Memilih lalu merelakan

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Desember 2017
Memilih lalu merelakan

Memilih lalu merelakan

Jarak yang terbentang memang begitu kelihatan jauh diantara kita saat ini. Tapi selalu ada cara bagi kita untuk sekedar melepas rindu. Selalu ada cara, asal kita niat. Begitu kata kamu suatu kali di ujung telepon. Kita jalani hubungan jarak jauh, yang resikonya luar biasa. Tapi kita saling percaya, itu kuncinya.

Dan siang ini, segala yang pernah kita jalin dan perjuangkan telah pupus. Lenyap. Habis sudah. Semua rindu yang bertumpuk pun kini hilang. Rindu yang dulu sama-sama kita bingkai dan jaga seolah tak ada artinya, pupus. Bagiku ini sangat menyakitkan, aku tidak tau harus mencari obatnya kemana, karena obat itu ada dalam suaramu yang selalu aku dengar di ujung telepon.

Tapi sekarang, untuk menghubungimu saja aku harus berpikir keras atau menyiapkan dua keping hati, satu keping hati untuk kecewa karena kamu mengabaikan telepon dariku dan satu keping hati lagi untuk bahagia jika kamu berkenan sekedar menanyakan kabarku.

Mungkin kamu tak tahu apa yang terjadi padaku setelah telepon darimu siang itu. Aku berusaha tegar di depan teman-temanku dan keluargaku. Mereka sangat tahu hubungan yang kita jalani selama ini yang telah kita mulai sejak kita masih sekolah menengah atas. Aku berusaha kuat tapi sebetulnya hatiku dan pikiranku masih selalu tentang kamu dan kamu.

Apa yang telah kamu lakukan kali ini benar-benar telah melukai hatiku dengan sangat dalam. Aku lupa caraku untuk bersedih dengan kisah kita yang kau biarkan begitu saja, kamu lupa janji dan yang pernah kita rencanakan. Apa aku yang terlalu egois atau kamu yang sudah tak perduli lagi.

***

Di lapangan bola siang itu, dibawah naungan pohon akasia. Kita berteduh. Saling menatap dan tersenyum. Hari ini hari terakhir kita berada di sekolah, setelah tiga tahun bersama disini akhirnya kita akan meninggalkannya dan pergi dengan tujuan masing-masing. Melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi atau berdiam diri sementara dirumah atau mulai berwirausaha mandiri.

Aku mengakui bahwa kamu adalah orang yang pertama dan aku ingin bahkan yakin sekali adalah jodoh bagiku. Itu harapanku dan keyakinan yang aku selalu tanamkan dalam hatiku. Aku tidak tahu jika akhirnya karena keyakinan dan kepercayaan ini akhirnya nyaris membuat aku setengah gila dan merasa hidup tidak ada gunanya lagi. Mungkin terlalu bodoh jika aku menceritakannya padamu, tapi ini yang terjadi padaku karena keputusanmu siang itu saat kita ngobrol di telepon terakhir kali.

Dalam hati dan pikiranku hanya ada kamu, lagi-lagi kamu. Apa yang terjadi padaku? Bahkan jauh sebelum peristiwa telepon itu, aku selalu sangat merindukanmu. Aku ingin selalu tahu kabar tentangmu. Aku ingin kamu baik-baik saja. Padahal kita setiap hari bertemu di sekolah. Tapi aku selalu merindukanmu. 

Kamu memang keterlaluan, begitu katamu suatu kali ketika aku begitu berani menggenggam dan menarik tanganmu untuk sekedar aku pegang dan merasakan getaran cinta yang mengalir dalam dirimu. Meski kamu ingin melepaskan tanganku tapi akhirnya menyerah karena aku ingin memegang tanganmu lebih lama.

Bagi tradisi dilingkungan kita, tata krama berteman dan berbicara harus selalu di jaga agar tidak menimbulkan prasangka dan fitnah. Itu memang sudah adat di daerah kita. Tapi kamu selalu melebih-lebihkan apa yang aku lakukan padamu. Padahal aku hanya ingin memegang tanganmu atau sekedar merangkul pundakmu ketika kita berjalan pulang keluar dari gedung sekolah. Terkadang kamu menghindarinya, tapi terkadang juga menyerah karena aku memang keterlaluan, begitu katamu selalu. Lalu kita akan tertawa.

“Seminggu lagi aku akan ikut abang sepupuku ke Jakarta, kita akan berpisah sementara waktu. Maukah kamu mengantarku ke dermaga Gunung Sitoli minggu depan? Aku masih ingin melihatmu sebelum aku benar-benar pergi.” Kalimatmu membuat dadaku sesak.

“Maafkan aku, kita harus berpisah. Bisakah kita menjalani cinta jarak jauh seperi itu nantinya? Bagaimana dengan kisah kita Arya?” Aku tidak kaget ataupun terkejut mendengar penuturanmu, hanya tidak sanggup mendengar kata berpisah dari bibirmu. Akupun bingung.

Aku kembali mengambil tanganmu, memegangnya erat dan menatap mata coklat milikmu yang sedikit sayu. “Kisah kita akan selalu seperti ini, percayalah padaku. Aku hanya mencintaimu dan tak ada tersirat sedikitpun akan menghianati cinta kita. Aku akan menjaganya. Hanya saja aku yang tak yakin padamu.”

Kamu menarik tanganmu kasar, kulihat wajahmu cemberut, lucu. “Apa maksudnya? Kamu meragukan aku? Yang ada juga kebanyakan laki-laki yang biasanya mata keranjang. Deket saja masih gangguin cewek lain apalagi jauh dari aku nantinya.” Kamu beneran ngambek. Aku jadi salah tingkah.

“Bukan begitu maksudku, kita pasti bisa jalani cinta jarak jauh ini, janji. Kita akan selalu berkirim surat, bertukar kabar dan jika kamu nanti punya nomor telepon kabari aku lewat surat ya.” Aku melihatmu masih cemberut.

“Dan kalaupun aku menggoda teman cewek itu bukan berarti aku mencintai mereka, Mei. Aku hanya bercanda. Wajarkan, masa iya hidup serius aja. Sesekali nyari hiburan, he he.” Lalu kamu menarik kupingku keras.

“Kamu memang keterlaluan Arya, aku lagi mikirin kita akan berpisah kamu malah bercanda terus. Kapan seriusnya coba?”

“Ampun, maafkan aku. Tapi ini sakit loh. Oke, aku ini juga serius. Kamunya aja yang terlalu mikirin. Aku nih yang harusnya takut, di kota besar banyak cowok ganteng dan cakep. Manalah bisa dibandingkan dengan aku ini, aku malah takut kamu yang nggak bisa setia.” Kulihat kilat kegemasan dan kemarahan dalam bola matamu, kamu mencoba menjewer kupingku sekali lagi, tapi aku segera menghindar dan berlari menjauh. Kamu melempariku dengan batu kerikil sambil berteriak kecil memanggil namaku. 

 ***

Dalam seminggu ini aku seperti orang linglung, makan tak selera, tidurpun tak nyenyak. Apapun yang aku lakukan semua serba salah. Aku kehilangan semangat. Beberapa kali orang rumah menegurku akibat ulahku yang kurang memperhatikan pekerjaanku atau kebiasaanku dirumah.

Disuruh bersihin bengkel motor disamping rumah punya pamanku, bukannya rapi malah tambah tidak jelas penampakannya. Mandi bisa sejam, padahal aku tidak ngapa-ngapain. Orang rumah marah dan mengomeli aku karena perubahan sikapku ini, tapi aku tak perduli, biarlah. Pernah mereka bertanya, aku hanya bilang kalau kamu akan pergi ke Ibu kota minggu depan. Maka jadilah aku  bahan olok-olok dirumah jika ketahuan lagi melamun. Kamu tahukan aku pernah bilang padamu, keluargaku menyukaimu. Mereka merestui hubungan kita.

Aku hanya terlalu banyak merenung memikirkan kepergianmu. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu seminggu terakhir, karena kamu juga pulang kerumah orang tuamu di pulau lain. Kita hanya bertemu minggu depan di dermaga. Untuk yang terakhir kalinya sebelum kita berpisah. Entah besok atau kapan, perpisahan memang selalu menyedihkan. 

***

Hari Sabtu, di pertengahan bulan November. Gerimis turun perlahan saat malam baru saja menyelimuti ibukota kebanggan kita, Gunung Sitoli. Aku datang mengunjungimu dirumah tantemu, aku sangat berharap bertemu denganmu sebelum besok  hari Minggu kamu akan benar-benar pergi. Kita bertemu disamping rumah tantemu, kebetulan kakak sepupumu membuka warung makan disana. Kita diperbolehkan bertemu dan mengobrol sebentar.

Tapi memang dasar kamu orangnya yang sangat menjaga adab bertamu dan kebiasaan-kebiasaan di daerah kita. Kamu malah malu mengobrol dan tidak mau aku ajak keluar rumah sebentar. Kamu beralasan takut dimarahi tantemu yang galak. Yang ada kita bukan mengobrol santai tapi malah berdebat hal-hal yang tidak jelas. Aku jadi ragu apa kamu bener-benar bisa setia dengan cinta kita di Ibukota, padahal aku telah datang jauh-jauh untuk bertemu, tapi kamu sepertinya tidak perduli. Aku sedikit terluka oleh sikapmu.

Kita hanya berbicara sebentar saja, kamu takut tantemu keluar dan melihat kita. Padahal kita hanya duduk di warung anaknya sambil mengobrol. Aku salut padamu yang selalu menjunjung tinggi tata krama dan adat istiadat, kamu tidak mau di cap anak yang tak tahu sopan santun. Kamu memang hebat untuk hal itu. Tapi tidak mengertikah kamu akan perasaanku yang ingin sebentar saja bersamamu.

Setengah jam kemudian aku pamit pergi, “Baiklah, besok aku akan ke pelabuhan mengantarmu. Aku doakan semoga perjalananmu lancar dan selamat sampai di ibukota. Aku merindukanmu Mei, aku akan selalu merindukanmu. Jaga diri dan kesehatan kamu, ya.” Aku pamit pulang. Padahal hari belum terlalu malam untuk bertamu. Tapi melihat kamu yang kurang berkenan dengan kedatanganku, akupun maklum karena ini dirumah tantemu. Kamu menghargainya dengan menjaga nilai-nilai adat istiadat daerah kita.

Kamu berdiri mengantarku, “Hati-hati dijalan, aku akan baik-baik saja. Percayalah. Kamu yang harus menjaga kesehatan dan jangan mengebut bawa motornya. Aku juga mencintaimu dan akan selalu merindukanmu. Percayalah padaku, aku tunggu besok di dermaga ya. Kamu harus datang, agar aku bisa melihatmu sebelum aku naik ke kapal.” Kali ini aku yang kaget, kamu mengambil tanganku dan memegangnya dengan kedua tanganmu. Aku tahu kamu sedang menguatkan aku. Menguatkan hatiku. 

Aku terpana oleh tindakanmu yang di luar perkiraanku, aku membalas genggaman tanganmu dengan kedua tanganku. Menatap mata coklat milikmu lalu kamu menunduk, melepaskan tanganku dan pergi meninggalkan aku di depan warung makan sendirian. Kamu menghilang dibalik pintu pagar rumah besar milik tantemu.

***

Pagi ini matahari cerah, padahal pagi tadi pelabuhan dan sekitar kota Gunung Sitoli habis diguyur hujan. Meski begitu aku tak bisa menikmati pagi ini, perasaanku resah menantimu. Aku melihatmu dari jauh bersama rombongan kakak sepupumu yang akan berangkat ke Ibukota naik kapal besar itu. Aku menghampirimu, dan kulihat kamu malu-malu datang padaku, aku kira kamu di ejek atau dikatain sama keluarga besarmu, karena akan menemui seorang laki-laki. Memang tidak salah berteman dengan siapapun, asal masih dalam batas kewajaran dan tidak merusak nilai-nilai budaya daerah kita. Mereka meledekmu, begitu katamu ketika kutanya mengapa kamu cemberut pagi itu.

“Terima kasih sudah datang, aku menuggumu daritadi, aku bahkan harus tahan hati mendengar ocehan dan ledekan keluargaku tentangmu. Mereka bilang kamu tidak akan datang. Jadi aku sangat senang melihatmu tadi. Dan mereka mulai lagi meledekku. Maafkan mereka.” Kamu menjelaskan keadaanmu yang terpojok pagi itu.

Aku hanya tertawa mendengarnya, kamu memang luar biasa bisa membuat aku semakin mengagumi dan menyayangimu. Kamu wanita yang paling unik yang pernah aku temui, pintar, cerdas dan sedikit lugu. Tapi  aku sangat menyukai sifatmu itu.

Aku mengantarmu sampai tangga, aku tidak bisa naik ke kapal besar itu, selain karena tidak kuat melihatmu jika kamu sampai menangis, aku juga tidak tega mendengar ledekan saudara-saudaramu tentang kita. Mereka tidak mempermasalahkan kita bertemu, hanya aku kasian padamu jika mereka terus-terusan mengganggumu dengan godaan mereka.

Aku menunggu sampai kapal besar itu benar-benar pergi. Aku melihatmu dan rombongan pergi ke belakang kapal untuk bisa melambai padaku. Aku tidak bisa melihat jelas wajahmu, apa sedih atau terluka akan perpisahan ini, tapi aku melihatmu melambai padaku sampai hilang dari pandangan mata, tertelan laut biru. Sehingga kapal yang membawamu tinggal titik kecil, aku baru melangkah pergi, pulang.

Seandainya kamu tahu ada luka yang begitu besar dan kesedihan teramat dalam akan perpisahan ini. Aku bahkan berjanji menguatkan hatiku jika aku benar-benar kehilangan kabar darimu. Entahlah, satu sisi hatiku mengatakan kamu benar-benar pergi, satu sisi lagi mempertahankan kamu pasti akan selalu milikku hingga nanti tiba waktunya.

***

Bertahun berlalu, semua berjalan baik dan kabar darimu tak pernah putus, kita saling bertukar surat dan paket lewat pos. Kita bergantian mengirimkan surat ataupun paket ulang tahun jika diantara kita ada yang berulang tahun atau kartu lebaran.  Semua terlewati dengan indah.

Hingga kemajuan teknologi menjamah kota kecil kita disini, jaringan telepon dan internet masuk desa dan ramailah kota kecil kita dengan handphone berbagai merk. Aku pun tak ketinggalan memiliki benda itu, kamu juga mengabari aku nomor teleponmu dan kita saling menghubungi pada saat malam sepulang kerja atau ketika hari libur.

Aku tak menyadari perbedaan dan kebiasaanmu yang mulai berubah, aku hanya memakluminya sebagai kesibukan kuliah dan pekerjaanmu yang begitu menyita banyak waktu. Kamu mulai berubah.

Pernah suatu kali kita mengobrol lewat telepon, aku menanyakannya. Kamu bercerita kalau kamu punya teman baru seorang cowok. Dia sangat baik padamu. Kamu tau, aku cemburu. Sangat cemburu. Aku sedikit berkata keras padamu, agar kamu jaga diri dan kesetiaan cinta yang sudah hampir lima tahun kita jalani bersama. Jarak jauh tapi tetap cinta.

Aku sedikit kaget mendengar kamu membela cowok itu, “Kita udah bertahun-tahun menjalani cinta jarak jauh, belum tentu juga kamu setia disana Arya, kamu bisa saja membodohiku dengan janji-janjimu. Tapi kenyataanya kamu belum juga menyusulku ke Jakarta. Aku menunggu itu Arya. Bukan janjimu. Aku sama dia juga cuma berteman, tapi aku tidak bisa menghalangi takdir jika nantinya aku akan mencintai orang lain, karena menunggu kamu yang terlalu lama. Aku juga membutuhkan kepastian, bukan seperti ini terus.” Kalimatmu yang menggoncang hatiku malam itu. Aku tak kuasa melanjutkan obrolan. Aku mematikan telepon. Aku marah. Aku membenci orang yang telah merebut perhatianmu.

Tidak percayakah kamu dengan semua ceritaku padamu tentang aku disini, berjuang dan bekerja keras untuk mengumpulkan uang demi bisa ke Ibukota, tapi  aku selalu mengendurkan keinginanku dengan satu keraguan apakah kamu masih seperti Mei yang ku kenal dulu atau kamu sudah banyak berubah. Aku selalu merasa takut kecewa jika aku datang kesana kamu malah tidak mengenalku, mungkin aku terlalu berlebihan menafsirkan persaanku, tapi yang pasti aku sangat takut kehilanganmu. Itu yang selalu membuatku mengurungkan niatku. Selain disana aku tak mengenal siapapun kecuali kamu, aku ragu pada diriku sendiri dan juga kesetiaanmu.

Karena tekhnologi juga aku bisa mengontak temanmu Emi, teman satu kantor denganmu. Aku menyimpan nomornya ketika suatu kali kamu pernah menelepon memakai nomornya karena kehabisan pulsa. Aku meneleponnya memastikan kepastian dan kebenaran tentang teman cowok barumu itu. Jawaban Emi diluar dugaanku, kalian sudah menjalin hubungan lebih dari teman. Emi, temanmu itu memastikan hal itu padaku. Aku semakin terpuruk.

Hancur, sehancur-hancurnya perasaanku. Patah sudah hatiku. Remuk. Aku nelangsa, menderita dan terpana, benarkah gadis lugu yang dulu aku kenal sangat menghargai perasaan dan taat pada tata krama itu kini telah berubah. Benarkah Ibukota telah merampas sifat pemalu dan lugunya. Kemana aku akan menemukannya lagi untukku, Mei yang dulu aku cintai. Menghancurkan cinta dan perasaanku. Aku tak percaya ini. Aku akan memastikannya.

***

Siang itu aku meneleponmu dengan segenap kekuatan jiwa dan harapan cinta yang begitu besar. Aku yakin bahwa kamu tak berubah dan masih Mei yang aku cintai dulu. Meski begitu aku selalu menyiapkan dua bagian hati untuk bisa bertahan. Satu hati menerima dan satu hati lagi berharap.

Minggu siang yang terik dikota kecil kita. Masihkah kau ingat kota itu? Aku meneleponmu, kamu sedang libur, katamu diujung telepon. Seperti nada malas menerima teleponku. Aku berusaha sabar menghadapimu. Aku menanyakan kabarmu, pekerjaanmu dan kuliahmu. Kamu menjawabnya semuanya baik dan lancar.

Kemudian kamu menjatuhkan bom atom kepadaku yang tak bisa aku hindari dan aku semakin terpuruk didalamnya. “Arya, aku minta maaf sekali, sungguh ini sebenarnya berat bagiku, aku mengakui semua yang ada selama ini antara kita sudah tak ada artinya lagi. Kita tidak bisa begini terus bukan? Kamu juga sepertinya betah dengan keadaan ini, tapi aku sudah tidak bisa lagi. Aku telah menemukan cinta yang lain yang lebih jelas wujudnya dan lebih nyata. Bukan hubungan yang begini terus. Kapan berakhirnya Arya?” Kamu terus berbicara, aku tak bisa membantah, kamu benar dengan semua ini, aku salah.

“Jujur, hubungan ini sudah berlanjut setahun yang lalu tanpa sepengatahuanmu. Aku disarankan seorang teman, seorang bapak yang sudah aku anggap seperti orang tuaku, rekan kerjaku juga. Bahwa cinta yang sebenarnya itu adalah yang berwujud nyata. Baik orang maupun kata-katanya. Mungkin pacar kamu yang disana itu bisa saja tidak setia, bukan yang mengatakan banyak janji, tapi tidak ada tindakannya. Begitu kira-kira kalimatnya. Sehingga aku membuka hati, mencoba menerima kehadiran orang lain disisi hatiku. Dan aku berhasil mencintainya, meski tak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu, karena kamu adalah cinta pertama dan dia adalah cinta kedua bagiku. Aku menemukan perbedaaan yang jelas. Antara yang nyata dan yang tidak nyata dalam hidupku. Kamu ada tapi seperti tidak ada. Tapi dia selalu ada untukku. Maafkan aku Arya, tolong maafkan aku. Huhu.” Kamu menangis diujung telepon.

“Mei, kamu tidak sedang tertekan mengatakan ini? Aku tidak percaya ini kamu, Mei. Katakan kamu masih mencintai aku kan?" Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tak percaya ini. Ku mohon demi apapun, aku ingin ini hanya imajinasiku saja. Siapapun tolong sadarkan aku, bahwa ini mimpi buruk.

Kudengar kamu masih terisak, aku tidak sedang bermimpi atau barkhayal “Ini bener Arya, aku sungguh-sungguh. kita harus benar-benar berpisah. Biarkan aku dengan kehidupanku dan kamu dengan takdirmu. Biarlah, semua cerita kita jadi kenangan. Aku takkan bisa melupakannya. Tapi aku juga tidak mungkin menjalani dua cinta sekaligus, aku telah memilihnya, dan mencoba melupakanmu. Itu yang terjadi. Tolong jangan ganggu hubungan ini dan kamu harus bisa menerimanya. Maafkan aku Arya. Maafkan.” Aku menutup telepon dan jatuh terduduk dilantai kamar. Aku ingin berteriak, tapi nanti kena marah orang rumah. Maka satu-satunya cara aku pergi ke pelabuhan dan meluapkan emosi jiwaku dengan berteriak kencang dan melempari laut dengan batu-batu. Aku menangis tanpa air mata, aku berteriak tapi siapa yang peduli? aku ingin marah tapi pada siapa? Pada diriku sendiri?

"Dengar laut, tolong kau dengarkan aku. Kau yang telah mengatarnya dulu pergi bersama kapal besar itu, dan kau juga yang kini jadi saksi bahwa dia benar-benar pergi meninggalkan aku. Aku tak tahu aku harus membenci  siapa, aku benci diriku yang tak bisa ada untuk Mei, aku membenci orang yang telah merebutnya dariku. Aku benci diriku. Aku benci semuanya." Aku berteriak terus dan terus, kamu tahu orang gila? Mungkin aku yang hampir gila. 

Tapi satu titik dalam jiwaku menyadarkan aku, bahwa aku masih bisa berharap. Dia, Mei masih bisa dijangkau walau sebatas mengenangnya. aku tidak boleh bertindak bodoh, jika hal buruk terjadi padaku bukankah Mei akan sedih. Dan aku tidak mau melihat dia bersedih meratapi diriku yang malang. Maka aku akan menjadi teman untuknya.

Dan mulai hari ini, seorang Arya akan selalu merindukan kenangan itu, ia memilih untuk menyimpannya tanpa berniatmenghapus dan melupakan  satu kenangan pun. Meski ia tahu, tak mungkin mengharap lagi. Entahlah dengan perasaan ini. Biarlah waktu yang menjawabnya.

 

Gambar : www.hipwee.com

 

 

 

 

 

 

  • view 413