Biar Waktu Yang Bercerita #6 End

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Februari 2018
Biar Waktu Yang Bercerita #6 End

Sabtu kali ini, pulang kerja aku bersiap-siap menghadiri pernikahan sahabatku, Ulfa dan Javet. Dua orang teman sekaligus sahabat yang sangat berjasa dan baik dalam sebagian cerita hidup yang aku jalani saat ini. Aku turut berbahagia dan senang untuk mereka berdua, untuk semua perjuangan dan akhirnya sekarang mereka bisa menikah.

Hari ini begitu cerah, langit semesta mendukung dan merahmati sepasang manusia yang telah di persatukan dalam ikatan pernikahan yang suci. Aku membayangkan Ulfa dalam balutan gaun pengantinnya, dia pasti akan terlihat sangat cantik dan mempesona. Aku sangat antusias mempersiapkan diri untuk datang kesana.

Sebelum ini, bukan kurang sopan atau bagaimana menjelaskannya. Setiap datang ke undangan pernikahan teman, baik teman kerja atau teman kuliah aku tidak punya gaun untuk aku kenakan. Aku juga tidak tertarik mengoleksinya. Formal yang aku kenakan jika menghadiri acara semacam resepsi pernikahan, selalu mengenakan celana jeans dipadukan kemeja lengan pendek, kadang aku tutup pakai blazer dan sepatu kets. Lalu rambut pendekku tak perlu diapa-apain, hanya disisir rapi kemudian tutup pakai topi. 

Ya, selalu tak lupa topi selalu ada di atas kepalaku, aku bahkan punya hampir puluhan topi, jika aku merasa mencolok jika undangannya datang siang hari, maka topinya aku lepas. Sekembalinya dari undangan topi itu akan menghiasi kepalaku kembali. Jika undangan malam hari, aku akan selalu memakai topi itu, meski menjadi perhatian orang-orang, aku biasa saja. Mungkin mereka berkata, teman penganten ini seorang cewek tomboy yang tidak sopan, tapi aku tak perduli.

Tapi malam ini di pernikahan Ulfa, rasanya aku tak ingin melakukan kembali kebiasaan itu. Maka kemarin sepulang kerja aku langsung berburu baju ke toko, mencari kemeja yang agak terkesan modis untuk cewek, aku menjatuhkan pilihan pada kemeja kotak-kotak yang memadupadankan warna pink lembut dengan warna abu-abu muda. Aku merasa menyukai dan langsung jatuh cinta pada kemeja itu. Malam itu aku memutuskan ke undangan ulfa memakai kerudung abu-abu, senada dengan sebagian warna baju kemejaku.

Bawahannya aku tetap memakai celana jeans warna biru muda, aku merasa hidup penuh warna malam ini, lalu terakhir mengenakan sepatu santai, tanpa heels. Warna hitam. Tak lupa tas ransel kecil menghiasi penampilanku, tas warna hitam untuk menyimpan dompet dan ponsel.

Malam ini, Ari menjemputku selepas magrib. Dia menungguku di depan rumah kost. Aku masih sibuk di dandani oleh teman, tetangga kamar kostku yang mempunyai alat-alat kecantikan. Aku memintanya mendandaniku natural. Tipis saja, tak perlu menor. Itupun kami selalu bertengkar, dia selalu menambahkan make up aku agar terlihat mencolok menurutku, dan aku menolaknya. Akhirnya selesai juga dandan itu dengan penuh perjuangan. Meski teman kostku berkomentar dengan wajah kurang puas karena aku selalu membantah ketika dia memoles wajahku dengan macam-macam alat-alat rias itu. Aku hanya memakai bedak, sedikit lipstik dan dia membantuku memakai kerudung dengan rapi dan menurut aku bagus.

Aku bergegas keluar menemui Ari, dia sedang duduk di atas motor. Demi melihatku keluar menemuinya dia agak kaget melihat aku, lalu berdiri menyambut, mungkin merasa tak seperti biasanya melihat aku dandan dan memakai kerudung untuk malam ini ke pesta pernikahan Ulfa.

“Hei,,, kamu terlihat sangat berbeda. Aku pikir ada bidadari turun dari langit. Hehehe.” Ari menggodaku, memperhatikan detail penampilanku, dari kepala sampai kakiku, membuat aku risih. Aku tidak tahu apa pendapatnya, dia hanya senyum-senyum pertanda dia menyukai penampilanku.

“Jadi berangkat nggak nih, aku masuk lagi yaa.” Aku pura-pura marah.

“Silahkan tuan putri. Ayo kita berangkat.” Kami tertawa bersama.

***

Dua bulan lebih setelah Ulfa menikah, dia mengajukan surat pengunduran diri ke kantor. Dia di minta Javet untuk tidak usah bekerja lagi, merasa kasian melihat Ulfa sering pulang malam dan kecapean.

Sebagai teman, aku tak punya hak untuk menghalangi dan menolak surat pengunduran diri itu. Meski dengan berat hati dan sedih aku rela melepas Ulfa, menangis bersama sebelum dia benar-benar meniggalkan kantor. Dan berjanji akan tetap saling menjaga, mengunjungi dan memupuk persahabatan yang sudah terjalin indah selama ini.

Meski setelah ini aku akan kembali bekerja sendiri lagi, tak ada teman yang bisa di ajak berdebat, bercerita. Aku sudah cocok sama Ulfa, tapi takdir selalu berkata lain. Ada saat bertemu dan bersama, ada saatnya untuk berpisah. Selalu akan seperti itu.

Semoga setelah Ulfa pergi, aku berharap mendapatkan teman yang juga kurang lebih bisa seperti Ulfa dalam bekerja, cocok dan pekerjaan tidak ada masalah.

Seharian setelah ulfa pergi, aku kehilangan dia yang cerewet, yang selalu punya bahan untuk di tertawakan. Dia yang suka cerita-cerita konyol soal kakak-kakanya yang cewek yang akan membuat rasa lelah seharian bekerja jadi berasa selalu ceria.

Kini, aku kembali kepada rutinitasku seperti dulu, saat Ulfa belum datang ke dalam kehidupanku. Tapi tetap saja hari-hariku merindukan kehadirannya. Sampai suatu hari aku di berikan seorang teman baru menggantikan Ulfa. Namanya Lesti. Kami seumuran. Dan mau tidak mau aku menyambutnya hangat. Berharap semoga kami bisa berteman dan bekerja sama dengan baik.

***

Minggu yang cerah, aku libur dan malas kemana-mana. Aku ingin di rumah dan beristirahat. Sepertinya Ari juga sama. Dia tidak mengajakku keluar atau menemaninya pergi. Dia terlihat capek, beberapa hari ini dia sering lembur hingga malam, ada target yang harus mereka kejar dalam bulan-bulan terakhir di perusahaan, tempat dia bekerja.

Siang setelah pekerjaanku selesai, aku memutuskan menghubungi Salman. Mengatakan yang sebenarnya tentang hubunganku sama Ari. Aku tidak bisa menunggu lagi. 

Sambungan telepon tersambung, dia menjawab salamku seperti biasanya. Selalu ceria dan tidak berubah. Masih seperti dulu saat kami baru berpisah. Kali ini aku yang bingung harus memulai dari mana perbincangan ini, aku merasa bersalah.

“Hai, apa kabar? Kenapa kamu diam saja, kamu sehatkan, May?” Salman khawatir di seberang sana.

“Eh, iya. Aku baik-baik saja. Gimana denganmu?” Aku mencoba tetap biasa, meski hatiku berontak.

“Aku juga baik. Sepertinya kamu lagi ada masalah. Ayo cerita. kenapa diam saja?” Salman menebak-nebak. Mungkin karena aku tak secerewet biasanya. Yang suka menanyakan apa saja yang terjadi disana, dia ngapain aja seminggu ini, musim buah apa disana, sedang badaikah? dan lain-lain.

Kali ini aku bingung memulai dari mana mengatakan pada Salman. “Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting. Ini tentang kita. Soal hubungan ini.” Terbata aku mengucapkan kalimat itu, hatiku sedih.

“Baiklah, katakan saja. Aku mendengarkanmu.” Suara Salman disana melemah, aku tak tahu apa dia telah menduga atau mereka-reka arah perbincangan ini. Dia seperti pasrah.

“Aku, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, aku telah mengkhianati janji dan tidak bisa bertahan menunggumu. Aku salah, maafkan aku, Man.” Terisak, aku tidak bisa menahan perasaanku.

“Aku tidak tega mengatakan ini, tapi waktu memaksaku. Aku tidak bisa membohongi kamu lebih lama lagi. Aku udah terlalu lama menunggu janjimu, aku rasa kamu juga tidak perduli dengan hubungan kita selama empat tahun terakhir. Kamu membiarkan aku menunggumu begitu lama.”

 “Aku minta maaf Salman, aku telah menyalahi janji, jika kamu ingin membenciku, lakukan saja. Aku layak di benci. Tapi aku tidak bisa berbagi hati untuk dua orang yang sama-sama aku cintai. Aku memilihnya, dan berusaha melepaskanmu. Marahlah padaku, benci aku. Tapi maafkan aku, maafkan aku... huhuhu.” Tangisku pun pecah, hatiku sakit mengatakanya, tapi ini lebih baik dari pada aku membohongi Salman terus.

“May, kamu dengarkan aku. Kamu tidak sedang bercanda kan? Apa maksudmu?” Salman masih tak percaya aku mengatakan ini.

“Aku telah mencintai orang lain, aku memilihnya. Apa kamu tak mengerti juga. Aku membohongimu terus beberapa bulan terakhir ini. Menjalani dua cinta, tanpa peduli sama perasaanmu. Aku salah, sungguh aku minta maaf untuk semua itu. Huhuhu” Aku mengatakan semua itu penuh emosi sambil menangis, perih dan sakit sebenarnya dalam lubuk hatiku. Tapi semua ini harus berakhir, aku tidak mau mempermainkan Salman dan semua harapannya padaku. Pun karena selama ini, bertahun-tahun ini, Salman tak menunjukkan kemajuan terhadap hubungan kami.

“Aku bahkan tidak mengerti, aku yang salah atau kamu yang seharusnya salah dengan semua ini. Tapi satu yang aku yakini, aku tidak bisa berbagi cinta untuk dua orang yang sama-sama aku sayangi. Aku memilih melupakanmu.”

“Maafkan aku Salman, maafkan aku, huhuhu.” Ada masanya kita hanya butuh diam. Tidak bicara apapun, tidak bicara dengan siapapun. Cukup direnungkan dalam-dalam. Kemudian kita akhirnya paham banyak hal. Namun kali ini tidak bisa hanya diam menunggu, aku butuh kejelasan.

“Sekarang kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kita hanya teman, teman sekolah. Teman masa lalu. Aku telah memilihnya, kamu telah mengecewakan aku dengan menunggumu terlalu lama. Aku butuh teman yang ada disampingku, berbagi, atau apa saja. Tapi kamu tidak peduli itu.”

Aku tidak tahu sejak kapan Salman menutup sambungan telepon kami. Ketika aku memanggil namanya tak ada lagi sambungan disana, terputus.

Aku kemudian menangis sejadi-jadinya, aku tak tahu. Entah menyesali apa yang sudah aku ungkapkan kepada Salman atau menyesali hubungan kami yang telah berantakan.

Jadilah hariku jadi kelam sepanjang hari ini, aku di dera rasa bersalah dan berdosa, mengkhianati janji atau ini memang jalan yang di pilih oleh Tuhan memisahkan aku dan Salman yang mungkin tak berjodoh, sehingga kami harus berpisah dengan cara seperti ini, berpisah tanpa sempat bertemu selama empat tahun lebih.

Demi waktu yang terus berjalan di sisiku, aku bahkan tidak bisa melupakan Salman sampai kini. Meski aku tak mencintainya lagi, tapi dia tetap ada di hatiku, sebagai teman, sebagai kenangan abadi. Hingga akhirnya, bertahun-tahun kemudian. aku lupa bahwa aku bukan siapa-siapa baginya. Aku tak tahu, apa Salman memaafkan aku atau masih akan terus mengenangku sebagai orang yang pernah sangat menyakiti hatinya. Entahlah. aku tak ingin bertanya, biar waktu saja yang berbicara dan bercerita di antara kita.

 

***

 

Hari ini, malam ini aku pulang mengunjungi ibuku dan keluargaku. Aku merindukan kampung halaman. Ingin bercerita banyak hal pada ibu. Tentang kehidupanku, pekerjaanku, kuliahku dan tentu saja tentang Ari dan keinginan Ari melamarku. Belum tahu kapan, aku hanya ingin membicarakan ini secara langsung kepada keluargaku.

Semangatku untuk pulang begitu menggebu, aku merindukan mereka semua. Tentu juga, aku merindukan Salman. Tapi, apa Salman masih merindukan aku? Meski setelah kami putus beberapa bulan yang lalu, dia masih sering menghubungiku, sekedar menanyakan kabarku, atau hanya inigin mendengar suaraku saja, aku sering menolak menganggkat teleponnya. Pernah juga aku angkat beberapa kali karena marah pada diriku sendiri. Tegakah aku membiarkan seorang teman menderita sendiri, meski berat aku masih merasa aku adalah temannya. Aku masih peduli padanya.

Ketika kakiku menginjak tanah kelahiranku, tanah dimana aku lahir dan tumbuh besar. Tanah tempat aku menuntut ilmu dan mengenal kerasnya hidup dari masa kanak-kanak, bahwa jika ingin meraih sesuatu, semua harus bekerja keras, tekun dan konsisten. Terngiang pesan mendiang bapak, yang mungkin dulu sering beliau ulang-ulang agar kami, anak-anaknya faham bahwa hidup bukan hanya untuk senang-senang. Tapi ada tujuan di dalamnya.

Aku mengunjungi sekolahku, mulai dari gedung Sekolah Dasar dahulu, kemudian gedung Sekolah Menengah Pertama yang jaraknya berdekatan. Disana, dulunya, wajah-wajah lugu tak berdosa dan masih polos, berlarian, belajar, bermain tanpa beban. Aku merindukan masa itu, ketika aku berada dalam lingkungan kampung halaman, bahkan teman masa kecil yang masih menetap disana, rasanya tak percaya mereka sudah punya anak-anak yang sangat lucu. Aku bahkan menjadi bahan ledekan mereka, kapan akan menikah. Semua kujawab, biar waktu saja yang berbicara, kalian pasti mendengar kabarnya nanti.

Besok lusa, aku akan kembali ke Ibukota negara ini, pekerjaan menungguku, tugas kuliah menantiku segera kembali. Dan ya, Ari, dia merindukan aku. Padahal baru lima hari aku pulang ke Sumatra. Dia bilang kalau aku membawa separuh hatinya, jadi dia merasa kehilangan separuhnya. Dia bilang cepatlah kembali, membawa separuh hatinya yang hilang, yang aku bawa bersamaku. Emang dasar, kalau orang jatuh cinta, apa bisa segila ini, terlalu hiperbola, keadaan yang mungkin sepele saja jadi bahan peribahasa aneh yang menurut aku ngawur, rasanya aku ingin tertawa dan melompat-lompat di tempatku berdiri membaca SMS Ari yang lebay menurutku. Tapi aku suka.

Ibuku, juga keluargaku yang telah memberi restu untuk hubungan aku dan Ari, membuat hatiku tenang. Ibu memberiku berbagai macam wejangan dan penjelasan-penjelasan bagaimana aku harus bersikap jika nanti bertemu dengan keluarga Ari. Aku bahkan tidak bisa mengingatnya satu persatu saking terlalu sering ibuku bercerita, tapi aku akan mencoba menjalankan apa yang ibu suruh. Aku senang melihat ibuku begitu semangat dan mendukungku, “Bahwa tak baik anak gadis perantauan terlalu lama sendiri, jika ada yang ingin melamar maka itu adalah hal terbaik. Ibu akan jadi lebih tenang memikirkanmu.” Begitu kata ibuku, dan aku hanya mengangguk saja setuju.

***

Sudah tengah hari ketika aku mendarat di salah satu dermaga tersibuk di daerahku, menyeberang dari pulau tempat tinggal masa kecilku. Aku akan menginap di rumah tanteku untuk besok terbang menuju ibukota Sumatra Utara. Hari ini aku memutuskan mengunjungi gedung sekolah menengah atas, sekolahku dahulu.

Berjalan-jalan sore adalah hal yang menyenangkan, sambil mengayuh sepeda di temani udara sejuk kota kecil yang terpencil ini, kota kecil penuh kenangan dan pengorbanan. Aku selalu merindukan gedung sekolah itu, masih kokoh meski sudah lima tahun aku baru kembali melihatnya lagi. Aku tak bisa masuk, gerbangnya sudah di kunci. Pun begitu, aku sangat puas bisa menikmati waktu dari luar gedungnya saja. Disini, di lapangan bola tempat dulu sering bermain, bercengkerama dan menikmati Upacara Bendera jika hari-hari besar Nasional.

Di jalan ini, jalan yang di kelilingi pohon akasia yang rimbun, hijau bak payung raksasa. Apalagi jika pohon ini berbunga, bunganya yang kecil berwarna kuning sangat indah saat angin bertiup kencang, bunganya berguguran ke bumi dan mengotori kepala kami yang berteduh di bawah pohonnya.

Setelah puas menikmati kenangan disana, aku mampir untuk menyantap mi sop kesukaan saat masih sekolah disana dulu, mi sop legendaris dan paling enak zaman itu. Warung itu masih ada, belum pindah dan masih sama. Aku bernostalgia menikmati makanan sore itu, di temani tanteku yang juga ingin makan mi sop disana.

Haru menyelimutiku, ada rindu membuncah di dada, ada kerinduan mendalam yang menyergap jiwaku, rinduku pada Salman. Aku tau, dia memang tak ada di kota kecil ini, dia merantau ke Ibukota Sumatra Utara. Aku tak mengabarinya aku pulang kesini. Tadi, sambil berjalan-jalan aku bertemu beberapa teman sekolah yang tinggal disini. Mereka menetap dan berwirausaha sendiri atau bertani. Meski bertemu sebentar, cukup untuk kami berbagi cerita selama berpisah setelah kelulusan sekolah dulu.

Ketika sampai di rumah tanteku, aku kaget bercampur senang ketika ponselku berbunyi, ada nama Salman di layar yang berkelip-kelip itu. Aku menerimanya meski setengah hatiku menolak.

 Setelah berbasa-basi nanyain kabar, Salman sedikit kesal padaku, tak mengabarinya saat kembali kesini. “Kok kamu nggak ngabarin aku, May. Apa aku udah bukan temanmu lagi ya?. Setidaknya aku ingin melihatmu, sebentar saja. Aku masih merindukanmu, maafkan aku. Aku belum bisa melupakanmu."

“Kalau kamu mau ketemu nggak masalah, toh kamu juga nggak ada di kota kecil ini. Jadi buat apa juga ngabarin kamu kan. Besok aku akan mengujungi kotamu, sekalian kembali ke Jakarta. Kalau mau, kamu bisa ke bandara besok.” Entah dorongan apa, tapi aku berbicara tanpa bisa menjeda, kenapa aku ingin bertemu Salman.

“Baiklah, semoga perjalananmu menyenangkan. Sampai ketemu besok.” Salman bersemangat dari nada suaranya. Entah apa yang dia pikirkan tentang bertemu denganku besok. Aku malah jadi bingung sendiri dengan perkataanku.

“Ya, sampai ketemu besok. Aku sampai disana jam delapan pagi.” Aku tak kuasa menahan perasaanku, aku masih merindukan Salman. Meski berusaha keras aku melupakan, menenggelamkan kenangan tentang Salman, aku tetap tak bisa. Dia selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku, perjalanan kisah cintaku hingga saat ini bermula dari dirinya. Dan aku tak sabar menunggu jam berputar untuk sampai keesokan harinya. Aku merasa menunggu terlalu lama untuk melihat matahari terbit esok hari.

***

Matahari masih menyapa lembut permukaan bumi yang ku pijak saat aku mendaratkan langkah di kotamu, kota Medan. Ibukota kebanggaan orang Sumatra Utara, meski aku lama tinggal di Ibukota Negara ini, tapi kota ini tetap kota kebanggaanku juga. Aku adalah orang Sumatra, aku bangga.

Sedari tadi, sebelum turun dari pesawat, aku memastikan diriku baik-baik saja. Memperhatikan penampilanku. Setelan celana panjang jeans, kesukaanku. Lalu kaus lengan panjang merah marun. Rambut panjang sebahu tergerai begitu saja, aku tidak memaki topi, aku simpan di koper. Tas ransel di punggung, rambutku lembut tertiup angin pagi, aku membiarkannya sambil berjalan menarik koper ke arah pintu keluar bandara Polonia, dulunya sebelum di pindah ke bandara yang saat ini lebih megah dan luas. 

 Aku tak memperhatikan jika Salman dari jauh melambai padaku, aku memang tak memperhatikannya. Karena aku sedang berusaha menata hatiku yang rasanya entah bagaimana aku menjelaskannya, meski telah begitu lama tak bertemu, aku masih merasakan hal seperti ini lagi ketika akan berjumpa dengannya. Ketika aku telah melewati pintu keluar, Salman muncul di dekatku, menarik koperku dan mengajakku menjauh dari kerumanan orang-orang yang juga ramai menunggu kerabat yang baru datang.

Aku bagai anak kecil yang di tarik orang tuanya, aku menurut saja tak membantah. Setelah agak jauh berjalan, Salman melambatkan langkah, dia menyalamiku erat, aku memberanikan diri melihat wajahnya, sebentar saja. Aku tak akan sanggup tenggelam lebih lama di sana.

“Apa kabar?” Aku tak punya kalimat lain.

“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kita duduk di dalam saja ya. Aku lapar, belum sarapan. Gimana perjalanan kamu?” Salman menarik koperku memasuki restoran khas padang di dalam bandara. Aku mengangguk setuju, aku juga tadi belum sempet sarapan di rumah tante, terburu-buru takut ketinggalan pesawat.

“Lancar kok. Gak ada kendala. Mungkin berkat doamu juga. Hehe.” Berusaha keras membuat suasana jadi lebih cair. Meski hatiku masih belum sepenuhnya mendukungku atas pertemuan ini.

“Syukurlah. Mmm kamu tak banyak berubah selama lima tahun lebih tak bertemu, sedikit lebih kurus dari yang dulu. Dan wajahmu memberi tahu jika kamu sekarang lebih dewasa, meski masih pemalu, sedikit. Hehehe.” Salman memberikan penilaiannya. Aku diam saja, menunggu makanan pesanan kami sambil minum secangkir teh yang di suguhkan pelayan restoran.

Salman yang duduk di depanku memperhatikan aku terus, itu membuat aku tak bisa berbuat banyak. Aku ingat jika kami saat ini tak ada hubungan apa-apa selain teman lama, itu yang membuat dan menguatkan hatiku untuk tak lemah di hadapan Salman.

“Kamu nggak usah peduli hubungan di antara kita yang sudah berlalu, aku bisa menerimanya. Dengan lapang dada seperti yang kamu minta, kamu bisa menganggapnya sudah tidak ada lagi. Tapi kamu tidak bisa melarang aku dan perasaanku soal aku yang masih mencintaimu, itu adalah hak pribadiku untuk mencintai siapa saja yang berhak aku cintai.” Salman mengeluarkan emosionalnya, meski dia berbicara pelan, tapi ada tekanan dalam suaranya.

Aku menganggkat wajah menatapnya, aku melihat kilatan kesedihan dalam matanya. Meski dia menyembunyikannya dengan senyum menyambut aku yang menatapnya. “Maafkan aku Salman, aku tak bisa menunggumu. Dan aku juga tak bisa membohongimu terus kalau aku sudah memilih orang lain dan mencoba melepaskanmu. Aku merasa telah menunggumu begitu lama, tapi kamu seolah tak perduli denganku yang berharap kamu memang sungguh-sungguh mencintaiku. Bayangin aja coba, hampir lima tahun kan, Man.”

“Iya, aku salah untuk hal itu, aku salah, Maya. Aku membiarkanmu menunggu terlalu lama. Melepaskan orang yg dicintai memang sungguh menyakitkan, namun tak semua yang dicintai harus dimiliki. Aku tadinya tak mau percaya soal takdir sebelum kamu memutuskan kita berpisah, karena menurutku takdir itu kita yang ciptakan sendiri untuk kehidupan kita, misalnya seperti keyakinan hatiku bahwa kamu akan selalu menungguku, mencintaiku. Keyakinan bahwa kamu adalah jodoh bagiku, kamu cinta sejati yang aku impikan untuk menjalani sisa hidup di bumi ini. Tapi, kini aku salah lagi menilai takdirku, jika aku tetap bisa mencintaimu sepenuh jiwa dan ragaku, sedangkan kamu sudah tak mencintaiku lagi. Dimana aku  akan bisa menyatukan perbedaan itu lagi, jika salah satu di antara kita memilih saling melupakan. Tentu aku tak bisa berusaha seorang diri bukan.” Aku merasakan getaran dalam suara Salman, dia menunduk. Kemudian dia menyuruhku makan saat makanan pesanan kami datang. Lalu saling diam, menyelami kedalaman hati masing-masing.

‘Salman, melihatmu begitu tegar di hadapanku membuat aku terharu. Tak seperti yang aku bayangkan kamu akan terpukul begitu berat, atau mungkin kamu pura-pura tegar di hadapanku agar aku dan kamu bisa bertemu setelah lima tahun tak bertemu. Tapi matamu tak bisa membohongiku bahwa kamu terpukul dan menderita dengan perpisahan kita.’ Aku merenung dan berbicara pada diriku sendiri.

Untukmu yang kunamai cinta, kutitipkan pesan doa dari tulusnya hati, berbahagialah sepanjang hidupmu. Biarlah kisah bersamamu menjadi sejarah serupa piala sunyi, dan ku abadikan namamu menjadi puisi. Jika daun yang jatuh dari pohon saja sudah ada yang mengaturnya, maka apa lagi yang aku risaukan. Ini adalah jalan yang memang harus kita jalani. Bertemu, berteman, mencintai, merindu dan kini saling melupakan.

“Meski kita udah tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku berharap kamu tidak melupakan aku sebagai temanmu. Maukah kamu jadi temanku?” Salman memecah keheningan di antara kami. Aku mengangguk setuju.

“Kamu berangkat jam berapa ke Jakarta?”

“Jam enam sore.”

“Kenapa kamu sepagi ini sudah disini? Apa ada urusan lain di medan?”

“Nggak, nggak ada. Aku cuma mau jalan-jalan saja, aku udah lama nggak kesini. Jadi sedikit waktu yang tersisa setidaknya aku mau muter-muter sambil nyari oleh-oleh buat pulang.”

“Sama siapa? Kamu tahu jalan disini?” Salman bingung. Dia tahu aku tak tahu banyak tentang kota ini, aku jarang kesini.

“Sendiri. Gampang nanti aku bisa telepon sepupuku aku, mereka deket sini kok, tinggal dekat bandara. Kamu nggak usah khawatir.” Aku melihat Salman tertawa, dia menggeleng pelan.

“Tidak, aku yang akan mengantarmu jalan-jalan. Dengan senang hati, kemanapun yang kamu mau pergi. Aku akan menemanimu. Tapi, apa pacar barumu itu tahu kalau kamu dan aku bertemu hari ini?”

“Mmm... nggak, dia nggak tahu. Apa perlu dia tahu? Aku akan menghubunginya sekarang jika kamu mau aku menghubunginya dan bilang kita bertemu.”

“May, kamu memang penuh teka-teki, jangan bercanda hal seperti ini. Aku bahkan tak mempercayai bisa bertemu lagi denganmu. Seperti ini, setelah semua yang terjadi di antara kita.” Salman mendorong tanganku agar tak meraih ponselku di meja. Padahal aku hanya bercanda, seperti dugaan Salman. Mana  mungkin aku akan memberi tahu Ari kalau akau sedang bertemu dengan Salman, toh aku sama Ari masih status berpacaran, jadi aku pikir dia tak perlu tahu hal ini.

“Apa boleh aku menemanimu berkeliling kota? Nanti aku akan mengantarmu ke rumah tante sebelum balik ke bandara. Kan kopermu juga harus di titip dahulu kesana. Ini lumayan berat” Salman meyakinkan aku. Tentu saja aku tak bisa menolak, bukankah ini adalah rencana yang aku pikirkan sebelum membeli tiket kemarin, selain memang ingin mampir kerumah tanteku di kota ini, aku juga ingin bertemu Salman. Ini di luar dugaanku, bahwa Salman dengan suka hati ingin menemaniku berkeliling sebelum aku pulang nanti sore.

“Baiklah, aku setuju.” Aku menyambut tawaran Salman. Kami tertawa lalu meneruskan sarapan dengan cepat. Seolah di buru waktu yang singkat, Salman selesai lebih dahulu. Dia memperhatikan aku yang lagi  sarapan, aku diam saja.

“Maya, aku pikir kamu perlu tahu hal konyol yang aku lakukan sebelum melihatmu tadi pagi di bandara. Aku keluar rumah pamanku jam dua dini hari, aku bersiap ke bandara. Aku tidak bisa tidur setelah menghubungimu semalam, aku takut terlewat dan malam membungkusku hingga tak bangun-bangun, lalu kesiangan. Aku gelisah, sepanjang malam menunggumu, aku tidur di bandara, tidak tidur sebenarnya tapi menugguimu di pintu kedatangan itu dengan hati harap-harap cemas, aku takut kamu terlewat dari penglihatanku. Aku masih sangat merindukanmu.”

“Gombalnya keluar lagi, ayo berangkat. Keburu sore nanti.” Aku mengajaknya keluar. Di susul Salman yang berdiri cepat dan langsung ke parkiran motor.

Dengan motor yang di bawa Salman, kami berputar-putar di sekeliling kota. Makan es cream di pinggir jalan, masuk mal keluar mal. Salman membelikanku gelang dari batu, aku lupa namanya batu apa. Bukan batu akik yang fenomenal itu. Ini oleh-oleh khas kota Medan, gelangnya coklat bening. Dia memasangkannya di tanganku. Membantuku menyeberang jalan dengan menggandeng tanganku, mengunjungi toko oleh-oleh, membeli kue-kue khas kota ini. Aku tak menolak semua yang dilakukan Salman selama masih dalam batas yang seharusnya, kami terus berjalan menyusuri jalan sambil bercerita apa saja. Lalu salman mengajakku mengunjungi sebuah gedung terkenal di kota itu. Universitas Sumatra Utara.

Dalam perjalanan kesana, kami melewati banyak pedagang topi di pinggir jalan. Salman mengajakku mampir dan membelikan satu untukku. Aku memakai topi itu dengan senang hati dan aku lihat salman sangat bahagia untuk hari ini, kabahagiaan itu terpancar dari wajahnya yang bersemangat dan selalu tertawa. Dia lupa kalau dia belum tidur semalaman dan hari ini dia menemaniku jalan-jalan.

“Terima kasih, Man. Aku takkan lupa hari ini. Apa kamu tidak capek, kita balik aja. Aku merasa ini udah lebih dari cukup. Kamu beristirahat saja. Ini udah mau sore, nanti kamu bisa masuk angin kalau kecapean.”

“Nggak, May. Aku baik-baik saja. Ayo kita lihat dari dekat gedung sekolah itu.” Aku tak bisa menolak. Kami memutari gedung itu dari luar. Mau masuk takut nggak keburu waktu, jadilah kami hanya berhenti di pinggir jalan dan menikmati aroma sore yang hangat. Melepas lelah seharian ini berkeliling kota, tanpa banyak bicara, kami saling berdiam meresapi kebersamaan singkat, tapi mata Salman menjelaskan lebih dari kata-katanya.

“Aku akan selalu mengingatmu dalam perjalanan hidupku, jika memang ini jalan yang di takdirkan Tuhan antara kita, aku ikhlas. Aku akan menerimanya. Kapan kamu akan menikah dengannya?”

“Secepatnya, doakan semuanya lancar. Aku selalu berharap dan berdoa, kamu juga akan menemukan wanita yang akan benar-benar mencintai dan akan menjadi jodoh terbaik untukmu. Kita akan saling melupakan dan menjalani kehidupan masing-masing. Terima kasih untuk waktu dan perhatianmu selama ini. Kita akan selalu berteman baik.”

“Tentu saja, aku akan mencari penggantimu. Baiklah ayo pulang, sebentar lagi kamu akan terbang. Kamu harus ke rumah tante lagi, kopermu disana.”

Kami kembali kerumah tanteku, aku mandi, ganti baju lalu kami kembali ke bandara. Kali ini keluarga tante ikut mengantarku, jadilah kami beriringan di jalan. Salman memilih berjalan paling akhir, kami di belakang mengekor keluarga tante yang sudah lebuh dahulu naik motor di depan.

“Semoga selamat sampai tujuan May, aku tak bisa mengantarmu sampai jakarta. Terima kasih untuk hari ini, kamu menemaniku dan aku sangat bahagia. Asal kamu tahu juga, meski terlambat tapi kamu perlu tahu, aku sudah berusaha keras dan sepenuh hati mengumpulkan uang, memang belum begitu banyak tapi ini sebenarnya niatku akan datang ke Jakarta. Aku tak berbohong, aku memikirkan biaya hidup disana pasti mahal, maka aku menunda terus sampai tabunganku aku rasa cukup. Tapi kejujuran dan keputusanmu siang itu telah mematahkan hatiku, memupuskan mimpi yang aku bangun begitu lama. Tak terhitung lagi aku menyesali tindakanku yang bodoh yang selalu mengulur waktu mengunjungimu. Aku memang tak mengatakan hal ini padamu, karena aku ingin memberi tahumu hanya jika aku benar-benar akan berangkat kesana.”

“Dan lagi, aku tak mungkin memaksamu memutuskan hubuganmu dengan orang yang kamu bilang temanmu itu, temanmu yang telah merenggut cintaku dariku, memutuskan harapanku dan menghancurkan hatiku. Aku yakin kamu tak mau melihat atau mendengar kabar buruk dariku, setelah keputusanmu siang itu, sedikit saja hari itu, aku bisa bunuh diri atau melakukan apa saja agar aku puas, tapi demi mengingat kamu akan sedih mendengar berita itu, dan kamu akan menyesal, ingatan terbaikku muncul mengingatkan aku agar tak melakukan hal bodoh.”

“Di mataku terbayang kamu yang sedang menangisiku dan bersedih sangat dalam dengan keadaanku, entah darimana aku bisa bangkit, aku kembali kerumah dan kembali meratapi kebodahanku di pangkuan ibuku. Dia bilang, jika memang tak jodoh, Tuhan selalu punya cara memisahkan. Dan aku tak boleh mengingkari itu. Aku belajar menerima dan merelakanmu. Meski setahun terakhir adalah masa terburuk bagiku untuk bisa pulih dari sakit hati karena merelakanmu di ambil orang lain.”

“Maafkan aku Salman, aku tak bisa membayangkan hancurnya hatimu. Sungguh aku minta maaf.” Aku tak bisa harus menaggapi apa atas curahan dan cerita Salman. Aku hanya bisa mendengarkan. Dia membawa motor dengan pelan sehingga setiap kalimat yang di ceritakannya aku bisa mendengar semuanya.

“Nggak apa-apa, aku udah terbiasa dengan semua ini sejak pertama kali kamu memutuskan hubungan kita, aku hanya ingin menceritakannya padamu agar sedikit bebanku hilang. Baiklah, kita sudah sampai. Jangan kamu pikirkan aku, behagialah dengan masa depanmu bersamanya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”

“Salman, kamu akan segera menemukan cinta sejatimu, setelah itu kamu juga akan mencintainya dan akan segera melupakan aku. Terima kasih telah menemaniku hari ini. Semoga kelak kalau kita bertemu lagi kamu sudah menemukan cinta sejatimu. Aku juga berdoa yang terbaik untukmu. Aku pamit ya, sampai jumpa lagi, jaga kesehatanmu.” Aku menggenggam tangannya erat, mencoba menguatkan hatinya. Aku sudah tak merasakan apa-apa terhadapnya, meski hatiku sedih dengan pengakuannya tapi itu tak merubah keyakinanku pada Ari yang sekarang mungkin sedang menungguku atau sedang dalam perjalanan menuju bandara menjemputku di Jakarta.

Aku berusaha melepaskan genggaman tangan Salman, tapi dia malah mengeratkan pegangannya. Di depan pintu masuk check in, kami masih berdiri. “Aku tidak akan menemukan cinta sejatiku, kalaupun nanti aku bisa menemukannya dan menikah, dia bukanlah cinta sejatiku. Mungkin kamu dan aku berbeda menafsirkan cinta sejati. Kamu bisa menganggap nanti dia yang akan menikahimu sebagai cinta sejatimu, tapi aku, bagiku cinta sejati itu hanya omong kosong. Pergilah, kejar semua mimpimu, aku memang orang yang menyedihkan.” Salman melepaskan tanganku, matanya sedikit basah, dia menyembunyikannya berlalu dariku secepatnya tanpa sempat aku mengatakan sesuatu untuk menghiburnya.

Salman menghilang di balik tembok yang ada dalam bandara, dia pergi. Walaupun aku masih khawatir tentang keadaannya tapi waktuku tinggal sedikit, aku tak bisa menyusul Salman. Aku harus segera masuk cek in dan segera naik jika tak ingin pesawat meninggalkan aku.

Sepanjang jalan masih memikirkan keadaan Salman, apa dia sudah pulang. Sebelum ponselku aku matikan, aku mengiriminya pesan bahwa aku segera terbang dan akan mengabarinya jika nanti aku sudah sampai Jakarta. Ponsel aku matikan ketika aku memastikan pesanku terkirim padanya.

***

Dua jam perjalanan menuju Jakarta, aku tak bisa memejamkan mata. Separuh hatiku memikirkan Salman dan separuhnya lagi memikirkan Ari. Aku memikirkan Salman karena perubahan sikapnya padaku saat aku akan berangkat tadi. Aku berdoa dalam hati tulus, semoga Salman segera menemukan cinta sejatinya dan bisa mengobati luka dalam hatinya.

Aku berusaha keras menghilangkannya dalam ingatanku, menguburnya ke dalam hati agar tak selalu mengganggu hari-hariku selanjutnya. Aku tahu tak mudah melupakan hal-hal indah dan penuh arti dalam hidup, tapi bukan berarti kita akan selalu terus menerus mengenangnya. Mungkin ada saatnya mengenang masa lalu tapi tidak untuk saat ini. Biarkan semua berlalu bersama malam ini dan esok akan terbit harapan baru, cerita baru bersama terbitnya matahari pagi. Semoga.

Sekitar jam Sembilan malam aku sampai Jakarta, aku tak sabar ingin bertemu Ari. Aku merindukannya. Aku begitu semangat menarik koper dan beberapa box kotak oleh-oleh yang di berikan Salman. Aku segera keluar dan mencari sosok Ari di antara begitu banyak orang yang menunggu di pintu kedatangan. Tak lama sosok Ari menghampiriku, menarik koperku dan mengajakku langsung ke area parkir.

“Aku pikir kamu tak akan kembali lagi, aku menunggumu udah dari habis magrib. Syukurlah kamu baik-baik saja. Entah aku memikirkan hal-hal buruk jika menyangkut transportasi udara ini. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Ari berbicara sambil berjalan dan menata barang bawaanku yang lumayan banyak agar bisa di bawa semua naik motor bebek yang di bawanya.

“Kamu berlebihan, buktinya aku baik-baik saja bukan. Soal umur dan musibah itu sudah takdir Tuhan, kalau terjadi ya, mau gimana lagi. Tapi sekarang kan aku ada disini, bersamamu.”

“Iya, aku tahu. Mendengar berita kecelakaan pesawat saja aku rasanya nggak bisa membayangkan bagaimana rasa kehilangan orang-orang yang mengalaminya. Apalagi jika itu aku yang mengalaminya, rasanya belum siap kehilangan orang yang sudah seminggu ini membuat aku di mabuk rindu. Kamu bahkan nggak perduli ya, kan.” Ari masih saja menggodaku.

“Apaan sih, Ri. Lebay deh, mulai lagi gombal-gombal.” Aku tersipu dan mencubit lengannya keras. Dia mengaduh dan menarik ujung hidungku gemas.

“Ayo, segera pulang. Ada orang yang sedang menunggumu dari kemarin.”

“Menungguku, siapa?”

“Ayo, ingat-ingat lagi, kamu ada janji ketemu siapa?”

“Nggak ada janji dengan siapa-siapa. Beneran, apa aku lupa?”

“Tuh kan, belum tua aja sudah jadi pelupa, hehehe.” Ari mengejekku sambil menjalankan motor pelan.

“Katakan Ri, siapa? Aku merasa tidak ada janji.” Aku menyerah membawa pikiranku mencari-cari dengan siapa aku pernah berjanji.

“Nyerah nih, dia memalingkan kepala kebelakang. Sambil tertawa menggoda.”

“Cepat katakan, siapa? Kalau nggak aku gelitikin nih.” Ancamku sambil mendekatkan tanganku ke pingganggnya.

“Baiklah, oke. Tangannya awas, nanti kita bisa jatuh.”

“Ada yang ingin ketemu sama kamu, dari jauh. Mereka ingin melihatmu dan mengobrol. Itu saja.”

“Tapi siapa?”

“Orang tuaku, dari jawa. Mereka datang kemarin. Sekalian nengokin kakak sama aku karena abis kecelakaan kemarin.”

“Apa, kok kamu nggak bilang dari tadi? Ari, kenapa juga nggak ngabarin dari kemarin waktu kamu telepon aku?”

“Kejutan dong. Kalau ngasih tau dari kemarin, bukan kejutan lagi namanya.”

“Ari, gimana nih. aku nanti harus gimana. Ya, ampun kamu ini bikin aku jadi bingung mikirin ada janji sama siapa. Senang banget kayaknya ngerjain orang.” Aku sedikit ngambek tapi akhirnya tertawa juga, menertawakan diri sendiri.

“Gimana, udah siap di tanya kapan menikah?”

“Ari, kamu menggoda aku lagi.”

“Ya nggaklah, ini serius. Apa kata keluarga di Sumatra? Apa mereka merestui hubungan kita?”

Malam ini menjadi salah satu malam-malam terbaik dalam hidupku. Ketika semua akan terjawab dengan sendirinya oleh waktu. Semua akan indah pada waktunya, jodoh tak pernah salah, dia akan datang dengan cara yang menakjubkan. Ketika keyakinan hati telah memilih, lalu melupakan untuk kemudian membuka hari baru yang penuh kebahagiaan, denganmu yang aku sebut cinta sejati.


Ilustrasi ganbar dari sini: http://anekatokobungamawar.blogspot.co.id

  • view 96