21 Hari

21 Hari

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2018
21 Hari

Malam ini adalah saat paling menegangkan untuk ibuku, juga ayahku, pastinya. Ibuku akan segera melahirkan bayi kembar. Salah satu dari bayi kembar itu adalah Aku.

Jangan tanya bagaimana aku bisa bercerita tentang semua ini, sedang aku saja masih di dalam perut ibu. Ya, karena aku bisa membisikkan sesuatu kepada penulis cerita ini lewat angin, karena penulis ini adalah tetanggaku yang baik hati. Dia juga sangat menantikan kelahiranku dan saudara kembarku, dia menyayangi kami. 

Baik, lanjut ya ceritanya. Perkenalan dan basa basinya sudah dulu. Penulisnya udah nggak sabar. 

Aku mempunyai seorang kakak perempuan yang cantik. Dia berusia enam tahun delapan hari saat kami, dua saudara kembarnya di lahirkan. Aku tahu namanya dari sapaan ibu dan ayah padanya, namanya adalah Kakak Nadira. Dia sekarang sekolah TK B di komplek perumahan, dekat rumah kami.

Ibuku sangat baik dan penyayang. Ibuku bekerja sebagai karyawati di salah satu perusahaan besar yang memproduksi sepatu dengan merk terkenal di dunia.

Ayahku, dia seorang mekanik. Juga bekerja di sebuah perusahaan tehnik yang berbau kelistrikan atau hal-hal yang menyangkut listrik. Aku tidak tahu betul, karena aku mendegar semua itu dari cerita ibuku yang suka mengajakku berbicara bersama saudara kembarku sambil mengusap-usap kami yang ada di dalam perutnya.

Ayahku sering mendapat tugas keluar kota dan daerah, bahkan sering di kirim ke daerah Sumatera untuk tugas kantor. Kami sering di tinggal ayah sewaktu ibu mengandung kami berdua, dua orang bayi kembar. Laki-laki dan perempuan.

Tapi, ketika usia kehamilan ibuku menginjak dua bulan, ayah berusaha menolak semua tugas keluar kota dan daerah demi ibuku yang sejak kehamilan kembar ini mengalami mabuk akut atau morning sickness berlebihan. Kemungkinan ibuku mengalami kondisi yang dikenal sebagai hiperemesis gravidarum (HG) dan sering kali memerlukan penanganan medis.

Sejak awal kehamilan, ibuku sudah keluar masuk rumah sakit, tubuhnya kurus dan wajahnya pucat. Setiap kali makanan atau minuman masuk kedalam perutnya, maka saat itu juga dia akan lemas karena muntah terlalu banyak.

Aku sangat khawatir sama ibu, tapi aku bisa apa. Mengapa kehadiran kami berdua bisa membuat kondisi ibu begitu parah. Kami berdua sedih, ingin menghibur ibu, tapi kami berdua masih belum lahir dan masih di dalam perut ibu yang hangat dan nyaman.

Ibuku memiliki riwayat kelahiran prematur sebelumnya. Ya, Kak Nadira lahir prematur, maka kemungkinan besar sekarang ibuku akan mengalaminya lagi. Itu membuat ibuku cemas, apalagi saat ini mengandung lebih dari satu janin. Ibuku bertahan dengan mengkonsumsi obat pengurang rasa mual hingga kami dilahirkan.

Tapi malam ini, kami berdua rasanya ingin segera lahir dan melihat dunia. Tak sabar rasanya ingin berjumpa dengan makhluk yang mulia dan berhati melaikat yang bernama ibu, dengan susah payah ibuku bertahan menahan sakit dan takut melahirkan kami berdua.

Ada banyak drama selama persalinan itu. Aku merasa bersalah telah membuat ibuku sakit, ‘aku hanya ingin lahir dan melihatmu ibu, ingin di dekap dalam pelukan hangatmu. Aku ingin mencium pipimu agar engkau berhenti menangis dalam diam demi mengingatku. Aku akan baik-baik saja, ibu.’

Aku dan saudara kembarku bermalam di rumah sakit, tapi tak ada tanda-tanda kelahiranku yang sangat dinantikan kedua orang tuaku. Ibuku sudah kesakitan dan mengeluh panjang. Malam kedua di rumah sakit menjelang kelahiranku, masih belum ada perubahan. Keesokan pagi di hari sabtu, aku akhirnya lahir bersama saudara kembarku dalam keadaan kurang sehat dan prematur. Kami lahir kembar laki-laki dan perempuan. Itu anugerah terindah untuk ibu dan ayahku.

Saudara kembarku perempuan, dengan berat badan 1.3 Kg sedang aku 1.6 Kg. Kami harus di rawat intensif dalam ruangan yang steril dan tidak boleh di kunjungi siapapun, hanya ayah yang bisa melihat kami pertama kali dan dia memotret kami berdua di dalam tabung yang aku tak tahu namanya.

Badanku di selimuti berbagai alat dan selang yang membuat aku sesak tapi tak bisa berbuat apa-apa. Katanya, itu untuk menunjang pertumbuhan dan kebaikan untuk kami berdua. Mereka tak perduli meski aku merasa tidak suka dengan alat-alat ini. Aku ingin melihat ibu, ya, melihat ibuku. Dimana dia.

***

Hari ini, setelah dua hari, menurut dokter di rumah sakit, ibuku boleh pulang kerumah. Tapi hatinya sangat sedih. Dia pulang kerumah tanpa kami berdua, anak yang baru di lahirkannya. Kami masih harus melalui perawatan yang entah sampai kapan, belum bisa di pastikan. Karena kondisi kami yang sangat rentan dan butuh alat-alat yang menyebalkan ini.

Meski berat, ibuku merelakan kami di tinggal di rumah sakit. Aku bisa merasakan keresahan dan kesedihan ibuku, dia menggendong kami satu-persatu dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Sekuat hati dia mencium dan membelai kulit kami yang merah dan masih sangat kecil, dia bersedih dan merutuki dirinya karena tak bisa membuat kami bertahan lebih lama di dalam rahimnya yang lemah dan harus kuat melihat keadaan kami seperti ini.

Seandainya ibu bisa memilih, seandainya dia bisa menggantikan kami di rumah sakit, dia ingin dan bisa menggantikan kami. Tapi apalagi, ketika kata seandainya saja sudah tidak bisa mengandaikan perasaan ibuku yang bersedih. Aku menghafalkan belaian ini, mengingat bau tubuh ini, dan merindukan hangatnya di peluk ibu. Entah sampai kapan.

***

Hari ke tujuh, berat badanku semakin menurun tapi saudara perempuan kembaranku, dia menunjukkan perkembangan yang sangat bagus. Berat badannya terus naik meski tak banyak tapi dia bertambah sehat. Aku tidak mengerti kenapa kondisiku semakin menurun.

Meski tak sepenuhnya jelek, kadang aku bisa merespon obat atau ASI lewat alat-alat itu. Lebih sering aku tidak bisa mempertahankan pertumbuhan itu, kemudian aku memburuk lagi. Setiap kali ibu menjengukku aku ingin selalu bersamanya lebih lama, aku ingin dia terus di sisiku, menemaniku. Jika dia hendak pulang karena waktu kunjungan ke rumah sakit habis, dengan wajah sedihnya dia akan meninggalkan kami berdua. Dan aku selalu menangis keras, aku tak menyadari itu. Aku menangis terus jika ibu akan hendak pergi meninggalkan rumah sakit.

***

Hari ke empat belas, masih selalu sama. Dua hari sekali ibu akan datang menyetorkan ASI ke rumah sakit, setiap kali itu pula selalu wajah sendu dan sedih menghiasi wajah ibu, meski dia berusaha ramah kepada karyawan rumah sakit yang menjaga dan merawat kami berdua, hal itu tak bisa menyembunyikan wajahnya yang menanggung beban rindu dan kesedihan yang mendalam.

Dan selalu sama, aku menangis keras setiap kali ibu datang menemaniku, aku rasanya ingin terus bersamanya. Aku selalu rewel jika ibu datang menjenguk. Berbeda dengan saudara kembarku, dia selalu diam dan damai bila ibu datang dan melihat kami berdua. Aku selalu merasa ingin menangis jika ibu datang.

***

Hari ke dua puluh satu. Tadi pagi ibu mendapat kabar dari rumah sakit jika hari ini saudara kembarku yang perempuan boleh di bawa pulang kerumah. Tak urung ayah dan ibuku pasti sangat bahagia mendengarnya. Namun aku, aku belum boleh pulang. Aku masih harus melalui perawatan panjang dan belum pasti kapan akan bisa pulang kerumah. Aku sangat sedih.

Seperti ceritaku sebelumnya, aku ini lemah, terkadang alat-alat rumah sakit di lepas dari tubuhku untuk melatih motorik tubuhku agar lebih siap dan cepat berkembang. Dua hari aku bisa tanpa alat bantu rumah sakit, hari berikutnya aku akan kembali drop dan alat itu akan kembali menempel di tubuhku yang lemah.

Meski aku tak ingin, aku bisa apa. Tapi aku bertekad, aku ingin pulang kerumah bersama saudara kembarku, ayah, ibu dan juga kakak Nadira. Aku tidak mau di tinggal disini sendirian. Pokoknya aku juga ingin pulang kerumah. Tidak pakai alasan lagi.

***

Orang tuaku, kakak Nadira juga ada nenekku dari kampung ikut menjemput kerumah sakit siang ini. Kalau saja jarak rumah sakit dari rumah ibu itu dekat, ibu bisa saja setiap hari di setiap jam kunjungan akan datang menemani kami. Tapi jarak rumah ibu ke rumah sakit memakan waktu kurang lebih dua jam perjalanan.

Waktu kami lahir, hanya rumah sakit ini yang mempunyai ruang kosong untuk perawatan bayi prematur, ayahku sudah berusaha mencari rumah sakit lain, tapi semuanya mengatakan penuh. Maka tak ada jalan lain, meski sangat jauh, ibuku dan aku harus selamat dan baik-baik saja. Untuk semua itu, terima kasih ayah, kamu adalah pahlawan yang sangat aku sayangi.

“Sore Ibu, ibu sudah dimana? Bisakah segera ke rumah sakit, kondisi anak laki-laki ibu sangat mengkhawatirkan, tiba-tiba dia kembali lemah. Segera kerumah sakit ya, Ibu Susi. Kami menunggu.” Itu adalah reaksi suster rumah sakit yang mengabari ibu mengenai kondisiku siang itu. Aku terus mengalami penurunan daya tahan tubuh. Alat-alat itu kembali melilit tubuhku. Padahal tadi pagi alat itu baru saja di lepas.

“Saya sudah di parkiran rumah sakit, Ya Tuhan, tolong anakku. Aku segera kesana. Tolong berikan perawatan yang terbaik untuk anakkku, kumohon, huhuhu.” Ibuku menangis. Dia berlari meninggalkan ayah, kakak dan nenek yang masih di parkiran. Dia berlari menyusuri lorong rumah sakit, melupakan bahwa dia baru saja melahirkan dua puluh satu hari yang lalu, hatinya remuk redam, sedih tidak karuan mendengar kabar beritaku.

Ketika sampai di ruang perawatan, ibu segera menghampiri tabung inkubator tempatku di rawat, dia meraba tubuhku yang lemah, aku hanya meresponnya lemah, aku tahu ibu disini, tapi aku tak bisa menangis seperti biasanya, aku lemah, bahkan sekedar untuk membuka mataku melihat ibu, lalu ayah yang sudah ada disisiku juga terlihat bersedih. Doa-doa terbaik terucap dalam hati mereka melihat aku yang lemah.

Ibu masih terus mengusap wajahku, sambil menahan tangis, karena suster melarangnnya menangis di ruangan steril ini. Dia memegang tangan kecilku, lewat laporan dokter yang merawatku, berat badanku turun hingga mencapai 1 Kg sejak aku lahir dengan berat 1,6 Kg.

Dokter itu, menghibur ibuku agar ikhlas, mengikhlaskan aku pergi dan jangan bersedih. Karena itu akan berdampak buruk juga nanti kepada saudara kembarku yang satu lagi. Sekuat tenaga dan jiwanya, ibuku bertahan untuk menahan haru di hatinya, dia mengangguk dengan berat hati, dia menutup matanya menggulirkan air mata yang sedari tadi ia tahan agar tak tumpah. Kini dia bahkan tak mampu menahan gejolak hatinya lagi. Dia menangis. Aku sedih melihat ibu. Maafkan aku ibu.

“Ibu rela nak, kamu tinggalkan. Meski ibu sangat sedih. Tapi, jika ini yang terbaik untukmu, jika Tuhan menghendaki, ibu hanya bisa memilikimu sampai hari ini, huhuhu. Kamu tahu, ibu sangat mencintaimu dan menyayangimu. Pergilah, tunggu ibu disana ya, jadilah selalu pengeran kecilku disana bersama Tuhan di surga. Apa artinya memiliki, jika bahkan diri ini saja bukanlah milik kami. Masih ada yang lebih berhak. Ibu mencintaimu sayang.”

Ibu bahkan melanggar pesan dokter untuk tidak menangis di ruangan itu, setelah ibu mengecupku lewat kecupan di telapak tangannya yang ia tempelkan di pipiku, ibu meninggalkan aku, yang memang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku pergi setelah ibu selesai berkata-kata denganku.

Aku tak kuat menolak, melawan takdir yang menjemputku dengan warna warni dan keharuman semerbak yang malaikat bawakan dan tawarkan untukku, aku tenggelam dalam mimpi yang panjang dan terus tidur. Selamanya.

Ibu duduk di kursi dekat meja suster, masih sambil menahan tangis, dia menggendong saudara perempuanku, ayah datang menghampiri ibu sambil mengusap punggungnya, “Sabar ya, sayang. Dia telah bersama Tuhan di surga, ikhlaskan ya, jangan bersedih terus. Sayang, harus ingat kembarannya, jika kamu sedih nanti dia bisa rewel. Kamu harus tegar ya, jangan menangis lagi.” Suara ayah berat, mungkin menahan kesedihan di dalam hatinya. Setelah itu ayah keluar ruangan, dia mungkin ingin ke bagian adminstrasi mengurusi kepulangan saudaraku ke rumah dan jasadku yang harus dibawa pulang malam itu juga.

Aku melihat kakak Nadira masuk ruangan, menemui ibu. “Ibu, ada apa? Kenapa semua orang menangis? Dedek aku meninggal ya, tadi aku lihat ayah di depan menangis, dia bersembunyi di samping tangga. Pas tadi ke ayah, ayah bilang aku harus nemenin ibu. Mata ayah lagi sakit.” Kak Nadira masih dengan wajah polosnya bercerita, tanpa raut kesedihan, dia mungkin belum memahami arti kehilangan seperti orang dewasa. Mendengar ocehannya, ibuku hanya bisa tertawa getir dan mencoba kuat menerima takdirnya malam ini.

Aku pergi meninggalkan saudara kembarku yang perempuan di dunia, ada jeda waktu bersama ibu meski sedikit ketika sehabis magrib aku harus pergi selamanya. Meninggalkan ayah, ibu dan kakak Nadira. Malam ini aku membuktikan, bahwa aku juga ingin pulang kerumah, aku tidak mau di tinggal seorang diri di gedung yan menyebalkan ini. Meski kali ini kepulanganku untuk terakhir kalinya dan tak akan pernah kembali lagi. Aku janji padamu ibu, malam ini aku menginap di rumah kita bukan, tapi aku menyukainya dari pada aku tinggal sendirian di rumah sakit.

Aku akan selalu ada dalam hatimu ibu, aku akan sering datang menjumpaimu dalam mimpi dan menghibur hatimu yang lara. Meski aku merindukanmu nanti, aku akan datang padamu di dalam hati dan jiwamu. Selalu. 

Dalam situasi paling tidak berdaya sekalipun, manusia tetap punya satu senjata hebat, ya, Doa. Jangan pernah meremehkan doa. Karena satu doa yang kecil saja, itu bisa mengubah seluruh jalan hidup kita. Itulah yang kulihat malam ini, doa ibuku dan keikhlasannya mengantarku terbang tinggi menuju kerajaan surga. Aku merindukanmu ibu, aku menunggu disini untuk berjumpa denganmu, nanti.

Gambar dari sini: www.vemale.com

 

                                    

  • view 171