Biar Waktu Yang Bercerita #4

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Januari 2018
Biar Waktu Yang Bercerita #4

Sabtu pagi di kantor, si Ulfa heboh ngucapin selamat ulang tahun padaku, entah dari mana ia tahu. Ketika kutanyai dia bilang dari mbah Google, dari Facebook yang kasih tahu. Kan kita udah temenan disana.

“Oh ya, mbak. Apa si Ari udah tahu kalau mbak ulang tahun hari ini?” Dia berbisik.

“Hem,, apa dia harus tahu? Nggak penting jugakan. Kayaknya nggak tahu deh. Udah, awas ya, jangan kasih tahu.”

“Kapan aku di ajak makan-makan nih mbak May?”

“Kapan ya, terserah deh. Atur saja waktunya.”

“Aku sama A Javet yaa...”

“Iya, Insya Allah.”

 “Aku ada perlu ke gudang nih, mbak mau nitip pesan nggak ke bagian gudang?”

“Kayaknya nggak, oke. Semoga lancar biar kita bisa pulang sore. Aku merasa kurang semangat hari ini. Lagi banyak pikiran.” Ulfa pergi meninggalkan aku di meja kerja. Entah kenapa juga hari ini aku merasa kurang enak badan, atau memang benar terlalu banyak pikiran.

Siang itu saat jam makan siang, aku dikabarin sama Ari kalau nanti sore dia akan jemput aku sepulang kerja. Aku mengiyakan saja. Sejak mulai mengenal Ari, dia selalu menyempatkan waktunya untuk menjemput atau sekedar ngajak makan sambil ngobrol. Aku juga membiarkan perasaanku berkelana bersama habisnya waktu bersamanya, aku bahkan bisa melupakan tentang Salman sejenak jika bersamanya.

Salahkah aku jika menyukai mereka berdua, aku dan Ari memang belum punya hubungan spesial selain pertemanan dan rasa saling melengkapi jika bertemu. Merasa sama-sama orang yang butuh teman untuk bercerita, atau teman yang bisa mendengarkan keluhan atau semacam pelampiasan rasa kesepian atau karena merasa cocok dan menyambung saat sedang bersama. Meski sekarang aku tahu jelas, kalau Ari benar-benar mencintaiku.

Di kantor, beberapa teman senior yang tahu hubungan aku dengan Ari dari cerita-cerita Ulfa, kadang suka memberi nasehat atau masukan padaku. Mereka menilai aku terlalu percaya sama Salman dengan masih menjaga hubungan jarak jauh seperti ini, kalau masih setahun dua tahun menurut mereka masih wajar, karena cinta selalu butuh proses dan pengorbanan. Tapi ini jika sudah lebih dari empat tahun, itu namanya pungguk merindukan bulan. Yang bener itu Salman menemui atau menjemput dan mengajak menikah, bukan hubungan gantung yang tidak jelas seperti ini.

Menurut teman-temanku itu, cinta yang benar itu adalah yang kelihatan nyata di depan mata, nyata orangnya, nyata janjinya, nyata kata-katanya. Bukan yang suka mengobral janji-janji tapi tidak memiliki kepastian. Menurut mereka Salman adalah salah satu ciri cowok yang suka plin plan, tidak bisa berkomitmen.

Aku disini, duduk dalam bimbang, berjalan dalam ragu. Sore ini aku ingin mencari kepastian dan kebenaran dengan situasi ini. Aku akan memulai mencarinya dari sosok Ari. Sejauh mana dia memandang dan melihat atas hubungan persahabatan kami. Jika aku ingin memulai dari Salman, aku masih merasa dia belum bisa aku jangkau. Jadi aku tidak tahu sampai dimana kesungguhannya.

Aku bukan mau segera menikah, atau pengen banget di lamar, aku hanya ingin mencari kebenaran atas keragu-raguan dalam hatiku. Aku tidak bisa menjalani dan memembohongi dua orang yang berarti dalam perjalanan hidupku. Salman dan Ari saat ini bagiku, seperti berebut  hadir membayangi dan mengisi relung hati. Harus ada kejelasan. Tidak bisa juga aku membagi satu hati untuk dua orang yang saat ini seperti menunggu aku memilih dan memutuskan.

Aku yang menjalani dan merasakan semua cerita ini, aku tidak boleh terpengaruh oleh perkataan teman-temanku. Keputusanku, bisa jadi adalah masa depan bagiku, bukan masa depan mereka yang hanya bisa berkomentar dan berbicara apa saja tentang aku dan kehidupanku.

Aku tak punya apa-apa, hanya memiliki kemauan dan harapan, cinta yang ada di hatiku hanya akan kuberikan sepenuhnya pada orang yang benar-benar mencintaiku juga sepenuh jiwanya. Dan aku akan mencarinya. 

***

Aku telah lama duduk dibangku panjang yang ada dipelataran parkir sekitar kawasan kantor tempatku bekerja, mondar mandir menghilangkan jenuh menunggu Ari yang tak kunjung datang.

Aku yakin dia tidak lupa bahwa hari ini dia berjanji akan menjemputku. Dia tidak pernah mengingkari janji setelah hampir enam bulan ini aku mengenalnya. Kalaupun batal karena dia mendadak lembur, dia akan mengabariku terlebih dahulu.

Setelah hampir empat puluh menit aku menunggu, aku mulai bosan. Ponsel Ari juga tidak aktif. Akhirnya aku menghubungi Ulfa, siapa tahu dia atau Javet punya nomor ponsel Ari yang lain. Entah kenapa juga aku sangat khawatir padanya, aku hanya ingin tahu kenapa dia membatalkan janji dan tidak mengabariku, karena Ari tidak pernah seperti ini sebelumnya jika berjanji.

Tak lama aku dikirimin nomor ponsel adiknya Ari yang juga tinggal bersama Ari dirumah kakaknya. Tak sabar aku segera menelepon nomor tersebut. Ada rona kecemasan menyusup dalam hatiku, semoga Ari hanya lupa dengan janjinya kali ini.

“Hallo, Assalamualaikum...” Sapaku ketika nomor tersebut menerima panggilanku, meski dengan hati berdebar, aku memberanikan diri. Aku belum pernah tahu tentang keluarganya Ari, aku hanya mendengar dari ceritanya saja. Dia punya adik satu lagi yang juga tinggal dirumah kakaknya. Rumahnya tidak begitu jauh dari kantor tempat kerja mereka. Tapi adiknya bekerja dan kost dijakarta, hanya saja setiap akhir pekan dia akan selalu pulang kerumah kakaknya.

“Waalaikum salam, ini dengan siapa saya bicara?” Kudengar suara cowok diseberang, suara yang bersahabat. Aku takut membayangkan jika adiknya menjawab kasar atau bahkan marah karena aku menelepon diwaktu yang tidak tepat.

“Oh, eh, Saya Maya, temannya Ari. Maaf sebelumnya, saya mau tanya apa Ari ada dirumah?” Aku gugup, aku jadi lupa harus basa basi apa, tapi langsung menanyakan Ari. Ya ampun aku gugup sekali.

“Oh, Mbak Maya ya. Mmm Mas Arinya ada dirumah, mau ngomong langsung?” Suara adiknya ari menandakan kalu dia seperti kenal sama aku, atau Ari yang sering cerita tentang aku sama adiknya. Tapi tadi katanya Ari dirumah, berarti dia lupa ada janji sama aku sore ini.

“Eh, jangan. Nggak usah. Aku cuma mau nanya saja, karena ponsel Ari tidak bisa dihubungi dari tadi.”

“Nggak apa-apa, ngomong langsung sama orangnya ya. Sebentar.” Aku kembali gugup, Ari dirumah. Lalu aku yang nungguin dia mau jemput disini seperti orang hilang.

“Hallo, May.” Suara Ari, sedikit berat dan lemah dari biasanya. Apa dia sakit tenggorokan.

“Hai Ri, apa kamu baik-baik aja?” Ada nada khawatir dalam suaraku. Padahal sebelumnya aku berniat ingin sedikit marah karena membiarkan aku di pinggir jalan terlalu lama menunggu.

“Kurang baik. Kamu sekarang dimana? Maafin aku ya, kamu jadi menunggu lama. Ada sedikit musibah. Aku nggak bisa jemput kamu hari ini, aku minta maaf banget. Ponsel aku juga kayaknya rusak.”

“Oh,, aku masih di depan kantor. Kena musibah apa? Apa yang terjadi? Aku nggak apa-apa, nanti bisa pulang sendiri. Kamu jaga kesehatan, Ri.”

“Makasih May, aku suruh Adit jemput kamu ya.”

“Eh,, nggak usah, aku bisa pulang sendiri. Kamu yang lekas sembuh kalau lagi sakit. Jangan khawatir. Aku akan pulang sendiri.”

“Jangan membantah terus, Adit segera jemput kamu. Jangan kemana-mana. Tetap disana, ya” Tegas Ari memutuskan telepon tanpa menunggu jawabanku lagi. Aku mendesah, Ari kenapa? Dia sakit? Barusan tadi siang siang sepertinya dia baik-baik saja. Perasaanku jadi tidak menentu, khawatir tentang keadaan Ari, rasa kesalku jadi hilang karena dia membatalkan janji sore ini, karena dia lagi kena musibah.

Sepuluh menit berlalu sebuah sepeda motor berhenti di depanku. Bukan motor yang biasa dipakai Ari dan aku juga yakin itu bukan Ari. Aku juga tidak mengenali orang yang barusan turun dari motor itu. Dia menghampiriku, sekilas raut wajahnya ada kemiripan dengan Ari, ketika dia membuka helm dari kepalanya, mungkin ini adiknya yang bernama Adit, pikirku.

“Mbak Maya, bukan?” Dia menghampiriku. Dengan percaya diri menjabat tanganku erat, seperti sahabat lama yang baru ketemu. Dia tersenyum ramah. Aku berdiri dan menyambut keramahannya.

“Iya. Ini Adit, adik Ari, ya?” Aku sedikit gugup, baru ketemu sama salah satu saudaranya Ari.

“Iya Mbak. Maaf agak lama. Oh ya, langsung berangkat?”

“Emang mau kemana? Aku mau langsung pulang. Tadi ari langsung menutup telepon, padahal aku bisa pulang sendiri, malah jadi ngerepotin Adit.”

“Oh, nggak apa-apa kok Mbak. Tadi Mas Ari bilang kalau mbak diajak kerumah. Dan mbak nggak boleh nolak. Hehe.”

“Adik sama kakak sama-sama keras kepala ya, kalau udah ngomong harus diturutin.”

“Aku sih cuma menyampaikan pesan, lagian masa kakak nggak mau lihat keadaan Mas Ari? Tadi dia abis kecelakaan sama mbak Amel, pulang belanja dari toko bangunan.”

“Apa? Trus gimana keadaan mereka sekarang?” Aku jadi panik mendengar cerita Ari.

“Makanya, Mbak Maya ikut kerumah, lihat sendiri. Ayo naik.”

Jadilah sore itu aku berkunjung kerumah Ari untuk pertama kalinya selama enam bulan ini aku mengenalnya. Aku belum pernah kesana. Pernah brberapa kali di ajak tapi aku selalu menolak dengan alasan aku malu atau alasan lain yang aku buat-buat. Entah sore ini aku menurut saja ingin datang kerumah mereka, aku ingin tahu keadaan Ari. Itu saja. Aku mengesampingkan alasan selama ini yang sering aku buat karena aku merasa belum siap untuk bertemu keluarganya.

***

Sesampainya disana aku mulai cemas, gugup kembali menghampiriku, jantungku berdebar lebih keras dari ukuran normal, telapak tanganku mulai berkeringat, aku tidak bisa mengimbangi debar dalam dada yang tiba-tiba mengganggu, lalu disusul perutku yang tiba-tiba juga ikutan mulai terasa mulas tidak bersahabat. Padahal tadi mereka semua baik-baik saja. Kenapa anggota tubuh ini tidak berfungsi semestinya disaat-saat seperti ini, mereka malah menambah beban rasa percaya diriku yang mulai goyah kembali menciut. Rasa yang aku tumbuhkan terus sepanjang jalan menuju kerumah Ari.

Setelah turun dari motor Adit, aku berdiri mematung di depan pagar. Memandangi bangunan rumah berukuran besar didalam pagar yang masih tertutup. Terlihat disekitar rumah itu masih berantakan oleh berbagai alat-alat tukang, sepertinya rumah ini sedang direnovasi atau memang masih dalam proses perbaikan.

“Ayo masuk Mbak, apa mau berdiri disana terus nih.” Adit membuyarkan lamunanku. Aku mengikutinya dari belakang. Ketika memasuki halaman depan, disana ada beberapa motor yang sudah terparkir, ada dua mobil yang juga terparkir tadi diluar pagar. Mungkin ada tamu atau saudara mereka yang lain. Aku tidak mau memikirkannya.

“Ada tamu ya, Dek? Kelihatannya ramai sekali didalam.” Penasaran, aku mulai bertanya. Mencoba menghilangkan gugup.

“Iya, itu udah dari tadi siang. Nengokin kakak sama Mas Ari. Ayo masuk, Mbak.” Aku yang masih bingung dengan apa yang terjadi, bertanya-tanya dalam kebingungan sendiri. Mau bertanya tapi aku merasa malu sama Adit. Aku simpan semua gundah sampai nanti ketemu Ari, biar dia saja yang menjelaskan.

Aku masuk lewat pintu dari arah depan, mengucapkan salam dengan suara pelan. Selain dijawab sama Adit, ada suara Ari dari arah dalam. Mataku terpaku pada sosoknya yang berjalan tertatih sambil berpegangan pada tembok agar badannya seimbang. Dia memakai kaus oblong tipis warna putih, celana pendek selutut. Aku melihatnya susah payah berjalan, lalu Adit membantunya duduk di sofa.

Aku terpana, kaget tentu saja. Apa yang terjadi pada Ari. Aku lupa pertanyaan apa yang paling pantas untuk aku ucapkan, aku lupa semua kalimat yang tadi sempat aku rangkai dijalan untuk aku tanyakan pada Ari. Kalimat-kalimat itu hilang entah kemana, berantakan. Apa yang aku lihat saat ini seolah menjelaskan semua rasa ingin tahuku sejak tadi.

Tak perlu bertanya ataupun kesal. Semua luluh bersama hatiku yang ikut luluh dan iba melihat keadaannya. Ingin rasanya aku duduk disampingnya dan mengusap wajahnya yang sedikit memar, dan berkata semua akan baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa melakukannya.

“Maaf ya, membuat kamu menunggu lama. Ponsel aku rusak. Kalau tadi adit nggak bengunin aku karena kamu menelepon, mungkin kamu menunggu sampai kesorean.” Ari membuka kebisuan diantara kami. Aku melihat wajahnya tersenyum meski kelihatan seperti  terpaksa karena ada luka gores di sebagain pipinya. Mungkin terasa perih jika terlalu banyak bergerak.

“Oh,eh,, iya nggak apa-apa kok. Tadinya juga aku udah mau pulang. Tapi kerena khawatir aku menghubungi Ulfa siapa tahu Javet tahu kamu ada dimana. Dan aku dikasih nomor ponsel Adik kamu.”

“Nggak Ada yang bangunin aku, sampai ketiduran lama. Mungkin karena abis minum obat. Sorry ya, May. Aku jadi batalin janji nggak ngabarin dulu.” Kulihat dia meringis, tak lama adiknya yang dia panggil Adit membawakan minuman untuk aku. Dia ikut duduk bersama kami.

“Eh, iya. Nggak apa-apa. Lupain aja.” Mendadak aku lupa apa yang mesti aku katakan lagi. Aku melirik adiknya yang senyum-senyum sendiri, seperti lucu melihat aku yang seperti kehilangan kata-kata.

“Kayaknya sih tadi niatnya mau marah dikit, tapi setelah tahu orang yang mau dimarahin lagi kayak gini, batal deh hahahaha.” Adit usil banget menggangu tapi demi mendengar kelakarnya aku dan Ari ikut tertawa.

“Kenapa bisa begini Ri, kamu jatuh dari atap rumah atau...” Aku mulai menguasai suasana hatiku.

“Di serempet motor iya, Mbak. Hehehe.” Adit kembali menjawab sambil menyenggol lengan Ari yang biru lebam. Ari mendengus kesal dan menjewer kuping adiknya itu pelan.

“Ini masih sakit lho, Dit.” Ari merintih, dia membenarkan posisi duduknya.

“Hari ini aku libur, biasanya lembur. Tadi kakak minta tolong anterin belanja ke toko bangunan. Kakak lagi renovasi rumah ini. Maaf ya, agak berantakan jadinya.” Ari bercerita. Adit fokus ke ponselnya. Aku mendengarkan saja.

"Sambil pulang bawa motor, kakak bawa satu ember cat ditaruh ditengah. Bahan lain dianterin pakai mobil toko bangunan, tapi nunggu antrian. Jadi, mbak Amel memutuskan membawa satu ember cat biar tukang di rumah ada kerjaan. Ditengah jalan dari arah belakang ada motor yang mengebut, aku padahal udah minggir. Tapi masih kena senggol, karena beban berat aku sedikit oleng, kakak juga nggak bisa ngimbangin akhirnya jatuh, jalanan agak licin bekas mobil truk bawa tanah basah, aku jatuh, kakak juga jatuh. Kakak nggak begitu parah, Cuma tangannya kayaknya patah atau terkilir. Tapi tadi udah di urut.”

“Dan aku ya kayak gini, tadi kata Mbak sih sempet pingsan sebentar. Aku terlempar dan menubruk tembok penutup got pinggir jalan. Beruntung pakai Helm, jadi lecet-lecet gini sama lumayan dicium aspal nih wajahnya.” Ari nyengir. Aku takut membayangkannya.

Seandainya Ari tahu, aku tak perlu penjelasan apapun darinya saat ini. Ketika buat aku, melihatnya kesakitan hari ini telah membuatku sangat khawatir dan sedih. Apapun itu, aku hanya ingin Ari segera kembali pulih dan baik-baik saja. 

Meski disana nggak lama karena hari mulai beranjak malam. Aku pamit. Mau melihat keadaan kakaknya tapi di kamarnya masih banyak saudaranya, jadi aku langsung pulang. Tadinya mau dianterin sama Adit tapi aku menolak. Hanya meminta di anterin sampai ketemu angkot saja di depan jalan raya.

Ari berkali-kali minta maaf karena dia membatalkan janji, padahal aku sudah melupakannya. Dia melepasku sambil berbisik didekat kupingku saat dia mengantarku di depan pintu pagar, supaya jaga kesehatan dan hati-hati dijalan.

“Satu Lagi, Selamat ulang tahun ya. Doa terbaik selalu buat kamu dan semoga tambah dewasa, bertambah rizkinya, dan semoga kelak bisa jadi calon istri yang baik...” Dia berhenti, bersandar pada pagar, melirik Adit yang sedang menyalakan motor di depan jalan.

“Aku menunggu lho.” Ari menarik tanganku. Aku yang masih memikirkan dia tahu dari mana aku ulang tahun hari ini jadi sedikit kaget. 

“Menunggu ditraktir makan sama yang lagi ulang tahun, hehehe.”

“Insya Allah, gampang. Asal kamu sembuh dulu.”

“Besok juga udah sembuh, apalagi udah di jenguk sama cewek tomboy.” Adit menyahut. Lalu tertawa.

“Lekas sembuh ya, aku pulang dulu.”

“Hati-hati, May. Makasih ya, udah maen kerumah. Jaga kesehatan. Sampai ketemu lagi.” Dia melepas tanganku. Aku hanya bisa tersenyum, meski sebenarnya aku masih ingin ada disana, menemaninya.

Aku pulang membawa serpihan hati penuh warna warni yang kian lama semakin bersinar dan berkelap-kelip. Mengantarku pulang pada hati yang seolah menemukan hal yang telah lama sekali hilang. Rasa yang aku kira telah hampir padam karena menunggu, kini seolah menemukan tempat kembali. Aku melupakan sejenak tentang Salman, meski kenangan bersamanya berontak mencoba menggodaku, aku meleburkannya dengan mengenang sosok Ari.

Kali ini, aku juga membiarkan waktu membawaku kemana yang ia ingini. Aku, kamu dan dia ada dalam cerita yang dibentuk oleh waktu. Maka biarkan juga waktu yang akan bercerita diantara kita. Karena pada akhirnya waktu jua yang akan memutuskan.

  • view 105