Dia - Bagian 1

Dia - Bagian 1

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Maret 2018
Dia - Bagian 1

DIA – Aku Panggil Si Cantik
 
Malam terus merambat pelan menuju tengah malam. Suara-suara manusia dengan berbagai kegiatannya setiap hari telah melebur bersama malam, bersama mimpi dan dengkuran, suara-suara itu kini di gantikan oleh suara hening. Hampir sunyi. Ini adalah malam senin. Berarti besok adalah hari senin. Ini penting di ketahui.
 
Hanya ada beberapa motor atau mobil lewat depan gang perumahan. Sepertinya para penghuni perumahan gang sempit itu sudah hampir terlelap semua. Meski beberapa rumah lampunya masih menyala, pertanda masih ada yang belum beranjak ke pembaringan. Padahal malam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih sepuluh menit.
 
Di Mushalla, yang ada di kawasan perumahan gang sempit itu masih terlihat beberapa pemuda yang betah berlama-lama disana. Selain membicarakan masalah remaja yang berbau keagamaan, mereka juga membahas tentang pentingnya memberdayakan mengaji selepas shalat magrib atau Isya. Itu bertujuan untuk mengutamakan agar anak-anak atau remaja masih punya waktu mengaji Alquran. Agar tidak terlalu fokus menonton televisi atau bermain gadget.
 
Mushalla itu ada tepat di jalan masuk gang, posisinya di sebelah kanan. Rumah Allah ukuran kecil itu sangat nyaman dan damai.
 
Mereka yang ada di dalam Mushalla adalah beberapa aktivis kampus yang masih kuliah, juga beberapa pemuda yang di dalam perumahan itu yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Mereka bersama membahas tentang rencana bagaimana mengajak remaja yang ada di lingkungan perumahan untuk bisa ikut serta dalam tema yang mereka usung, ‘Ayo Mengaji Di Mushalla’.
 
Telah lewat tengah malam, tapi mereka belum bisa menghasilkan keputusan yang tepat, atau memang belum menemukan cara yang pas untuk mengajak dan menyampaikan gagasan mereka kepada warga perumahan, agar orang tua bisa menyuruh anak-anak mereka ikut pengajian di Mushalla setiap hari atau beberapa hari dalam seminggu. Mereka belum memutuskannya.
 
Namun pada akhirnya para pemuda itu memutuskan untuk membuat selebaran kertas yang berisi ajakan untuk anak-anak dan remaja perumahan sekitar untuk ikut mengaji atau tadarus bersama di Mushalla. Lalu mereka membagi tugas untuk memfotocopy hasil musyawarah tersebut dan segera di bagikan secepatnya untuk melihat respon positif dari usaha mereka beberapa hari terakhir.
 
*** 
 
Zayn baru keluar dari pintu Mushalla ketika sebuah motor melewatinya dan berhenti tepat di seberang rumahnya. Dia mengenali motor itu. Tetangga seberang rumahnya yang beragama non muslim. Ya, itu Bang Kumis, begitu mereka memanggil dan mengenal tetangganya itu. Meski berbeda keyakinan tapi mereka bertetangga baik, di perumahan itu ada beberapa keluarga yang beragama non muslim tapi warganya selalu saling menghargai dan menghormati satu sama lain. 
 
Malam terus berjalan pelan dan sunyi, kini hampir telah jam satu malam. Zayn berpikir, dari mana Bang Kumis baru pulang selarut ini. Dia membawa seorang wanita. Dan satu orang anak kecil. Orang-orang mengenalnya Bang Kumis, karena yang jelas dia memang berkumis. Jika di samakan dengan seseorang, dia mirip suami salah satu artis Dangdut terkenal, suaminya Mbak Inul Daratista. Yang belum tahu, silahkan cari ke Mbah Google ya.
 
Kemudian Zayn baru ingat bahwa seminggu terakhir Bang Kumis sedang pulang kampung ke kampung halamannya di Sumatra Utara, dia membawa serta satu orang anaknya untuk berkunjung kesana. Dan mungkin malam ini dia pulang dengan membawa seorang wanita dan anaknya yang bernama Gita. “Bukankah istrinya tidak ikut? Lalu siapa wanita yang dia bawa?” Zayn penasaran dan mendekati orang yang bernama Bang Kumis itu.
 
“Baru balik dari kampung Bang Kumis? Wah, bawa siapa ini? Hai, Gita, pasti ngantuk, ya?” Zayn menyapa tetangga seberang rumahnya itu dengan banyak bertanya hal nggak penting. Mungkin menurut kalian nggak penting, tapi menurut Zayn itu penting. Jadi jangan keberatan.
 
“Eh, Zayn. Masih belum tidur nih, apa lagi pada ronda malam?” Bang Kumis bertanya sambil sibuk membereskan barang-barang dari motornya yang penuh, koper di pangku wanita yang duduk di bagian  belakang motor, lalu Gita yang berumur tiga tahun duduk di depan bersama tas ransel besar yang di taruh di bagian depan motor. Khas orang baru pulang mudik dari kampung.
 
“Belum bang, baru kelar acara kumpul sama anak-anak komplek. Butuh bantuan nggak ini?” Zayn menawarkan diri membantu.
 
“Oh, nggak usah, makasih. Udah sana tidur, bukannya besok mau kuliah. Nanti di marahin sama Pak Yoto loh, udah sana tidur.” Bang Kumis emang orang yang suka bercanda dan terbilang suka ceplas-ceplos kalau bicara. Dia tetangga yang baik. 
 
Yang dia bilang Pak Yoto adalah bapaknya Zayn, bernama Suyoto, tapi sama orang-orang komplek di singkat Pak Yoto. Bang Kumis juga senang bercanda, suka ngopi bareng anak-anak komplek, kalau acara pengajian pemuda selesai di Mushalla. Mereka suka ngumpul bersama di depan Mushalla sambil mengobrol hal-hal seru, isu politik, musik atau hal apa saja.
 
Satu hal lagi, bapaknya Zayn adalah ketua RT di komplek itu, dia juga bekerja di salah satu perusahaan terbesar dan terkenal di kota. Meski tubuhnya tinggi tegap bak seorang angkatan tentara, ditambah wajahnya yang sedikit garang dan kulitnya agak hitam khas orang Jawa. Tapi Pak Yoto sangat suka anak-anak.
 
”Ya baiklah, ini bawa siapa, Bang? Git, siapa nih?” Zayn masih penasaran. Karena orang yang di tanyain juga diam saja sambil menunduk, menunggu koper yang ada di atas pahanya di turunkan bang Kumis. Walau di remang cahaya lampu depan rumah Bang Kumis, wajahnya terlihat tersipu dan sedikit tersenyum malu-malu.
 
Wajah itu terlihat cantik dan manis. Rambutnya sebahu tergerai berantakan karena tertiup angin dan bekas memakai helm. Sekali wanita itu menoleh ke arah Zayn yang menanyakan dirinya, tapi tak lama wanita itu kembali menunduk dan menyembunyikan wajahnya ke arah Gita yang hendak turun dari motor, lalu memegangi lengan Gita agar tak jatuh saat dia hendak turun. Anak kecil itu menuju pintu rumah, lalu mengintip ke arah kaca jendela yang gordennya sedikit tersingkap dari dalam.
 
“Ehh ini anak, nanya mulu. Udah, udah, besok saja basa-basinya. Ini udah malam. Hush, berisik.” Sambil menyuruh Zayn pergi agar tidak bertanya terus, bang Kumis menurunkan koper dari wanita yang masih duduk di belakang motornya, lalu dia menyuruhnya turun dalam bahasa daerah mereka di Sumatra. Tak lama, pintu rumah Bang Kumis terbuka, terlihat istrinya dengan wajah masih mengantuk berdiri disana.
 
“Baru sampai bang? Nggak kedengaran dari dalam, tadi kebangun dengar ada orang mengobrol di depan.” Istri Bang Kumis menguap lalu menatap Zayn yang masih betah disana. Kemudian dia menggendong Gita dan menciuminya. Rindu.
 
“Loh, ini kok Zayn disini? Belum pada tidur?” Istri Bang Kumis memperhatikan Zayn yang cengengesan.
 
“Iya kak, baru pulang dari Mushalla tadi, eh Bang Kumis pulang. Jadi saya mampir kesini. Ya udah, saya pamit pulang. Selamat beristirahat ya bang.” Zayn akhirnya pulang dan menyeberangi jalan yang membatasi rumahnya dan rumah Bang Kumis.
 
Meski jarak rumahnya dan rumah Bang Kumis hanya di batasi oleh jalan kecil depan rumah mereka, dia rasanya masih ingin disana, hatinya telah tertinggal dan terpaku pada sosok wanita yang baru dia lihat. Sosok misterius baginya sepanjang malam itu, wajah yang masih belum jelas dia lihat dan senyum malu-malu yang pertama kali ia lihat tadi, masih membekas di pelupuk matanya.
 
Zayn merasa wanita itu masih seumuran dengannya, dia menebak-nebak dalam hatinya. Mungkin itu saudara Bang Kumis dari kampung yang ikut dengannya ke Jakarta. Zaman sekarang kan banyak yang pulang kampung lalu membawa serta saudaranya ke kota ketika mereka kembali.
 
Lalu Zayn, kenapa ia merasa ingin tahu banyak tentang wanita itu? Padahal ia bahkan tak mengenalnya sama sekali dan baru ketemu tadi di depan rumahnya.
 
Zayn masuk kerumahnya terburu-buru, mengunci rumah dan langsung menuju lantai satu rumahnya, ia merasa harus melihat wanita itu lagi, semoga ia masih ada di depan rumah Bang Kumis. Zayn begitu berharap sehingga ia berlari ketika menaiki tangga menuju lantai atas rumahnya itu.
 
Zayn berbesar hati ketika melihat Bang Kumis dan wanita itu masih di depan. Dia membantu Bang Kumis mengangkat barang bawaan mereka ke dalam. Kemudian dia kembali keluar. Sungguh dia mencuri perhatian Zayn, ketika wanita itu untuk pertama kali mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya,  mungkin ia sedang memperhatikan suasana malam di rumah Bang Kumis yang baru dia kenal. Malam yang sudah sunyi, yang terdengar sibuk hanya dari rumah Bang Kumis saja yang baru pulang dari kampungnya di Sumatra.
 
Kemudian pandangan wanita itu berhenti tepat di depan rumah Zayn. Ia lama menatap ke arah rumah itu, Zayn yang masih mengintip dari balik jendela di lantai atas rumahnya merasa kaget sendiri di perhatikan oleh wanita itu, lalu dia dengan cepat  menutup gorden itu dan bersembunyi di baliknya. “Ahh, semoga dia tidak melihatku sedang memperhatikannya. Ya ampun, kenapa aku jadi begini?” Rutuk Zayn sambil mendesah.
 
Kemudian Zayn merasa malu sendiri, jika benar wanita itu meilhatnya memperhatikannya tadi. Tapi kemudian dia sadar lampu di lantai atas rumahnya menyala terang, dan pasti menampilkan siluet tubuhnya dari luar rumah. Dan wanita itu pasti melihat dirinya. “Ohh, tidak. Aku membuat diriku jadi aneh sendiri.” Akhirnya Zayn merasa malu sendiri kepada dirinya yang hilang kontrol dan sedikit teledor.
 
Kemudian beranjak mematikan lampu di ruangan tengah itu, lalu kembali mengintip. Tapi pintu rumah Bang Kumis sudah tertutup rapat dan wanita itu tak terlihat lagi.
 
Dengan rasa penasaran yang besar, Zayn masuk kamar dan tidak bisa tidur. Hatinya dipenuhi oleh sosok wanita yang baru dia lihat hari ini. “Aku akan mencari tahu besok.” Dia berbisik.
 
Lalu tertidur.

Ilustrasi gambar: pixabay.com


  • view 109