Surat Cinta #Bagian 2

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 November 2017
Surat Cinta #Bagian 2

Tahun kedua di sekolah ini. Aku sudah duduk dikelas dua. Teman-teman baru, ruang kelas yang baru. Suasana serba baru. Teman-teman baru karena ada pertukaran siswa antar kelas. Karena siswanya banyak  jadilah dulu dikelas satu terbagi enam kelas. Dan sekarang enam kelas dibagi lagi menjadi lima kelas dengan pertukaran siswa berdasarkan nilai rapor semester lalu.

Di kelas dua ini aku masih satu kelas sama orang yang aku kagumi dan juga paling aku benci. Ya, karna dia sangat usil dan suka sok tau urusan orang lain. Dan juga tukang ribut dikelas. Bukan dia yang memulai keributan, tapi dia suka ikut-ikutan temannya yang duduk dibelakang kelas. Jika sedang ada rapat guru atau kelas kosong mereka suka melempar kertas yang sudah diremukin lalu dilempar ke arah siswa lain. Para cewek dikelas sering menjadi sasaran tak berdosa kertas-kertas itu. Jika sudah begitu suasana dalam kelas akan riuh.

***

Hari ketiga di awal kelas dua itu, aku bertemu Irsyad pada jam istirahat dihalaman sekolah. Dia hanya tersenyum tanpa bicara dan berlalu. “Ada apa dengannya, ya. Biasanya pasti menyapa.” Aku juga heran, biasanya kalau bertemu pasti ada saja sapaannya, dan sekarang hanya senyum. Aku melanjutkan langkah ke arah kantin sekolah.

Disana ada Willy dan Ali. Dua orang yang suka ikutan rusuh dikelas jika sudah di mulai sama Dennis. Mereka duduk dibangku belakang. Meja mereka berseberangan.

“Hai, Nisse. Mau ikut makan siang? Mi sopnya enak. Disini kosong.” Ali menawarkan tempat duduk. Menggeser badannya ke dekat Willy agar sisa bangku panjang itu bisa buat tempat duduk. Lalu mereka berdua cengengesan. Mungkin kepedasan makan mi sop.

“Terima kasih, tapi  saya hanya ingin beli minuman.” Aku meninggalkan mereka pergi kearah rak minuman. Aku pergi lagi setelah membayar. Aku melewati mereka lagi.

“Eh, tunggu. Kita bisa pergi bareng, aku juga mau balik ke kelas.” Ali berdiri dan buru-buru membayar lalu mengejar aku. “Kamu gak makan?” dia bertanya sambil berjalan disampingku.

“Eh, enggak. Belum lapar.” Jawabku gelagapan. Aku malas dijahilin sama satu orang ini. Dari belakang Willy berlari mengejar. “Hei, Tunggu.” Dia jalan dengan nafas memburu.

“Kalau ngomong sama cewek aja nggak ngajak-ngajak. Huh, dasar.” Willy merutuki Ali yang meninggalkannya. Ali hanya tertawa lebar sambil merunduk mengambil kerikil kecil lalu melemparkannya kepada Willy. Willy melompat menghindari kerikil itu sambil tertawa cengengesan.

“Mengganggu saja.” Ali protes. Aku hanya diam saja melihat mereka sambil terus berjalan.

“Oh ya, Nis. Siapa tuh kakak kelas yang naksir kamu. Ah, ya... namanya Irsyad. Benarkan?” Ali menjawab sendiri pertanyaannya. Aku melihatnya sekilas lalu terus berjalan. Ali terus menjejeri langkahku, lalu menyusul Willy. "Untuk apa juga mereka tau."  Pikirku. Aku terus berlalu. Tapi mereka sepertinya gak menyerah.

“Berarti bener. Iya, kan. Ooo ternyata cewek pendiam ini ada yang naksir juga. Seorang kakak kelas. Wah, hebat. Kemarin dia menembak kamu ya, atau dia memberimu surat cinta? So sweet sekali ya.” Willy mulai mengejekku. Mereka berdua mulai lagi mengolok-olok soal surat itu. Aku tak habis pikir mereka tau dari mana.

“Lalu apa hubungannya sama kalian? Jika benar juga apa untungnya buat kalian, heh? Urus saja diri kalian masing-masing. Kenapa kalian selalu mengganggu orang lain, pergi!” Wajahku mungkin memerah setengah menahan tangis dan muak mendengar ejekan mereka, aku berlari menjauh. Mengangkat rok panjangku sebelah tangan menyeberangi got dan berlalu masuk kelas.

***

Keisengan berlanjut hingga didalam kelas, teman semeja aku namanya Christ, bertanya kenapa aku berlari dan wajahku memerah. “Nis, ada apa denganmu, apa soal surat dari kakak kelas itu?” Christ yang sedikit tau dari ceritaku soal surat cinta itu bertanya pelan.

“Aku nggak tau kenapa hampir satu kelas kita tau. Padahal surat itu dia berikan langsung padaku. Apa surat itu rekayasa saja atau beneran kak Irsyad ya?” aku mulai bimbang. Meski sebenarnya aku tidak menyukai Irsyad tapi bukan berarti kalau surat ini bener dari dia kenapa dia diam saja tadi pas ketemu. Aku tidak bisa membalas surat itu, apa yang harus aku katakan. Kurang logis juga kalau aku langsung bilang aku tak menyukainya.

“Aku ada berita buat kamu nih. Semoga kamu nggak kaget.” Christ mendekat dan berbisik pelan ke telingaku. “Ali dan Irsyad bertemu, mereka kan satu arah kalau pulang sekolah, sepertinya mereka bertetangga. Dan mereka bertanya kenapa Irsyad menemuimu siang itu dan mengobrol sepanjang jalan ke sekolah. Salah satu teman Ali melihat Irsyad memberimu sepucuk surat. Aku gak tau mereka membicarakan apa pas ketemu Irsyad, semoga mereka tidak berantem. Dan itulah yang terjadi sekarang.” Panjang lebar Christ menjelaskan yang dia tau tentang masalah ini.

“Apa? Aku tidak mengerti, lalu apa hubungannya jika bener Irsyad menulis surat untukku dengan Ali dan teman-temannya? Aku sungguh nggak mengerti.” Aku menelungkupkan wajah di atas meja, bingung. Apa sebenarnya maksudnya. Dan Ali, ahh, dia menyebalkan. Aku pikir ketika naik kelas dua dia akan berubah ternyata sama saja seperti di kelas satu. Menyebalkan.

Christ mendesah. “Karna di kelas kita ada yang naksir sama kamu, dan teman-teman kita peduli jadi mereka gak mau kalau kakak kelas itu dekat sama kamu. Jelas?”

Kata Christ membuat aku mengangkat wajah, “Apa?” aku mengedarkan pandangan pada beberapa anak dikelas yang tak mau keluar meski jam istirahat. “Siapa, Christ?” aku jadi merasa ingin tahu.

“Sesekali kamu itu harus update biar gak ketinggalan berita. Aku juga kurang tau  siapa, tapi yang jelas ada yang naksir kamu dikelas kita, atau tepatnya mereka naksir kamu. tapi kamu kurang tanggap melihat suasana kelas. Kalau menurut perkiraan aku ada dua orang dikelas kita, hehehe.” Terkekeh Christ bercerita lalu mencubit lembut ujung hidungku. “Cobalah mulai memperhatikan, ya Nisse sayang. Aku mau toilet.” Pamitnya pergi keluar.

Aku kembali melipat tangan dan menelungkupkan wajahku diatas meja. Memikirkan apa yang barusan Christ ceritakan. Mencari-cari dibalik rasa penasaran, dan hatiku masih gondok sama Willy juga Ali. Keterlaluan.

***

Bel tanda masuk kelas berdentang keras. Aku tersentak lalu megangkat wajah dan membenarkan posisi duduk. Aku memastikan aku baik-baik saja lalu mengedarkan pandanganku ke belakang mencoba memperhatikan keadaan kelas.

Dalam satu gerak lurus mata kami bertemu. Mata itu laiknya sinar tajam dan kuat. Sinar matanya seolah menegaskan, tetaplah disana aku ingin melihatmu lebih lama. Hatiku berdesir, entah apa yang ada dalam diriku membuatku mendadak seperti sakit perut dan kurasakan tekanan darahku naik. Kurasakan jantungku bergerak lebih cepat, aku menahan nafas sebentar. Kenapa jadi begini, Sekujur tubuhku terasa hangat. Mata itu membuat aku terkena serangan jantung mendadak. Aku berpaling ke arah lain. 

Dan dipojok kiri aku menemukan pandangan yang sama ke arahku. Mengunciku dalam satu titik. Tapi aku merasa senang, dia tersenyum tipis. Aku suka senyumnya. Aku membalas  tersenyum. Lalu buru-buru berpaling ke depan. Christ juga telah kembali. Dan kami belajar hingga jam pulang sekolah berakhir.

***

Dipintu gerbang tas ranselku ditepuk seseorang dari belakang. Aku menoleh, “Kak Irsyad.” Aku mencoba tersenyum dan mengikuti langkahnya. “Mau kemana?” Dia menyeberang ke arah lapangan bola.

Kak Irsyad mengulurkan tangannya, “Ikut, Yuk. Cuma sebentar.” Aku menurut saja.

Duduk dibawah rimbunan pohon akasia di jam siang itu sungguh damai, angin bertiup semilir menjatuhkan serbuk bunga akasia yang berwarna kuning. Kak Irsyad menepis bunga-bunga itu dari atas jilbab putihku, aku hanya menunduk. “Maafin aku ya, gara-gara surat itu kamu jadi bahan cemoohan teman sekelas kamu. Aku nggak bermaksud begitu.” Aku diam saja mendengarkan.

Dia menarik nafas, “Kamu pasti sudah tau kenapa tentang surat itu bisa jadi seperti sekarang. Waktu libur semester kemarin, teman-teman sekelas kamu bertemu denganku dipantai, kebetulan aku sendirian. Mereka mengkonfirmasi soal aku menemuimu dan apa maksud suratku. Aku mejelaskan apa adanya. Salah satu temanmu saat itu mengatakan agar aku tak menemuimu lagi. Karna kamu akan jadi pacarnya. Kalau tak salah dia Ali yang bilang seperti itu. Tapi aku nggak percaya.” Aku hanya mengangguk mendengarnya. Aku bingung mau jawab apa.

“Apa kamu menyukai Ali? Tapi aku tak percaya kata-katanya. Aku yakin kamu belum menjalin hubungan dengan siapapun sebelum ini.” Kulihat Irsyad menatap wajahku, aku semakin menunduk.

“Aku minta maaf kak, belum bisa balas suratnya. Aku mesti balas apa, aku belum memikirkan hubungan apapun saat ini, aku mohon maafkan aku.” Aku berdiri ingin pulang.

“Aku tahu, kamu tak perlu membalasnya sekarang. Mau aku antar?” Dia menawarkan diri.

“Tidak usah kak, terima kasih. Toh rumahku nggak jauh. Aku jalan saja.” Rumahku memang dekat dengan sekolah, kurang lebih lima ratus meter jaraknya dari sekolah.   

***

Siang itu ditikungan menuju rumah aku bertemu Willy, dia tersenyum menghampiriku. “Aku pikir kamu udah sampai rumah, cepet amat jalannya. Ternyata masih ketemu kamu disini.” Dia cengengesan.

“Belum kok, ada apa Wil, masih mau mengejek aku nih?” aku menggodanya sambil pasang muka manyun satu meter. “Ngapain menemui aku, heh?” Aku mencoba lebih galak lagi.

Dia hanya tersenyum, tak ada tanda-tanda dia akan mengejekku. “Aku Cuma mau kasih ini, aku tunggu kamu besok siang sepulang sekolah di atas gedung Tribun ya. Aku minta maaf kalau kamu susah membacanya, aku nggak biasa menulis surat. Tapi kali ini aku menulisnya sepenuh hati, titip salam buat tante dirumah.” Willy langsung ngeloyor pergi, melambaikan tangannnya lalu tersenyum ke arahku. Seperti senyum tadi didalam kelas. Aku menerimanya, atau tak bisa menolaknya ketika dia menyodorkan surat itu lalu pamit pergi.

Aku langsung pulang ke rumah, lalu melakukan aktifitas hari ini seperti biasa. Aku melupakan surat Willy. Ketika malam aku baru membukanya ketika akan beranjak tidur. Apa Willy salah satu yg dimaksud sama Christ? Ahh, tapi kenapa aku tak pernah menyadarinya. Yang aku tau dia dan teman-temannya adalah tukang bikin rusuh dikelas dan tukang bolos jika mata pelajaran matematika dan kimia.

Besok-besok aku akan lebih teliti terhadap sekitar aku. Lalu apa isi surat ini? Perlahan aku membukanya, selembar kertas putih. Singkat sekali.

Kamu, yang telah membuat duniaku berubah. Aku menyukai hampir semua hal dalam dirimu. Polosnya sinar matamu dan lugunya pesona wajahmu membawa pikiranku berkelana bersama bayangmu dalam indahnya taman-taman bunga. Meski ini terlalu berlebihan untukmu, tapi aku mengatakan yang sejujurnya. Aku nggak berani mengatakan padamu, oleh karena itu aku selalu mencari perhatianmu dengan terus berbuat usil padamu. Aku minta maaf untuk hal itu. Sungguh aku minta maaf. Aku menunggumu besok siang di atas gedung Tribun di lapangan bola.

Willy Nugraha

>>> BERSAMBUNG <<<

 Sumber Gambar: www.anekacontohsurat.com

 

 

 

 

 

  • view 42