Biar Waktu Yang Bercerita #2

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Januari 2018
Biar Waktu Yang Bercerita #2

Hari terus berganti, persahabatan dengan Ulfa juga semakin erat. Seiring hubunganku dengan Ari juga semakin terlihat seperti sepasang kekasih, dia sering menjemput aku jika kebetulan dia pulang sore atau kadang kami sering liburan bersama, sekedar jalan-jalan, menonton film bioskop, menemaniku berburu buku di toko buku, atau menemaninya ke undangan pernikahan temannya.  Ulfa terlihat sangat bahagia dengan kemajuan hubungan pertemananku dengan Ari yang terus melangkah maju, dia juga masih terus menggoda aku untuk segera melupakan Salman. 

Aku juga semakin akrab dengan teman-temannya Ari, hampir selalu mereka menjodoh-jodohkan kami sebagai pasangan yang serasi. Padahal aku dan Ari masih status berteman, belum ada kata pacaran diantara kami berdua, jadi mendengar ocehan teman-temannya kami hanya tertawa saja. Jika setiap kali pergi liburan yang jaraknya jauh kami pasti rombongan, selalu sama Ulfa dan beberapa teman kantor Ari yang lain. Pastinya tidak hanya berdua, nggak seru kataku. 

Hari-hariku penuh dengan warna bersama Ari. Aku bisa  melupakan sejenak rasa penat bekerja seharian dikantor, dia selalu bisa membuat lelucon yang mengundang tawa atau ngobrol hal-hal yang nggak penting sekalipun menjadi topik penting buat kami jika sudah memulai cerita. Dia suka Club Bola Mancester United dan Real Madrid. Pemain kesayangannya adalah Cristiano Ronaldo atau sebutan bekennya CR7. Dan dia suka mengoleksi jersey kedua club bola itu.

Suatu kali Ari pernah bertanya padaku tentang perasaan terhadap seseorang saat kami menikmati jalan sore di taman kota, dia bertanya apa aku pernah jatuh cinta? Apa aku punya pacar? Apa aku salah satu orang yang menutup diri tentang cinta? Karena menurutnya selama aku berteman dengannya dia jarang melihat atau aku bercerita soal orang lain selain pekerjaan atau keluargaku yang jauh di Sumatra. 

Dan aku menjawab pertanyaannya pernah. Dulu, pertama kali, aku pernah jatuh cinta saat masih sekolah, selagi masih berseragam putih abu-abu. Lalu sampai sekarang belum jatuh cinta lagi.

“Kalau aku bilang punya pacar, toh kamu nggak percaya karena tidak bisa melihat wujud cinta yang aku ceritakan, jadi cintaku itu jauh, tinggal di Sumatra, aku disini bersama bayangan dan kenangan bersamanya. Meski sesekali kami masih berhubungan lewat telepon dan surat. Kami menjalani cinta jarak jauh.” Aku mulai menjelaskan hubungan cintaku pada Ari, entah kenapa aku butuh teman untuk bercerita setelah selama hampir empat tahun aku berusaha tertutup dan kini aku membutuhkan orang yang bisa aku ajak bercerita. Dan Ari adalah teman yang baik, seorang pendengar yang baik juga.

“Ohh, kasihan sekali kisah cinta itu. Lalu kenapa kamu tidak mulai pertemanan dengan orang lain jika kamu memang membutuhkan teman bercerita?” Ari terus ingin tahu masa laluku dan kisahku.

“Aku belum menemukan orang yang tepat saja untuk berbagi cerita sejak dulu. Aku juga malas membahasnya, palingan sama Ulfa, dan ini aku menceritakannya padamu. Karena aku mulai percaya kamu orang yang baik. Seperti kata Ulfa, dia gak pernah berhenti memuji dan bilang kamu adalah orang yang baik.” Aku tersenyum padanya.

“Oh ya, sekarang gantian. Biar impas, kenapa kamu juga belum punya pacar? Ceritakan kisah kamu di masa lalu, aku jadi pengen tahu.” Cecarku kemudian, membuatnya terdiam lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.

“Kisah cintaku tidak sebaik kisah kamu. Mungkin bisa masuk kategori terburuk. Dulu sih punya kisah-kisah cinta monyet waktu sekolah, dan ini kisahku yang terakhir. Maksudnya, aku di tinggal menikah sama pacarku. Itu yang terakhir aku ingat, atau mungkin juga tidak jodoh. Dan aku sudah tidak mau mengingatnya lagi. Tragis memang.” Ari mengakhiri ceritanya, singkat. Aku penasaran.

“Trus, kok bisa putus gitu aja? Apa ada masalah?”

“Sedikit, mungkin aku belum pantas untuknya.”

“Boleh aku tahu ceritanya?”

“Hem,,, Dulu itu, orang tuanya ingin kami segera menikah. Mereka terus bertanya kapan setiap kali aku maen kerumah mereka, waktu itu jujur aku belum siap, maksud aku pekerjaanku belum jelas meski sudah bekerja tapi gajiku masih belum cukup untuk biaya menikah. Aku juga menumpang tinggal di rumah kakakku, dan lebih parahnya adalah orang tuaku juga kurang setuju dengan hubungan kami. Aku tidak tahu alasan kuat apa yang membuat orang tuaku tidak merestuai hubunganku dengannya.”

“Kamu tentu tahu, ada sebagian orang yang suka percaya hal-hal yang berbau mitos, aku orang Jawa asli dan dia orang keturunan Sunda. Entah darimana mitos itu, bahwa pamali orang Jawa menikahi orang keturunan Sunda. Meski banyak juga yang sudah menikah antar dua suku ini. Aku sebenarnya tidak mau percaya dengan mitos itu, tapi orang tuaku menentang hubungan kami. Jika ada wanita lain kenapa harus memilih dia. Ibuku selalu saja berkata seperti itu. Aku juga tidak mau jadi anak durhaka, maka aku mundur dari hubungan kami, apalagi orang tuanya menanyakan terus kapan aku akan melamar anaknya. Itu membuat aku sedikit frustasi”

“Dan hubungan kami pun retak, orang tuanya tidak mau menunggu lama dengan status berpacaran saja. Dia sebenarnya tak keberatan menunggu aku sampai bisa ngumpulin uang untuk melamarnya, tapi orang tuanya nggak sabaran. Dia juga tidak bisa menentang keinginan orang tuanya, maka setelah putus denganku, mereka langsung menjodohkannya dengan pria lain pilihan orang tuanya. Dilain pihak, aku belum juga mendapat restu dari orang tuaku, jadi hubungan kamipun putus.” Ari berhenti sejenak, dia menunduk. Aku merasa dia sedih, aku tak mau memotong ceritanya, selain aku yang memintanya memulai bercerita, juga karena aku penasaran kelanjutan ceritanya.

“Jujur aku sangat terpukul, sedih berhari-hari bahkan sampai sebulan. Aku seperti orang stres, dari sana aku mulai mengenal rokok, awalnya nyobain punya abang ipar dirumah, lama-lama aku jadi ketagihan, sebelumnya aku tidak menyukainya dan sampai sekarang, bahkan sulit untuk bisa berhenti merokok. Maka jadilah rokok menemani hari-hariku dikamar, keluar kalau mau makan atau mandi saja. Sampai kerjapun aku bolos dengan alasan sakit parah. Beruntungnya, kakak aku salah satu staff dikantor dan menjelaskan keadaanku, aku sakit, alias patah hati dan berakibat aku sakit parah sampai berhari-hari. Entahlah, nggak jelas aku sakitnya apa. Aku bersyukur perusahaan bisa memberi kelonggaran buatku saat itu.”

“Mungkin ini yang dinamakan tak jodoh, sekuat apapun kita mempertahankannya, jika bukan milik kita maka Tuhan selalu punya cara lain untuk memisahkannya. Aku berusaha tegar. Sejak itu aku belum memulai lagi mendekati apalagi jatuh cinta sama yang namanya perempuan. Sudah hampir setahun lebih aku tidak berhubungan dengan wanita, sampai aku... “ Ari berhenti, lalu melirik ke sampingku, aku yang sedang fokus mendengarkan ceritanya juga berpaling ke arah Ari, kenapa dia berhenti bercerita. Aku bertanya lewat tatapan mataku, memintanya melanjutkan.

“Sampai aku dikenalkan sama orang yang bernama, Maya.” Aku melihat senyum di bibirnya, kemudian dia melanjutkan. “Aku diajak Javet menjemput kamu dulu itu karena dia ingin mengajak aku dan teman-teman makan baso, sekalian jalan-jalan sore waktu itu. Aku baru tahu akan dikenalkan sama kamu ketika dia bilang, sebelum makan baso kami akan menjemput Ulfa dulu. Sekalian ngajak dia juga dan mengenalkan aku sama cewek super tomboy, temannya Ulfa.”

“Aku langsung berusaha menolak, aku belum siap berkenalan sama cewek apalagi disuruh dekat sama cewek. Tapi Javet bilang, kalau kali ini beda sama cewek lain, pokoknya beda. Javet yang sangat tau apa yang terjadi padaku setelah kejadian aku putus sama mantan waktu itu, selalu mencoba untuk membuat aku bangkit dan melupakan masa lalu yang buruk. Bukan kali itu saja dia selalu mencoba mengenalkan aku dengan cewek yang dia anggap baik untuk dikenalkan padaku. Selalu gagal karena aku tidak pernah mau. Aku menutup diri berteman dekat dengan cewek” Dia menghela nafas panjang dan mendesah.

“Tapi saat diajak kenalan sama kamu waktu itu, aku sudah kepalang tanggung. Karena dia baru bilang ketika kami sudah sampai di depan kantormu. Yang kutahu alasannya sebelum itu hanya untuk menjemput Ulfa. Dan karena udah disana mau nggak mau aku harus menahan rasa dongkol pada Javet karena merasa sudah membohongiku.” Ada geram dalam nada suara Ari saat bercerita, mungkin kesal sama Javet waktu itu. 

“Apa kamu tau yang dia katakan waktu itu?” Aku hanya menggeleng menatap matanya yang juga menatap mataku. Ada cahaya berkilauan disana, aku bingung sama perasaan yang aku miliki saat ini. Jantungku berdebar tak menentu, jika saja Ari bisa mendengarnya, aku pasti akan sangat malu.

“Ini cewek pokoknya beda, Gua nggak bohong Ri, sumpah Gua juga baru ketemu sama cewek model begini. Kalaupun ada yang lebih dari ini, menurut gua lewat. Yang ini unik. Kalau saja gua belum punya Ulfa, gua maulah rebut dan kejar nih cewek. Begitu kira-kira Javet menghibur aku yang lagi kesal karena merasa dibohongi sama dia. Dan pas lihat kamu waktu itu dijalan, dengan wajah setengah malas atau emang kamu juga gak suka ya, kemarin pas diajak kenalan sama aku. Kelihatan mukanya muka bete banget. Kayak nggak suka diajak jalan bareng. Benerkan?” Ari menunjuk ujung hidungku dengan jari telunjuknya.

“Sok tahu kamu. Aku memang lagi nggak mau diajak makan baso waktu itu. Masih kenyang.” Kilahku berkelit. Membuang muka. Ada rona yang menjalari wajahku yang membuat aku merasa harus melihat ke arah lain. Ada getar dihatiku yang tak kuingin Ari tahu, karena aku masih belum yakin pada perasaanku sendiri.

“Lalu, kamu datang sama Ulfa, kamu mengekor dibelakangnya. Diam saja seperti orang salah tingkah, hayo ngaku, bener kan?”

“Ari, apaan sih. Ya enggaklah, dulu itukan aku emang nggak mau ikut, tapi Ulfa memaksa. Jadi aku nggak tega. Dengan perjanjian aku nggak bisa lama-lama. Mau pulang. Ada urusan.”

“Tapi kali ini, Javet benar. Aku suka pertemuan pertama kita. Aku jadi ingin berteman denganmu dan membuka lebar-lebar pintu pertemanan untukmu. Aku membuang jauh-jauh rasa benciku pada cewek selama ini. Kamu memang lain dan... unik. Hanya aku tidak bisa menjelaskannya, dari mana aku merasa jika kamu beda.” Ari kembali melirik padaku, dia tersenyum manis. Aku menunduk.

Ketika kita menyukai seseorang, bukan berarti kita pasti akan suka selamanya. Ada masa-masa rasa suka itu berkurang, bahkan hilang sama sekali. Tetapi juga bukan berarti kalau sudah tidak suka lagi, maka selesai begitu saja. Itulah gunanya komitmen, kepercayaan, yang akan membawa kembali perasaan suka, persis seperti pertama kali dulu kenapa kita suka seseorang tersebut, atau malah lebih.

Kembali aku ingat pada Salman, benarkah perasaanku padanya mulai berkurang seiring waktu yang memisahkan kami dengan cerita yang belum pasti ujungnya berakhir kemana. Dan sepertinya Salman juga seolah tidak perduli dengan hubungan kami. Bahkan dulu dia pernah berapa kali berjanji akan datang mengunjungiku ke daerah Jawa ini. Sekalian mau lihat tugu monas katanya. Namun sampai sekarang semua hanya kata-kata kosong.

Apakah aku mengkhianati janji? Sepertinya tidak, aku dan Ari hanya berteman dan merasa cocok jadi sahabat. Apa yang salah dengan persahabatan ini. Tentu saja tidak ada yang salah menurutku, tapi menurut Salman ini salah dan dia cemburu suatu kali ketika aku bercerita padanya soal persahabatanku dengan Ari. Dan dia menutup sambungan telepon begitu saja tanpa memperdulikan penjelasan aku.

 “Terima kasih sudah mau menjadi temanku. Aku baru kali ini punya sahabat sekaligus teman main seperti ini. Aku senang berteman denganmu. Kamu orang yang baik. Terima kasih, Ri”

“Kalau kamu percaya padaku dan aku adalah orang baik menurutmu, lalu kenapa kamu tidak memberi dan membuka hati untuk menerima aku sebagai pacar kamu saja? Aku bahkan telah menaruh hati padamu sejak pertama kali kita bertemu di depan gedung kantormu itu.”

“Dan beberapa kali juga aku memperlihatkan padamu kalau aku menyukaimu tapi kamu selalu menganggap semua itu sebagai perhatian seorang teman saja. Tapi baiklah aku terima saja. Aku memang menyedihkan ya. Kasihan sekali.” Ari mendesah pendek dan menatap langit sore yang sedikit mendung. Kalimatnya ini sudah lebih dari cukup menjelaskan kalau Ari memang menyukaiku, mengatakannya juga tidak pakai rayu-rayu atau pakai bunga seperti di sinetron televisi, tapi aku tidak peduli. Aku menyukai Ari yang seperti ini, bukan orang yang suka gombal-gombal mengumbar kata-kata, bikin muntah mendengarnya.

“Aku tau Ri, tanpa harus kamu katakan. Aku juga mendengar dari Ulfa dia selalu menebak kalau kamu menyukaiku. Dan anak itu memang dasar, selalu saja bisa membuat aku terpojok dan tertawa.” Aku mengalihkan pandanganku dan menatap jalan kota yang ramai.

“Tapi aku nggak main-main May, jika nanti kita jodoh dan kedepannya tidak ada rintangan berarti, aku nggak mau kamu pergi kemanapun. Aku mau kamu jadi pendamping hidupku. Aku udah nggak mau kehilangan lagi. Aku juga muak dengan kesendirian.”

“Apakah ini semacam pernyataan cinta atau...”

“Bukan hanya pernyataan cinta, tapi aku ingin kamu juga menerimanya, jika tidak mau, aku akan memaksa.”

“Apakah cinta juga harus memaksa?”

“Iya, kalau terdesak, karena aku tidak mau kehilangan lagi, capek hati berdiam sendirian.”

“Aku masih punya hubungan dengan orang lain, aku tidak bisa menjalani keduanya.”

“Aku yakin kamu bisa memutuskannya.”

“Kenapa bisa seyakin itu?”

“Aku bisa melihatnya dimatamu.”

“Sok tahu nih kayaknya.”

“Akan aku tunggu keputusanmu. Aku percaya padamu.” Ari mengajakku pulang, hari ini sepertinya mau turun hujan.

Dia mengantarku pulang dan tidak membahas lagi yang tadi kami perdebatkan di taman kota. Dia biarkan melebur bersama senja sore itu, dia tidak tahu perseteruan dalam hatiku semakin membuatku bingung apa yang harus aku lakukan dengan pernyataan Ari tadi. Aku tahu dia menyukaiku lebih dari teman, dari awal. Aku saja yang selalu membantah perasaanku sendiri dengan pura-pura tidak perduli pada perhatian dan yang dia lakukan untukku.

Semua karena satu hal, aku masih menjalin dan belum memutuskan hubungan dengan Salman. Aku merasa mempermainkan perasaan dua orang yang sama-sama aku sayangi. Meski kadar rasa sayangku pada Salman kian hari aku rasa semakin berkurang. Dan beberapa minggu terakhir ini juga aku malas berhubungan dengan Salman di telepon, malas dengan gombalannya, malas dengan semua ceritanya. Aku butuh kamu, bukan ceritamu, suatu kali aku mengatakan hal itu padanya.

Saat sampai dirumah kost, tetangga menyetel musik dengan suara sedikit kencang, mungkin suka lagu itu. Lagu terbaru band Ungu. Judulnya Demi Waktu. Sepanjang menuju rumah aku mendengarkan lagu itu, merasa lagu itu dinyanyikan khusus untukku pada saat itu. Seandainya bisa ku harus memilih. Seandainya. 

Sesuatu yang indah, tak selamanya akan selalu indah. Akan ada sesuatu pula yang membuatnya berlalu dan hanya menjadi kenangan. Ini semua bukan tentang berapa banyak waktu yg kita punya. Tapi tentang bagaimana waktu itu bisa berlalu dengan indah. Salman, katakan sampai kapan kita seperti ini?.

Gambar: amaliasyahidah.wordpress.com

  • view 133