Biar Waktu Yang Bercerita #3

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Januari 2018
Biar Waktu Yang Bercerita #3

Sepulang kerja sore itu, aku menerima paket kado ulang tahun yang dikirim oleh Salman. Aku lupa kalau besok adalah hari ulang tahunku yang ke dua puluh dua tahun. Paket itu dikirim lewat pos dan diterima oleh ibu kost lalu ditaruh di meja dekat pintu kamar. Aku membawanya masuk ke kamar.

Ada haru menyelimuti diriku saat mulai menyentuh paket itu, membolak baliknya, ada namaku diatas kotak itu lengkap dengan alamat dan nomor ponselku. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku mendengar suara Salman di ujung telepon, mungkin sekitar dua minggu yang lalu. Dan itupun tidak lama karena aku beralasan mengantuk dan pengen istirahat. Salman hanya berpesan agar aku jaga kesehatan dan jangan sampai sakit. Kalimat yang selalu diulang-ulang setiap kali kami berbicara disambungan telepon. Tapi aku selalu suka perhatian itu.

Disana aku terpaku, menyusuri kedalaman hati, menyelami ruang-ruang dalam jiwa, mengelana jauh membawaku terbang melintasi kenangan yang hampir mulai terkikis waktu. Aku duduk dilantai kamar, memandang jauh, melintasi kertas yang membungkus paket dari Salman, menerobos dinding kamar kost untuk kemudian terbang tinggi melintasi langit. Aku ingin bertemu Salman. Ingin sekali bertemu dengannya.

Ingin menulis surat untuknya seperti yang dulu sering kami lakukan saat masih sekolah menengah atas.  Ingin menulis surat untuknya seperti tahun-tahun lalu ketika kami baru berpisah sebelum mempunyai ponsel seperti sekarang. Ingin berjalan-jalan menyusuri jalan depan sekolah jika jam istirahat datang, sambil berlarian karena keisengan Salman yang suka menginjak bagian belakang salah satu sepatuku yang agak kebesaran, hingga sepatu itu terlepas, lalu dia akan berlari menjauh, dan aku yang marah mengejarnya setelah memperbaiki sepatu lebih dulu.

Tapi aku tidak membalas keusilannya itu, aku malah lari terus dan meninggalkannya dibelakang kebingungan. Untuk kemudian menyusulku dan bertanya kenapa melewatinya. Lalu aku diam saja, mogok bicara, jalan terus seolah tidak perduli untuk beberapa saat. Jika aku melihat wajahnya sudah mulai menyesali perbuatannya kemudian minta maaf, maka aku yang akan tertawa lalu berlari menjauh, takut nanti sepatuku di injak lagi bagian belakangnya.

Jika capek, maka tempat paling di sukai adalah duduk di bawah pohon akasia di depan kelas, atau mengunjungi perpustakaan tempat paling menyenangkan disekolah, mengobrol hal-hal yang tidak penting. Meramalkan masa depan yang belum pasti, mengkhwatirkan yang belum terjadi adalah hal paling sering di perdebatkan. Tentang hubungan kami jika lulus tahun ini akan jadi apa, kemana dan bagaimana selanjutnya.

Ketika tak ada solusi untuk masalah itu, kemudian kita akan sama-sama diam lalu saling melirik, tersenyum, kemudian tertawa. Untuk kemudian berkata, biar waktu saja yang akan bercerita, kita akan selalu ada dalam cerita itu. Bukankah kalimat itu yang selalu kita ucapkan dulu Salman? Apa kamu masih mengingatnya, kenapa aku selalu mengingatnya jika aku sedang merindukanmu seperti sekarang?

 

***

Sabtu siang saat itu disekolah kebanggaan kita, ketika persiapan ujian kenaikan kelas, ujian kenaikan kelas tiga. Kamu menghampiriku di depan perpustakaan sekolah yang sering jadi tempat persembunyianku darimu jika aku mulai malas menanggapi rayuan atau gombalan yang sudah bosan aku dengar setiap harinya. Kita masih seperti serial televisi kesukaan anak-anak, Tom and Jerry. Aku benci kamu yang sesuka hati menaruh dan menitipkan kata cinta kepada perempuan, untuk kemudian kamu ambil lagi dan putuskan sesuka hati.

Pernah juga dulu waktu kita masih kelas satu, kita sekelas. Kamu berpacaran dengan teman masa kecilku, Vani. Hanya saja kita beda sekolah dengan Vani. Jadilah aku tukang pos yang menerima dan menyampaikan surat kalian berdua, karena kebetulan rumah Vani dekat dengan rumahku. Aku dan Vani teman masa kecil dari sekolah dasar.

Setelah beberapa bulan jadi pak pos di antara kalian, aku heran di bulan-bulan berikutnya aku tidak mendapatkan titipan surat dari kalian lagi, aku bertanya pada Vani suat hari, dia bilang kalian udah putus. Salman memutuskan aku, katanya dia tidak bisa menjalin hubungan lagi sama aku, karena kami beda sekolah. Begitulah jawaban Vani kala itu, kulihat dia sedikit sedih. Dan kamu tentu tahu, aku tak berani menanyakan langsung padamu, kenapa memutuskan hubungan dengan Vani, karena aku malas lihat wajahmu waktu itu.  

Salman terkenal seorang yang suka gonta ganti pacar, beberapa teman di kelas satu dan kelas dua dipacarin sama Salman, mungkin selang sebulan atau dua bulan pasti sudah ganti lagi. Aku heran apa sebenarnya istilah berpacaran bagi mereka atau bagi Salman sendiri. 

Ulah berikutnya dia suka bolos di jam belajar, suka ikut bikin rusuh dikelas tapi dia pintar main gitar. Itu yang aku suka darinya. Entah kenapa aku begitu menyukai musik dan sangat mengagumi orang yang begitu sangat pintar memetik gitar. Meski suara Salman tidak merdu kala bernyanyi, tapi aku bersimpati karena dia jago main gitar. Aku bahkan belajar memetik gitar, tapi masih belum bisa lancar. Selalu telat memindahkan kunci-kunci yang kurasa rumit, maka aku sangat senang jika ada teman menawarkan aku untuk belajar. Sampai seminggu tiga jari tangan kiriku terasa seperti mengeras dibagian ujungnya.

Aku sendiri kala itu belum mulai suka atau tertarik bepacaran seperti teman-teman yang lain. Aku lebih suka pergi keperpustakaan atau berkumpul dengan teman-teman dikelas. Kadang ada yang membawa gitar untuk berlatih atau untuk iseng saja kala pas jam istirahat, ruang kelas jadi arena paduan suara, aku juga ikutan menyanyi jika lagu itu aku suka, yang memetik gitar gantian, kadang Salman, gantian sama teman yang lain. Aku mengagumi mereka semua yang bisa memainkan gitar. Kami banyak menyanyikan lagu-lagu romantis dalam bahasa daerah tempat tinggal kami. Dan sesekali menyanyikan lagu yang lagi hits kala itu, lagu asal Malaysia atau lagu dalam negeri sendiri. 

Perubahan Salman terasa olehku saat di kelas dua, dia jadi sering memperhatikan aku. Entah aku punya insting apa merasa Salman sering melihat ke arahku. Sering malah mata kami bentrok dan saling bertatapan di beberapa kesempatan di kelas. Lebih sering jika jam istirahat, ketika kelas jadi arena vocal group atau jadi vocal solo. Aku yang sering memperhatikan mereka yang bermain gitar, jadi sering ketemu pandang sama Salman, aku yang merasa risih segera berpaling ke arah lain untuk kemudian aku merasa masih diperhatikan olehnya. Aku jadi malah gugup sendiri jika sudah begitu, maka jalan keluar adalah pergi ke perpustakaan, menghindari Salman. 

Semakin hari perubahan Salman terlihat lebih baik, dia jarang bolos meski sesekali masih melakukannya. Tapi tidak separah yang lalu-lalu. Intensitasnya memperhatikan aku juga semakin sering kurasakan, bahkan beberapa teman kelas menyampaikan salam dari Salman untukku. Itu cara kita dulu, saat seseorang menaksir orang lain, dia akan titip salam lewat teman lalu jika berlanjut maka sebuah surat akan datang menyapamu.  Aku merindukan masa itu, masa yang sangat langka saat ini yang sering di sebut Zaman Now.

Aku sangat senang dalam hati akan titipan salammu, aku hanya bilang ke teman yang menyampaikannya terima kasih. Tapi aku tidak titip salam balik untukmu. Tidak akan. Aku tidak suka sifatmu yang suka mempermainkan perasaan wanita. Jadi aku anggap titip salam darimu seperti angin, hilang begitu saja, meski dalam perasaan lain aku berharap itu benar-benar untukku dan bukan main-main seperti yang sering kamu lakukan pada teman-temanku. 

Sampai suatu sore aku menerima surat dari Salman, itu surat cinta pertamaku yang aku sambut penuh suka cita. Dulu pernah menerima surat lain tapi aku hanya menganggap itu sebagai mainan saja. Di samping aku juga tak menyukai orang yang mengirimiku surat itu. Jadi aku tak menyambutnya sebahagia mendapat surat dari Salman. Meski aku benci pada Salman, tapi aku senang menerima surat itu dari teman sekelas yang jadi pos antara aku dan Salman.

Surat yang berisi permohonan maaf bila aku terganggu dengan titipan salam darinya, menceritakan dia yang sedang berharap berteman dekat denganku, bahwa kali ini bukan permainan baginya, ini jatuh yang sesungguhnya baginya. Aku heran darimana Salman tahu kalau aku merasa ini sebuah permainan baginya, aku tak pernah cerita pada siapapun tentang perasaanku dan benciku padanya. Sok tahu nih, Salman.  

Entah surat yang keberapa kali dia menyatakan padaku, bahwa ini benar-benar jatuh cinta yang terburuk, terburuk karena dia ditolak. Belum pernah ada dalam kamus pacarannya dia ditolak cewek selama ini. Dan aku menolaknya selalu dalam balasan suratku selanjutnya. Alasanku sederhana, aku tidak mau pacaran, masih fokus belajar. Jadi sia-sia jika dia terus berharap. Aku hanya mau berteman saja dengannya, meski Salman di surat selanjutnya menulis bahwa akan menungguku membuka hati untuknya, bahwa kali ini dia merasa dirinya tak berarti apa-apa jika aku membiarkannya terpuruk sendirian. Tapi aku menikmati keterpurukannya, biar dia tahu rasa. Mempermainkan perasaan orang itu tidak baik dan tidak enak rasanya. Jadi kejadian ini biar menjadi pengalaman terbaik untuknya. Biar tidak sesuka hati menyakiti perasaan orang lain.

“May,,,! May, tunggu. Aku mau bicara sebentar saja. Boleh ya.” Kejar Salman siang itu ketika mendapatiku di gedung perpustakaan. Aku melihatnya duduk disampingku yang sudah lebih dahulu duduk dibangku panjang depan gedung.

“Aku kesini bukan mau merayu atau gombalin kamu kok, jadi kamu nggak usah pergi. Aku cuma mau bilang selamat belajar dan selamat menempuh ujian besok senin.”

“Oh, eh terima kasih, Man. Selamat belajar juga buat kamu. Semangat.”

“Aku nggak bisa semangat, wong semangatnya kamu ambil.”

“Loh, kok aku. Kan yang belajar kamu. Gimana bisa aku mengambil semangatmu? Mulai ngawur lagi deh.” Aku buang muka. Malas. Sudah sering dia merayu dan itu membuat aku kesal. Jadilah kami bertengkar hal-hal yang nggak jelas. Dan hari ini aku sedang tak ingin bertengkar dengannya. 

“Aku serius, senin besok aku nggak bisa ikut ujian.” Salman mendesah.

“Loh, kenapa lagi? Ya sudah, kalau nggak bisa ikut kan bisa ikut ujian susulan minggu berikutnya.” Aku masih tidak peduli. dan tidak bertanya juga kenapa dia nggak mau ikut ujian. 

“Tetep aja nggak bisa, biarin aja aku tinggal kelas. Mungkin akan mengulang setahun lagi di kelas dua.” Salman tetap melanjutkan. Aku mulai berpikir dia sungguh-sungguh. Dia seperti orang putus asa.

“Lalu kenapa menceritakannya padaku? Aku bukan kepala sekolah atau wali kelas kita.” Aku masih malas menanggapi Salman yang mulai aneh menurutku.

“Ya karena ini semua sebabnya ada sama kamu. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas situasi yang menimpaku saat ini.”

“Apa, aku salah apa sama kamu, heh. Ngaco deh Man.”

“Aku hanya akan ikut ujian jika kamu berjanji satu hal padaku. Janji...” Salman menunjukkan jari kelingking tangan kanannya.

“Berjanji apa?”

“Kalau hari ini kita akan berteman dan tidak akan bertengkar lagi. Aku capek berantem terus sama kamu. Dan hari ini kita adalah orang yang saling menyayangi, sampai waktu yang akan bercerita di antara kita.”

“Jika untuk berbaikan dan tidak bermusuhan aku sanggup. Tapi kalimat terakhirmu saling menyayangi sampai waktu yang akan bercerita di antara kita, apa maksudnya?” Aku kenapa jadi ingin penjelasan lebih.

“Aku ingin kamu menerima cinta dan jadi pacarku.”

“Apaan nih, kalau aku menolak?”

“Maka, aku tidak akan ikut ujian hari senin.”

“Apa ini sebuah ancaman?”

“Ya, Jika kamu menolak.”

“Apa cinta itu harus memaksa?”

“Ya, jika itu sudah tidak ada jalan lain.”

“Jadi selama ini kamu sering memaksa jika ada yang menolak permintaanmu?”

“Tidak, aku tidak pernah memaksa. Kecuali sama kamu, kali ini. Karena kamu keras kepala.”

“Apa kamu bilang, aku keras kepala?”

“Maaf, keceplosan. Hehehe. Maaf ya. Tapi jika kamu menolaknya maka aku pastikan Senin besok aku tidak akan ikut ujian, biarkan saja aku mengulang kembali di kelas dua. Belajar lagi untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, mencintai orang yang tidak punya hati dan perasaan. Yang tega membiarkan aku mengejar tanpa perduli betapa berat aku menjalani dan menerima ini semua.”

“Aku juga akan mengatakan pada semua orang alasanku kenapa aku tidak ikut ujian, biar...”

“Salman, cukup! Kamu ini keterlaluan.” Aku mulai goyah. Tapi aku sangat geram dan ingin memukuli Salman jika tidak ingat kami masih di sekolah dan banyak teman-teman yang berlalu lalang di sekitar kami. Dan aku juga tidak ingin jadi alasan, kenapa dia tidak mau ikut ujian.

“Lalu, gimana?” Salman masih dengan jari kelingkingnya.

“Tapi kamu juga harus janji satu hal sama aku.” Aku mulai luluh, tidak tega.

“Oke, katakan.” Salman bersemangat. Sinar matanya berkilatan bahagia. Aku membuang pandangan ke arah lain.

“Kamu harus janji, tidak akan bolos lagi nanti di kelas tiga, belajar dengan baik, mencontohkan hal baik kepada adik-adik kelas, belajar menjadi senior teladan dan satu lagi...”

“Apa, katakan May.” Dia menatap mataku, aku membalas tatapannya, aku terjebak didalamnya. Lalu berpaling perlahan menatap ujung sepatuku.

“Aku menerima tawaranmu, kita berteman dan...”

“Kita adalah sepasang orang yang saling mencintai.” Salman menyambung kalimatku yang perlahan melemah karena aku malu mengatakannya secara langsung.

“Apa kamu juga mencintaiku?” Pertanyaan Salman yang masih penasaran.

“Mau gimana lagi, aku dipaksa. Apa perlu dicabut lagi kata-kata itu?”

“Jangan, Jangan. Aku sangat senang dengan pernyataan itu. Selebihnya biar waktu yang berbicara diantara kita. Aku pastikan ujian besok adalah hari-hari terbaik dalam hidupku.” Salman menautkan jari kelingking kami berdua. Lalu kami sama-sama tertawa.

 

***

Masih di kamar dengan paket Salman yang masih terbungkus rapi. Perlahan aku membukanya. Tak baik juga membiarkannya. Bukankah ini dia kirimkan penuh pengorbanan dan perasaan cinta, satu persatu aku mulai melepas plastik yang menempel disana. Paket itu berisi dua coklat batang kesukaanku dalam ukuran besar, kartu ucapan selamat ulang tahun, dan di kertas sebelah kanan dia tempelkan fotoku dan di sebelah kiri foto Salman, foto itu saat kami masih sekolah menengah atas dulu. Aku memeluk foto itu ke dada, aku merindukan Salman.

Sore itu aku langsung meneleponnya dan mengucapkan terima kasih atas paket kirimannya, aku mengatakan jika paketnya terlalu cepat sehari, aku ulang tahunnya besok. Tapi Salman bilang, justru dia yang khawatir telat sampai. Setelah ngobrol sebentar dan menanyakan kabar kami memutuskan telepon. Salman dengan kalimat rindunya dan aku yang hanya bisa pasrah menunggu,  kapan Salman mengatakan dia akan datang kesini mengunjungiku. 

Aku yang masih menyayangi Salman, masih berharap dia ada untukku. Meski aku tahu itu adalah kemungkinan yang mustahil. Tapi siapa yang tahu kalau suatu waktu dia akan datang dengan wujud nyatanya yang kutunggu selama ini. Aku memang belum pernah pulang  mengunjungi ibu dan keluargaku dalam empat tahun terakhir, aku sibuk kuliah dan bekerja, belum mendapat waktu yang tepat, meski dengan teknologi sekarang ini yang canggih, aku selalu menelepon keluargaku. Di tambah jarak yang sangat jauh dan biaya perjalanan yang lumayan besar, aku merencanakan pulang liburan sekolah nanti, di bulan Juni. Tapi aku tidak mengatakannya pada Salman. 

Dilain cerita aku membiarkan juga sisi hatiku yang lain di isi sebuah nama. Aku juga membiarkannya menyusup ke relung hati dan berkembang semakin mekar disana.  Dimana aku harus bertanya akan hal ini, apakah waktu akan menceritakan kelanjutannya?


Gambar: teuingahlieur.wordpress.com

  • view 74