Dikuatkan

Matheus Wahyu Aribowo
Karya Matheus Wahyu Aribowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Juni 2017
Dikuatkan

Tiga hari setelah aku selesai dengan permusuhanku tentang hidupku, aku kembali ke kota aku memulai kehidupan yang berbeda. Singkatnya begini. Tujuh tahun yang lalu sebelum aku datang ke kota ini, aku menuliskan sebuah permohonan sederhana. Bahkan mungkin satu menit setelah ku tulis permohonan itu, aku lupa pada permohonanku. Lalu, mengapa aku sekarang tahu aku pernah menuliskan permohonan itu. Malam di hari pertama aku sampai di kota ini kemarin, tak sengaja ku buka facebook. Seperti kita tahu bersama, facebook kini setia mengingatkan beberapa momen yang telah berlalu. Bahkan bertahun-tahun yang lalu. Dari facebook lah kemudian aku tertohok dan teringat kembali bahwa janji-Nya tak pernah Ia ingkari. Sungguh. Tahun dimana ku tuliskan permohonan sederhana itu adalah tahun dimana aku belum menemukan tujuan hidup, makna hidup dan untuk siapa aku hidup. Bisa dikatakan aku hidup sembarangan tanpa arah.

Dia memang Maha mendengar. Sungguh. Di tahun yang sama aku menulis permohonan itu, kehidupanku mulai berubah. Ya, berubah. "Ya Tuhan, ubahlah kehidupanku." Kira-kira begitulah yang ku tulis tujuh tahun yang lalu. Itulah permohonan sederhanaku yang mengubah kehidupanku untuk setidaknya enam tahun kedepan. Hanya enam tahun karena lebih kurang satu tahun terakhir kehidupanku mulai terhilang (lagi). Kehilangan arah lagi seperti kala itu, sebelum permohonan sederhana itu tertulis. Tak tahu arah.

Dengan penuh kesadaran bahwa tak ingin terus dalam keadaan terhilang, aku kembali. Meninggalkan ketidaktahuan arah, menarik jangkar yang sempat tertambat. Layar kembali ku kepakkan, angin kembali terasa hembusannya. Koordinat baru telah ditemukan. Ku tinggalkan dermaga keterhilangan. Kembali berlayar untuk ditemukan, dan pulang. Tak mau mensia-siakan waktu yang ada, maka sekembalinya dari keterhilangan segera ku hampiri mereka. Mereka yang ku percaya bisa memberiku kekuatan. Ku kosongkan lagi diriku, ku biarkan diriku dikuatkan. Kuberikan diriku dikuatkan oleh mereka. Mereka yang Tuhan kirimkan untukku, sebagai bagian dari pemeliharaanNya. PemeliharaanNya nyata dan ajaib. Percayalah.

Mr Jay, seorang Filipina yang sudah seperti ayah bagi kami (Member and Alumni of Linnaaw Student Center Salatiga). Beberapa hari setelah aku mengakhiri hubunganku dengan permusuhanku, beliau tiba-tiba menghubungiku dan menanyakan kabar. Tak ada yang ingin ku tutupi, ku ceritakan saja seadanya. Maka hari kedua setelah aku tiba, menjadi jadwal untuk aku menyambangi rumahnya. Sebagaimana dia telah mengundangku pagi harinya. Seperti biasa, berbicara dengannya takkan jauh dari bahasan tentang masa depan dan nasihat-nasihat kehidupan. Judul tulisan ini "dikuatkan", maka itulah yang terjadi padaku dirumah Mr Jay. Kembali kepada berkomunitas, dan menjadi berguna bagi orang lain adalah beberapa hal yang membuat manusia dimanusiakan. Itulah salah satu nasihatnya. 

Hari selasa aku putuskan beranjak ke kota sebelah. Sore harinya baru aku kesana dengan bus antar kota yang nyaman. Tak mau ku sia-siakan selasa pagi sampai sore, ku buat janji bertemu seseorang bersama seorang teman. Namun karena tak berkabar terlebih dulu, kami pun tak berjumpa. Tujuan langsung diganti. Ngobrol berdua dengan teman ini juga tak kalah menariknya. Evan namanya, anak band yang sangat hitz di fakultasnya bahkan universitas. Maba cewek menjadi kaum mayoritas pengagumnya. Selain itu dia juga leader dikomunitas sosial yang juga aku tergabung di dalamnya selama 5 tahun ini. Menurutku, salah satu ciri khas anggota komunitas yang sungguh-sungguh berkomunitas ialah apa yang dibicarakan adalah tentang ide. Tentang gagasan. Itu juga yang kemudian kami bicarakan berjam-jam sampai waktu menjelang aku berangkat ke kota sebelah pukul 16.00 wib. Dari obrolan kami di cafe terkece di kota ini (Geprak Bang Topan), setidaknya aku dapatkan nilai yang sungguh membuatku dikuatkan.  Support seorang sahabat, support sebuah komunitas. Itu memberi kekuatan bagi orang lain. Sederhana tetapi menjadi bagian dari pemeliharaan Tuhan juga. Support itu adalah bentuk ajaib dari pemeliharaan Tuhan kepada kita melalui sahabat. 

Hari telah gelap dan rintik gerimis turun dengan ragu-ragu di kota sebelah. Aku turun dari bus antar kota dan kubiarkan gerimis menyapaku sepanjang aku berjalan kaki menuju meeting point. Ku lihat sahabatku datang menghampiriku. Membelah sebagian kota ini dengan motor, aku dibawanya menuju rumahnya. Setelah rehat sejenak, kami beranjak menuju Warkop (Warung Kopi). Kopi Sharing namanya, warkop yang didirikan oleh dua temanku di kota ini. Tak mau mengganggu mereka bersiap malam ini, aku putuskan berjalan kaki sebentar menyurusi jalanan kota. Menyapa jalanan kota yang dulu sering ku lewati bersama seseorang yang kini berada jauh di barat sana. Bernostalgia dengan sedikit kenangan kala itu, sekitar dua atau tiga tahun lalu. Sambil tersenyum ku selesaikan jalannan nostalgia ini dan kembali ke warkop. Beberapa pemuda yang tampak asing bagiku sudah berkumpul di sekitar warkop. Obrolan seputar cewek sampai politik menguap di langit solo malam ini. Bahkan sampai pagi buta. Ada anak pecinta alam yang hampir jadi anggota Wanadri, bassist terkemuka kota solo yang sering duet dengan artis ibu kota, bassist band metal yang tampak garang , anak desain yang juga personil band metal, dll. Beradu suara menyanyikan lagu-lagu yang tak disangka bakal mereka bawakan di pinggir jalan kota solo yang hiruk pikuk. Cukup banyak lagu-lagu istimewa yang sering ku dengar saat ibadah hari minggu di beberapa Gereja. Dengan lantang mereka nyanyikan, penuh sukacita. Dari perbincangan di warkop ini setidknya aku harus belajar yakin. Meyakini mimpiku sendiri, meyakini mimpi yang masih berputar-putar di angan dan kepalaku. Dengan keyakinan itu lah aku dikuatkan, oleh diri sendiri. Diri sendiri yang yakin pada mimpi dan kemampuan diri. Yakin.

Dikuatkan, hari-hari ini dalam kejatuhanku. Jatuh pada kesunyian yang dalam, aku kembali dikuatkan dengan pertemuan-pertemuan sederhana. Pertemuan dengan sahabat-sahabat yang hampir satu tahun tak terkoneksi. Tentu lebih banyak lagi pertemuan yang ku lewati beberapa hari ini, namun cukup tiga yang ku muat disini. Tapi percayalah, pertemuan-pertemuan lain dengan orang-orang lain juga sangat menguatkan. Ini semua bagian dari pemeliharaan Tuhan dalam kehidupanku, dalam pertumbuhan karakterku, dalam proses yang harus ku nikmati. 

Ia yang tak pernah sekalipun meninggalkan kita, sungguh senantiasa bersama kita, kemanapun kita pergi. Percayalah pada pemeliharaannya.

Matheus Wahyu Aribowo

14-06-2017

Surakarta

  • view 34