Surat Cinta #The End

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 November 2017
Surat Cinta #The End

Surat Cinta – Bagian Lima

Sabtu terakhir sebelum lusa pada hari senin kita akan ujian kenaikan kelas tiga. Hari ini hari bebas di sekolah untuk mempersiapkan ruangan ujian. Riuh rendah suara para siswa memenuhi lapangan depan sekolah menyoraki permainan bola voli. Aku ada diantara para penonton. Christ main voli bersama teman kelas kita yang lain melawan anak kelas satu. Aku ikut bersorak dan memanggil nama Christ untuk membuatnya semangat.

Aku mencari sosok Ali di antara kerumunan penonton, tapi aku tak menemukannya. Sejak pagi aku tidak melihat Ali, atau karena ini hari bebas dia datang terlambat. Dia memang sering sekali terlambat dan melanggar aturan sekolah. Huft.

Udara siang yang mulai terik memaksa aku berhenti berteriak-teriak memberi dukungan untuk team kelas. Aku memutuskan ke kantin membeli minuman.

Di sana di bawah pohon depan perpustakaan aku melihat Ali sedang duduk sendirian, pemandangan yang aneh, sejak kapan dia suka nongkrong didepan perpustakaan. Bimbang antara menemui atau pura-pura tidak melihat saja. Aku berjalan terus dari arah kantin dengan niat kembali ke arena pertunjukan bola voli. Sengaja tidak menoleh kiri kanan agar aku terlihat fokus. Tapi seperti sudah aku duga Ali memanggil namaku dan mau tak mau aku menoleh ke arahnya.

Dia melambai menyuruhku kesana, dengan hati tak berdaya gelisah aku menghampiri Ali. “Kamu darimana?” Pertanyaan konyol, dia pasti tau kalau aku dari kantin dan ditanganku masih memegang botol minuman.

“Eh, barusan dari kantin. Ngapain kamu disini? Sendirian lagi.” Ali tertawa kecil mendengar aku bertanya.

“Ngapain lagi, nungguin kamulah. Masa iya nyolong buku diperpustakaan. Kamu kemana aja sih?” Kulihat Ali mendengus resah.

“Aku tadi ada dilapangan, nonton pertunjukan voli. Christ main dalam team kelas kita.”

“Hem, pantesan nggak kelihatan dimana-mana. Kamu mau kesana lagi?” Ali bertanya lagi.

“Iya, yuk kita kesana.” Aku mengajaknya nonton petunjukan voli.

“Aku mau disini aja sama kamu, boleh?” Dia menoleh ke arahku. “Gimana dengan janjimu, aku menunggunya sejak tadi. Kok kamu kayaknya nggak perduli? Atau malah melupakannya begitu saja” Ali menyipitkan matanya melihatku, atau silau dengan matahari siang ini yang mulai terik.

“Lalu bagaimana dengan pacar-pacar kamu yang lain, apa nanti mereka nggak sakit hati kamu jadian sama aku? Atau aku salah satu yang akan jadi korban selanjutnya lalu jika kamu sudah merasa nggak cocok lagi kamu akan cari pacar baru. Gampang sekali yaa.” Aku melihat ke arah Ali yang sedikit kaget mendengar ucapanku barusan.

“Kamu masih menganggap aku bercanda soal ini sama kamu? Niss, aku bukan play boy seperti yang kamu kira. Aku memang suka menggoda teman cewek tapi aku nggak cinta sama mereka, aku hanya bercanda saja, buat iseng-iseng doang. Nggak sepenuh hati. Kamu mengisi seluruh ruang dihatiku. Ruang dalam otakku. Apa kamu pikir aku bercanda?” Dia menekan intonasi suaranya berusaha meyakinkan aku.

“Lalu begitu pentingnya sehingga aku harus mengatakan tentang perasaan aku padamu? Apa kamu kaget kalau aku bilang aku mengagumi orang lain?” Aku mencoba mengetes Ali, pura-pura serius.

“Apa kamu suka sama orang lain? Siapa, tolong katakan padaku. Aku ingin tau siapa orang itu.” Ali bertanya dengan wajah penasaran dan emosional. Aku ingin tertawa melihatnya.

“Rahasia dong, kalau nanti aku katakan aku takut kamu akan menghadangnya dijalan lalu kamu interogasi macam hakim saja seperti yang kamu lakukan pada Irsyad beberapa bulan yang lalu.” Aku rasanya tidak sanggup menahan tawa demi melihat raut muka kekalahan dan emosional Ali. Sebisanya aku bersikap serius. Biar sesekali di kerjain. Dia pikir enak apa di jahilin selama ini.

“Oh, begitu ya. Kamu nggak mau mengatakan siapa orang itu?” Kulihat Ali berjalan bersandar ke tembok perpustakaan, kedua tangannya dimasukkan kesaku celana seragam. Kepalanya menghadap langit. “Ternyata begini rasanya nggak dianggap, hancur sudah. Tak ada harapan lagi.” Aku jadi tidak tega melihat wajah itu berubah sendu, matanya terpejam beberapa saat. Aku diam memperhatikan.

“Orang itu sangat dekat denganmu, kalau kamu kepengen tahu.” Perlahan aku mendekatinya, berdiri tepat didepannya. Tapi sepertinya Ali tak menyambut kalimatku. Dia tetap pada posisinya. “Baiklah kalau kamu tidak mau tahu lagi siapa orang itu, aku mau kembali ke lapangan voli, maafkan aku membuatmu jadi terpuruk seperti ini. Jangan lupa senin kita ujian, jadi kamu jangan lupa belajar dan lupakan semua ini.”  Aku ingin berbalik saat kemudian dia mencengkeram pergelangan tanganku keras.

“Ali, sakit. Kamu bisa nggak sih bersikap lebih lembut.” Aku menarik tanganku dari cekalan Ali sedikit kasar, tidak terlalu sakit sebenarnya hanya cara dia menarik tanganku membuat aku kaget.

“Maaf, maafkan aku. Aku kaget ketika kamu mau pergi. Jadi reflek aku manariknya. Maaf ya Nis.” Ali berkali-kali minta maaf. Aku melihat ketulusan dimatanya. “Jangan pergi, kita duduk disini aja ya. Apa ada yang marah kalau kita ngobrol sebentar?” Ali bersikap lembut dan menyuruh aku duduk dibangku depan perpustakaan.

“Aku ingin tahu siapa orang yang telah membuat kamu menolakku, hanya tahu saja dan aku janji tidak akan ribut apalagi menghadangnya dijalan.” Ali kembali penasaran. Sedangkan aku ingin tertawa dan mencubit pipinya keras karena melihat raut wajahnya yang penasaran dan lain dari biasanya. Tapi urung kulakukan. Aku pasti tidak berani. 

“Benar nih, nanti nggak marah? Lalu kalau udah tau kamu mau apa? Apa akan melempariku kertas lagi, atau menarik ujung kerudungku lagi? Atau...” Aku masih mencoba membuatnya semakin penasaran. Kemudian dia memotong kalimatku.

“Nggak, aku akan berhenti usil sama kamu. sungguh. Aku bahkan malu jika mengingatnya kembali.” Dia menundukkan kepalanya. Menekuri ujung sepatunya.

“Baiklah, orang itu sangat dekat denganmu, dia selalu bersamamu malah. Hehehe.” Aku menertawakan diriku sendiri yang mulai bingung mencari kata-kata yang tepat. Ali menatap wajahku serius “Siapa? Katakan.” Mata ali tajam menghujam jantungku. Aku terpana dan hampir tak mampu menguasai diri. Aku mundur dari bangku panjang itu dan hampir jatuh diujungnya. Dia menarik tanganku agar tak jatuh. “Kamu kenapa?” Ali khwatir melihatku diam.

Ali tidak tahu bagaimana perasaan dalam jiwaku saat dia dekat duduk disampingku. Degup jantungku tak beraturan. Aku bernafas putus-putus. Mencoba tetap teguh agar kamu tak menyadari betapa aku sangat senang melihatmu putus asa dengan semua sandiwaraku hari ini. Dan kini aku harus jawab apa, bagaimana ini?.

“Niss, kamu kenapa jadi patung begini, eh. Kamu baik-baik ajakan?” Dia duduk dekat denganku, aku susah bernafas.  Ya ampun benarkah aku jatuh cinta pada Ali. Kenapa aku jadi begini.

“Orang itu... orang itu adalah...” Aku merasa tenggorokanku kering, tapi aku harus mengatakannya. “Orang itu... kamu...” Aku langsung menunduk mengambil nafas dalam-dalam. Ya Tuhan kenapa bisa sampai susah begini. Aku terus menunduk, malu bercampur senang.

“Apa... kamu nggak salah bicara kan, kamu serius?” Ali menepuk-nepuk tanganku. Wajahnya berubah berbinar dan penuh semangat. Aku menunduk lagi lalu mengangguk.

“Lalu kenapa kamu membohongiku dari tadi heh. Kayaknya kamu mengerjaiku ya.” Dia tertawa dan menarik ujung hidungku pelan.

“Biar kamu juga merasakan bagaimana rasanya dipermainkan.” Kita sama-sama tertawa dan kulihat senyum tak pernah lepas dari wajah Ali.

“Kamu memang selalu bisa membuat aku semakin mengagumimu.” Kita berdiri dan berjalan bersama menuju lapangan foli dengan hati dan rasa di jiwa yang tak bisa kutuliskan dengan kata-kata indah.

Ketika semua akan terjawab dengan caranya sendiri. Aku tak perlu takut padamu ketika jiwaku mengatakan memilihmu. Biarkan takdir yang berbicara setelah ini, aku bahagia dan senang ketika bersamamu, melewati sisa waktu disekolah kita, mencipta kenangan dengan prestasi dan kesibukan di sekolah. Karena kita hanya bisa menjalani takdir kita masing-masing. Dan kisah selanjutnya biar Tuhan saja yang menentukannya. Kamu cinta pertama dalam kisah cinta yang aku pernah alami. Berjanjilah bahwa ini adalah kisah terbaik dalam perjalan rasa ini. Dihatiku juga dihatimu.

 

>>> The End <<<

 

Sumber Gambar: blog.sandboxx.us

  • view 45