Karena jodoh menemukan jalannya sendiri untuk bertemu

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 November 2017
Karena jodoh menemukan jalannya sendiri untuk bertemu

Perpisahan memang meyakitkan, aku tak bisa pungkiri itu. Betapapun kami mengiginkanmu untuk berada disini, bersama kami keluargamu yang juga tak ingin kau tinggalkan. Hidup memang sudah ditakdirkan, sudah ditulis oleh yang maha memberi hidup. Yang telah mengatur semuanya sesuai jatahnya masing-masing tanpa kesalahan sedikitpun, jadi tak usah kau pikirkan lagi tentang itu, jalani saja hidupmu. Bekali saja semua dengan ilmu kebaikan, niscaya kamu akan selamat.

Kalimat-kalimat itu tak akan mempan ketika kamu sendiri yang mengalami kejadian tentang perpisahan itu. Kau tau sakitnya seperti apa?, jika aku andaikan adalah seperti jika kamu tak bisa bernafas, susah payah berusaha menghirup udara untuk bisa bertahan, susah payah mencari celah dimana udara bisa dihirup dan mencari penopang untuk tetap tegak. Mungkin ini berlebihan bagi kalian, tapi gambaran ini hanya berlaku untukku saja, bukan untuk kalian. Jadi jangan mencoba untuk merasakannya.

Masih ku ingat terakhir aku melihat bapak dan keluarga. Ya, Saat aku pergi merantau ke ibukota, waktu itu aku berusia delapan belas tahun dan kau adikku baru berusia dua belas tahun. Atas doa dan dorongan dari kalian aku berhasil membuat hatiku kuat dan yakin untuk pergi, siang itu aku pergi dengan sebuah kapal besar yang akan membawaku  jauh dari kalian menuju ibukota negara ini. Mengarungi samudera, melewati Pelabuhan Sibolga, pelabuhan Teluk bayur dan terakhir aku akan berhenti dipelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Salah satu tujuanku merantau adalah jika suatu hari nanti dikota aku bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Impian masa kecilku yang selalu kurajut indah dalam memori otakku, aku tau jika bapak tidak bisa memenuhi impian itu, untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja itu sudah bersyukur. Apalagi aku bisa sampai bisa sekolah menengah, itu adalah anugerah terindah.

***

Suatu siang dikampus, semester kedua. Aku gelisah tak menentu setelah beberapa bulan terakhir aku mendengar kabar bapak yang sakit. Semakin hari kondisinya semakin memburuk, “ya, Tuhan, tolong beri kesembuhan untuk bapakku”. Doaku selalu dalam hati dan disetiap aku ingat pada bapak.

Hingga sore itu sepulang kuliah, aku mampir kerumah teman baikku. Meski selalu dihantui perasaan khawatir dan sedih aku mencoba berbaik sangka pada keadaan, aku seorang karyawati yg bekerja disebuah perusahaan textile, yang membuat pakaian jadi.

Dan aku juga seorang mahasiswa yang mengambil kuliah sambil bekerja. Bapak dan mamak sangat banggga mendengar aku bisa kuliah sambil bekerja. Meski mereka tak tau seperti apa yang aku rasakan diperantauan dengan kedua kegiatanku itu.

 

Ponselku tak bisa berhenti berdering, aku mendengarnya dari dalam kamar, aku meninggalkan tas ranselku disofa depan ruang tamu. Tergopoh aku setengah berlari menuju kesana, selama bapak sakit aku sangat takut dan khawatir jika ada bunyi telepon masuk, aku sangat takut kalau itu membawa berita buruk untukku. Sungguh aku sangat takut mendengar bunyi telepon genggamku sendiri.

Dering nada itu telah diam saat aku mengambilnya, ada beberapa pesan masuk. Aku membukanya, dari adikku. Pesan singkat yang berisi bom waktu yang sangat aku takutkan. “Kak, bapak udah pergi, bapak udah meninggal.” Isi sms singkat itu sukses membuat aliran darahku mengencang, lututku bergetar lemas tak sanggup lagi menopang tubuhku, aku terduduk lemah. Aku merasakan dadaku sesak, kupingku terasa panas lalu rasa panas itu menjalar kekepalaku, geram yang tak bisa kutepis, aku juga tidak sedang bermimpi.

Hawa panas itu kini menguasai tubuhku, susah payah aku menggapai untuk bisa bangkit. Dipelupuk mataku menari-nari kenangan bersama bapak, suaranya mendengung ditelingaku, berebut ruang dalam hatiku yang mulai sesak oleh kepedihan. Sepenuh kesedihan dimataku lalu  berhamburan tumpah sudah. “Bapak,,,” aku jatuh terduduk kembali.

Malam itu ditengah kesedihan kepergian bapak, aku juga tidak punya tabungan yang banyak untuk bisa pulang. Kombinasi yang menyedihkan seorang anak rantau bukan?.

***

Aku ingin pulang kerumah kost, memikirkan jalan agar bisa pulang dengan sisa tabungan yang menurut hitungan aku hanya bisa untuk sekali jalan pulang dan gak ada ongkos buat kembali lagi ke ibukota. Jalan dimana didepanku kelam sekelam langit malam, sekelam hatiku yang berduka, tergugu pilu putus asa. Tapi keyakinan dihatiku begitu kuat, aku tidak boleh terus terpuruk, segera mencari cara untuk bisa pulang atau aku harus kuat merelakan kepergian bapak tanpa bisa bertemu lagi untuk selamanya, tanpa bisa memeluk raganya untuk terakhir kali, tanpa bisa mencium kening keriputnya dan membisikkan padanya betapa aku akan sangat merindukan sosoknya kelak.

Aku dianterin pulang sama sahabat baikku, seorang pemuda yang aku kenal baik. Tadi dirumah kakaknya ketika kabar duka itu menghampiriku, dia dan kakaknya mencoba menghiburku dan menguatkan aku. Sepanjang jalan menuju rumah kost, kami diam. Aku masih tergugu sedih. Belum membuka suara. 

Ketika hampir sampai dirumah kost, dia membuka suara. “Bagaimana keadaanmu? apa kau ingin pulang kepulau, Dek?”. Aku masih diam. Memikirkan jawaban karena aku sendiri masih ragu.

Ketika sampai dikost, masih diberanda, aku mencoba tenang. Meski sisa kesedihan masih tampak dimataku. Mencoba membuka percakapan setelah beberapa jam aku hanya bisa menangis dan terpuruk.

“Sepertinya aku tidak bisa pulang kepulau saat ini, Kak, tabunganku tak cukup untuk beli tiket pesawat pulang pergi. Jika hanya untuk pulang aku masih ada, tapi aku gak bisa balik lagi nanti, gimana dengan kuliah aku. Bapak ingin aku kuliah, dan bertahan hidup dikota ini”. Aku berhenti, melihat kelangit agar tak menangis lagi.

“Jika aku paksain pulang maka kemungkinan aku balik kesini akan lama, aku harus mencari ongkos dulu, dan membiarkan kuliahku sementara berhenti. Menurut kamu gimana? Apa aku pulang atau tetap disini dan aku tak bisa melihat wajah bapak lagi setelah empat tahun terakhir tak pernah bertemu”. Aku menunggu saran terbaik dari sahabatku, yang mungkin sudah seperti kakak bagiku yang selama ini aku mengenalnya selalu memberi saran yang terbaik untukku. Bukan teman kuliah, bukan juga teman kerjaku. Kami tak sengaja berkenalan saat dia ikut temannya menjemput pacarnya, dan pacar temannya itu adalah teman baikku dikantor. Jadi kami berkenalan dan merasa cocok jadi teman. Dia lima tahun lebih tua dari umurku. Dia Matahari. Ari.

Dia bekerja disalah satu perusahaan besar yang bergerak dibidang elektronik dengan salah satu merk elektronik yang menguasai pasar di Indonesia. Dia orang keturunan Jawa. Sopan dan keluarganya baik. Aku menyukai keluarga mereka yang ramah dan sangat baik padaku jika kebetulan aku mampir main kerumahnya. Seperti sore tadi, entahlah aku ingin maen kerumah teman, aku merasa butuh teman cerita. Seharian perasaan tak menentu. Tak kusangka kalau hari ini aku harus menerima berita kepergian bapak.

“Tapi aku ingin kamu pulang ke Pulau, malam ini juga. Aku akan menemanimu mencari tiket kebandara, mumpung masih jam delapan malam, semoga masih ada penerbangan menuju Medan dan besok pagi kamu tinggal terbang ke Pulau. Masih sempet bertemu meskipun bapak kamu udah pergi, setidaknya jenazahnya masih sempat kamu lihat”. Ari berdiri dipintu, lalu meminta kunci pintu. Kemudian dia pergi kerumah ibu kost meminta ijin bahwa aku akan pulang kampung, karena berduka.

Setelah merapikan beberapa potong baju yang akan aku bawa, pulang kampung tanpa rencana. Pikiranku pun bingung, apa yang akan kubawa sebagai oleh-oleh buat mamak dan adik-adik. Huh...

Kami berangkat naik motor kebandara malam itu juga, satu jam perjalanan lebih menuju bandara Soeta di Cengkareng. Disana, sebelum mencari loket untuk membeli tiket pesawat, Ari menarik lenganku yang berjalan gontai didepannya. Aku bertanya lewat tatapan mataku.

“Ambillah ini, dan gunakan seperlunya. Aku mohon jangan menolak”. Ari menyodorkan kartu ATM nya padaku, menaruhnya dalam telapak tanganku.

“Tapi, aku tidak bisa menerimanya”. Aku menolak halus, sungguh ini diluar perkiraanku. Ari mengancamku lewat sorot matanya yang tajam. Aku tertunduk, tak kuasa membantah.

“Baik, tapi akan dihitung sebagai hutang. Suatu hari nanti akan aku ganti”. Aku menerimanya dan menggenggamnya erat. Aku lihat dia mengangguk pelan. 

Tapi sial, malam itu penerbangan ke Medan sudah habis. Baru ada jam lima pagi. Mau gimana lagi Ari membeli tiket penerbangan pertama pagi itu. Malam itu kami menginap dibandara. Mau pulang sudah kepalang tanggung. Sudah larut malam juga, kami duduk dibangku panjang yang disediakan oleh bandara, sambil sesekali mengobrol pendek.

Aku terpana akan ketulusan laki-laki yang duduk disampingku ini. Benarkah dia tulus membantuku, atau hanya berpura-pura. Aku menepis pikiran jelek dalam hatiku tentang dia. Kalau tidak tulus untuk apa dia buang-buang waktu sampai sejauh ini, dan soal tabungannya yang diberikan semua padaku serta pin ATM. Ketika tadi aku sempat bertanya, dia hanya bilang kalau aku lebih membutuhkannya sekarang. Jadi tidak usah dipikirkan.

“Ahh, semoga Tuhan memudahkan semua urusanmu seperti engkau membantu memudahkan semua urusanku saat ini, Kak Ari. Aamiin." Doaku tulus dalam hati sambil menangis. Entahlah, aku merasa dia mejadi sangat dekat dihatiku. Hadirnya saat ini memberiku semangat dan tidak boleh bersedih setidaknya saat ini ketika bersamanya di bandara malam ini.

Aku melihatnya terkantuk-kantuk dibangku, aku bahkan tidak bisa merasakan ngantuk, padahal mataku terasa sangat perih. Terlalu banyak menangis. Dia menyandarkan kepalanya ke dekat tiang penyangga bandara, tidur sambil duduk. Aku tersenyum melihatnya. Karena besok senin dia akan masuk kerja. Biarlah dia terlelap sejenak.

***

Pagi itu aku cek in sendirian, Ari tidak bisa ikut masuk kedalam. Aku pamitan padanya dan menjabat tanngannya. Dia menggenggam tanganku erat. Mencoba menguatkan aku agar tak bersedih.

“Semoga perjalananmu lancar, kembalilah segera setelah urusan dipulau selesai. Jangan sedih terus, nanti bisa jatuh sakit. Seharusnya kamu kuat dan menerima kalau kematian bukan akhir, tapi ini sudah kuasa Tuhan. Mungkin bapak yang pegi terlebih dahulu, toh nanti kita ini juga akan menyusulnya kelak. Kita masih diberi kesempatan untuk berbuat lebih baik kepada sesama.” Kulihat wajah Ari yang kusut, mungkin kurang tidur dan kecapean. Tapi aku melihat senyum manis dibibirnya. Aku hanya mengangguk, mencoba membalas genggaman tangannya. Erat.  

“Terima kasih banyak, Kak Ari. Hati-hati dijalan pulang. Sampai ketemu lagi." Aku melepaskan tangannya. Aku mencoba tersenyum padanya. Meski mataku kabur oleh air mata yang sebentar lagi akan tumpah. Aku mencoba menahannya agar menetap dikelopak mataku. Menatapnya tanpa berkedip.

“Aku akan merindukanmu, jaga dirimu baik-baik”. Dia melepaskan genggaman tangannya. Aku hanya mengangguk perlahan.

“Aku akan pulang dulu, kabari kapan kau akan kembali. Aku akan menjemputmu lagi disini."Dia pergi melepasku ke arah pintu cek in. Aku melihatnya semakin menjauh dan dia menoleh kebelakang ke arahku. Aku melambai padanya. Dia  membalasnya sambil mengangguk.

Aku pergi pulang kepulau selama seminggu. Setelah semua urusan dan melepas rindu sama keluarga selama empat tahun lebih tak bertemu. Selamat jalan buat bapak, semoga engkau bahagia dan damai ditempat yang baru disisi Tuhan.

***

Hari ini aku kembali ke ibukota, tepat seminggu setelah bapak bapak pergi. Meski masih tersisa sedih dihati, aku kembali. Rutinitasku mewajibkanku kembali ke kota ini dan ya ada yang menungguku kembali, Ari. Dimana dia. Aku mencarinya setelah keluar dari pintu kedatangan tapi aku tak melihatnya.

Aku mengambil ponselku mencoba menghubunginya. Dan tiba-tiba dia sudah ada didepanku. Entah datang darimana.

“kau datang darimana kak, kok aku gak lihat. Kau mengagetkan aku saja”. Aku berusaha ngambek, meski gak berhasil karena sesudahnya aku tertawa senang.

“Aku baru saja datang, maaf membuatmu menunggu. Tadi aku lihat kamu dari jauh, seperti sedang mencari seseorang. Nyariin aku yaa, hehehe." Ari malah terkekeh.

“kamu agak kurusan, apa aku salah tebak?" Dia meneliti aku yang berdiri.

“Emang kenapa? bagus kan kalau kurus." Aku mendelik meledek.

“Jelek tau. Gimana perjalanan kamu? sampai lupa nanya." Ari berkomentar. Kami ngobrol sambil jalan keparkiran motor. Ngobrol sambil bercanda. Aku melupakan kesedihanku dihadapannya. Dia malaikat penolongku saat aku jatuh terpuruk. Dia ada disana menemaniku.

“kamu tau, sejak kamu pergi pagi itu sejak itu pula aku kehilangan separuh semangat hidupku. Seakan kamu membawanya pergi bersamamu. Aku takut kamu gak kembali lagi. Sungguh." Dia memberiku helm dan menatap mataku.

“Ahh, kakak berlebihan. Masa iya begitu. Bilang aja kakak takut ATMnya gak kembali yaa. Nih aku balikin, tapi isinya tinggal sedikit. Aku cicil yaa bayarnya”. Aku masih mengajaknya bergurau sambil membuka tas ranselku. Dia menarik tanganku, dan berdiri didepanku, aku tidak jadi buka tas.  Ari menatapku dalam-dalam. Aku menunduk.

“Aku minta maaf, bukan maksudku membuat kakak marah." Aku mengalah dan menunduk. Tidak berani melihat wajahnya yang menurutku malam itu terlihat lebih tampan dari biasanya.

“Hei. Kenapa kamu jadi seperti anak kecil? dasar cengeng. Ayo kita pulang”.

“Apa?” Ari tiba-tiba sudah diatas motor dan menungguku naik diboncengan belakangnya.

***

Kami tidak langsung pulang, dia mengajakku makan di warung pinggir jalan. Pecel ayam. Aku ikut saja dan tak banyak bicara. Aku merasa dia beda, tak seperti teman yang aku kenal biasanya. Kali ini dia seperti lebih tegas padaku dan lebih perhatian.

“Lho kok diam saja dari tadi? Apa ada yang salah padaku? Maaf yaa, kalau tadi aku seperti itu padamu. Aku terbawa perasaan. Maaf yaa, aku sangat senang kamu kembali. Ayo makan”. Ari menawarkan ayam goreng panas, aku hanya tersenyum mengangguk pelan.

“Kenapa dia, apa yang terjadi padanya. Dia seperti orang serba salah. Huh, kenapa juga aku ingin tau” aku merutuki diri sendiri.

“Wulan...” Ari memanggil namaku pelan.

“Iya”. Aku mencoba menatap matanya.

“Aku mau mengatakan sesuatu, kamu jangan kaget ya. Aku sungguh-sungguh." Ari berhenti lalu melihat ke mataku, lebih dalam. "Kamu mau nikah sama aku?" Ari tiba-tiba mengatakan hal hal yang tak aku pikirkan selama ini. Aku terkejut bukan main. 

“Apaa?" Aku terlonjak kaget

“Ya, aku serius. Bukan menikah sekarang maksudku, tapi nanti kita bicarakan dulu dengan keluarga. Aku juga menunggu kamu siap. Tapi kamu mau kan nikah sama aku?" Ari meredakan suasana hatiku yang bingung dan kaget oleh pernyataannya.

“Jangan pergi lagi meninggalkan aku bagitu lama, aku sakit merindukanmu. Kalau nanti kamu mau pergi lagi atau mau kemana, kita akan pergi bersama-sama. Kamu mau kan? Ari masih mencoba menggodaku. Aku masih kaget dan ini seperti menghantarkan aku kealam nyata, ini bukan mimpi. Tapi datangnya gak kira-kira, datang seperti kilatan cahaya dan membuatku terombang-ambing antara percaya dan tidak dengan semua ini.

“Aku menyukaimu, sejak pertama kali kita bertemu didepan jalan depan kantormu. Sejak itu aku selalu mengawasimu dari jauh dan selalu ingin ada saat kamu butuhkan. Aku mau kamu menerima aku sebagai calon imammu, calon suamimu dan calon ayah bagi anak-anak kita. Aku serius, ini bukan rayuan gombal." 

“Apaa?" Aku masih belum percaya. Aku mohon ini bukan mimpi. Kumohon bangunkan aku. Siapa saja. Tolong bangunkan aku.

“Hei,,, kenapa bengong?” Ari menarik tanganku, memegangnya erat.

“kamu tidak sedang bermimpi, aku benar ada untukmu, selamanya" 

“Kak Ari, Aku... Aku tidak tau harus berkata apa" Aku menutupi wajahku dengan tanganku. Menangis.

“Dan soal ATM itu, lupakan saja. Anggap saja itu bantuan kecil dari Tuhan untukmu dan aku telah melupakannya. Ini bukan jebakan dan main-main. Aku sungguh-sungguh." Ari meyakinkan aku lagi. 

“Apaa." Entah kenapa aku jadi mendadak tuli seperti ini.

***

Karena jodoh menemukan jalannya sendiri untuk bertemu. Hingga kini kami telah menikah dan mempunyai seorang putera yang soleh dan tampan. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 140

  • byam popay
    byam popay
    3 bulan yang lalu.
    Cerpen yang luar biasa, mungkin melalui cerpen ini pertanyaan yg dah lama kupertanyakan dlm lubuk hatiq, br hari ini terjawabkan semua.
    Duka yg dulu terasa sakit seketika membaca cerpen ini.. tp terima kasih atas cerpennya smoga tetao berjaya....