Dia - Bagian 4

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 April 2018
Dia - Bagian 4

Jatuh Cinta
 
Pagi yang masih sejuk. Matahari belum tampak sempurna dengan cahayanya. Masih malu-malu menyinari dedaunan, sesekali sinar emasnya timbul tenggelam di terpa angin pagi pada daun jambu di samping Mushalla.
 
Zayn baru saja keluar dari Mushalla, sehabis subuh dia rutin mengaji atau tilawah disana bersama beberapa jamaah shalat Subuh lainnya. Dan baru pulang kerumah saat matahari mulai tampak di timur. Bersemburat warna keemasan.
 
Ketika hendak membuka pagar masuk kerumahnya, Zayn melihat Ruby keluar dari rumah Bang Kumis. Dia berpakaian rapi, memakai kemeja lalu di tutupi jaket, rambutnya basah habis keramas, dia biarkan tergerai di pundaknya. Dia memang belum memakai kerudung. Zayn baru tahu sekarang, dia seorang muslimah dari kakaknya Nella dan obrolan malam itu saat Siti mengajaknya ikut pengajian remaja bersama di Mushalla. Malam yang selalu di kenang Zayn. Saat dia merasa begitu dekat dengan Ruby. Berbicara apa saja dengannya. Dia masih tak bisa melupakan malam itu.
 
Meski dalam benak Zayn selalu bertanya-tanya, bagaimana perasaan atau tangggapan Ruby setelah obrolan persahabatan mereka malam itu. Apa itu hanya di anggap biasa oleh Ruby. Karena sebulan sejak malam itu Ruby terlihat biasa-biasa saja jika bertemu dengannya, padahal bagi Zayn, setiap sapaannya mengandung arti perhatian yang mungkin sulit ia ungkapkan, bagi Zayn berpapasan dengan Ruby saja telah membuat serangan jantung mendadak bagi dirinya. Hingga terkadang hanya mampu menyapanya dengan kata “Hai” atau sejenisnya yang tidak menarik perhatian. Lalu setelahnya, dia akan memaki dirinya sendiri, kenapa bisa jadi seperti orang bodoh di depan Ruby.
 
Sebulan yang lalu, Ruby sudah mulai aktif bekerja di salah satu perusahaan tekstil di daerah kabupaten kota. Dia bekerja atas rekomendasi salah seorang tetangga di komplek perumahan itu. Dia juga salah satu anggota remaja putri yang ikut pengajian remaja, namanya Desi dan Yuli. Akhirnya mereka bertiga berteman baik, mengaji bersama dan berangkat kerja bersama naik angkot.
 
Zayn belum bisa mengonfirmasi lowongan kerja buat Ruby, karena informasi dari teman-temannya memang belum pasti. Dia tidak ingin memberi harapan pada Ruby. Dan Zayn ikut senang ketika mendengar kabar kalau Ruby sudah mendapatkan pekerjaan. Jadi dia tidak akan bosan di rumah terus.
 
“Hai, masih pagi udah rapi banget. Mana temannya?” Zayn menyapa Ruby  yang baru saja keluar dari pagar rumah Siga. Dia tersenyum ke arah Zayn.
 
“Eh, hai, Zayn. Biasalah, lagi semangat jadi karyawan nih. Kayaknya mereka belum datang. Aku menunggu saja disini. Nanti juga mereka lewat.” Ruby mengunci pagar rumah Siga, kemudian dia duduk di lantai keramik depan Mushalla.
 
Zayn mengikuti, tapi dia tidak ikut duduk. Dia hanya berdiri menemani Ruby yang sedang menunggu Desi dan Yuli lewat. Karena rumah Desi dan Yuli ada di blok bagian belakang perumahan, jadi siapapun yang akan keluar gerbang perumahan pasti melewati halaman depan rumah Zayn dan Ruby yang ada di blok paling depan.
 
“Maaf ya, Ruby, aku belum mendapat informasi terbaru dari teman-temanku soal lowongan kerja. Jadi,,,” Kalimat Zayn terputus, Ruby memotong.
 
“Nggak masalah kok, Zayn. Toh sekarang aku udah kerja, kan. Dan aku sangat menikmati pekerjaan baruku. Emang agak jauh sih dari rumah, tapi tak masalah. Aku senang, jadi bisa banyak mengenal tempat-tempat baru.”
 
“Iya, aku senang mendengarnya. Semoga kamu betah dan mendapat pekerjaan yang bisa bikin kamu juga senang dan bahagia menjalaninya.” Doa Zayn tulus.
 
“Aamiin, makasih ya. Kamu nggak kuliah? Kok belum siap-siap?” Zayn tergagap merasa di perhatikan.
 
“Gampanglah, aku masuk kampus jam sembilan. Masih banyak waktu. Udah sarapan lom?” Zayn memperhatikan wajah cerah Ruby yang polos, tanpa make up, hanya terlihat polesan lipgloss samar di bibirnya agak tidak kering. Tapi itu saja sudah membuat wajahnya cerah dan bercahaya. Matanya bersinar penuh binar-binar semangat.
 
“Kenapa? Mau ngajakin aku sarapan nih? Hehehe. Bercanda. Udah kok, Kak Cici abis masak gulai ikan. Nih aku di bawain bekal buat makan siang. Katanya sih, biar nggak boros.” Ruby mengangkat bungkusan kecil di tangannya, bekal makan siangnya di kantor.
 
“Selain hemat dan tidak boros, itu juga menjaga kesehatan. Terkadang makanan yang di beli di luar kurang menyehatkan badan.” Zayn menambahkan.
 
“Betul banget.” Ruby berdiri melihat ke jalan dari arah gang rumah Desi. Dia melihat dua temannya itu menuju ke depan.
 
“Itu mereka datang. Makasih ya, udah di temani ngobrol pagi-pagi.” Ruby tersenyum.
 
“Nggak masalah. Oh ya, kapan-kapan aku jemput pulang kerjanya, boleh? Kalau kamu nggak keberatan.” Zayn tiba-tiba mendapatkan ide bagus yang langsung meluncur di bibinya begitu saja.
 
“Oh, kapan ya. Nanti aku kabarin. Saat ini aku senang pulang dan berangkat bareng Desi sama Yuli. Kapan-kapan nanti ya, kalau udah bosan naik angkot, hehehe.”
 
“Aku tunggu lho, kabarin ya. Hati-hati di jalan. Semoga lencar semuanya, aku masuk dulu ya." Zayn pergi masuk ke dalam rumahnya sebelum Desi sama Yuli sampai di depan sana. Menghindari ditanya-tanya atau di godain soal Ruby.
 
“Siap, nanti aku kabarin.” Ruby menaikkan dua jempol tangannya sambil tertawa. Zayn bahagia melihat hal itu, hatinya penuh rona warna warni. Dia melambai pada Ruby lalu menghilang di balik tembok rumahnya.
 
*****
 
 
Sore yang cerah, angin semilir membawa sejuk ke kulit. Semilirnya mengeringkan peluh selepas desak-desakan di dalam angkot. Ruby turun di depan gang menuju gerbang perumahan di gang sempit itu. Hari itu dia mulai menggunakan topi. Sebuah topi warna merah yang ia temukan kembali di dalam lemari kecil miliknya di rumah Siga.
 
Sebuah topi pemberian seorang teman dekat di kampungnya, di pulau ujung Sumatera Utara. Topi sebagai kenang-kenangan dari sahabat baiknya, Dia bernama Cahaya. Persahabatan yang di mulai ketika Ruby lulus sekolah menengah atas, karena tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi di kota karena tidak ada biaya lebih dari orang tuanya, maka Ruby kembali ke kampungnya, sebuah pulau kecil nan indah di tengah lautan yang di kelilingi pohon nyiur sepanjang pantai.
 
Ruby lulus sekolah menengah atas dengan nilai yang tidak buruk. Meski tidak termasuk yang terbaik. Kala itu sistem pendidikan terjadi perubahan dalam penetapan skala nilai atau batasan nilai untuk bisa lulus, kelulusan di tentukan dengan standar Nasional. Dan dari 275 siswa kelas tiga saat itu hanya terdapat 49 orang siswa yang lulus termasuk nama Ruby. Sisanya gagal alias tidak lulus. Dari 49 siswa tersebut, Ruby menempati posisi kedua perolehan nilai terbaik setelah Dimas, teman sekelasnya. Bahkan saat itu salah seorang yang juga teman sekelas Ruby, juga merangkap pujaan hatinya, dinyatakan tidak lulus dan harus mengikuti ujian susulan. Hari yang menyedihkan memang.
 
Entah karena desakan atau hal lain dari akibat banyaknya yang tidak lulus, maka dinas pendidikan mengumumkan adanya ujian susulan bagi yang tidak lulus. Dan itu adalah angin segar bagi mereka yang gagal untuk bisa ikut ujian susulan. Sepertinya saat itu, sistem pendidikan sedang masa peralihan dari menteri pendidikan dalam rezim penguasa lama ke rezim pemerintahan yang baru. Ketika itu pemerintahan di pimpin oleh seorang presiden dari militer.
 
Kembali mengenai topi itu, Cahaya memberikan topi ketika mereka jalan-jalan ke pantai sehari sebelum Ruby akan berangkat bersama Siga ke Ibukota Negara. Bersama beberapa orang teman, Ruby dan Cahaya menyusuri pantai, berlarian di pasir putih, lalu sebelum pulang mereka menyempatkan untuk mandi air laut di dekat dermaga lama, dekat kilang minyak kelapa yang sudah tidak beroperasi lagi. Mereka baru pulang ketika hari menjelang magrib.
 
Berpelukan di bibir pantai, menangis bareng dan tertawa bersama. Saat itu di kampung Ruby belum ada masuk jaringan telekomunikasi seperti sekarang, bahkan untuk mengambil gambar saja hanya bisa menggunakan tustel dengan lembaran film terbatas di dalamnya. Dan itu juga hanya di miliki oleh mereka yang berduit. Jika ingin mengambil gambar, harus bisa membayar sedikit agak mahal. Jadi, waktu itu mereka tidak punya kamera untuk mengabadikan kenangan sore itu.
 
“Ruby, aku tidak mempunyai apa-apa yang bisa aku berikan sebagai kenangan untukmu. Aku Cuma punya ini. Kemarin aku cariin di toko depan pasar. Aku merasa ini cocok untukmu yang bergaya tomboy kayak gini. Semoga kamu suka.” Cahaya memberikan sebuah topi warna merah, memakaikannya di kepala Ruby.
 
“Kamu memang sangat cantik, apalagi kalau pakai topi ini. Maafkan, kalau selama kita berteman ada hal-hal yang kurang berkenan di hatimu. Aku pasti kehilangan seorang teman baik dan  juga seorang guru.” Cahaya  memeluk erat Ruby.
 
“Tentu, kita saling memaafkan, ya. Aku juga minta maaf. Entah kapan kita akan bisa bertemu lagi. Terima kasih untuk topinya, Cahaya. Aku suka.” Ruby mengeratkan pelukan. Kemudian mereka berjalan pulang kerumah bersama-sama. Sepanjang jalan berbincang tentang perpisahan yang akan mereka lalui esok.
 
Ruby, sebelum berangkat ke ibukota negara ini pernah menjadi seorang guru sementara mengisi kekosongan waktu dan menggantikan seorang guru yang memang waktu itu kebetulan baru keluar dari sekolah SMP di kampungnya. Tidak lama memang, hanya sekitar sekitar lima bulan. Di kampungnya, tenaga guru selalu kekurangan, meski hanya lulusan SMA, tapi cukup baginya untuk bisa mengajar anak-anak di SMP. Ruby juga tergolong seorang anak berprestasi dan pintar. Dulu, SMP itu juga adalah sekolahnya.
 
Dari sana dia berkenalan dengan Cahaya, seorang anak kelas tiga SMP. Anak yang baik dan ramah. Ruby senang mengajar dan berbagi ilmu di sekolah yang dulu juga menjadi sekolahnya. Merasakan anugerah menjadi seorang guru, berbicara di hadapan anak-anak sekolah, mengingatkannya pada masa-masa sekolah di SMA. Sering tampil di depan kelas untuk debat mata pelajaran atau berdiskusi. Ini sebuah pekerjaan yang mulia. Meski honor yang di terimanya sangat kecil. Tapi Ruby senang bisa berbagi ilmu dan motivasi kepada anak-anak didiknya itu.
 
Lalu bulan November, Siga datang dari Ibukota. Ruby ikut serta kesana dan meninggalkan profesi barunya menjadi seorang guru. Dan sekarang dia disini, di ibukota, menjadi seorang pegawai perusahaan dan masih menyimpan mimpi untuk bisa segera menjadi seorang mahasiswa.
 
***
 
Sore itu, Zayn yang baru pulang dari kegiatan kampus bersama temannya Okto turun dari sebuah angkot. Okto teman satu kampus Zayn, tinggal di luar kompleks perumahan, tapi masih satu kelurahan. Okto tinggal dekat kantor kelurahan, dekat lapangan bola di kawasan gedung sekolahan. Sama-sama mahasiswa tingkat akhir. Juga sering ikut pengajian di Mushalla komplek, padahal di kelurahan ada Masjid besar, tapi Okto lebih suka ke Mushalla karena disana banyak kenalannya, dan dari kecil sudah biasa di Mushalla itu bersama Zayn.
 
Ketika Ruby selesai membayar ongkos angkotnya, dia langsung berjalan masuk gang. Ada jarak sekitar lima ratus meter sebelum ia sampai di gerbang perumahannya ke arah dalam dari jalan raya. Kemudian ada yang memanggil namanya begitu keras dari arah belakang.
 
“Ruby, tunggu.” Zayn buru-buru membayar ongkos di susul oleh Okto. Mereka tergesa menyusul Ruby yang sudah beberapa langkah di depan menunggu.
 
“Hai, kamu baru pulang kerja? Kok nggak sama Desi dan Yuli?” Zayn berjalan disamping Ruby. Okto berjalan di belakang mereka. Jika berjejeran bertiga, mereka khwatir menghalangi jalan kendaraan lain yang akan melintasi jalan.
 
 “Iya, baru pulang. Tadi Desi sama Yuli mampir ke pasar, aku langsung pulang. Kamu baru pulang kuliah? Kok naik angkot? Bukannya naik motor seperti biasanya.” Ruby menyelidik, lalu menoleh kebelakang, melihat Okto yang juga saat itu melihat ke arah Ruby. Sedetik mata mereka bertatapan, kemudian Ruby berpaling lagi ke depan. Dia jerih dengan tatapan Okto yang menikam, jantungnya berdesir halus. 
 
“Hari ini nggak ngampus, tadi lagi ngerjain tugas kelompok sama Okto. Tadi sih kita ramean, jadi kompak naik angkutan umum. Kita paling terakhir turun tadi di depan. Sebelumnya kita berlima."
 
"Oh, ya. Udah kenal lom, ini juga tetangga kita, tetangga jauh, hahaha. Dia tinggal di luar kompleks perumahan tapi masih satu kawasan kelurahan. Dia teman kuliahku juga. Dan sering ngisi pengajian anak-anak. Cuma dua minggu kemarin dia pulang kampung ke Jawa. Namanya Okto.” Zayn memperkenalkan Okto. Mereka berhenti sebentar di pinggir jalan. Ruby mengulurkan tangannya mengahadap kebelakang, berjabatan dengan Okto. Dia menundukkan wajahnya. 
 
“Hai, salam kenal” Okto menjabat tangan Ruby erat.
 
“Ruby.” Ruby tersenyum. Sekilas lalu menatap wajah Okto, lalu kembali berpaling. 
 
“Aku udah tau, kamu adik sepupunya Bang Kumis. Kayaknya sih, jadi primadona baru di kompleks, beberapa teman sering membicarakanmu. Apalagi aku dengar kamu seorang Muslim dan tinggal bersama Bang Kumis yang juga non muslim. Itu adalah hal luar biasa. Termasuk Nella, kalian memiliki struktur keluarga yang menurut aku unik. Karena aku juga mengalaminya.”  Okto berusaha akrab. Mereka kembali berjalan pelan. Santai.
 
“Oh, ya. Apakah kamu juga memiliki saudara yang non muslim?” Ruby penasaran, dia menoleh ke belakang sebentar, Okto juga melihat padanya. Ruby berbalik segera, kembali fokus untuk memperhatikan jalan di depan. Jangan sampai tersandung batu atau dua orang pemuda itu akan berebut untuk menolongnya. Dan itu memalukan. Meski mereka melakukannya dengan senang hati.
 
“Bukan hanya saudara, tapi mereka adalah bapak dan ibuku. Dua orang yang sangat berarti dalam hidupku, malah berbeda keyakinan denganku.” Okto sedikit menjelaskan.
 
 “Itu karena kamu sejak kecil di asuh sama mbah di kampung, kalau ndak, ya kamu juga bakalan jadi non muslim. Iya, kan?” Zayn yang tadi diam mendengarkan, ikut memberi komentar.
 
“Iya, tapi itu lebih baik. Aku percaya pada apa yang aku yakini saat ini. Tinggal bagaimana caranya agar aku bisa meyakinkan ibuku kembali kepada Islam. Dulu, ibuku menikah sama bapak yang non muslim dan ibuku mengikuti kepercayaan bapak hingga saat ini. Kami tiga bersaudara, dua orang laki-laki beragama Islam karena di asuh Mbah Putri, ibu dari ibuku. Tapi satu lagi saudara perempuanku, Mbak Mila, mengikuti kepercayaan bapak dan ibu saat ini.” Ada nada kesedihan dalam gelombang suara Okto.
 
“Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Yang penting adalah kita sekarang mendalami apa yang kita percaya dan yakini saat ini. Bukan memperdebatkan keyakinan orang-orang yang kita cintai, yang memilih berbeda dengan kita. Hidup itu pilihan, dan pilihan  itu ada di tangan kita. Juga termasuk pilihan orang lain, sikap yang benar adalah, menghormati dan saling menjaga tali persaudaran.” Ruby tiba-tiba jadi seorang yang bijaksana. Dua orang pemuda yang bersamanya mengangguk takzim membenarkan kalimat itu.
 
Mereka terus berjalan lambat sambil berbincang santai. Ruby kini menemukan teman-teman yang baik dan ramah. Dia sangat senang. Okto dan Zayn adalah tetangga sekaligus teman-teman yang baik, soleh dan rajin beribadah. Itu terlihat pada perbincangan mereka, yang kemudian membahas masalah pengajian anak-anak di Mushalla yang meningkat. Mereka sekarang rajin datang mengaji dan menyetor hafalan surat-surat pendek kepada Zayn dan teman-temannya dua hari sekali dalam seminggu selepas shalat Isya.
 
Di gerbang depan mereka akan berpisah, Okto masih akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar lima menit lagi ke arah sekolahan. Ruby  dan Zayn berbelok ke kiri menuju komplek perumahan.
 
“Senang bertemu denganmu Ruby, aku suka mendengar tentang kamu dari cerita anak-anak sekitar komplek. Semoga betah disini. Dan, kamu segera kuliah. Sampai ketemu lagi.” Okto pergi sambil terus memandangi Ruby yang berbelok bersama Zayn.
 
Okto pernah beberapa kali mendengar cerita tentang Ruby,  dari cerita Zayn saat Ruby baru datang bersama Siga malam itu, lalu tentang Ruby dan cita-citanya. Okto juga merasa kalau Zayn menaruh hati kepada Ruby secara tak langsung dari cara Zayn bercerita tentang Ruby padanya. 
 
“Tentu saja, Aamiin, sampai ketemu lagi. Dah..” Ruby membalas akrab sambil melambai dan tersenyum.
 
Okto masih memandangi punggung Ruby yang masuk gerbang perumahan, memperhatikan gayanya yang super tomboy, rambut yang di masukkan ke dalam topi merahnya dan di keluarkan lewat belakang topinya. Mirip ekor kuda. Sikapnya yang ramah, senyumnya yang sangat lembut dan manis, dia sangat berbeda, ada hal dalam dirinya yang membuat Okto terus memikirkannya sepanjang perjalanan pulang kerumah. Pantas saja jika Zayn sampai memujinya berlebihan jika sedang membicarakan Ruby, tetangga barunya yang sudah dua bulan ini menjadi penghuni baru komplek perumahan itu.
 
Apalagi tadi mereka membahas soal kepercayaan, ada hal yang membuat Okto tertarik mengenal Ruby lebih jauh. Dari caranya berbicara, juga caranya mengambil kesimpulan tadi, masih membekas dalam ingatan Okto. Jika saja Okto atau Zayn membicarakan hal soal agama ini dengan teman-teman cewek di kampus, mereka pasti hanya akan saling membandingkan, mencemooh agama lain atau bahkan menghina. Tapi Ruby, dia berbeda, dia telah mengambil sebagian dari ingatan Okto hari ini. Bagaimana bisa?
 
Isu soal agama terkadang bisa memicu persoalan, isu ini sangat sensitif. Mungkin yang selama ini suka menghina atau hal lain terkait menjelek-jelekan agama pasti mereka belum mempelajari agamanya lebih mendalam atau belum berbaur bersama dengan anggota masyarakat yang berbeda agama dengannya, alias kurang piknik. Jadilah pikirannya buntu dan tidak mempunyai tenggang rasa.
 
Okto merasa baru beberapa menit yang lalu mereka berkenalan, bahkan ketika sampai di rumahpun, ingatan tentang Ruby masih saja merajai pikirannya. Tatapan mata Ruby, meski hanya beberapa saat lalu sekilas saja, mampu menyihir dan menggetarkan hatinya. Aahh, Okto mendesah mencoba mengalihkan perhatiannya pada makalah yang tadi mereka kerjakan berkelompok, mempelajarinya. Tapi bayangan wajah Ruby mengikuti semua alur pikirannya.
 
“Ini menyebalkan, bahkan dia mengalahkan pesona Zarima dalam pikiranku. Ayolah, jangan membuatku seperti orang bodoh Ruby.” Okto memaki dirinya yang lagi-lagi masih mengingat Ruby.
 
Zarima adalah teman Okto di kampus, wanita yang saat ini dekat dengannya, tapi ia masih belum memiliki keberanian untuk mengatakan perasaannya. Zarima adalah wanita yang dia taksir sejak setahun lalu ketika mereka bertemu secara tak sengaja dalam acara panitia ospek awal semester lalu, saat penerimaan mahasiswa baru di kampus.
 
Tapi, Zarima menanggapi biasa saja perhatian dan bantuan dari Okto sejauh ini. Meski Okto belum menyampaikan secara langsung perasaannya. Tapi dari sikap dan gerak gerik Okto menunjukkan perasaannya pada Zarima. Dan kini ia malah bertemu Ruby, belum sejam sejak mereka bertemu, tapi anak itu telah memporak-porandakan pikirannya.
 
***
Adzan shalat Magrib berkumandang tegas dari pengeras suara di Masjid atau Mushalla sekitar kelurahan. Okto bersiap-siap dan tergesa ke Mushalla. Biasanya masih ada orang-orang komplek, biasanya ibu-ibu atau anak-anak masih suka berkumpul atau ngerumpi di sekitar depan Mushalla komplek perumahan Zayn dan Ruby. Dia berharap masih bisa menemukan sosok yang sejak sore tadi menguasai pikirannya. Sekedar melepas rindu. “Apa? Ini gila.” Bathin Okto. “Bahkan sekian menit aku sudah bisa merindukannya. Ini ada apa, Ruby?”
 
Sesampainya disana, Mushalla masih sepi. Hanya ada beberapa orang tua di dalam dan anak-anak masih berlarian di area depan. Okto masih mendengar suara wanita mengobrol di depan, entah siapa. Dia penasaran lalu berjalan ke arah depan, tapi disana hanya ada mamanya Gita dan tetangga sebelah rumahnya yang biasa di panggil Bunda Rachel.
 
“Eh, si Okto. Kirain siapa tadi.” Bunda Rachel menyapa Okto yang celingukan.
 
“Nyari siapa, To?” Kali ini mama Gita yang bertanya, kakak iparnya Ruby. Okto ingin menjawab ‘mencari Ruby’ tapi tidak jadi. Itu bunuh diri menurutnya. Karena ia belum mengenal Ruby sepenuhnya.
 
“Nyari Zayn, Mama Gita. Tumben belum datang.” Okto akhirnya punya alasa lain yang lebih masuk akal.
 
“Bentar lagi juga nongol, ayo Mama Gita. Saya mau masuk dulu, ya.” Pamit Mama Rachel. Mama Gita ikut juga pamitan.
 
Kini tinggal Okto di depan Mushalla, menghadap ke rumah Siga, berharap melihat meski hanya sekilas keberadaan Ruby. Hatinya terus saja memaksa ingin melihatnya, sebentar saja. Bahkan ia berdoa sungguh-sungguh dalam hati, beristigfar banyak-banyak, jika apa yang dia lakukan saat ini berlebihan di mata Tuhan. “Aku hanya ingin melihatnya saja.” Pintanya dengan sepenuh hati kepada Tuhan sambil memejamkan matanya. Khusuk. 
 
“Hei, kamu ngapain disini? Bukannya shalat di dalam, ya, kok malah bengong di depan Mushalla. Malu tuh sama anak-anak yang berebutan Shalat sunah. Hehe.” Okto kaget mendengar suara yang seperti mengejeknya. Itu suara seorang wanita.
 
Okto membuka matanya, yang sesaat lalu menengadah ke langit sore berdoa tulus sepenuh hati. Dan rasanya dia ingin melompat dari tempatnya berdiri dan berteriak antusias sambil guling-guling saking kaget dan senang bukan main. Bagaimana tidak, orang yang dia sebut-sebut dalam doanya, barusan sedang berada di depannya entah datang darimana.
 
“Ruby, kok kamu bisa ada disini? Kapan datangnya?” Okto gelagapan tidak karuan, senang bercampur malu dalam dirinya.
 
“Barusan dari depan beli jajanan buat Gita, eh, ngelihat kamu lagi khusuk berdoa. Berdoa apa sih sore-sore gini?” Ruby penasaran sama sikap Okto yang seperti orang salah tingkah. Merasa aneh.
 
“Eh, enggak kok, nggak apa-apa, tadi cuma sedikit pusing. Oke, aku masuk ke Mushalla dulu. Jangan lupa shalat Magribnya.” Okto meninggalkan Ruby yang ingin tertawa tapi di tahan karena melihat sikap Okto yang sedikit aneh barusan.
 
“Insya Allah, siap.” Ruby mengangkat jempolnya.
 
Okto sesampainya di belakang Mushalla, tersenyum-senyum penuh arti. Rasanya ia ingin melompat dan tertawa lepas saking bahagia dan senang, jika saja waktu dan tempat tidak salah. Tapi ia tahan dengan hanya terus tersenyum dan shalat dengan hati yang sangat bahagia. Itu yang di namakan kekuatan pikiran, kekuatan pikiran bawah sadar. Kalian pernah mendengar itu?  Kalau belum, ya cari tahu sendiri, apa maksud dari kekuatan pikiran bawah sadar. 
 
Apa yang terjadi padanya, dimanakah dia harus mengenal dan menyelami hatinya sendiri yang penuh penasaran tentang apa yang terjadi hari ini. Dia tenggelam dalam khusuk ibadahnya malam itu. Kekuatan pikirannya bisa mempertemukannya dengan Ruby sore tadi. Dan perasaan ini, biarlah Tuhan saja yang akan menerangkan dan memberi tahu jalan, kemana ia harus pergi dan berlabuh.

Ilustrasi gambar dari sini: http://algifaribercerita.blogspot.co.id

  • view 48