Biar Waktu Yang Bercerita #5

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Januari 2018
Biar Waktu Yang Bercerita #5


Hampir seminggu sejak terakhir aku bertemu sama Ari di rumahnya waktu itu, saat aku menjenguknya. Belum pernah aku merasa segelisah dan serindu ini kepadanya sebelumnya. Selalu ku surutkan niat hati untuk sekedar ingin mengirim pesan padanya, menanyakan kabarnya. Tapi semua tak kulakukan, aku lebih senang tersiksa menunggu dan berharap Ari akan menghubungi lebih dahulu.

Aku selalu merasa tidak bisa memberi harapan jika aku yang memulai lebih dahulu, aku belum menemukan apa yang aku cari atas pencarian keyakinan hati akan sebuah komitmen dalam melihat dan menatap masa depan.

Aku, sebagai teman, mungkin wajar jika aku menanyakan kabarnya, apalagi waktu itu aku memang telah menjenguknya. Tapi demi hati yang merindu, aku selalu tidak bisa memulainya, meski hatiku menjerit ingin mendengar suaranya saja. Aku lebih suka memendamnya saja sendiri, biarkan waktu dan kerinduan ini mencari cara sendiri untuk meredamnya. Dan aku memilih diam.

Pernah terpikir juga, kenapa Ari tidak menghubungiku selama seminggu ini. Apa mungkin ponselnya masih rusak? Atau dia memang sengaja membiarkan aku menikmati nestapanya merindui dirinya. Apakah Ari merasakan apa yang aku rasakan? Kenapa juga dia betah diam seperti ini, tanpa mengabariku apapun. Ini sungguh menyiksa.

Lalu, peduli apa juga, dia memang temanku, bukan pacar yang harus protektif atas hal-hal kecil sekalipun tentang aku. Dia hanya teman, hanya teman. Dan aku gelisah dalam kegundahan yang aku ciptakan sendiri.

Aku masih terus berusaha sabar, meski kerinduan pada Ari bisa memberontak keras dalam hatiku. Ketika seseorang bersabar begitu lama, maka seharusnya bukan karena dia bodoh, naif, dan tidak punya solusi atau pilihan lain. Dia bersabar, karena itu pilihan yang dia yakini. Yakin. Itulah sabar terbaik.

***

Sore ini sangat cerah, Ulfa berjalan beriringan denganku menuju gerbang arah keluar gedung perkantoran. Dia terlihat begitu antusias bercerita dan aku mendengarkan saja perkataannya. Sesekali aku menanggapi, tapi kebanyakan aku hanya mendengarkan saja.

Tak lama kemudian dia mengejutkan aku dengan berteriak keras, aku tidak akan sekaget ini  jika dia hanya memanggil nama pacar kesayangannya itu, aku sudah biasa mendengarnya bertingkah seperti ini. Memanggil nama Javet dengan suara keras, padahal jarak dengan pacarnya itu masih jauh, tapi dia sudah berteriak duluan dan melambai-lambaikan tangannya kegirangan.

Tapi kali ini, tingkahnya membuat jantungku hampir saja lepas dari tempatnya, aku bahkan tidak mempercayai pendengaranku. Tapi Ulfa, dia berlari kecil demi melihat sosok laki-laki di depan jalan yang sedang berdiri melihat ke arah kami berdua, dia Ari.

"Aa Ari, Ariii..." Aku melihatnya bergegas berlari kecil menuju keluar gedung, dia menyalami Ari yang duduk di atas motor gedenya dan memegang dagunya Ari sok khawatir, sambil memutar wajah Ari ke kiri dan ke kanan. Sepertinya ia ingin tahu apa yang terjadi setelah kecelakaan itu. Ulfa waktu itu belum sempet menjenguknya, ketika Javet cerita padanya kalau abis dari rumah Ari, menjenguk Ari yang abis jatuh dari motor, dia ngambek dua hari, mogok ngobrol sama si Javet karena tidak di ajak kesana. Aku tahu cerita ini ketika dia menceritakannya padaku. Aku tahu dia dekat sama Ari, seperti Javet berteman dekat dengan Ari.

Aku terpana merasa tidak percaya kalau Ari datang ke kantor, apakah untuk ketemu aku atau ada hal lain. Apapun itu, hari ini aku sangat senang. Gemuruh hatiku bertambah tidak karuan, berguguran sudah rasa rinduku padanya. Aku bahkan merasa sekujur badanku mendadak lemas, seakan begitu berat melangkahkan kaki menghampiri mereka. Aku takut jika Ari melihat rindu di mataku, mendengar gemuruh dalam jiwaku, aku tak ingin dia tahu.

Aku berusaha keras untuk terlihat biasa-biasa saja, tapi keinginan otakku tidak sejalan dengan hati dan mataku. Aku malah jadi seperti orang yang salah tingkah. Aku menghampiri mereka berdua, mengulurkan tangan menyalami Ari.

"Apa kabar, Ri?"

"Baik, udah mendingan, nih buktinya bisa sampai disini." Aku melihat wajahnya, yang kemarin tergores dan lebam sudah sembuh. Hanya terlihat bekasnya sedikit, sedikit masih samar.  Dia tertawa, aku menunduk tersipu malu. Merasa terlalu memperhatikannya, meski sebenarnya iya. Iya benar, aku hanya ingin tahu apakah dia sudah sembuh.

"Cieee, yang lagi saling kangen. Sampe tersipu gitu, hehehe. Aduh!"  Ulfa temanku yang baik hati dan sedikit menyebalkan ini memang terlalu lihai menggodaku, jika dibiarkan terus, dia akan mengeluarkan kalimat konyol lain yang bisa memojokkan diriku, maka aku mencubit perutnya. Gemas dan kesal. Ku mohon, jangan menggodaku, aku bisa menangis jika Ulfa tidak mau berhenti meledekku di hadapan Ari. Aku berbicara pada Ulfa lewat pandangan mataku yang menghujam, melotot ke arahnya. Ulfa malah tertawa tekekeh.

"Javet mana Neng, nggak jemput?" Ari yang sepertinya tahu aku risih di godain sama Ulfa, mengalihkan perbincangan. Sekilas aku melihatnya memperhatikan aku yang salah tingkah, dia berpaling ke arah Ulfa, sambil tersenyum dengan mimik wajah mengejekku. 

"Lagi jalan kesini kayaknya A, aku telepon nggak di angkat. Temenin ya, sampai dia datang." Ulfa sibuk sama ponselnya, mungkin menunggu kabar dari Javet.

Lima menit kemudian Javet datang, lalu turun dari motor  dan mengobrol sama Ari sebentar, kemudian menghampiri Ulfa. Mengacak-acak rambut panjangnya, lalu bertanya yang bikin aku sama Ari bingung.

"Udah dikasih lom, Neng?"

"Di kasih apanya, A? Neng bingung deh." Aku melihat Javet berbisik sambil tersenyum lebar pada aku dan Ari. Lalu, Ulfa merogoh tasnya buru-buru, mencari sesuatu. Ari melihat padaku dan kebetulan aku melihat ke arahnya. Dia menganggkat bahunya sambil bertanya lewat pandangan matanya, ada apa dengan mereka bedua. Aku hanya menggeleng, tidak tahu.

"Nah, ketemu. kirain tadi ketinggalan dikantor." Ulfa mengeluarkan sebuah benda, mirip buku tipis, di dominasi warna merah muda dan kuning emas, tidak terlalu tebal. Javet dan Ulfa berdiri di hadapan aku dan Ari sambil memegang buku itu, aku menebaknya sebagai kartu undangan.

"Kejutan... “ Ulfa berucap girang.

"Kami akan segera menikah." Begitu Ulfa memulai adegan penuh hawa bahagia sore itu dihalaman parkir itu. Wajahnya berseri-seri bahagia, Ulfa menggenggam tangan Javet. Mereka berdua tersenyum bahagia.

Ari langsung berjalan dan menghampiri Javet, menyalaminya, memberi pelukan dan mengucapkan selamat, hal yang sama juga dia lakukan pada Ulfa, dia menyalaminya erat, mengucapkan selamat. Lalu berkata pada Ulfa, agar tak bertingkah seperti anak kecil lagi, karena sebentar lagi akan menikah dan akan jadi seorang Ibu. Ulfa cengengesan saja mendengarnya sambil menganngguk, lalu menganggkat dua jempol tangannya.

“Siap Bos...” Ulfa tertawa bahagia, sambil berdiri tegap memberi hormat kepada Ari dengan mengangkat tangan kanan seperti hormat pada bendera upacara. Temanku yang satu ini memang sedikit konyol dan lucu.

Terlihat sekali pada raut wajah Ulfa begitu ceria, gurat kebahagian membingkai wajah dan matanya. Aku bahagia untuk kalian sahabatku, semoga semuanya lancar, menjadi keluarga yang bahagia di dunia dan akhirat, doaku dalam hati, tulus.

Aku melakukan hal yang sama, menyalami dan memeluk Ulfa erat, memberi ucapan dan doa terbaik untuknya. Semoga minggu depan adalah hari terbaik dan terindah bagi mereka. Semoga lancar dan semua di mudahkan oleh yang  maha kuasa. Dan aku berjanji akan datang ke pesta pernikahan mereka nanti.

"Ri, jangan di biarkan lama-lama. Langsung lamar. Biar nggak pergi kemana-mana. Di Ikat. Iya nggak, Neng Maya?" Javet mencoba menggoda aku dan Ari. Ari hanya tertawa lalu melihat padaku seolah meminta persetujuan.

"Insya Allah, kalau jodoh takkan kemana." Aku hanya punya kalimat itu. Aku melirik Ari, aku melihatnya mengangguk setuju.

 

***

 

Aku dan Ari sampai di sebuah restoran pinggir jalan,  kami memesan makanan lalu masih sama-sama diam. Sepanjang jalan tadi juga Ari tidak banyak bicara, hanya menanyakan kabarku dan masalah pekerjaanku. Tidak juga membahas soal pernikahan Javet dan Ulfa. Saling diam, hanya angin yang berhembus membawa daun-daun berjatuhan dari pohon yang kami lalui di pinggir jalan.

Sambil menunggu makanan datang, ari mengeluarkan ponselnya. Ponsel baru. "Kenapa seminggu belakangan ini kamu nggak menghubungi atau mengirim pesan padaku, May? Apa aku melakukan kesalahan?"

"Apa, eh, nggak kok. Aku nggak mau ganggu kamu, biar istirahat dan lekas sembuh.” Aku Gelagapan mencari alasan yang masuk akal, tapi tetap saja kelihatan seperti aneh.

"Dan kalau tadi aku nggak datang ke kantormu, kamu juga nggak akan pernah menanyakan kabarku, iya kan. Tapi kenapa, kamu tahu kan ponselku rusak, kemarin aku baru benerin ke gerai ponsel, jadi nomorku tetap yang lama. Tapi semua kontak nomor hilang, juga nomor ponsel kamu. Jadi, aku menunggu kamu menghubungiku. Tapi, kamu sama sekali nggak menghubungiku." Ada kesal dalam nada suara Ari.

"Maafkan aku, aku merasa takut menggaggu, karena kamu sedang tidak sehat. maafkan aku ya, Ri. Aku senang melihat kamu udah sembuh kembali."

Aku bersyukur keadaan Ari semakin membaik, luka-lukanya juga sudah sembuh. Aku menanyakan kabar kakaknya, Mbak Amel. Mbak Amel juga berangsur-angsur pulih, pergelangan tangannya yang patah udah bisa di gerakkan lagi. Dijalan tadi aku sempat bertanya pada Ari.

“Apa kamu terlalu sibuk? Atau kamu emang tidak perduli sama aku, May. Kita kan berteman baik, apa salahnya jika kamu menanyakan kabarku atau menghubungiku?” Suara Ari terdengar lirih. Aku melihat tepat di bola matanya. Tapi tak mampu, aku berpaling lagi.

Saat kita menyukai seseorang, kemudian kita lupakan, tinggalkan. Memilih menyibukkan diri, belajar, sekolah, bekerja, meniti karir. Maka jika memang jodoh, dia akan kembali dengan cara yang menakjubkan.

Ketika seseorang hadir dalam hidup kita, bukan berarti dia akan selalu bersama kita. Kadang kita lupa, boleh jadi tujuan terbesarnya adalah agar kita belajar dari hal menyakitkan dan menyenangkan saat dia telah pergi kemudian.

“Tidak, aku memang tidak ingin menggangumu, itu saja.”

“Tapi ini kejam, kamu keterlaluan. Kamu tau? Kamu membuat aku pusing. Aku merindukanmu. Maafkan aku. Tapi aku ingin marah, marah pada diriku sendiri karena tidak bisa membuatmu percaya, kalau aku mencintaimu dan ingin kamu percaya bahwa aku akan mencintaimu selamanya. Bukan gombal. Aku serius.”

Pelayan datang membawa minuman, “Aku percaya padamu Ri, maaf tidak menghubungimu karena aku memang segan memulainya. Juga tidak ingin memberi harapan lebih, aku tidak ingin mengecewakanmu.”

“Lihat mataku, apa aku berbohong tentang perasaanku? Tapi, aku pikir kamu membohongi perasaanmu sendiri.” Ari menatapku tajam ke bola mataku, saat aku mencoba mencari kebenaran dari kalimatnya barusan dalam sinar matanya, lalu dia menguncinya disana dan tidak membiarkan aku berpaling.

“Katakan, apa saja. Apa yang ada dalam pikiranmu. Tentang aku, tentang kamu. tentang kita.” Ari berpaling. Dia membiarkan aku tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Bukan sabar yang ada batasnya atau tidak ada batasnya. Tapi waktu memaksa memilih. Menentukan lalu melupakan. Apa yang seharusnya aku katakan, kini bayangan Salman melintasi pikiranku, dia menjelma dalam kebimbangan hatiku. Kemudian Ari yang ada di hadapanku saat ini yang menanti perkataanku. Aku merasa sesak nafas, mencoba menenangkan pikiranku dengan menutup kedua mataku sejenak. Ya, Tuhan, kumohon berilah aku petunjukmu.

Saat aku membuka mata, ari tersenyum padaku. Dia mengulurkan tangan memegang dahiku, mungkin dia pikir aku sakit. “Aku baik-baik saja kok, nggak usah khawatir.” Aku memiringkan kepala menghindari tangannya.

“Oke, maaf ya, kalau aku tadi terbawa perasaan. Efek kangen tapi di cuekin. Aku minta maaf yaa. Ayo sekarang makan yang banyak, kamu tahu, tadi kamu itu seperti orang tidur. Saat pelayan restoran datang mengantar makanan saja kamu tidak tahu, hehehe.” Dia sibuk dengan makanan yang ada di meja. Aku kehilangan selera makan.

“Tadi mimpi apa emang? Beneran tidur?” Ari masih menggodaku. Aku hanya menunduk, tersipu. Aku benar-benar tidak menyadari tadi kalau aku menutup mata terlalu lama, sampai tak menyadari pelayan mengantar makanan datang. Aku malu pada Ari, ada apa denganku.

“Ri,,,” Kalimatku tersendat, aku terbatuk. Ari menyodorkan minuman. “Terima kasih.” Ujarku padanya.

“Makan dulu aja ya, tak baik bicara sambil makan.” Ari melihat ke arahku, aku menunduk. Wajahku memerah menahan malu dan grogi. Padahal kami sudah berteman sejak lama, kenapa aku harus sampai sungkan seperti ini lagi, seperti saat pertama bertemu dulu.

“Tapi aku belum memulai makan, jadi tidak masalah kan?” Aku kembali menguasai diri. Mencoba menatap wajah Ari.

“Oke, aku akan mendengarkan. Katakan apa yang mau kamu katakan.” Ari fokus pada wajahku, aku kembali di hinggapi rasa gugup.

“Aku Cuma mau bilang, kalau ...” Aku mengangkat wajah melihat matanya, tapi urung ku katakan karna melihat ari yang tertawa mengejekku. Mungkin lucu dengan raut wajahku yang kusut atau wajahku ada cemong? Percaya diriku hilang lagi. Aku meraba wajahku lalu menunduk.

“Tidak jadi, lain kali saja aku mengatakannya.” Aku merajuk. Aku merasa haus, lalu minum tanpa peduli tatapan Ari yang tajam  padaku. Setelah menaruh gelas di meja, dia menarik tanganku dan memegangnya erat.

“Katakan sekarang, aku menunggu.” Ari kembali serius, tawanya hilang.

“Nggak jadi, kamu mengejekku barusan.”

“Kamu lucu kalau lagi serius, aku bukan mengejek. Aku Cuma merasa lucu.”

“Sama saja. Pokoknya nggak jadi. Aku lapar, mau makan dulu.”

“May, aku menunggu sekarang. Kalau perlu nanti aku suapin. Kamu mau bilang apa?” Dia mengeratkan genggamannya pada tanganku. Matanya mengunciku. Aku terpaku.

“Kamu memang menyebalkan, suka memaksa, egois, keras kepala. Tapi aku mulai merindukan semua itu jika terlalu lama kita tidak bertemu. Kamu telah mengambil mungkin sebagian waktuku untuk memikirkanmu.” Ari masih terpana menanti kalimatku selanjutnya, matanya bersinar semakin tajam padaku.

“Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku.” Aku membalas tatapan ari, tapi kemudian memalingkan wajah ke arah lain.

“Katakan, apa itu.”

“Apa orang tuamu akan merestui hubungan kita? Aku khawatir mereka tidak menyukaiku seperti kisah yang kamu pernah ceritakan tentang mantan kekasihmu yang dulu itu.” Ada nada cemburu dalam suaraku, bergetar.

“Aku bahkan lupa menceritakan hal ini padamu, bukan lupa tapi aku memang menyimpannya karena masih menunggu kamu yang belum juga memberi ruang untukku dalam hatimu. Orang tuaku tidak melarang hubungan kita, aku telah menceritakan semuanya tentang kamu, asal usulmu, semua tentang kamu yang aku tahu. Dan mereka tidak melarangnya, hanya tegas padaku jika memang aku sungguh-sungguh aku harus memikirkan kelanjutannya, kapan aku dan keluargaku bisa bertemu denganmu, mereka ingin melihatmu dan mengenalmu.” Ari sangat bersemangat, aku tersipu dan gugup ketika dia mengutarakan keinginannya.

“Kapan kamu bisa aku ajak maen kerumah kakakku, kerumah mbak Amel? Nanti aku akan meminta kedua orang tuaku dari jawa untuk datang kesini, ketemu calon menantunya.”

“Tanganku sakit, bisakah kamu melepasnya?” Aku menarik tanganku dari genggaman Ari, dia tertawa lalu minta maaf.

“Aku sangat bahagia hari ini, maafkan aku.” Dia melepaskan tanganku, lalu menyuruhku makan. Dia sibuk melayaniku, aku merasa lucu dan menertawakannya. Tapi dia seperti tidak peduli dan terus menata nasi dan lauk pauk di piringku. Kami makan dalam tawa bahagia, serasa lepas sudah beban yang aku pendam selama ini.

Tidak semua orang beruntung, menikah dengan cinta sejatinya. Tapi semua orang bisa beruntung, menjadikan orang yang dinikahi sebagai cinta sejatinya. Aku ingat kalimat ini sering banget di posting oleh penulis terkenal, Tere Liye. Meski aku pernah mencintai, jatuh cinta pertama kali kepada Salman dulu, aku tidak tahu dimana cinta sejati itu ada. Aku mencintainya selayaknya aku menyukai pribadi dan sifatnya.

Aku tak pernah berpikir akan kehilangan cinta yang pernah ada untuk Salman, dia telah membiarkanku begitu lama menunggunya, membuat cintaku terkikis dan memudar untuknya. Kini hanya ada kenangan di antara kami. Dan aku akan selalu mengenang itu dalam album kenangan yang telah aku tanam jauh dalam lubuk hati, karena cinta pertama takkan pernah hilang, tapi cinta sejati akan selalu ada dan nyata lalu dia akan mengikat erat dalam ikatan yang di berkahi Tuhan, Pernikahan.

Salman, terima kasih telah menjadi musuh bebuyutan dulu di sekolah, terima kasih telah menjadi sahabatku, terima kasih untuk cinta yang pernah terjalin, untuk waktu yang telah terlewati, untuk semua surat-surat dan paket darimu, untuk kisah yang berakhir karena waktu yang selalu ada di antara kita memaksaku untuk membuat pilihan. Aku mungkin akan mencoba melupakanmu, menjauhkanmu dari pikiranku, tapi ketika hatiku memaksaku untuk mengenangmu suatu hari nanti, maka ikhlaskanlah aku mencumbui kenangan dan kisah kita, karena hadirmu adalah bagian dari cerita waktu yang berbicara dan bercerita diantara kita.

Jika saja ada alasan untuk mengahapus kenangan tentangmu, atau teknologi modern yang bisa memutus benang kenangan bersamamu aku akan rela benang itu di putus. Karena aku juga tak ingin menyakiti Ari dengan masih mengenangmu. Tak ada kenangan berarti di antara kita, tapi yang berarti bagiku adalah kamu mengajarkan aku jatuh cinta, merasakan cinta pertama kali dalam hidupku untuk seorang laki-laki, begitu banyak waktu yang berlalu untuk bersama saat sekolah, alasan lain yang selalu membuat aku merindukan kembali masa remaja.

Selalu ada alasan terbaik kenapa sesuatu itu terjadi, meski itu menyakitkan, membuat sesak dan menangis. Kita boleh jadi tidak paham kenapa itu harus terjadi, kita juga mungkin tidak terima, tapi Tuhan selalu punya skenario terbaiknya dalam kehidupan hamba-Nya.

“Aku masih berpikir tantang satu hal lagi, bagaimana dengan kisahmu yang kamu ceritakan waktu itu, kisah masa sekolahmu dan ...” Ari mengagetkan aku, aku terbatuk-batuk lalu dia dengan cepat memberiku minuman seperti seorang anak kecil.

“Sorry, apa kamu baik-baik saja? Maaf kalau pertanyaanku aku membuat kamu jadi begini.” Ari merasa bersalah.

“Aku telah memikirkan itu dan telah mengambil keputusan. Aku tidak akan sampai disini bersamamu jika aku masih berhubungan dengannya.” Kali ini aku sangat menyesali kalimatku, ini kebohongan yang aku lakukan pertama kali pada Ari, aku bahkan lupa kapan aku terakhir menghubungi Salman, dan aku lupa tidak mengatakan apapun padanya. Seharusnya aku telah melakukan sesuatu. Ada yang terlewat dengan semua ini. Dan itu yang membuat aku terkejut saat Ari menyinggung soal kisah masa sekolahku.

“Aku percaya padamu, May. Maafkan soal yang tadi, aku janji akan selalu bersamamu.”

Jika seseorang benar-benar menyukai kita, maka dia akan memberikan bukti, bukan alasan-alasan, penjelasan-penjelasan. Jika seseorang benar-benar menyukai kita, maka dia akan memberikan komitmen terikat, bukan ketidakpastian. Jika seseorang benar-benar menyukai kita, maka dia akan berlari menjemput, bukan yang membiarkan kita menunggu.

Ilustrasi gambar dari sini: www.hipwee.com

  • view 105