Surat Cinta #Bagian 4

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 November 2017
Surat Cinta #Bagian 4

Surat Cinta #Bagian 4

Untukmu yang saat ini mungkin membenciku...

Hai, apa kabar?

Aku belajar menerima kamu membenciku. Menerima jika kamu juga tak menyukai kedatangan suratku, aku bukan penyair yang bisa membuat kalimat indah untuk bisa membuatmu tersenyum ketika membacanya.

Maaf untuk semua keusilan dan kejahilan yang selama ini menimpamu, aku akui itu semua ide dari pikiranku untuk mencari perhatian sedikit saja dari seorang kutu buku sepertimu, kamu tau gak? Kamu itu cuek dan sok tidak peduli. Jadi begini caraku mencari perhatian itu. Aku minta maaf, yaa.

Dan aku tak bisa menahan diri lagi untuk tak mengatakan padamu jika aku menyukaimu. Aku tak tahu itu juga sejak kapan. Tapi aku suka melihatmu menulis di papan tulis depan kelas, aku suka melihat siluet wajahmu yang kuciptakan dalam pikiranku dikala sendiri. Memperhatikanmu dari bangku belakang kelas kita, sesekali aku usil melemparmu dengan kertas agar kamu menoleh kebelakang, itu juga demi bisa melihat wajahmu yang saat itu meski marah tapi aku suka.

Untuk semua penjelasan ini, aku yakin kamu tahu maksudku. Tapi mungkinkah aku berharap lebih? Bisakah aku menerima maaf dan berharap kamu bisa menyukaiku?Entahlah...

Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah dan membenciku?

Bisakah aku berharap kamu membalas surat ini?

Aku yang berharap padamu,

Ali

Aku menatap tak percaya surat dari Ali, berkali-kali aku membacanya dengan perasaan senang, bagaimana mungkin dia menyukai cewek kayak aku. Apa ini jebakan? Tapi tidak, bukankah ini yang aku harapkan selama ini? Dicintai oleh seorang teman disekolah, sama seperti teman-teman yang lain. Tapi bukankah juga selama ini aku mengagumi sosok Ali yang humoris? Ahh kenapa jadi rumit begini.

Malam itu aku tidur dengan damai, mematahkan sangkaan hatiku selama ini bahwa aku hanyalah siswa yang tak bisa memikat perhatian teman cowok karena aku terlalu kuper dan nggak update.

Dan soal Irsyad, nanti aku pikirkan bagaimana cara menolak perhatiannya yang kini mulai menyukaiku. Aku belum bisa menerima Irsyad sebagai teman dekat, selain karena dia kakak kelas, aku merasa tidak mempunyai sesuatu yang lain saat bicara atau bertemu dengannya. Aku menghormatinya sebagai kakak kelas saja. Tidak ada perasaan lain.

***

Hari ini dikelas kamu kelihatan murung sejak pagi hingga jam istirahat. Aku tak mendengar ocehanmu di antara suara teman-teman yang lain. Aku merasa aneh, tidak biasanya kamu jadi pendiam. Mau menoleh kebelakang aku tak berani, takut jika kepergok dan di siksa oleh rasa dalam diriku yang meronta dan membara menahan perasaan yang tak kumengerti kenapa.

Aku melirik ke arah bangku Willy, dia juga sepertinya enggan keluar kelas. Dia juga sedang menatap ke arahku dengan senyumnya yang khas. Lalu aku melihat matanya melihat ke arah Ali, lalu kulihat Willy mengangkat bahunya seolah mengatakan aku tak tau apa yang terjadi padanya.

Memberanikan diri melihat kebelakang dengan hitungan ketiga yang kuhitung pelan dalam hati, aku melihatmu berdiri tanpa melihat ke arahku lalu berjalan keluar kelas. Kamu melewatiku dan terus berlalu, aku hanya menunduk ke meja dan seolah tak perduli. Di pintu kamu berhenti, lalu menoleh ke arahku, tapi aku pura-pura buang muka ke arah Willy lalu kamupun hilang dibalik pintu kelas.

Hingga saat itu aku juga belum memutuskan membalas suratmu, dan kamu memang mengurangi tingkah kurang baik yang selama ini melekat meski tak semua berubah. Tapi aku senang kamu tak lagi jahil padaku, selain itu kamu selalu sopan jika bertemu denganku dengan tak mengganggu atau melempariku kertas seperti biasanya. Hanya saja kita seperti orang yang tak pernah saling kenal, sama-sama diam satu sama lain dan aku masih menghindar jika kamu kebetulan ada di dekatku. Anehnya kamu tidak keberatan aku pergi, jika dulu aku menghindar kamu akan menarik tanganku atau ujung belakang jilbabku kini kebiasaan itu telah hilang.

***

Entah berapa minggu sejak Irsyad mengirimkan surat padaku, yang aku ingat ketika sabtu disekolah kita mengadakan gotong royong, seluruh siswa diwajibkan membawa alat berkebun, seperti cangkul, parang atau sejenisnya untuk membersihkan perkarangan sekolah dan saluran air disekitar lingkungan sekolah. Hingga jam sepuluh kegiatan itu telah selesai dan hari itu menjadi hari bebas buat seluruh siswa, alias tidak ada mata pelajaran hingga pulang nanti jam satu siang.

Jadilah hari itu aku dan Christ teman semeja dikelas pergi keluar sekolah, jalan-jalan di sekeliling lapangan bola sambil mencari jajanan untuk mengemil. Entah Irsyad mengikuti kami tapi akhirnya kami bertemu di ujung jalan dan Irsyad bergabung bersama kami. Jalan memutari lapangan bola sambil mengobrol, kurang kerjaan memang.

Lalu Christ berbelok ke arah warung mi sop “Kalian duluan saja, aku merasa lapar.” Dia langsung pergi tanpa menawari aku untuk ikut. “Dasar Christ, awas nanti kalau ketemu dikelas.” Rutukku dalam hati.

Aku merasa kikuk berjalan berdua sama Irsyad, gimana nanti kalau ada teman sekelas yang lihat lagi, aku berjalan pelan agar jauh dari gedung sekolah.

“Oh ya, kak, aku belum balas surat kakak. Tapi aku mau mengatakan sesuatu sama kakak kalau aku... “

“Kalau kamu sudah punya pacar dan sedang dekat dengan teman sekelas kamu itu, Ali. Iya kan?”  Belum selesai aku mengatakan sesuatu Irsyad sudah memotongnya dengan kalimat menohok.

“Apa, pacaran sama Ali? Siapa yang bilang begitu, heh?” Aku kesal, gosip apalagi yang aku belum tahu.

“Aku barusan yang ngomong. Apa ada yang salah?” Irsyad melihat ke arahku.

“Itu nggak benar, aku tidak sedang pacaran dengan siapapun saat ini, juga tidak dengan Ali.” Aku menegaskan sambil menahan agar aku tak marah. Enak saja menuduh sembarangan.

“Tapi aku banyak mendengar kalau Ali sudah menyatakan perasaannya padamu dan kalian saat ini sedang pacaran.” Irsyad terus memojokkan aku.

“Itu tidak benar, aku belum pacarannya dengannya hingga saat ini. Teman-teman terlalu melebihkan tentang itu.” Entahlah aku jadi muak membahas ini dengan Irsyad.

“Belum sekarang tapi tidak menutup kemungkinan kamu akan jadi kekasihnya nanti. Itu juga yang membuat kamu belum membalas surat aku. Atau kamu tidak pernah menghargai perasaanku sampai kamu tidak juga kunjung membalasnya.” Irsyad menengadahkan wajahnya kelangit kemudian melihat ke arahku.

“Aku bukan tidak menghargai suratmu kak tapi aku tidak tau cara mengatakan agar kakak tidak berharap banyak soal itu, aku, sungguh tak punya perasaan apapun sama kakak. Aku menghormati kakak sebagai kakak kelas, sebagai seorang teman. Tidak ada perasaan lain. Hanya itu. Aku minta maaf mengatakannya sekarang, toh juga sekarang atau nanti aku akan mengatakan hal yang sama. Maafin aku.” Lega bisa mengatakan hal itu, aku berjalan sambil menunduk menekuri ujung sepatuku yang terus melangkah.

“Tentu saja aku tak bisa memaksakan perasanku, karena cinta bukan memaksa tapi cinta adalah menerima. Dan aku juga sudah menyiapkan hati untuk kecewa, biarlah kita mungkin tidak cocok jadi pacar. Aku bisa menerimanya.” Terharu aku mendengar pengakuan Irsyad yang memiliki kelapangan hati menerima keadaan ini. Semua jadi terasa ringan untukku.

“Balik yuk ke sekolah, sudah siang. Nanti kamu jadi gosong kalau panas-panasan begini. Kalau pingsan gimana, kan bisa heboh satu sekolah kalau aku menggendongmu ke ruang UKS.” Lalu kami terawa bersama dan berbincang hal lain sampai depan gerbang sekolah.

Beberapa siswa mengawasi kami dari kejauhan, tapi peduli apa. Biarkan saja mereka bicara sesuka hati. Hari ini aku terbebas dari satu masalah soal Irsyad. Ah leganya. Kami berpisah di pintu gerbang, dia ke arah kanan menuju kelas ruang kelas tiga dan aku lurus menuju ruang kelas dua. Disana, di depan kelas dibawah rimbun pohon bunga akasia teman-teman berkumpul, aku ikut bergabung.

***

Hari terus berganti dengan sangat cepat hingga beberapa hari lagi kita akan menjelang ujian semester kenaikan kelas tiga, kita sibuk mempersiapkan diri dengan ikut belajar tambahan atau belajar kelompok.

Hubungan kita juga tak jauh berbeda, aku hanya jadi pengangummu pada saat kamu mulai beraksi bersama teman-teman membuat lawakan-lawakan lucu. Meski kejahilanmu padaku sekarang mulai berkurang tapi kamu tetap jahil kepada teman cewek yang lain. Bahkan dalam rentang waktu kamu mengirim surat padaku aku mendengar kabar kamu memacari teman sekelas kita keturunan China yang bermata sipit bernama Harti. Kamu memang keterlaluan kalau mencari perhatian dengan cara mempermainkan perasaan orang lain.

Dan kamu juga seharusnya tahu kalau aku merasa sedikit tak suka kamu dekat dengan mereka. Meski menurutmu itu hanya main-main. Aku cemburu tapi buat apa, kita tidak punya hubungan apa-apa. Aku mengagumimu tapi aku juga merasa marah jika kamu mengganggu teman cewek yang lain. Apa aku benar telah jatuh cinta padamu seperti yang sering diceritakan didalam buku novel itu. Aku tidak tahu pastinya. Hanya gemuruh dalam jiwa dan perasaanku yang tak bisa aku katakan seperti apa jika berpapasan denganmu, atau melihatmu dari jauh saja sudah membuat jantungku berdegup kencang. Apalagi jika kamu dengan sengaja datang duduk disampingku beberapa kali. Suasana hatiku tidak karuan dan menghindar adalah jalan terbaik sebelum aku pingsan karena terlalu sering menahan nafas agar kamu tak mengetahui kalau aku sedang diserang serangan jantung mendadak. Apa ini terlalu berlebihan, ah biarkan saja.

Dan hari ini aku kembali menerima surat dari kamu, kini bernada ancaman serius yang membuat aku takut setengah mati. Bisa-bisanya kamu mengancam aku lewat surat kamu yang aku anggap sangat tidak sopan. Kamu memang selalu keterlaluan mencari perhatian dariku.

Siang itu aku menemukan kembali surat disaku tas aku, itu surat dari kamu. karena suasana kelas yang sepi aku memberanikan diri membacanya dikelas. Surat singkat yang membuat aku ingin marah. “Ali...” Geram aku meremukkan kertas tak berdosa itu.

Untuk kamu yang hatinya sekeras batu...

Aku tidak bisa berbasa basi lagi membuat kalimat indah, toh kamu juga tak pernah membalasnya. Pun juga tidak menyukainya. Aku terima itu. Tapi aku butuh jawaban kamu, bukan penantian yang tiada akhir seperti ini. Kamu tau, ini menyiksa aku. Aku tunggu balasan atau pernyataan kamu hingga lusa hari sabtu sebelum kita ikut ujian kenaikan kelas pada hari senin. Jika aku tak menerima balasan apapun atau kamu menolak perasaanku maka aku pastikan aku tidak akan ikut ujian kenaikan kelas. Dan alasan utamanya adalah KAMU. dan itu akan aku katakan juga kepada wali kelas jika dia menanyaiku. Aku tidak perduli.

Ali.

Gemetaran aku meremas kertas surat dari Ali siang itu, aku ingin membuat perhitungan denganmu. Ini sudah keterlaluan. Aku merutuki kekonyolan isi suratmu, rasanya jika kamu ada disini aku ingin meneggelamkanmu kedalam bumi karena seenaknya membuat surat yang membuat aku ketakutan dan marah seperti ini.

Dan tiba-tiba kamu muncul di pintu dengan gaya santai dengan mata elang milikmu mengawasiku penuh. Aku kini membalas tatapan itu tak kalah tajam, bahkan aku berdiri menyambutmu dengan wajah memerah menahan amarah. “Apa maksud surat ini? Kenapa kamu mengancamku?” beruntung suasana kelas sedang sepi. Hanya ada aku dan Ali.

“Karena kamu keras kepala dan sombong. Baru kali ini aku menemukan ada orang yang keras hati seperti kamu. kamu memang puas telah membuat aku penasaran dan mengemis seperti ini, kamu hebat Niss. Hebat sekali. Kamu mempermainkan perasaanku, aku belum pernah merasakan hal seperti ini dari orang lain. Kamu yang membuat aku jadi seperti itu.” Ali berdiri didepan mejaku dan meletakkan kedua tangannya diatas meja. Aku membalas tatapannya tapi tak mampu setelah mendengar penjelasannya.

Menunduk lalu duduk, hanya itu yang bisa kulakukan, benarkah aku sekejam dan separah itu dimata Ali. “Kamu berlebihan, aku tidak seperti yang kamu katakan. Aku tak membalas suratmu karena aku mau melihat perubahan dalam sikap kamu, benar kamu berubah tidak menjahiliku aku lagi, tapi dengan orang lain? Kamu masih selalu usil. Untuk apa kamu juga mempermainkan perasaan orang lain demi mendapat perhatian dari aku? Gimana perasaan kamu dipermainkan sama aku? Sakit? Maka itu juga yang mereka rasakan ketika kamu mempermainkan perasaan para cewek disekolah. Apa kamu begitu bangga dengan cap sebagai play boy milikmu itu?”Aku mengeluarkan semua amarah dalam hatiku. Aku melihatnya terdiam. Dia beralih duduk dibangku Christ yang kosong di sampingku.

Kulihat Ali duduk dengan badannya agak condong kebelakang, wajahnya menatap langit-langit kelas yang putih. “Kamu benar, aku telah banyak mempermainkan dan menyakiti perasaan orang. Maafkan aku Nis.” Suaramu melemah dan kamu membetulkan posisi dudukmu menghadap aku yang duduk menyamping.

“Kenapa minta maaf sama aku, kamu nggak salah sama aku tapi kepada mereka.” Aku masih jutek. “Aku tidak mau kamu mengancam aku seperti disurat itu, kamu mau ikut ujian atau tidak itu urusan kamu, bukan urusanku.” Aku berdiri hendak pergi. Kali ini tanganmu bergerak cepat memegang pergelangan kananku, menyuruhku duduk kembali.

“Niss, jangan pergi. Kumohon. Jangan keras kepala seperti ini. Aku janji akan minta maaf kepada teman-teman yang aku sakiti hatinya, tapi kamu janji setelah itu kamu akan jadi teman dekatku. Aku bisa gila mengejar kamu terus dan kamunya nggak pernah mengerti.” Ali memohon agar aku duduk dan mendengarnya berbicara.

“Akan aku pikirkan, tapi tidak dengan ancamanmu, kamu harus ikut ujian hari senin.” Tegasku padanya. Tapi aku sudah tak marah lagi. Bagaimana bisa aku marah padamu. 

Ali tersenyum, “Aku usahakan, tapi hanya dengan persetujuanmu. Kamu akan jadi pacar aku atau tidak” Dia tertawa renyah dan melepaskan tanganku. Dia sudah mulai santai dan mengajakku tertawa.

 “Baik, kita lihat saja nanti hari sabtu. Apa aku berubah pikiran atau tidak.” Kita sama-sama tertawa kaku dan bel pulang pun berdenting-denting.

 

>>> BERSAMBUNG <<<

Sumber Gambar: es.aliexpress.com

  • view 25