#SumpahPemuda2017 - Kita Tidak Sama, Kita Kerjasama

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 Oktober 2017
#SumpahPemuda2017 - Kita Tidak Sama, Kita Kerjasama

Aku sendirian, aku merasa takut. Khawatir pada apa yang belum terjadi, itu membuatku jadi seorang yang suka marah, emosional dan merasa seorang diri. Kau tau, aku adalah salah seorang siswa terbaik disekolahku, sekolah tercinta dan aku banggakan. Dan, sekolah itu kini telah hancur, dindingnya retak, miring, terbelah. Atapnya menimpa bangunan itu, melebur dengan tanah yang juga terbelah, merekah bak bunga mekar lalu jatuh berguguran, tertiup angin.

 Malam yang dingin ketika sesuatu mengejutkan aku dalam tidurku, menghentak-hentak dipan tempat tidurku. Lalu diam. Hening. Suara burung diluar, hembusan angin seakan tertahan. Aku ikut menahan helaan nafas, mencoba memasang indra pendengaranku lebih tajam. Apa yang terjadi? Aku tidak tahu.

Aku mencoba membuka mata, gelap. Sekelilingku gelap, aku lupa dimana posisi tidurku, mana pintu kamar dan ada apa ini, mana lampu minyak tanah yang menempel didinding dibawah kakiku? Ya, Tuhan, apa dia jatuh, lalu padam?. Aku bersyukur ketika memikirkan itu, karna jika lampu minyak tanah itu jatuh lalu berhasil mematik api, maka akan terjadi kebakaran. Atau dia mati sendiri? Apa tadi sore aku lupa mengecek minyak dalam botolnya?, Ya, ampun, aku memang sering teledor.

 Lalu mana pintu, aku bahkan lupa dimana letaknya, ini sangat gelap. Aku duduk, sambil mulai mengatur nafas, masih sepi, dimana orang-orang yang biasa ramai dijalanan, ini sudah jam berapa?. Aku ingat tadi tidur sekitar jam sepuluh, setelah PR dari sekolah aku kerjakan.

 Aku mencoba mendongak mencoba mencari cahaya, biasanya bola lampu listrik yang disamping rumah menyala, didekat kamar tanteku, aku tinggal jauh dari orang tua karena dipulauku tidak ada sekolah SMA.  Bola lampu pijar, yang warnanya agak kekuningan. Gelap. Kenapa hanya aku yang terbangun, apa hanya aku yang merasakan getaran tadi, bukankah itu sangat kuat, apa aku sedang bermimpi?. Sepertinya tidak. Kemudian goncangan dahsyat itu datang lagi, mengangkat lalu menghentak kiri kanan, apa ini?, gempa bumi?. Ya, Tuhan, tolong kami semua, mamakku, bapakku, adik-adikku.

Kali ini lama sekali guncangan itu, aku kwatir atap rumah akan menimpaku, aku meraba, memegang kuat lalu bangun, mencoba menemukan pintu lalu mendorong. Sial, gak bisa dibuka, aku kini mendengar suara tante dan pamanku berteriak dari luar kamar,  mencoba mendorong pintu, terbuka.

 Kami berlari keluar, kehalaman. Gedung gereja diseberang jalan itu roboh, aku melihatnya, menaranya yang tinggi menjulang dibagian belakang bangunan itu seolah bergerak naik lalu bagunan itu maju kedepan dari fondasinya, kemudian ambruk meninggalkan asap mengebul dari runtuhan bangunan beton. Malam itu purnama benderang, terlihat remang, listrik padam. Orang berlarian, dari arah bawah menuju ketinggian. Aku mendengar mereka berteriak, agar menjauhi aliran sungai, khwatir ada Tsunami.

 Dalam kepanikan, hilir mudik orang berlalu lalang, aku baru menyadari baru saja mengalami gempa bumi yang sangat dahsyat. Setelahnya aku tau jika getaran itu sekitar 8,7 SR. Hingga pagi gempa susulan terus berlanjut. Aku mengkhwatirkan gedung sekolah, karna saat gempa itu terjadi 28 Maret 2005 di Pulau Nias, aku kelas tiga SMA dan akan segera UN. Aahhh aku memang selalu dan terlalu mencemaskan sesuatu. Dan berita bahagianya ketika aku tau semua keluarga di Pulau Hinako selamat.

 Pagi itu aku langsung datang ke lokasi sekolah, tanpa seragam, karena sekolah dilburkan, darurat gempa bumi. Dari jauh aku melihatnya, atapnya sudah roboh, dindingnya miring, tanah sekitarnya retak, membuat garis yang tak beraturan dijalan raya dan berlubang. Ahh, bagaimana aku akan UN, ketika sekolah itu telah hancur, aku ingin segera lulus dan pergi merantau, entah kemana tujuanku, aku hanya ingin pergi menuntut ilmu dan pulang kembali kepelukan tanah ini, membangunnya. Tapi gempa ini telah membuat gedung sekolahku hancur.

 Seminggu kemudian, bala bantuan berdatangan. Dari TNI, relawan, instansi-instansi swasta, posko-posko berdiri dimana-mana. Kami sangat senang, kau tau?, sekolahku yang aku banggakan memang benar tidak bisa dipakai lagi, kami membuat sekolah darurat dari atap seng menjadi dinding sekolah darurat kami, lantainya tanah, dengan lubang-lubang kecil didinding bekas atap seng dulunya dipakai untuk atap sekolah. Lewat lubang itu matahari mencoba menerobos masuk, menemani kami kembali belajar, sinarnya membuat cahaya kecil silau dalam ruang kelas. Kami bergotong royong membangun sekolah darurat, kami diwajibkan membawa atap daun rumbia yang sudah dianyam, setiap siswa membawa 10 lembar atap. Dan bagi yang mempunyai pohon jati, diminta membawa batangnya untuk tiang penyangga atap daun rumbia, agar kokoh dan tak rubuh jika ada gempa susulan.

 Kalian tau?, tentu saja tidak, jika setiap kali gempa susulan datang, meski sedang belajar kami akan segera berhamburan keluar kelas darurat, guru kami juga. Kami akan berlarian menuju halaman sekolah. Lalu berdoa, dan untuk kemudian kami tertawa bersama, terbahak-bahak.  

 Karena kami sadar, ketika bersama kita pasti bisa bangkit lagi, karena bersama kita bisa membuat peradaban baru, membuat kehangatan yang baru, saling mendukung untuk kembali memulai awal yang baru. Mengenal orang luar dari daerah kami, yang datang dari kota-kota besar. Mereka membawakan kami cerita-cerita baru, membuka persahabatan baru, persaudaraan yang baru. Meski kita tidak sama, kita tetap bisa kerja bersama.  Membangun bersama, belajar bersama, tertawa bersama. Untuk indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 146