Tentang Menjadi Seorang Istri dan Seorang Ibu

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Renungan
dipublikasikan 29 November 2017
Tentang Menjadi Seorang Istri dan Seorang Ibu

Masih terasa baru kemarin saat syukuran pernikahan, tidak mewah. Sederhana saja. Itu juga yang direncanakan oleh kedua sejoli. Untuk hal ini tergantung masing-masing individu dalam memberi komentar dan berpendapat. Karena sejatinya menikah itu adalah salah satu ajaran dalam Islam, menghilangkan fitnah, menjaga keturunan dan juga menambah rezeki.

Untuk yang merayakan pernikahan dengan cara sederhana atau dengan cara megah meriah itu semua maknanya sama, karena alasannya juga sama yaitu menikah. Seperti yang beberapa hari terakhir sedang marak diperbincangkan tentang pernikahan anak orang nomor satu di negeri ini. Dari sekian banyak doa baik dan ucapan selamat, terdapat juga segelintir orang yang mencemooh dan berkomentar dengan nada merendahkan.

Jika jodoh, umur, rezeki, anak serta hal penting lain dalam hidup ini sudah di tuliskan dan di takdirkan oleh yang maha kuasa, maka apakah mereka yang mencemooh hal yang saat ini terjadi tergolong mempertanyakan apa yang sudah ditetapkan dan di takdirkan Tuhan? Entahlah, tanyakan saja sama pak ustad jika nanti ada pengajian di musholla.

***

Ada begitu banyak yang mempersiapkan diri saat akan menjadi seorang istri, salah satunya rajin belajar memasak, bertanya ini itu soal rumah tangga kepada ibu atau teman yang sudah menikah. Bahkan ada rela ikut kursus tataboga demi menjadi istri yang pintar masak masakan lezat untuk keluarga. Dan puncaknya meninggalkan karir yang sudah dirintisnya sejak remaja, demi keluarga barunya. Ini hanya secara garis besar saja, karena pada zaman sekarang banyak juga istri yang merangkap jadi wanita karir dan juga ibu rumah tangga.

Sungguh luar biasa dan istimewa apabila ada istri yang juga bekerja kantoran demi membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga. Bekerja sama membangun mahligai rumah tangga, apalagi jika sudah memiliki seorang anak. Kesibukan ini sungguh menyita waktu, pikiran, tenaga dan emosional seorang ibu.

Kegiatan yang sangat berbeda saat masih belum menikah, maka jika seseorang ingin menikah pikirkanlah baik-baik agar tak ada kesalahpahaman dalam pernikahan yang ujung-ujungnya bercerai.

Saat seorang ibu memiliki anak, harus bisa mandi super kilat. Tidur yang tak teratur, kondisi emosi yang labil pasca melahirkan rentan mebimbulkan stres dan emosional. Maka jika sudah begini seorang suami harus menjaga perasaan istri, bahkan jika ada perselisihan diantara suami istri maka suami harus mengalah. Meski yang salah itu istri, tapi harus tetap kalah demi agar hubungan kembali baik.

Salah satu rumus dalam rumah tangga yang paling ampuh adalah jika istri melakukan kesalahan maka yang harus minta maaf adalah suami, karena istri harus selalu menang. Hehe. Bahkan sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab RA saja rela diam dan mendengarkan saat istrinya sedang marah. Padahal beliau terkenal sangat tegas dan kuat jika berhadapan dengan musuh. Karena apa? Karena jasa istri yang tak ternilai dimatanya.

Jadi, sebelum menikah apalagi menjadi seorang ibu seseorang perlu belajar dan mempelajari ilmu tentang rumah tangga. Agar mampu membina dan menjadikan rumah di dunia sebagai surga kecil yang penuh kedamaian.

 

Sumber gambar: www.daaruttauhiid.org

 

 

  • view 209