Dia - Bagian 2

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Maret 2018
Dia - Bagian 2

Ke Kota Impian
 
Gadis itu terus membawa pandangannya menyusuri setiap sudut jalan yang di lewatinya. Bibirnya tak pernah berhenti tersenyum setiap kali mengingat akan keputusan bapaknya mengijinkannya pergi ke kota ini, gadis itu bersyukur kepada Tuhan, meski harus meninggalkan keluarga dan adiknya yang ia cintai, tapi dia merasa harus pergi, berharap bisa mendapatkan apa yang dia impikan dan cita-citakan selama ini.
 
Matanya selalu takjub melewati jalanan yang sangat licin, halus, apalagi dimalam hari seperti yang sedang ia jalani. Walaupun jalanan itu berpolusi karena banyaknya kendaraan, namun rasanya, ia selalu menyukai suasana kota, ini seperti yang di lukiskan di buku-buku yang pernah di bacanya di sekolah ataupun di buku perpustakaan sekolah.
 
Ia berharap bisa menghafalkan jalur jalan atau gedung-gedung bertingkat yang dia lihat sepanjang jalan menuju rumah abang sepupunya itu. Sepupunya itu bernama Bang Siga. Sesekali ia sempat membaca nama gedung yang tertera di pinggir jalan ibukota negara tercinta ini. Gedung-gedung pencakar langit yang mengharuskan kepalanya mendongak ke atas hanya untuk melihatnya lebih seksama.
 
Dan bibirnya tersenyum, lalu kepalanya mengangguk-angguk seolah membenarkan setiap lekuk jalan atau tulisan yang ia baca. Terkadang juga menyahuti percakapan Bang Siga di depan yang sedang fokus melarikan motor menuju pinggiran  kota, tempat tinggal yang akan mereka tuju.
 
Ya, gadis itu baru pertama kali datang ke ibukota, dia ikut saudaranya ke kota dengan tujuan jalan-jalan. Dan jika nanti dia betah, maka dia akan mencari pekerjaan atau melanjutkan kuliahnya jika ia mau.
 
Sesekali ia bertanya kepada abangnya mengenai jalan atau gedung yang mereka lewati. Dengan panjang lebar, Siga menjelaskan setiap detail yang ia tahu kepada adiknya yang cerewet di belakangnya. Sambil sesekali Siga membenarkan letak duduk Gita, anaknya yang duduk di depannya,  Gita duduk di atas tas ransel yang ditumpuk di bagian bawah stang motor.
 
Setelah dua jam lebih perjalanan menaiki motor dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara menuju kota Tangerang. Pelabuhan Tanjung Priok ini berfungsi sebagai pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor-impor maupun barang antar pulau, juga sebagai pelabuhan angkutan kapal penumpang antar pulau di Indonesia.
 
Kala itu tahun 2005, pertengahan bulan November, sebuah kapal yang membawa penumpang berlabuh setelah empat hari berada di tengah lautan. Kapal itu sebelumnya berlabuh di pelabuhan Teluk Bayur, Padang, setelah tujuan akhirnya adalah Pelabuhan Tanjung Priok.
 
Namun sebelumnya, kapal itu berasal dari sebuah kota kecil di ujung pulau Sumatra Utara, sebuah kota kecil bernama Gunung Sitoli. Kapal itu berlabuh di pelabuhan kota kecil itu, menaikkan penumpang dan barang dengan tujuan Jakarta. Sebelum ke Jakarta, kapal itu menyinggahi pelabuhan Sibolga, untuk kemudian menuju Padang lalu terakhir ke Jakarta.
 
Perjalanan panjang akhirnya berakhir, rasa capek dan sedikit pusing akibat mabuk laut yang di alami gadis itu membuat dirinya sedikit lemas dan capek. Kini ia sudah berdiri di depan pintu rumah Bang Siga, tapi jejak kakinya rasanya belum bisa sepenuhnya menapak di bumi, ia masih merasa seperti terombang ambing di lautan, di atas kapal.
 
Bumi berpijak bagai di atas air. Jiwanya masih belum sepenuhnya kembali, ia merasa masih berada di kapal. Itu terjadi karena mereka menempuh perjalanan selama empat hari tiga malam di lautan. Jadi, wajar saja jika ia masih merasa mabuk laut.
 
“Ayo, masuk. Jangan malu-malu. Itu tadi kakakmu, mamanya Gita. Di dalam ada adiknya juga, Nella, nanti kalian kenalan. Kamu ada teman, jadi nggak usah malu, ya.” Siga berusaha meyakinkan adiknya itu, meski ia tahu anak itu belum percaya diri.
 
Gadis itu masuk sambil menenteng tas ransel kecil di tangannya, tas yang ia pakai sepanjang jalan dari pelabuhan Gunung Sitoli menuju rumah Siga.  Tas pemberian tantenya saat masih sekolah SMA dulu, ketika ia tinggal di rumahnya selama sekolah menengah atas. Dan kini tas itu ia bawa ikut merantau ke Jakarta.
 
Dengan langkah gontai ia masuk, di susul Siga mengekor di belakangnya. Gita sudah masuk bersama ibunya tadi, sepertinya ia sudah tidur di kamarnya. Karena di ruangan tengah rumah itu hanya ada Istri Siga dan adik iparnya, Nella.
 
“Nella belum tidur rupanya, nugguin kita, ya. Nel, minta tolong bikinkan kopi, donk. Ruby mau ngopi?” Siga bertanya pada gadis yang duduk di ujung sofa berwarna biru.
 
“Enggak Bang, terima kasih. Ngga begitu suka kopi.” Gadis itu yang di panggil Ruby, dia merasa malu, meski sudah seminggu lebih kenal sama Siga semenjak di kampung, tapi di tengah keluarganya begini, ia merasa canggung.
 
Siga adalah saudara sepupunya dari ayah mereka yang bersaudara. Siga lebih dulu merantau ke kota setelah lulus SMA lima belas tahun silam. Ayah dan Ibu Bang Siga sudah meninggal. Dan kini dia datang ke kota ini bersama Siga atas persetujuan bapak Ruby.
 
“Kan udah kenalan di telepon, kenapa sekarang jadi malu lagi, heh. Ayo, sekarang kenalan lagi, ini istri abang, namanya Cici, tapi bukan orang keturunan Cina ya, namanya aja di mirip-miripkan, hehe. Mama Gita, ini Rubi, anak dari Om Dirman, saudara bapak.” Siga memperkenalkan Rubi kepada istrinya.
 
“Nella, ini Ruby, ayo kenalan. Kalian tidur satu kamar ya. Udah di beresin kan, Nel?” Nella yang baru muncul dari dapur membawa secangkir kopi hitam buat Siga.
 
“Beres Bang Kumis, tinggal tidur. Hai, Ruby. Mau minum apa? Biar aku buatkan, kalian pasti capek. Gita aja udah tidur lagi tuh.” Nella berusaha akrab. Sepertinya dia baik, begitu menurut penilaian Rubi, dia senang ada teman seumuran dengannya di rumah itu.
 
“Makasih kak, nanti aku buat sendiri. Aku hanya ingin minum teh panas. Aku merasa pusing dan mual sejak turun dari kapal.” Ruby merasa tidak enak badan, sepertinya masuk angin.
 
Setelah ia menyalami kakak iparnya, Cici. Rubi pamit ke kamar mandi. “Jangan sungkan ya, Ruby, anggap saja rumah sendiri. Semoga kamu betah tinggal disini. Kalau perlu apa-apa kasih tau ya, jangan malu.” Cici, istri Siga berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Dia menunjukkan letak kamar mandi di dekat dapur.
 
Setelah selesai, Rubi ikut Siga ke depan, mencoba membantu membawa tas yang masih tertinggal di depan. Ternyata sudah dibawa ke kamar semua. “Sudah, kamu tidur, istirahat. Biar besok bisa fresh lagi. Udah minum tehnya?” Siga menyuruh Rubi masuk.
 
“Belum, bang. Masih panas. Ingin di luar sebentar. Nanti aku masuk.” Siga meninggalkan Ruby di teras.
 
“Jangan terlalu lama. Udah malam. Nanti kamu di culik sama kuntilanak hehehe.” Siga berteriak dari arah dalam rumah sambil tertawa.
 
Ruby menutup pagar rumah itu, menguncinya. Lalu memperhatikan kesunyian malam itu, matanya menatap bintang-bintang di angkasa, menatap bulan yang belum sepenuhnya penuh purnama tapi cahayanya masih mampu menerangi malam yang sepi.
 
Disana, dia mengucap syukur untuk perjalanan yang lancar dan kebaikan hingga tiba dirumah dengan selamat. Lalu doa rindu yang ia ucapkan lirih untuk bapak ibunya, kalimat rindu untuk adiknya yang mungkin kini tidur sendirian di kamarnya, karna ranjang yang satunya kosong ditinggal Ruby ke jakarta.
 
Dan kalimat rindu juga untuk pujaan hatinya, yang rela ia tinggal demi cita-citanya. Berharap semoga waktu kelak akan mempertemukan mereka kembali, atau jika nanti ia tak betah di kota ini, ia akan pulang secepatnya. Dan jika merasa betah, maka ia akan tinggal lebih lama, disini, di kota asing ini.
 
Setelah selesai ia berkata-kata, Ruby ingin segera masuk kerumah. Sekali lagi ia menatap langit, mengabarkan bahwa ia merindukan keluarganya, adiknya Ata dan kekasih pujaan hati.
 
Kemudian matanya berhenti di bangunan seberang rumahnya, dia melihat lampu rumah di bagian lantai atas masih menyala terang, dan sekilas ia melihat bayangan seseorang di balik gorden tipis yang terpasang disana. Ia tahu itu adalah rumah orang yang tadi menghampiri mereka saat baru saja sampai di rumah.
 
“Itu adalah rumah Zayn, dia anak pak RT disini. Dia kuliah di Universitas terbesar di pusat kota. Mereka suka nongkong di Mushalla depan untuk mengaji atau sekedar kumpul sama teman-temannya.” Tadi Siga menjelaskan tentang Zayn ketika dia telah pergi.
 
"Besok, abang akan urus surat-surat ijin tinggal kamu disini. Kamu harus betah, kalau nggak betah harus di paksa betah. Malu kalau pulang lagi, masa belum jadi apa-apa udah balik kampung. Kamu harus kuat dan semangat." 
 
"Lagian, yang ngurus juga depan rumah. Nanti abang akan minta tolong sama Zayn." Siga terus memberi semangat kepada adiknya itu, ia tahu anak itu pasti sekarang sedang merindukan ayah ibunya. Apalagi berada di kota yang sangat asing baginya, pasti Ruby membutuhkan perhatian dan penyemangat. Siga tidak mau adiknya itu minta pulang setelah sampai di rumahnya karena merasa sendirian, Ia ingin anak itu betah dan kerasan tinggal bersamanya. 
 
Ruby yakin itu adalah Zayn, yang mungkin entah ngapain disana. Dia segera masuk ke dalam rumah. Dia merasa mual, ingin minum teh hangat yang tadi Nella buatkan untuknya, juga ingin segera tidur, rasanya badannya lelah sekali.
 
Semoga besok, permulaan terbaik saat-saat pertama ia datang ke kota ini dengan sejuta impian berloncatan di kepalanya. Impian yang ingin ia wujudkan untuk menjadi kenyataan. Semoga berhasil Ruby. Semangat.

Ruby kembali masuk kerumah setelah memotivasi dirinya untuk selalu berpikiran baik. “Semua akan baik jika aku juga selalu berpikiran baik dan berdoa. Tuhan tidak akan membiarkan orang baik bersedih”

Kalimat itu, kalimat ibunya. Adalah pengobat rindu terbaik saat ini. Bagaimana ia akan bercerita, mereka sudah terpisah sangat jauh, bagaimana perasaan ibunya saat ini berpisah dengan anak sulungnya? Apakah ibunya sedang merindukan dirinya seperti saat ini dia merindukan ibunya, dia ingin berada di dalam pelukannya.
 
Lewat angin malam Ruby berbisik, jika akan selalu merindukan dan mengingat nasihat ibu. Dia adalah matahari di dalam hidupnya yang akan selalu bersinar, selamanya.


Sumber Gambar dari sini: www.brilio.net

  • view 82