Laut, kembalikan Ayahku

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Renungan
dipublikasikan 23 November 2017
Laut, kembalikan Ayahku

Sore hari itu cerah, langit bersih tanpa awan kelabu. Angin berhembus semilir, sejuk. Angin musim kemarau yang sudah berlangsung seminggu terakhir.  Bagi sebagian orang pelaut cuaca seperti ini sangat mendukung untuk pergi melaut mencari ikan atau melakukan perjalanan ke pulau lain. Dengan cuaca yang bersahabat seperti ini siapapun akan sangat menikmati betapa laut itu sangat indah, melihat airnya seperti melihat hamparan permadani, dan ingin berguling-guling di atasnya. Bermain-main.

Seperti sore itu dua orang nelayan sedang bersiap untuk pergi melaut mencari ikan, bagi orang yang tinggal dipesisir pantai, menjadi nelayan adalah sebuah mata pencaharian sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sungguh beruntung jika cuaca cerah dan tangkapan ikan dari memancing ditengah laut lumayan banyak, mereka akan menjualnya kepada toke-toke pengumpul ikan untuk kemudian ikan tersebut dimasukkan ke peti es dan dijual ke kota besar.
*
Seorang nelayan bernama Gara menaikkan keperluan mereka melaut sore itu, dua lampu petromak, dua dayung yang terbuat dari kayu kokoh, keperluan makan malam, mantel untuk jaga-jaga bila hujan badai dan keperluan pelengkap lainnya.

Teman Gara melaut malam itu, Dani sedang menaikkan sauh dibagian belakang sampan kecil yang akan membawa mereka ke tengah laut. Beberapa nelayan lain yang sore itu ada dipelabuhan membantu mereka mendorong perahu kecil itu menuju bibir pantai.

“Bagus kali cuaca sore ini jiwa, bawalah ikan yang banyak pulang esok, ya. Saya beli satu ikat." Komentar teman Gara yang membantu mendorong perahu mereka disisi sayap kanan. “Jiwa” adalah sapaan untuk teman atau sepupu. Kependekan dari dari kata “Gasiwa”, menjadi jiwa, biar lebih keren.

“Iya jiwa, mudah-mudahan tangkapan banyak." Sahut Gara dari arah belakang. Dia ikut mendorong perahu.

Dani sudah berada di atas perahu ketika perahu yang mereka dorong telah menyentuh air laut, dia cekatan melompat naik sebelum air laut membasahi celananya yang selutut. Disusul Gara dari belakang melompat duduk didekat mesin yang segera dia tarik tuasnya agar segera menyala.

“Saohagölö, jiwa. Sampai ketemu besok." Gara melambaikan tangan sambil nyengir. “Saohagölö” adalah ucapan terima kasih dalam bahasa Nias.

*

Suara mesin memecah keheningan laut sore itu, perahu mereka membelah laut yang terbentang bagai tikar halus tanpa riak ombak. Perahu melaju dengan kecepatan sedang, menimbulkan gemericik air dan buih dibagian belakang seperti buih sabun cuci. Perlahan pelabuhan tertinggal jauh dibelakang, menjadikannya titik kecil yang berkelip-kelip indah, bias lampu rumah-rumah penduduk sekitar pantai pun tampak seperti kerlip bintang yang kadang timbul kadang tenggelam.

“Kita akan ke arah selatan saja, semoga bisa bisa menangkap banyak ikan hambu-hambu. Atau beruntung bisa nyangkut ikan Hiu." Komentar Gara kepada Dani petang itu. “Hambu-hambu” dalam bahasa Nias sejenis ikan Tongkol.

“Oke." Sahut Dani sambil memandang ke langit, matanya terpejam sejenak. “Tadi istriku mengeluh perutnya kram sebelum berangkat." Lanjut dani. Pandangannya melihat kedepan, memperhatikan pelabuhan yang sudah jauh mereka tinggalkan. Dia duduk membelakangi haluan.

“Kalau itu sudah biasakan kalau sedang hamil. Oh ya, sudah masuk bulan keberapa?” Gara mencoba menenangkan temannya. Dia ingat istrinya dirumah, tadi sebelum berangkat istrinya juga berpesan jika terlihat akan badai, segeralah pulang kembali. Pesan yang tak akan pernah bosan didengar olehnya meski istrinya tiap hari akan mengucapkan kalimat itu. Dan mencium dua anaknya yang masih kecil. Gara tersenyum.

“Sudah enam bulan, Gar. Entah kali ini aku merasa hatiku tertinggal dirumah. Rasanya ingin kembali.” Dani kurang bersemangat. Tapi ia mencoba tersenyum tipis.

“Sudahlah, besok kita akan kembali dan bertemu mereka lagi.” Gara masih meyakinkan temannya.
*
 
Sejam kemudian mereka telah sampai ditujuan, di tengah laut sebelah selatan. Mereka mempersiapkan umpan dan alat-alat pancing. Mereka berdua sibuk. Sekitar laut sepi ketika Gara mematikan mesin. Sunyi. Matahari hampir mencapai tempatnya untuk bersembunyi. Bias cahayanya mulai redup. Sebentar lagi langit sempurna gelap. Ditengah laut pemandagan matahari terbenam menjadi sangat indah.

Dani sibuk menyalakan lampu petromak. Dua lampu itu ditempatkan dikanan kiri perahu mereka. Telah dibuatkan tempat khusus berupa kotak dari kayu dengan tinggi 5cm agar lampu itu tidak jatuh kelaut saat ada ombak besar.

*

Tengah malam telah lewat saat langit penuh bintang tertutup awan tebal. Perahu kecil itu meliuk-liuk diatas air laut yang tiba-tiba berubah tidak bersahabat. Perahu mereka dipenuhi tangkapan ikan lumayan banyak. Bergegas mereka bersiap-siap pergi. Cuaca sudah berubah. Ini memang sudah biasa terjadi ditengah laut. Ketika berangkat dari pantai cuaca cerah, bisa saja ditengah perjalanan cuaca berubah sebaliknya.

“Ayo kembali, kita cari tempat yang lebih aman. Ini sudah larut jika bertahan disini, bisa saja badai tambah parah.” Teriak Gara dari arah belakang perahu.

Dani buru-buru mengambil dayung, membantu merubah arah haluan perahu. Mesin menyala dan mereka berusaha pergi dari sana menghindari badai. Perahu tak bisa cepat, ombak semakin besar dan menghantam perahu mereka.

Baik Gara maupun Dani, ini bukan hal baru jika berhadapan dengan badai. Setiap nelayan pasti sudah pernah mengalaminya. Dan mereka terus membelah ombak meski susah payah. Melawan arus adalah bunuh diri paling cepat, maka mereka mengikuti arah angin. Jauh perahu mereka terbawa angin. Terombang ambing ditengah laut.

*

“Kita terbawa arus kemana ini."  Dani panik. Mereka jauh dari pulau yang tadi masih terlihat kerlip-kerlip sinar lampu navigasi.

“Iya, ini semakin jauh. Lampu navigasi sudah tak terlihat atau terhalang kabut. Aku tak bisa melihatnya.” Gara menyapu wajahnya dengan tangan mencoba menajamkan penglihatan.

“Kita harus bertahan, sepertinya ini akan lama. Tidak seperti biasanya.” Dani mencoba menerka keadaan

“Bener, ini diluar kendali. Ada apa dengan kehendak langit?” Gara melihat langit kelam diatas. Berpegangan erat disisi perahu. Badan mereka basah kuyup. Air hujan dan semburan air laut bercampur aduk.

“Tak bisakah kita menelepon? Siapa tau ada yang bisa membantu mencari kita nantinya.” Gara mencari ponselnya ditas yang basah. Mati. Ponsel itu tak bisa digunakan. Dia menggeleng kearah Dani.

“Firasatku buruk, apa kita bisa pulang kerumah? Aku merasa kita akan terkubur disini.” Dani putus asa. Entah apa yang dia bicarakan, mulutnya komat-kamit. 

“Tenanglah, berdoa saja.” Gara mencoba tenang. Meski sebenarnya pikirannya juga mulai panik. Ini badai lebih kuat dan besar dari biasanya. Dia sudah menggigil. Kuyup. Berpegangan erat pada sisi perahu. Perahu itu terombang ambing, sayapnya tak sanggup menyeimbangkan badan perahu.

“Perahu ini akan tenggelam, kita bagaimana? Apa kita terjun saja berenang. Tinggal itu pilihan.” Dani bersiap terjun. Membawa jerigen kosong sebagai pelampung.

“Kita tunggu sebentar lagi, semoga reda. Kita buang saja air diperahu, tolong bantu buang airnya.” Gara masih berharap. Ini sudah lebih dari tiga jam menurut perkiraanya. Seharusnya ini sudah masuk subuh,  tapi badai masih terus mengamuk.

Mereka terus membuang air dari dalam perahu, berpacu dengan pikiran masing-masing. Mesin sudah mati. Terendam air laut tadi ketika perahu mereka hampir tenggelam. Tapi sepanjang melihat laut tak tampak pulau kecil atau pijar lampu navigasi. Hanya laut yang mengamuk. Mereka telah jauh terbawa arus dan terhanyut. Dimanakah kini mereka, bisakah kembali  pulang?

*

Nun jauh dipulau, pelabuhan tempat bertengger perahu-perahu nelayan. Tampak kesibukan seperti biasanya. Orang-orang kesana setelah subuh, kebanyakan dari kalangan bapak-bapak yang mencari ikan dari para nelayan yang pulang melaut atau ngopi di warung dipinggir pantai dengan di temani pisang goreng atau kue basah tradisional.

“Semalam sepertinya ada badai, tapi tak lama. Saya mendengar deru angin kencang diluar.” Salah seorang pengunjung warung kopi berkomentar.

“Iya, saya juga merasa begitu. Semalam tidur larut menyelesaikan koreksi tugas anak sekolah.” Seorang lagi menyahut. Dari obrolannya terlihat dia seorang guru.

“Padahal sore kemarin cerah, kadang badai suka datang tak terduga.” Sahut pengunjung yang lain.

 “Semoga yang melaut jauh hari ini kembali pulang dengan selamat.” Pak guru kembali menyela.

“Aamiin.” Kompak mereka semua menjawab.
 
*
Matahari sudah semakin naik, panasnya mulai terasa dikulit. Seorang wanita menggendong anaknya dengan kain gendongan dan seorang lagi dituntun ditangan kanannya terburu-buru ke arah pelabuhan. Meski ia tersenyum dan menyapa beberapa yang berpapasan dengannya tetapi matanya memancarkan ke khawatiran mendalam. Suaminya belum pulang dari melaut.

“Ati, kenapa buru-buru sekali. Ngapain kepelabuhan?” Tanya penjual gorengan dipinggir pantai

“Iya, Etek, bapaknya anak-anak belum pulang. Ini sudah terlalu siang.” Wanita yang bernama Ati itu mendengus panik. “Biasanya jam segini sudah pulang. Ditelepon juga gak nyambung, Tek” Matanya mulai berair, menahan tangis. “etek” sebutan untuk ibu yang lebih tua dalam bahasa Nias.

Dari arah belakang juga ramai, mungkin satu keluarga datang kepelabuhan. Dari perbincangan terdengar mereka menyebut nama Dani.

Siang itu di pelabuhan telah ramai. Wajah-wajah panik dan khawatir terlihat. Kini malah telah sampai sebuah mobil polisi di dermaga pelabuhan itu. Dan sukarelawan melakukan pencarian terhadap perahu Gara dan Dani. Nelayan lain yang malam itu melaut telah kembali, tersisa mereka berdua yang belum kembali. Dari cerita para pelaut yang telah kembali malam itu memang ada badai, beruntung mereka tidak pergi melaut terlalu jauh, jadi ketika badai tiba-tiba datang mereka sudah kembali dan dekat dengan pulau. 

Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tim pencari mereka memprediksi, jika mereka pasti melaut terlalu jauh dan tak bisa kembali saat badai datang. Tim Sar terus melakukan pencarian hingga malam tiba tapi hasilnya, mereka seperti ditelan bumi, tak ada tanda-tanda keberadaannya. Tim itu juga mencari pecahan atau sisa-sisa barang bawaan mereka tapi tak satupun yang bisa ditemukan sebagai acuan dimana mereka saat ini.

Bagi kebanyakan kecelakaan dilautan adalah barang-barang bawaan mereka akan tercecer dipantai sekitar pulau atau terdampar dipulau lain, sehingga memudahkan mencari jejak dimana mereka bisa ditemukan. tapi kejadian kali ini sungguh di luar logika manusia, tak satupun pecahan perahu atau barang mereka yang tercecer. 
 
Setiap pagi dipelabuhan itu, seorang wanita bersama dua anaknya menanti kepulangan ayah dari anak-anaknya. Pulang ketika hari telah terik. Tak ada kabar berita.  Hatinya remuk redam menanti kabar suaminya.

Setiap sore seorang wanita hamil besar ditemani ibunya datang kepelabuhan untuk melihat perahu yang telah seminggu ini ia nanti kepulangannya. Pulang ketika petang menjelang. Menangis. Masih berharap suaminya pulang.

*

Kembali keperahu mereka malam itu, Gara dan Dani tak menyadari puncak dari badai hari itu. Angin bergulung-gulung datang dari arah belakang perahu mereka. Begitu dekat. Bak harimau yang melihat mangsanya didepan mata. Dalam sekejap angin yang bergulung-gulung itu menyergap perahu mereka tanpa mereka sadari.

Dani yang melihat itu dari arah belakang Gara berteriak keras tapi suaranya kalah oleh gemuruh angin yang tiba-tiba datang menerjang. Puuuuuussshhhhhhh. Lenyap. Seketika hening dan badaipun langsung reda. Ada apa yang hendak langit kabarkan, dimanakah perahu dan dua nelayan itu dibawa pergi oleh badai hari itu? Hanya Tuhan yang tahu. Mereka tak pernah kembali. Mereka tak pernah ditemukan hingga pencarian dihentikan. 

*

Setiap pagi dipelabuhan itu, seorang wanita bersama dua anaknya menanti kepulangan ayah dari anak-anaknya. Pulang ketika hari telah terik. Dimanakah ayah dari anak-anaknya, mengapa laut mengambilnya? 

Setiap sore seorang wanita hamil besar ditemani ibunya datang kepelabuhan untuk melihat perahu yang telah lama ia nanti kepulangannya. Pulang ketika petang menjelang. Menangis. Masih berharap suaminya pulang. “Dimanakah ayah dari anakku, oh laut kembalikan ayah anak-anakku.”

***
Diambil dari kisah nyata, hingga kini mereka tak pernah ditemukan baik perahu maupun barang-barang mereka.
Nama bukan sebenarnya.
Gambar : salomnias.wordpress.com

  • view 163