Surat Cinta #Bagian 1

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 November 2017
Surat Cinta #Bagian 1

“Nisse, tunggu!” seorang kakak kelas cowok tergopoh-gopoh mengejarku. Aku berpaling dan menoleh kebelakang.

“Hai, bisa kita becara sebentar? Aku ada titipan untukmu” Irsyad, cowok itu kakak kelasku, kelas dua IPS dan aku kelas satu. Dia terburu-buru menghampiriku, berjalan beriringan disampingku. Kalau aku tidak salah lihat tadi dia berlari dari arah warung pinggir jalan dekat rumahku.

“Hai, ada apa kak? Oh ya, titipan dari siapa?” Tanyaku penasaran. Mungkin surat izin bolos dari teman sekelas yanG di titip ke Irsyad. Aku adalah pengurus osis kelas, aku yang memegang buku absensi dan sering mendapatkan surat dari teman-teman yang berhalangan masuk sekolah karena mereka ada keadaan mendesak yang memungkinkan tak bisa datang ke sekolah.

“Tapi sebelumnya aku mau tanya dulu nih, kamu udah pernah terima surat cinta belum?” Irsyad langsung ke pokok pembicaraan. Aku memasang wajah bingung.

“Hah, Surat cinta. Apa maksudnya? Lalu untuk apa kakak tau juga?” Balasku sedikit sewot sambil manyun. Tiba-tiba datang nanyain soal surat cinta. "Sering kok nerima surat, tapi surat ijin dari teman-teman sekelas, hehe." Aku mempercepat langkah. Meski sedikit kaget tapi aku mencoba santai.

“Jangan marah donk, kalau jawaban kamu kayak gitu besar kemungkinan kamu memang belum pernah dapat surat cinta, ya.” Kembali Irsyad menggoda aku. Aku jadi penasaran siapa yang menitipkan surat untukku, kenapa juga dititip sama kakak kelas yang jahil ini.

“Hei, kenapa diam saja? Maaf ya, baiklah ini suratnya.” Dia menyodorkan amplop surat warna putih polos.

Aku menerima surat itu sambil terus jalan "Ini surat ijin dari siapa? aku lagi gak mau bercanda, nanti aku serahkan ke wali kelas." Memasang muka super kesal, biarin tahu rasa.

"Hei, jangan! itu beneran surat cinta, bukan surat ijin teman sekelas kamu. Kalau nanti sampai ke wali kelas bisa berantakan urusannya." Kulihat Irsyad kaget dan dia menghadang jalanku.

Aku ingin tertawa ngakak lihat perubahan sikapnya "Baik, katakan ini dari siapa?" Tegasku padanya.

"Kamu bisa membacanya sendiri, tapi jangan di dalam kelas. Nanti ketauan teman-teman kamu kan jadi masalah baru lagi." Irsyad kembali berjalan di sampingku.

 

“Aku suka kamu kalau lagi cemberut begini, beneran. Oh ya, nanti suratnya jangan lupa dibalas, ya. sekarang disimpan dulu” Irsyad pergi melambai kearah jalan turunan di perempatan jalan depan sekolah. Dia pulang. Saat itu jam satu siang. Kelas dua dan tiga masuk sekolah pagi dan kelas satu masuk sekolah siang.

Irsyad, sejak masuk sekolah ini, dia selalu memberi perhatian lebih padaku. kami memang beda kelas. Dia adalah kakak kelasku. Meski begitu, entah sengaja atau tidak, kami sering berpapasan. Aku tidak terlalu mengenalnya tapi aku tahu dia. Dia seorang kakak kelasku, dia salah satu pengurus OSIS umum disekolah, dia sedikit pendiam tapi pintar. Tingginya 170 Cm, kulitnya coklat, matanya tajam seperti silet dan kalau tersenyum dia sangat manis. Aku tak sengaja mengenalnya karena aku juga termasuk pengurus OSIS kelas, jadi terkadang aku harus ikut rapat dalam kepengurusan OSIS umum di sekolah. Sedikit banyak informasi tentang dia aku dengar dari teman-teman yang sering membicarakan cowok-cowok pengurus OSIS yang keren dan pintar. aku mendengar mereka bergosip.

Tak lama bel masuk kelas berbunyi. Aku masuk kelas dan beberapa teman megatakan padaku bahwa tadi aku dicariin kakak kelas. Lalu mereka menggoda aku soal Irsyad. Huh, mereka sungguh menggangguku. Dan aku kesal.

“Lalu kenapa? Hah.” Aku langsung duduk dan mengamankan surat yang tadi dari Irsyad, apa jadinya jika teman-temanku lebih dahulu membacanya sedang aku saja belum tau isinya dan itu surat dari siapa.

Saat jam istirahatpun aku terus mengantongi surat itu, takut kalau teman-teman pada usil dan mencoba mencurinya. Tapi, ada satu orang di kelas yang sekilas selalu memperhatikan gerak gerikku. Aku tidak tau apakah ini hanya firasatku saja, entah kenapa aku meyakininya bahwa dia memang sering memperhatikanku.

Minggu depan adalah libur kenaikan kelas, libur semester. Dan aku akan duduk dikelas dua menengah atas. Aku tak sabar ingin segera liburan dan pulang kerumah ibu.

 

***

 

Sesampai dirumah setelah membereskan pekerjaanku, sore sepulang sekolah aku mengurung diri dikamar. Tapi dasar apes, adik-adik mengganguku. Jadilah sekarang aku dibelakang rumah, berdiri bersandar pada tembok dan membolak balik surat itu.

Aku ada di belakang rumah, di dekat pohon pisang yang tumbuh begitu subur. Liburan semester kenaikan kelas adalah liburan yang lama, aku pulang kerumah di pulau. Sementara jika sekolah mulai seperti biasa, aku akan tinggal di rumah tante, kakak dari bapak.

“Tidak ada nama pengirimnya, kira-kira dari siapa ya?” Aku memastikan sekelilingku bebas dari mahkluk kecil kesayangan ibu dan bapak, ya adikku, juga dari serangga yang mengusikku, bisa saja mereka mengganggu konsentrasiku. Setelah kurasa aman, aku mulai membuka sampul surat itu. Hatiku berdesir, kupingku sedikit panas dan aku tergesa-gesa membukanya. Jika ini surat cinta, maka ini surat cinta yang pertama dalam hidupku. Dan isinya dua lembar kertas warna putih polos, kertasnya wangi. Mungkin di semprot parfum, aku kurang tahu. Ditulis tangan dengan sangat rapi. Aku mulai membacanya.

Untuk kamu yang selalu hadir dimataku...

Aku tau kamu pasti bertanya-tanya siapa aku, yang telah berani mengusik waktumu untuk membaca surat ini. Aku juga telah berani menghampirimu dengan segenap kekuatan jiwa yang ada dalam diriku. Aku bahkan sampai menulis surat untukmu entah yang keberapa kalinya tapi  baru yang ini sampai di tanganmu karena aku tak punya keberanian untuk menyampaikannya.

Kamu yang selalu hadir dimataku,

Aku mengagumi warna bola matamu yang coklat, menyukai caramu berjalan, merindu caramu memandang, menyukai pesona nada bicaramu yang sedikit jutek. Aku menemukan hal berbeda dalam dirimu, aku tak tau apa. Tapi aku yakin itu suka, aku telah diam-diam mengagumimu sejak pertama kamu masuk sekolah, saat kamu jadi peserta MOS dan kamu terpilih menjadi anggota paskibraka. Entah apa gerangan seminggu kemudian kamu datang kepanitia dan aku salah satu panitianya. kamu mengundurkan diri jadi anggota paskibraka.

Sejak itu aku mulai mencari tau tentang kamu. wanita yang telah mencuri perhatianku hingga saat ini. Dan kamu tak pernah tau itu hingga kamu baca tulisan ini. Aku tak mau mengatakan langsung karena aku takut reaksimu akan seperti apa, jadi aku menulis barisan kalimat ini mewakilkan perasaanku.

 

Kamu yang selalu hadir dimataku,

Aku pastikan kamu juga belum menyukai siapapun sebelum ini, karena aku telah mencari tau. Maaf ya, aku melakukannya karena aku tak mau wanita yang aku suka ternyata sudah punya orang lain dihatinya. Jika ini surat pertama untukmu aku sangat menghargainya dan aku menunggu balasan dari kamu. Tolong berikan langsung padaku saat liburan usai dan kita masuk sekolah lagi. Selamat ya, kamu akan jadi anak kelas dua dan bukan anak baru lagi.

Selamat berlibur yaa,,,

Irsyad Hakim

 

***

 

Aku terpana membaca surat Irsyad, ini memang surat cinta pertama bagiku. Tapi aku merasa biasa saja, hanya sedikit merasa senang. Ini berarti bagiku. Karena selama ini belum ada yang berani mengirimiku surat atau aku memang tidak menarik dan sedikit kuper alias kurang pergaulan, anak rumahan dan kutu buku. Jadi mana ada cowok yang akan tertarik padaku.

Terkadang pernah terlintas pertanyaan dalam benakku, seperti apa rasanya disukai oleh seorang laki-laki. Atau pertanyaan lain, seperti apa rasanya jatuh cinta pada seorang teman laki-laki? Apa sepeti dalam buku novel atau buku cerita yang sering aku baca? Kenapa aku belum pernah merasakan perasaan yang berbeda kepada mereka, salah satu cowok teman di sekolah?.

Di sekolah, bukan hal baru jika melihat para siswa berpacaran. Pacaran antar teman sekelas, antara teman dengan kelas lain yang beda ruangan karena untuk kelas satu saja kami dibagi enam ruangan. Atau pacaran antar adik kelas dengan kakak kelas. Pemandangan di sekolah jika sedang jam istirahat, mereka yang berpacaran di sekolah sering terlihat jalan bersama ke kantin, sekedar mengobrol di depan halaman sekolah, pulang dan pergi sekolah selalu bersama. Sering terbersit dalam anganku ingin seperti mereka, punya teman spesial yang bisa ngobrol dan belajar bersama. Mungkin sepertinya seru.

Ada banyak pak pos atau mak comblang yang akan menyampaikan atau mengirim surat dari orang yang mereka taksir tanpa meminta imbalan, palingan keesokan harinya akan tersebar gosip si A mengirim surat ke si B dan akan menjadi berita hangat disekolah. Aku bahkan pernah menyampaikan surat dari seorang teman untuk seseorang yang aku kagumi di kelas, tapi aku tak bicara apa-apa. Hanya menyampaikannya saja. Dan orang yang aku kagumi itu juga hanya mengucapkan terima kasih. Dan anehnya orang yang aku kagumi di kelas itu mempunyai banyak pacar, dia seorang play boy cap ikan teri,  pacarnya di setiap ruang kelas satu ada. Aku mengaguminya karena dia pintar bercanda, dia pandai sekali membuat kalimat lucu yang membuat kami sekelas bisa tertawa terbahak-bahak mendengar dia bercerita.

Dan surat ini ternyata dari Irsyad. Aku baca sekali lagi. Aku kecewa, bukan karena Irsyad suka sama aku atau suratnya jelek, tapi aku berharap surat ini datangnya dari orang lain. Dan karena surat ini hidupku kedepan jadi bahan sindiran teman-teman sekelas dan membuka rahasia yang baru yang belum pernah aku tahu sebelumnya.

 

  • view 164