Surat Cinta #Bagian 3

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 November 2017
Surat Cinta #Bagian 3

Pagi yang sejuk, matahari enggan keluar dari tempat persembunyiannya semalam. Awan berarak dilangit, meski tidak tebal tapi matahari tak mampu menembusnya. Sinarnya hanya membias diatas awan, sesekali sinarnya menembus awan-awan tipis itu lalu bersembunyi kembali. 

Dari arah timur terlihat segerombolan siswa, berbaur antara siswa sekolah dasar, menengah pertama dan menengah atas. Ada yang berjalan kaki pelan sambil bercanda, berlari-lari kecil dan mengobrol sambil jalan.

Beberapa juga mengayuh sepeda, ada yang teburu-buru, ada juga yang mengayuh sepeda pelan sambil mengobrol sesama teman yang juga bersepeda. pemandangan ini adalah hal yang paling dirindukan oleh masyarakat sekitar sekolah jika musim libur sekolah telah tiba. Betapa tidak, setiap hari ramai oleh anak-anak berseragam sekolah, ketika libur tiba suasana akan terlihat lebih sepi dari biasanya.

Di daerah itu, pusat sekolahan ada di lokasi strategis. Dan juga dekat dengan kantor kecamatan setempat. Disana sekolah menengah pertama dan menengah atas baru ada satu. Ya, dekat kantor kecamatan. Jikalau ada lagi pastilah ada dikabupaten kota atau lebih jauh lagi jaraknya.

Gedung sekolah juga berderetan, gedung itu hanya dipisah oleh sebuah jalan dan tembok pembatas yang tinggi agar para siswa tetap ada dalam lingkungan sekolah masing-masing.

***

Aku masih ingat waktu pelajaran pertama di kelas satu, saat masa perkenalan. Wali kelas menyuruh siswanya berdiri ditempat menyebutkan nama, daerah asal dan mengapa memilih sekolah disini.

Waktu itu kita satu kelas di kelas satu-empat. Ketika kamu di suruh berkenalan oleh wali kelas, kamu bukannya menyebutkan susuai permintaan guru, kamu malah bertanya hal lain yang lebih konyol dan disambut gemuruh tawa seluruh siswa. Aku duduk didepan dan menoleh kebelakang mencari orang yang telah membuat suasana kelas jadi riuh semangat. Sayangnya aku tak memperhatikan kamu menanyakan apa, karena aku fokus berbicara sama teman semejaku kala itu.

Aku suka teman yang bisa membuat suasana gembira. Aku terkesan padamu mulai saat itu. Dalam kelas ada empat baris meja, kamu ada dibaris ketiga. Kamu duduk di bangku belakang. Aku duduk didepan dibaris kedua. Aku suka duduk di depan bukan karena ingin dibilang pintar atau biar pintar, tapi kala itu aku merasa jika duduk dibelakang aku kurang jelas melihat tulisan dipapan tulis. Mataku minus, masih stadium satu tapi aku tak mau memakai kacamata. Karena satu sekolah seingatku cuma ada satu yang memakai kacamata dan dia menjadi bahan tertawaan karena mimik wajahnya yang terlihat sedikit aneh ketika memakai benda itu.

Ini semua tentang kamu yang sejak awal aku tahu namamu dan mulai menyukai candaan yang kamu lontarkan dan guyonan tambahan dari teman-teman yang duduk dibelakang. Aku suka tertawa mendengar kalian berseloroh ketika guru matamatika datang, sehingga belajar terasa menyenangkan. Terkadang aku tersenyum ketika guyonan kalian malah kena omel guru mata pelajaran karena mengganggu proses belajar dikelas.

Yang dulu entah siapa yang mengusulkan namaku menjadi pengurus osis dikelas dan kebagian tugas membantu ketua kelas kita mengurus keperluan kelas, mengabsen nama kalian setiap hari, menerima surat ijin bolos dari kalian dan kadang menulis dipapan tulis untuk membuat catatan. Disanalah babak baru aku mulai tak menyukaimu dan beberapa teman yang lain karena keisengan kalian, pernah beberapa kali kalian entah siapa yang memulai  melempariku dengan kertas ketika aku sedang menulis dipapan tulis. Yang akhirnya membuatku kesal dan marah lalu mengehentikan menulis yang akibatnya kita satu kelas di omelin wali kelas karena membuat keributan.

Dari awal aku kagum karena kamu bisa humor membuat kelas jadi meriah kini berubah jadi mulai  tak menyukai bahkan diam-diam aku membencimu. Sampai ketika kita naik ke kelas dua sifat kamu tak jua berubah, kamu dan teman-teman yang usil sudah berkali-kali mendapat teguran dan surat peringatan tapi sepertinya itu tidak mempan. Kagumku padamu berubah jadi benci yang jika aku bertemu atau jika kamu ada dikelas atau diluar kelas lebih baik pergi menghindar sebelum kena olok-olok atau sejenisnya. Itu lebih aman dari pada menghabiskan kata-kata tidak berguna yang toh tidak akan merubah apapun dari kalian. Aku berharap kalian segera menyadari apa arti dan harapan orang tua mengirim kalian bersekolah. Ya, semoga.

***

Pagi ini aku sengaja datang lebih lambat dari biasanya. Tepat bunyi bel masuk aku baru sampai gerbang. Berlari kecil dan selamat sampai  kelas tanpa hambatan. Hari ini semua lancar sampai jam istirahat. Aku ingin dikelas saja, dan menitip beli minuman kepada Christ. Malas keluar dan ingin duduk saja dikelas.

Ketika kelas hampir sepi, aku melirik kesamping kiriku tempat dimana Willy duduk, aku hanya ingin melihatnya mengingat nanti sepulang sekolah dia ingin bertemu. Dia sedang bersiap keluar menenteng satu buku catatan. Dia berjalan melewati mejaku “Hai, Nis. Gak keluar? Nanti aku tunggu di Tribun ya.” Aku membalas senyumnya dan mengangguk saja. Dia pergi keluar kelas. Terkadang Willy sopan dan terkadang juga suka usil.

Aku penasaran membalikkan badan ke arah belakang. Kamu, ya kamu sedang melihat ke arahku dengan mata elang milikmu yang seketika membuat aku diserang serangan jantung mendadak, melompat-lompat dari tempatnya dan membuat perutku sedikit sakit. Aku segera berpaling. Duduk kembali dan aku benci sama kejadian ini. Sungguh aku sangat tidak suka dengan kondisi jadi penyakitan  seperti ini jika melihatmu, kamu membuatku jadi seperti seorang penakut disiang hari. Ku mohon keluarlah. Aku ingin sendiri dikelas.

Ketika tanpa kusadari kamu telah duduk disampingku, dibangku Christ, kamu duduk menungguku merespon kahadiranmu. Tapi aku malah berdiri dan mencoba pergi secepat mungkin. Dan aku merasa kamu tak sempat menarik tanganku tapi berhasil menahan jilbabku yang mebuatku tertahan memegangi kepalaku agar kain putih itu tak copot dan urung pergi. “Lepasin!” aku menampik tanganmu agar melepaskan ujung jilbabku.

Kamu melepaskannya dan melihat kewajahku yang merah padam menahan marah, “Jangan pergi, aku tidak akan mengganggumu. Aku minta maaf soal tadi, janji.” Kamu membuat tanda damai dengan jarimu dan tersenyum.

Aku yang masih marah belum bisa menerima perlakuanmu terhadapku dan jilbab putihku. Pokoknya aku masih marah. Aku semakin tak menyukaimu. Aku mendengus dan kembali duduk. Tapi aku mengacuhkanmu, melipat tangan dan menenggelamkan wajahku diatas meja. Aku tak menyadari kamu menitipkan sepucuk surat disaku tasku yang terbuka yang baru aku ketahui saat kembali kerumah dan membereskan buku malam itu. Ketika bel masuk kamu pun pergi kembali ke belakang.

***

Di atas tribun sudah ramai anak sekolah yang masuk kelas siang saat aku menaiki tangganya. Tribun itu digunakan untuk acara upacara bendera, acara tanggal tujuh belasan atau acara menyambut tamu pemerintah daerah atau jika ada acara event yang diadakan oleh pemerintah setempat.

Aku mencari sosok Willy diantara anak-anak lain disana. Dia duduk ditangga didekat tembok paling atas membelakangi jalan raya dibelakangnya. Dia berdiri menyambutku, mengulurkan tangan agar bisa menarikku naik duduk bersamanya. Aku kesulitan naik karena rok panjangku dan tangganya dibuat tinggi agar bisa jadi tempat duduk saat menonton pertandingan bola jika ada perlombaan.

Setelah duduk Willy membuka suara, “Maaf menyuruhmu datang kesini, soalnya kalau dikelas atau di sekolah terlalu banyak orang, nggak enak buat ngobrol serius.” Aku merasa Willy tidak sedang bergurau.

“Nggak masalah, kamu mau ngomongin soal apa, mau meminjam buku catatan lagi?” Aku menebak, sesekali dia sering meminjam buku catatanku jika dia malas mencatat.

“Bukan soal itu, oh ya, kamu udah baca surat aku? Kalau kurang bagus nanti aku bikin yang lebih bagus lagi.” Dia tertawa renyah. Aku juga tertawa.

“Kenapa gak ngomong langsung, kenapa harus lewat surat?” Penasaran aku bertanya. Melihatnya berkeringat padahal hari ini tak terlalu panas. Hawanya mendung. Willy terlihat salah tingkah. Aku merasa lucu, dia malah kembali tertawa.

“Nggak berani, tapi sekarang aku mau bilang, aku suka sama kamu.”. Dia telihat sungguh-sungguh. Tapi aku malah tertawa pelan. Menertawakan raut wajah seriusnya.

“Kamu kalau lagi ngomong serius mirip pak guru kimia, serem hahaha.” Dia malah menyentil kepalaku. Willy sebenarnya baik, hanya saja dia suka ikutan jadi geng rusuh dikelas.

“Aku suka kita yang seperti ini, teman baik dan teman berantem. Tapi tidak pernah musuhan.” Aku langsung menyela dan berusaha agar tidak menyinggung perasaannya.

“Tapi aku mau kita jadi lebih dari sekedar berteman. Kamu mengertikan, aku mau kita pacaran jadi jika ada yang mengganggumu aku akan melindungimu.” Aku melihat kewajahnya, dia kikuk dan memasang wajah serius lagi.

“Tapi aku maunya kita seperti ini, berteman baik dan tanpa batas. Aku gak bisa menerima kata'pacar' dari kamu, sungguh aku juga tak mau kamu berharap lebih jadi aku katakan sekarang. Gimana kita akan tetap berteman bukan?” Willy diam, dia menunduk. Dari arah belakang jalan raya suara-suara memanggil Willy, ternyata itu Dennis dan teman-teman yang lain mau pulang. Mereka berjalan kaki menuju parkiran sepeda disalah satu tikungan di dekat sana. Dan disana ada kamu, yang tadi menarik kerudungku didalam kelas.

“Hei Willy, ngapain kamu. Jangan percaya sama dia Nis, dia banyak gombalnya.” Teriak Dennis dan Yadi dari belakang tribun. Aku melihatmu menatapku dengan tajam, lalu barpaling ke arah Willy. Aku melihatmu seperti monster menakutkan, wajahmu tak ada senyum. Lalu terus berjalan. Willy hanya melambaikan tangan ke arah kalian.

“Nis, apa kamu telah jadi pacar kakak kelas itu ya, yang sering dibicarakan dikelas belakangan ini?” aku hanya menggeleng. “Enggak, aku nggak ada hubungan sama siapa-siapa.” Aku berusaha meyakinkanmu.

“Kamu mau aku katakan satu hal?” Aku mengangguk lagi “Baiklah, aku terima penolakanmu, ini mungkin bukan yang terbaik untukku. Tapi kita tetap akan berteman baik. Tadinya aku hanya ingin saingan sama seseorang dikelas yang aku lihat sering memperhatikanmu. Dia memang sering usil dan mengganggumu, dia juga punya banyak pacar tapi sepertinya ia melakukan itu untuk mencari perhatianmu, tapi ternyata bukannya kamu tertarik tapi malah sebaliknya membencinya.” Willy menghembuskan nafasnya perlahan.

Willy melanjutkan, "Aku memang naksir sama kamu pas kita sekelas dikelas dua ini, tapi baru bilang sekarang. Itu juga mendadak demi tak mau keduluan sama orang lain, tapi tetep aja ditolak sama kamu. Hiks" Willy menerawang ke atas atap tribun. Aku tertawa kecil dan memukul bahumu pelan, lucu melihat raut kecewa disana.

“Kamu mau tau siapa dia?” aku hanya mengangguk lagi dan kali ini memfokuskan pikiranku pada kalimatmu selanjutnya. “Ali. Dia diam-diam menyukaimu. Aku tak tau sejak kapan, tapi aku baru menyadarinya sejak kamu sering jalan dan ngobrol sama kakak kelas itu. Dia kelihatannya cemburu dan tidak suka sama kakak kelas itu” Aku sedikit terpana dengan kalimat terakhirmu. Willy menatap wajahku mencari sesuatu disana.

“Baiklah, aku hanya ingin kamu tahu saja, apa dia telah mengatakannya padamu? Atau mengimkan surat cinta padamu? aku ingin jadi pacar kamu juga selain ingin melindungimu juga aku nggak mau kamu dijadikan pacar yang entah hitungan keberapa sama Ali. Dia suka mempermainkan perasaan cewek.” aku kembali menggeleng pelan. Aku hampir tak percaya, Ali menyukaiku, ini pasti ada yang salah. Atau Willy yang salah menduga.

“Pulang yuk, aku sudah telat pulang. Khwatir ibu pasti mencemaskanku. Sampai ketemu besok. Kita tetap berteman meski setelah apa yang kamu ceritakan hari ini.” Aku mengepal tangan dan Willy melakukan hal yang sama dan tangan kami saling beradu. Wiilly tersenyum dan melambai. “Sampai jumpa besok.”

***

Dan malam itu setelah membereskan buku ditas aku menemukan suratmu, aku tak mau segera membaca isinya tapi aku mencari siapa nama pengirimnya terlebih dahulu. Aku mebalik kertas surat itu, ada dua lembar kertas berwarna biru. Dan disana, di pojok kanan bawah surat itu ada namamu, Ali. Ali Alamsyah

>>> BERSAMBUNG <<<

Sumber gambar: kararuna.com

 

 

 

 

 

  • view 33