalah keromantisan alam, kau adalah pangeran dari segala sejuk yang datang. Bukan begitu? kenapa kau tak melihat seseorang yang bertanya padamu.? Pertanyaan yang bertubi-tubi. Pertanyaan yang menyudutkan, pertanyaan yang meminta dijawab. Pertanyaan dengan suara yang serak dan mata berkaca-kaca.

Warga kampung semakin tak mengerti apa maksud perempuan ini, mereka kembali menatap pemuda itu. Berharap sesuatu keluar dari mulutnya. Namun tak satupun kata-kata keluar dari mulutnya. Tak satupun.

?Kau bukan seorang penyair romantis, kau hanya seorang pecundang. Ya, pecundang!? sangat tajam tatapannya.

?Sayang, engkau di sini. Mari kita pulang, kau sedang hamil tak baik berada lama-lama disini. Engkau kenapa?? tanya seorang laki-laki. Laki-laki yang merangkulnya kemudian menghapus air matanya. Ya, mata perempuan yang bertanya itu.

Mereka melangkah pergi meninggalkan kerumunan, meninggalkan penyair yang tetap berjalan ke depan tanpa memandang, meninggalkan kerut tanda tanya di dahi warga kampung.

?Wahai Penyair, kenapa kau tak menjawab pertanyaan perempuan itu?? kata salah seorang dari kerumunan.

?Tak perlu dijawab wahai Tuan, karena ia mendapatkan suami yang baik. Suami yang bisa memenuhi kebutuhannya. Suami yang telah ditentukan oleh orang tuanya untuknya. Bila ia menolak, orang tuanya akan mati seketika karena mempunyai serangan jantung.?

?Apa kau mengenalnya Penyair??

?Ia bertanya perihal ?apakah ada perempuan dalam mataku? wahai Tuan, ialah perempuan itu.?

Pria-pria dari kumpulan itu menaikkan jakun. Menelan ludah. Para perempuan menutup mulut dengan tangan. Terkejut.

?Wahai penyair, memang dia punya semua kebutuhan dengan suaminya. Memang orang tuanya hidup. Tapi ia, ia tidak hidup penyair. Matanya tajam namun kosong, sama sepertimu.?

Baru kali ini jalannya terhenti, baru kali ini langkahnya tiba-tiba terpacak. Baru kali ini ia berhenti. Mungkin perkataan tadi sangat dalam dan mampu menembus lorong-lorong jantungnya.

?Kau selama ini mencari kesepian penyair, tapi perempuan itu mencari keramaian yang tak lain adalah dirimu,? sambung yang lain dari kerumunan warga kampung.

Angin selalu menyentuh wajah penyair itu dari depan tapi baru kali menyentuh telinga kanannya. Baru kali ini, kepalanya memutar balik menatap kebelakang. Baru kali ini.

?Sayana..? terdengar bisik dari mulutnya. Warga kampung tak mencatat karena warga kampung cepat penalarannya. ?Sayana.? Nama perempuan itu.

Ia memutar balik, ia berlari, bukan jalan setapak-setapak lagi. Perempuan itu telah jauh di ujung mata, kecil terlihat seperti camar sedang menunggu pasang. Ia berlari, di belakangnya warga kampung mengikuti, berlari, berlari. Lama-lama larian itu sangat kencang dan membentuk ratusan tapak. Pemuda itu menjerit-jerit.

?Sayana..sayana..? Namun panggilan itu tak terdengar.

?Sayana...sayana..? Suara panggilan itu begitu keras, begitu mengaung di pesisir itu menabrak tebing-tebing, suara panggilan itu bergemuruh karena semua warga kampung di belakangnya ikut memanggil nama perempuan itu. ?Sayana...sayana..?

Panggilan itu membuat ombak bergulung namun tetap saja yang dituju tak menoleh, nafas pemuda itu terdengar tersengal-sengal, kemudian ia menghentikan panggilannya tapi warga kampung terus memanggil, berlari-lari liar. Pemuda itu kemudian bersyair lantang.

?Lebih lembut dari cahaya bulan adalah senyummu, lebih teduh dari pohon rindang adalah tatapanmu, yang lebih sejuk dari angin laut sehabis hujan adalah ucapanmu, yang lebih hampa dari keheningan tata surya adalah kehilanganmu,? ombak yang bergulung adalah suara memanggil dari warga kampung dan angin yang tiba-tiba bergemuruh adalah suara syair sang penyair. Syair itu sampai pada perempuan itu lewat angin. Seketika ia berbalik ke belakang, ia melihat keramaian itu terlebih melihat pemuda itu kemudian mata perempuan itu berlinang.

(Pesisir yang melankolis, 2014)

?

Karya : maulanasatrya maulanasatryasinaga