Biar Waktu Yang Bercerita #1

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Januari 2018
Biar Waktu Yang Bercerita #1

Pagi itu di kantor tempat aku bekerja kedatangan seorang staf baru. Kata bos aku tadi, dia akan merekrut seorang staf baru untuk membantu aku, mengurusi data-data keluar masuk barang tekstil yang sedang kami  produksi saat itu. Aku senang mendengarnya, ini berarti akan membantu meringankan beban pekerjaanku, berupa laporan yang selama ini aku urus dan bereskan sendiri. Terkadang jenuh juga, meskipun aku bisa membereskannya sendiri, tapi jika ada teman yang akan membantu, aku tidak akan menolaknya. Itu malah akan terasa lebih baik, setidaknya begitu menurutku.

Kantor aku memang sedang kebanjiran job, banyak pekerjaan yang harus segera selesai sebelum tanggal jatuh tempo yang telah ditentukan oleh buyer, sebuah perusahaan yang telah mempercayakan pekerjaan itu kepada perusahaan kami. 

Dan aku sudah biasa bolak balik antara gudang bahan tekstil ke area produksi, lalu ke area kantor lantai dua, kemudian area packing, lalu kembali lagi ke area produksi. Aku tak bisa menghitung dalam sehari aku harus kesana kemari mengurusi kelancaran pekerjaan setiap hari. Aku seorang leader yang mengepalai dan bertanggung jawab atas pengiriman atau ekspor barang yang sedang kami produksi. 

Pernah suatu kali bos mencari aku, dan aku sedang bolak-balik antara area packing dan area produksi. Aku tidak memperhatikan jika sedari tadi si bos sudah memanggilku sampai salah satu rekan kerja di produksi memperingatkan agar aku menemui si bos.

Setelah berbicara masalah pekerjaan kemudian dia bilang, “Kamu perlu seorang asisten untuk membantumu agar tidak mengerjakan semua ini sendiri. Saya akan segera mencarinya.” Mendengar itu aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih Mr. Kim” Lalu si Bos keturunan Bangsa Korea itu pun berlalu ke arah kantor di lantai dua. Dan berharap semoga nanti aku mendapatkan rekan kerja yang cocok.

***

Masih berkutat dengan laporan sepagi itu yang masih belum kelar aku kerjakan, aku dihampiri seorang petugas security dan seorang lagi perempuan berbaju rapi, memakai kemeja putih dan celana panjang hitam. Rambutnya panjang di ikat rapi kebelakang kepala, dengan riasan wajah ber make up dan lipstik tipis. Satu kata untuk penampilannya, cantik dan modis.

Aku berdiri menyambutnya, “Ini ruang kerja Bu Maya, Bu Maya ini ada staf baru untuk membantu ibu kata Bos, namanya siapa tadi, Neng?” Pak Didin petugas keamanan menanyakan kembali nama staf baru itu.

“Ulfa, Pak. Selamat pagi, Bu Maya.” Dia mengulurkan tangan bersalaman yang tentu saja aku sambut gembira dan memberinya senyum manis yang aku punya.

“Selamat pagi Bu Ulfa, selamat bergabung bersama kami. Semoga betah bekerja sama dan bisa menjadi partner kerja yang baik.” Aku lalu mempersilahkannya duduk.

“Makasih ya, Pak Didin.” Lalu pak Didin pamit keluar lagi untuk meneruskan tugasnya menjaga kemanan lingkungan.

Kemudian kami melanjutkan pekerjaan, seharian dia mengkikuti semua apa yang aku perintahkan padanya dengan baik. Dia juga bisa membuat laporan dan menganalisa data di lapangan. Aku sangat senang dan puas mendapat rekan kerja yang bisa bekerja sama dan menyambung ketika di ajak bertukar pendapat.

Setelah beberapa hari bekerja dan kami mengobrol di sela-sela sibuknya pekerjaan, ternyata aku lebih tua beberapa tahun dari umurnya. Lalu kami sama-sama sepakat untuk tidak saling memanggil dengan sebutan ‘ibu’ tapi dia akan memanggilku “Mbak Maya” dan aku akan memanggil namanya saja. Biar lebih akrab dan terkesan tidak kaku.

***

Aku dan Ulfa menjadi sahabat dekat. Dia senang bercerita dan aku yang agak pendiam jadi teman setia yang akan mendengarkan ceritanya, mulai dia berangkat dari rumah yang repotnya kalau mau mandi pagi karena dia tujuh bersaudara, yang semuanya adalah perempuan. Setiap hari harus rebutan kamar mandi di pagi hari. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit.

Jadi, dirumah mereka ada delapan orang, perempuan semua termasuk ibunya. Dia anak nomor enam, lima kakaknya yang lain sudah menikah dan tinggal satu adikknya yang bontot masih sekolah menengah atas.

Meski kakak-kakaknya sudah menikah tapi mereka sering main kerumah ibunya, jadi dirumahnya selalu ramai, aku senang mendengarnya, pasti seru jika ada tujuh anak perempuan berkumpul lalu membuat acara, tak bisa dibayangkan riuh rendah suaranya.

Suatu kali ketika kami sedang mengobrol, Ulfa mulai berani menanyakan hal yang menyangkut pribadiku. “Maaf mbak Maya, kalau boleh tahu apa mbak sudah punya pacar? Kepo aku jadinya, setiap pulang kerja atau pulang sore sekalipun, aku belum pernah lihat mbak Maya dijemput seseorang, maksud aku pacar.” Aku hanya tertawa menanggapinya.

“Belum pernah dijemput cowok, bukan berarti aku tidak punya pacar kan, Ulfa, ada dong.” Aku juga tidak mau kalah dengannya yang setiap hari pulang kerja sering di jemput pacarnya. Jika pacarnya lembur maka kami akan pulang bersama naik angkutan umum dan berpisah di pertigaan pasar karena kami beda jurusan angkutan umum selanjutnya. 

Aku pernah dikenalin sama pacarnya Ulfa, saat aku menemaninya menunggu pacarnya menjemputnya,. Namanya Javet. Orangnya tinggi, ramah dan ganteng. Juga sama isengnya seperti Ulfa, “Gak dijemput pacarnya Neng? Pulangnya sendirian aja.”

Aku menggeleng saja dan tertawa “Enggak A, Pacarnya Jauh. Gak bisa jemput, hehe. Sampai ketemu besok ya. Hati-hati, jangan mengebut. Ingat lagi boncengin cewek cantik.” Aku balas menggoda Javet, yang dibalas tertawa dan acungan dua jempol jari tangannya.

***  

Pagi itu setelah kemarin bertemu sama pacar Ulfa, dia datang sambil senyum-senyum menggoda aku dan aku jadi jengkel karenanya. Ketika laporan pekerjaan selesai dan aku sama dia santai tidak ada pekerjaan yang terburu-buru, dia mengajakku mengobrol.

“Mbak May, itu kemarin serius pacarnya jauh? Emang dia tinggal dimana? Semalam tuh dijalan, A Javet nanyain soal mbak terus sama aku. Dia bilang mbak itu tomboy, pakai topi, kalau gak karena aku sering cerita soal mbak dan lagi bareng sama mbak, dia nyaris nyangka mbak semalam itu cowok. Hahaha.” Ulfa blak-blakan cerita sama aku, dia tertawa ngakak sambil menutup mulutnya agar tidak di dengar oleh teman-teman yang lain. Kan jadi tidak enak, masa lagi kerja tertawa terbahak-bahak.

“Hush, berisik. Jadi kepo kan kamu. Pacar aku memang jauh, dia ada di Sumatra, pacar zaman sekolah, tapi kita masih berhubungan baik sampai sekarang. Kita LDR udah jalan tiga tahun lebih kalau nggak salah. Jadi kalau kamu sama A Javet nanyain terus, kapan aku bisa di jemput, maka jawabannya adalah, aku tidak akan pernah dijemput. Puas.” Aku tertawa saat aku lihat Ulfa bengong dan mendengarkan ceritaku.

“Selama itu mbak, lalu mbak percaya begitu aja kalau dia disana setia? Aduh mbak May kamu tuh dibohongin, aku nggak percaya selama itu bisa bertahan. Cowok, mana ada yang setia sampai bertahun-tahun gitu, satu banding seratus juta kalau ada mah.” Ulfa orang sunda asli, juga pacarnya yang sering dia panggil A Javet. Aku juga jadi ikutan memanggilnya A javet biar lebih terkesan sopan.

“Semalam juga A Javet bilang kalau mbak itu cakep, cuma tomboy, tapi keren katanya. Kayaknya jadi fans nih sama mbak May. A Javet kan suka pakai topi, persis kayak mbak. Kalau lagi naik motor aja pakai Helm. Trus dia bilang, kalau mbak pasti hemat banyak, soalnya nggak pakai make up, lipstik, alis de el el panjang deh. "

"Nggak kayak aku boros sama dandan dan penampilan. Lah gimana atuh, wong aku saudaranya perempuan semua, kakak yang udah pada nikah ngenalin make up setiap kali maen kerumah. Aku sama si bontot kadang jadi boneka rias mereka. Hahaha.” Aku pun ikut tertawa mendengar pembelaannya.

“Kalau soal penampilan aku memang suka yang simple aja, biar cepat beres, cepat selesai. Aku nggak suka dandan aja, lama dan buang-buang waktu. Paling biar terlihat tidak terlalu pucat aku pakai bedak tabur bayi dan sedikit lipglos di bibir. Pokoknya gaya simple dan tidak suka pakai rok. Hahaha” kami tertawa bersama sambil menutup mulut dengan tangan agar tak menimbulkan suara keras.

***

 Kesibukan demi kesibukan terus berganti, persahabatan dengan Ulfa kian erat. Dia sudah hampir tiga bulan lebih bekerja dan kami menjadi teman baik. Pernah aku diajak maen kerumahnya suatu kali, waktu itu di hari Minggu dan bertemu dengan keluarga besarnya. Aku sangat senang, mereka semua ramah dan seperti sudah lama kenal saja. Kami bercerita, mereka menanyakan tentang aku yang merantau, lalu tinggal dimana. Ibunya sangat baik, aku jadi merindukan ibuku saat mengobrol dengannya. Resiko anak rantau, Anak kost. Jauh dari keluarga. Ketika mendapat perhatian lebih seperti ini, suka jadi terharu.

Kemudian tak lama pacar Ulfa datang membawa buah-buahan untuk di buat rujak, jadi tambah ramai dan seru acara di hari minggu itu. Keluarga yang sangat baik dan ramah, sebagai orang rantau aku sangat bersyukur bertemu orang-orang yang baik seperti keluarga Ulfa.

Dan keesokan harinya hebohlah si Ulfa dikantor setelah pekerjaan beres, dengan dongengnya dan sisa cerita hari minggu yang belum juga tuntas baginya. “Mbak tahu gak minggu kemarin A Javet bilang apa sama aku.” Dia merapatkan kursinya ke arahku.

Aku menggeleng saja menanggapinya, “Emangnya dia bilang apa?”

“A Javet bilang dia mau ngenalin mbak sama temannya, teman dekatnya dikantor, di jamin orangnya baik, nggak neko-neko dan yang paling penting aku juga kenal orangnya. Dan menurut aku nih, orangnya baik banget, sering di ajak maen kerumah juga sama A Javet kalau mereka nongkrong bareng, jadi aku kenal dan satu lagi yang penting sama-sama jomblo kayak mbak May.” Ulfa terus nyerocos berbicara tidak pakai rem.

Tersedak aku mendengar kalimat terakhirnya, “Apa kamu bilang, aku jomblo? Kan aku udah pernah bilang, aku punya pacar di kampung dan kami sedang LDR hingga saat ini, kok kamu bilang aku jomblo sih.” Aku mencoba membenahi perbincangan ini. 

“Ya ampun mbak, itu mah yang jauh udah biarin aja. Kan ini maksudnya di kenalin juga buat teman mbak, bukan buat jadi pacar. Dan lagian kalau soal jodoh juga kan, itu urusan Tuhan, syukur kalau jodoh sama temannya A Javet, jadi kita temenan terus, mbak nggak perlu pulang ke Sumatra. Aku udah sayang sama mbak, kayak saudara aku sendiri dan maunya mbak disini aja.” Lalu Ulfa merangkul bahuku lembut.

“Baiklah, aku tidak menolak berteman, tapi aku marah jika kamu mengatakan aku jomblo terus. Meskipun LDR aku tetap punya pacar. Dan sampai saat ini aku masih menjaga perasaan ini untuk Salman, cinta pertama semasa sekolah menengah atas dulu, dan belum berubah sampai saat ini. Lagian belum kepikiran juga membuka hati buat orang lain. Semoga juga dia disana sama seperti aku disini yang selalu menjaga perasaan dan cinta yang sudah terjalin selama ini. Ya, Semoga saja.” Ulfa mendengarkan saja aku berbicara panjang sambil mendesah, ada nada prihatin dimatanya melihat aku sedikit tak bersemangat menjelaskan hubunganku dengan Salman. Sorot mata yang menaruh kasihan padaku.

“Amin, semoga saja ya mbak, bukan maksud aku merusak hubungan mbak sama Salman, aku hanya simpati dan menaruh perhatian sama mbak. Aku suka gaya mbak dalam bekerja sama, kepedulian mbak sama aku juga keluargaku, jadi nggak ada salahnya aku juga perhatian sama mbak."

"Maksud aku biar mbak ada teman saja, tidak sendirian terus kalau pulang kerja malam, paling tidak kalau ada teman cowok yang baik itu kan, bisa jadi penolong kalau terjadi apa-apa, bisa minta tolong ini itu, bisa anterin mbak kalau pulang lembur malam-malam. Iya kan.” Aku hanya mengangguk lemah. Tanda setuju dengan pendapat Ulfa, meski tak sepenuh hati menyetujuinya. Aku senang dia perhatian sama aku, jadi berasa punya saudara dekat.

“Tentu, terima kasih ya Fa, kamu memang teman yang penuh perhatian.” Aku membalas merangkul bahunya. Lalu kami kembali sibuk bekerja, berkutat dengan laporan dan pekerjaan hingga sore.

***

 Aku baru kembali dari ruang gudang bahan di belakang gedung ketika sampai di meja kerja, Ulfa langsung menghampiriku dengan tersenyum penuh arti.

“Mbak, barusan aku tadi dari ruangan bos, di suruh kasih tau mbak kalau hari ini kita bisa pulang sore karena target sudah tercapai dan tidak ada pekerjaan yang terburu-buru pengirimannya. Itu artinya sore ini jadi kita di jemput sama A Javet dan teman-temannya. Katanya sih kemarin mereka mau traktir kita makan bakso Sedep Mantep di pertigaan pasar yang terkenal enak itu. Ayo dong mbak, jangan nolak ya, aku udah keburu janji siap sama mereka.” Ulfa seperti anak kecil yang merengek minta jajan.

“Lah, yang janjian sama mereka kan kamu, kok aku di ajak? Malu ah, aku kan nggak kenal, Fa” Aku mencoba menolak halus.

Ulfa masih belum putus asa, “Iya, aku yang janji tapi aku juga udah bilang kalau aku mau ngajak mbak May, sekalian mau ngenalin sama temannya A Javet yang dulu pernah aku ceritain itu mbak.”

“Tapi Fa, aku malu. Kenalannya nanti-nanti saja. Aku belum siap. Kamu aja ya, aku nggak mau ikutan ah, malah nanti jadi gangguin acara kalian.” Masih dengan sopan aku mencoba menolak dan tak berminat bergabung. Aku pura-pura sibuk dengan laporan dan ponsel aku. Kebetulan ada sms dari Salman yang menanyakan kabarku.

“Mbak May, Please, ikut ya. Kalau mbak nggak mau lama, nanti bentaran aja. Anterin aku lalu boleh pulang. Iya, ya, ikut ya, mbak.” Kalau Ulfa sudah mengeluarkan jurus begini, manalah bisa aku menolaknya, matanya yang berbinar-binar penuh harapan tak mampu lagi aku menghindarinya.

“Baiklah, aku ikut. Tapi janji ya, cuma sebentar.” Akhirnya aku mengalah dan memutuskan ikut bersamanya. Aku melihatnya bernafas lega dan tersenyum lebar sambil mencubit ujung hidungku.

“Aku sudah menduganya kalau mbak nggak akan tega melihatku pergi sendiri setelah meminta mbak untuk ikut. Terima kasih ya, aku janji tidak akan lama.” Dan Ulfa pun bersiap-siap, merapikan dandannya, menyisir rambutnya dan memoles pipi serta bibirnya dengan ala-alat kecantikan miliknya yang selalu ia bawa didalam sebuah tas kecil.

Aku yang memperhatikannya jadi sedikit iri, merasa tak punya benda seperti itu, lalu aku mencoba melihat benda-benda itu satu persatu dengan Ulfa yang semangat menjelaskan kegunaan dan cara memakainya di wajahnya. Aku hanya mau memakai lip balm saja untuk menjaga bibir agak tidak kering. Aku juga tidak peduli dengan rencana Ulfa dan pacarnya yang hari ini merancang perkenalan dengan salah satu teman mereka. 

***

 Kami berdua sudah berada di luar pintu gerbang kawasan gedung perkantoran ketika jam menunjukkan pukul tiga sore. Ulfa sibuk dengan ponsel dan rambutnya yang sebentar terbang tertiup angin yang lumayan kencang sore itu, sebentar-sebentar tangannya ke kepala, membenahi rambut, sebentar ke ponsel lalu matanya ke arah jalan raya. Beruntung aku tidak tidak berambut panjang dan selalu pakai topi jika sudah keluar kantor, jadi rambut aman dari terpaan angin seperti sore ini.

Ulfa membuyarkan lamunanku sore itu tentang rambut panjangnya yang hitam, “Mbak, ayo, itu mereka parkir disana, pantesan dari tadi aku tidak melihatnya, kehalangan warung. Ayo, kita harus menyeberang.” Dia menarik tanganku agar mengikutinya, entah kenapa aku jadi tidak percaya diri dengan penampilanku saat ini, apa karena aku akan berkenalan dengan seseorang temannya Ulfa atau karena hal lain. Padahal aku berusaha cuek dan tidak perduli.

Aku jadi merasa tidak yakin dengan diriku sendiri dan penampilanku. Hanya memakai baju kaos putih dan jaket jeans biru yang sudah tampak lusuh, celana panjang model joger dan sepatu kets yang juga tampak lusuh karena keseringan dipakai, rambutku yang cuma sebahu, aku bungkus dengan topi dan sedikit ujungnya aku keluarkan lewat topi bagian belakang. Mirip ekor kambing yang kecil. Jangan membayangkannya.

Ketika kami sampai di seberang, Ulfa langsung menghampiri A Javet dan menyalaminya. Dia juga melakukan hal yang sama kepada tiga orang lagi di sekitar parkiran motor itu sambil terus berseloroh dan menanyakan kabar dalam bahasa sunda. Mau tak mau aku melakukan hal yang sama agar tidak di nilai sombong, teman Ulfa menjadi temanku juga. Menyalami mereka tanpa memperhatikan siapa mereka, aku hanya menunduk dan sesekali melirik lalu tersenyum, tidak kuasa menatap satu persatu siapa mereka. Aku, selain sedikit pendiam juga seorang pemalu, apalagi jika gabung dengan orang yang belum di kenal, jadi aku lebih memilih diam atau membaca buku jika itu memungkinkan saat itu.

Aku juga bahkan tidak tahu yang mana orang yang akan di kenalkan padaku, apa iya mereka semua ini dikenalin sama aku untuk jadi teman dekat? Aku lupa menanyakan nama orang itu sama Ulfa tadi sebelum sampai disini. Aku jadi pura-pura sibuk dengan ponselku dan sesekali melihat ke arah jalan raya.

“Neng Maya, kok diem aja. Ngobrol atuh, Nih Aa ngajak teman-teman ngejempu,t sekalian biar rame dan saya juga mau traktir makan bakso. Dapat bonusan dari lurah, hehehe. Bantuin acara minggu kemarin di desa. Ah ya, hampir lupa saya keasyikan ngobrol sama neng ulfa nih, kawan-kawan kenalin ini namanya Maya, teman kantor calon istri gua.” A Javet lalu berdiri dan menunjuk tiga orang temannya yang duduk di motor satu persatu.

“Dan neng Maya, yang ini si cungkring namanya Dodi, ini Ambon dan yang ini Matahari, panggil saja Ari. Nah Si Ari ini orang yang mau saya kenalin ke Neng, yang dua lagi itu mah udah punya pacar, tar kalau saya kenalin cewek lagi, nanti malah jadi saya yang di kejar-kejar sama pacarnya buat di gantung di pohon toge, hehe” Aku mengangguk saja kepada mereka tanda persahabatan. 

Kemudian mataku berhenti pada sosok yang namanya Ari, sebentar saja kami sempat bertatapan, sepersekian detik saja, aku mengangguk dan dia tersenyum. Aku buru-buru berpaling, sedikit rasa dalam diriku memberontak, bergelora, rasa yang telah lama ku pendam dan ku pupuk, sebentar saja mengaliri aliran darahku. Aku mendesah. Terasa berguguran entah apa dalam jiwaku, rasa yang selalu aku rindukan selama ini. Satu bagian lain dihatiku menyebut nama Salman, semoga dia baik-baik saja. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat padanya.

“Hai semua, salam kenal. Terima kasih udah jauh-jauh kesini. Tapi, maaf aku tidak bisa lama-lama, aku harus segera pulang. Ada keperluan lain.” Aku melirik Ulfa yang lagi ngobrol sama A Javet, meminta dia meneruskan kalimatku, kalau aku harus segera pergi.

Ulfa hanya mengangguk, tapi belum sempet dia bicara lagi A Javet sudah menyambung lebih dulu. “Loh, kok pulang. Kita makan dulu, baru nanti kami anterin pulang. Nggak lama ini, ayo dari pada nanti kesorean, kita cabut. Ayo!” Mereka serentak menyalakan motor masing-masing.

“Maya ikut sama Ari saja, ya. Kita nggak mungkin tumpuk tiga kan, hehe. “A Javet bercanda. Dan aku melihat Ari tersenyum mengangguk. Karena tujuannya ke arah yang sama mau tidak mau aku ikut dan merasa tidak baik menolak terus. Toh hanya ikut sampai pertigaan pasar.

Akupun ikut naik ke boncengan motor Ari. Berusaha sepanjang jalan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya, tas selempang yang biasa menyertaiku berada di tengah sebagai penghalang, aku bener-benar tidak nyaman. Sepanjang jalan juga Ari sesekali menanyakan tentang pekerjaanku, tinggal dimana dan kok bisa berteman sama Ulfa. Aku menjawab semuanya dengan singkat. Hemat waktu hemat energi juga. Perasaanku tidak karuan.

Lima belas menit kemudian kami sampai, Ulfa dan pacarnya juga sudah sampai, begitu juga dodi dan Ambon. Lalu mereka memesan menu yang sama untuk kami semua, bakso dan es teh manis. Saat makan bersama itu, suasana jadi lebih bersahabat dan cair. Seperti tadi dijalan aku kembali di pasangkan untuk duduk di kursi dekat Ari, aku menurut saja. Merasa terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Sekitar setengah jam kemudian, acara makan itu selesai dan kami pun bersiap pulang. Setelah basa basi sebentar denganku dan Ari, Ulfa pulang sama pacarnya. Dodi dan Ambon pulang bersama karena mereka sengaja berboncengan memakai motor Ambon, sedangkan motor Dodi di tinggal di rumah Ambon. Aku juga bersiap pulang tapi ari masih betah duduk disana sambil memainkan ponsel ditangannya.  

“Hem, eh, maaf saya mau pulang duluan ya, Ri. Udah sore. Makasih tadi udah bareng kesini, Ulfa juga ngasih taunya mendadak, kalau dia mau ngajakin makan di luar bareng.” Aku bingung harus memulai dari mana, canggung saja setelah sekian lama aku tak pernah ngobrol dan bersama cowok yang baru aku kenal.

“Oh iya, nggak masalah. Aku juga tadi mendadak di telepon sama Javet minta di temenin ngejemput pacarnya dan dia juga bilang tadi mau ngenalin kamu sama aku. Kebetulan lagi santai di rumah. Aku ikut saja. Aku yang harusnya berterima kasih kamu udah mau bareng aku tadi, soalnya aku tadi sedikit grogi, karena udah lama juga jarang bareng sama cewek. Jadi sedikit kaku aja tadi.” Dia tersenyum, lalu menyodorkan ponselnya padaku. Aku berpikir apa maksudnya.

“Boleh aku minta nomor ponsel kamu? Siapa tau kita bisa jadi teman di kemudian hari. Oh ya, nanti pulangnya aku anterin aja, biar lebih cepet sampai dan kebetulan aku juga tidak ada acara lain.” Ari menunggu aku mengambil ponsel itu.

Aku mencoba memikirkan alasan atau apa saja untuk menolak, tapi tidak bisa mendapat ide, buntu. Kenapa aku jadi salah tingkah dan kaku begini di hadapan cowok ini. Aku bahkan tidak bisa menolak dan langsung mengetik nomor ponsel aku, padahal tadinya aku berniat tak memberikannya. 

Aku mengembalikan ponselnya, lalu dia memencet layar itu dan tak lama aku mendengar ponselku berbunyi, “Itu nomor ponsel aku, aku akan menyimpan nomor kamu, oke, Ma ya Tom boy.” Dia mengetik namaku di ponselnya seperti yang dia sebutkan tadi dan menyimpannya. Aku melihat ke arahnya dan kebetulan dia juga sedang melihat ke arahku, sinar matanya untuk beberapa saat mengikat pandanganku lagi, aku terpana melihat binar matanya yang memancarkan kekuatan, namun aku menemukan kedamaian disana. Aku tersentak buru-buru berpaling dan mengangguk.

"Aku harus segera pulang, maaf kalau terburu-buru." Aku berjalan ke arah pintu restoran itu di susul sama Ari yang juga berjalan mendahului, dia mengambil motor lalu menyuhku kembali naik. 

Dia mengantarku pulang sampai di ujung gang tempat tinggalku, aku rasa cukup sampai disana saja. Aku bisa berjalan kaki beberapa meter untuk sampai kerumah, dia tidak mampir karena hari juga hampir menjelang magrib. Ketika dia sudah jauh, aku merasa kehilangan entah apa. Aku melihatnya sampai hilang dari padanganku. Ada sesuatu di rongga hatiku yang kini mulai terisi satu nama, Ari. Padahal aku baru bertemu dengannya beberapa jam yang lalu. Entah kenapa juga dia jadi fokus dalam pikiranku saat ini, Matahari, Ari. Aku tersenyum dan merasa ada hal yang telah lama aku harapkan kini berguguran membasuh sepi dan kosongnya jiwa. Aku merasa damai.

Untuk kemudian aku teringat Salman dan senyumku pun menghilang berganti kerinduan pada Salman. Nanti malam aku ingin meneleponnya dan menceritakan tentang hari ini. Bahwa aku mendapat teman baru, temannya Ulfa. Orang yang sering aku ceritakan padanya, ya Ulfa yang suka dandan, sedikit menyebalkan tapi cantik.

Meski Salman sekarang sudah seperti seorang pak Guru atau pak Ustadz, suka menceramahi aku soal berteman dengan orang baru atau hal lain jika berkaitan dengan orang baru harus hati-hati, bla bla bla. Aku sampai bosan mendengarnya. Apa salahnya berteman, aku juga bisa melihat yang mana orang baik dan yang pura-pura baik. Setidaknya menurut kacamataku.

Terkadang aku memikirkan apa yang dikatakan Ulfa, apa benar Salman disana juga menjaga perasaan dan cintaku. Apa dia benar-benar tidak punya pacar selain aku, kami sudah lama tidak bertemu. Pun dengan rasa ini, sudah hampir tiga tahun lebih berjalan tanpa kejelasan kemana arah dan tujuannya. Hanya berpegang teguh pada janji dan cinta. Jika aku ingat Salman sebelum beneran jadi pacarku, dulu dia di sekolah adalah seorang cowok yang suka gonta ganti pacar. Tapi demi rasa percayaku padanya, aku mencoba terus bertahan. Aku percaya pada Salman, entah sampai kapan.

*** 

Sumber Gambar: rumaysho.com

  • view 103