#SumpahPemuda2017 - Kita Tidak Sama, Kita Kerjasama

Masniwati Marunduri
Karya Masniwati Marunduri Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 Oktober 2017
#SumpahPemuda2017 - Kita Tidak Sama, Kita Kerjasama

Dia sendirian, dia merasa takut. Khawatir pada apa yang belum terjadi, itu membuatnya jadi seorang yang suka marah, emosional dan merasa seorang diri. Tentu kalian tidak tau, dia adalah salah seorang dari siswa terbaik di sekolahnya. Sekolahnya yang tercinta dan selalu di banggakannya. Dan kini, sekolah itu telah hancur, dindingnya retak, miring, terbelah. Atapnya menimpa bangunan itu sendiri, melebur dengan tanah yang juga terbelah, merekah bak bunga mekar, lalu jatuh berguguran, debunya tertiup angin, lirih merintih, lalu bisu, di gelap malam. 

Malam yang dingin ketika sesuatu mengejutkan semua orang di daerah itu, yang sebagian dalam keadaan tidur lelap, menghentak-hentak dipan tempat tidurnya. Lalu diam. Hening. Suara burung diluar, hembusan angin diluar seakan tertahan. Dia ikut menahan helaan nafas, mencoba memasang indra pendengaran lebih tajam. Apa yang terjadi? Dia tidak tahu.

Nora mencoba membuka mata, gelap. Sekelilingnya gelap, dia lupa dimana posisi tidurnya tadi, tapi dia merasa tidur dengan posisi seperti biasa, kepalanya disamping jendela dengan arah kaki ke pintu kamar. Tapi dalam gelap dia bingung yang mana arah pintu kamar. Serasa berada dalam situasi aneh.

Ada apa ini, "Mana lampu minyak tanah yang menempel didinding dibawah kakiku? Ya, Tuhan, apa dia jatuh, lalu padam?" Nora bersyukur ketika memikirkan itu, karena jika lampu minyak tanah itu jatuh lalu berhasil mematik api, maka akan terjadi kebakaran.

"Atau dia mati sendiri? Apa tadi sore aku lupa mengecek minyak tanah dalam botolnya? Ya, ampun, aku memang sering teledor." Dia merutuki dirinya sendiri dalam gelap, dalam bincang dengan perasaannya sendiri yang masih bingung dengan apa yang terjadi.

"Lalu mana pintu, aku bahkan lupa dimana letaknya, ini sangat gelap." Nora mencoba duduk, sambil mulai mengatur nafas, masih sepi melingkupinya.

"Dimana orang-orang yang biasa ramai dijalanan, ini sudah jam berapa? Aku ingat tadi tidur sekitar jam sepuluh, setelah PR dari sekolah aku kerjakan." Nora mulai mengingat-ngingat kejadian yang di alaminya.

Dia mencoba mendongak mencoba mencari cahaya, biasanya bola lampu listrik yang disamping rumah tantenya menyala, lampu pijar di dekat kamar tante Tina, Nora tinggal jauh dari orang tuanya, karena di pulau asalnya tidak ada sekolah SMA.  Bola lampu pijar, yang warnanya agak kekuningan itu padam. Gelap.

"Apa sedang mati listrik, kenapa hanya aku yang terbangun, apa hanya aku yang merasakan getaran tadi, bukankah itu sangat kuat, apa aku sedang bermimpi? Sepertinya tidak, tadi itu aku merasakan goncangan." Untuk kemudian dia kembali tersentak.

Kemudian goncangan maha dahsyat itu datang lagi, mengangkat, lalu menghentak-hentak ke kiri kanan, "Apa ini? ini gempa bumi? Ya, Tuhan, tolong kami semua, mamakku, bapakku, adik-adikku. Dimana Tante Tina, kenapa mereka diam saja?"

Kali ini lama sekali guncangan itu, Nora khawatir atap rumah Tante Tina akan menimpanya, dia meraba, memegang kuat besi ranjang tempat tidur lalu berusaha bangun, mencoba menemukan pintu, lalu mendorongnya. Sial, pintu itu tidak bisa dibuka, kini  Nora mendengar suara tantenya dan paman Del berteriak dari luar kamar,  mencoba mendorong pintu kamar, menyuruhnya menjauh mundur, paman Del akan mendobrak pintu itu, lalu terbuka.

Mereka berlari keluar rumah, kehalaman rumah yang berbatasan dengan jalan raya. Gedung gereja diseberang jalan itu roboh, Nora melihatnya. Menaranya yang tinggi menjulang dibagian belakang bangunan itu seolah bergerak ke arah depan, lalu bagunan itu seperti di didorong kedepan dari fondasinya, kemudian ambruk menimpa bangunan utama gereja, meninggalkan asap mengebul dari runtuhan bangunan beton. Malam itu purnama benderang, terlihat remang, listrik padam. Orang berlarian, dari arah bawah menuju ketinggian. Aku mendengar mereka berteriak, agar menjauhi aliran sungai, khawatir ada gelombang Tsunami yang terjadi  di Minggu, 26 Desember 2004 lalu, tiga bulan dua hari dari kejadian gempa bumi yang terjadi hari ini, Senin 28 Maret 2005.

Dalam kepanikan malam itu, hilir mudik orang berlalu lalang, Nora baru menyadari bahwa, dia baru saja mengalami gempa bumi yang sangat dahsyat. Setelahnya, dari berita di radio dan televisi dia tahu, jika getaran itu sekitar 8,7 SR. Hingga pagi gempa susulan terus berlanjut meski tidak sekuat malam itu. Dia mengkhwatirkan gedung sekolahnya, karena pada saat gempa itu terjadi, 28 Maret 2005 di Pulau Nias, Nora kelas tiga SMA dan akan segera UN. Dia memang selalu dan terlalu mencemaskan sesuatu. Dan berita bahagianya adalah ketika dia tahu dan mendapat kabar dari pulau, semua keluarga di Pulau Delapan selamat.

Pagi itu, masih sekitar pukul enam pagi, setelah pamitan sama tantenya, dia langsung datang ke lokasi sekolah, tanpa seragam, karena sekolah dilburkan, darurat gempa bumi. Dari jauh dia melihat, atap sekolahnya sudah roboh, dinding-dinding bangunan itu miring, tanah sekitarnya retak, membuat garis yang tak beraturan dijalan raya dan berlubang.

"Bagaimana aku dan teman-teman akan UN, ketika sekolah kami telah hancur." Nora ingin segera lulus dan pergi merantau, entah kemana tujuannya belum jelas baginya, dia hanya ingin pergi menuntut ilmu dan pulang kembali kepelukan tanah ini, membangunnya, memajukannya  agar bisa jadi tanah kelahiran yang membanggakan, Tapi gempa ini telah membuat gedung sekolah kesayangannya hancur.

*** 

Beberapa hari kemudian, bala bantuan berdatangan. Dari seluruh bagian penjuru tanah air yang merasa peduli dan terketuk pintu hatinya untuk membantu, dari TNI, relawan, instansi-instansi swasta. Posko-posko berdiri dimana-mana. Masyarakat disana sangat senang, merasa di perhatikan dalam keadaan yang terkena musibah adalah hal yang patut di syukuri. Ada banyak posko kesehatan gratis bagi yang terluka atau trauma sementara akibat gempa.

Sekolah kesayangan yang Nora banggakan memang benar tidak bisa dipakai lagi, mereka dan teman-temannya serta para guru membuat sekolah darurat, seng yang tadinya atap sekolah, yang warnanya juga sudah berubah mejadi agak kecoklatan terkena tempaan sinar matahari dan hujan kini di sulap menjadi dinding sekolah darurat mereka, lantainya dari tanah lapang yang biasa dipakai untuk upacara bendera.

Dengan lubang-lubang kecil di dinding seng, bekas atap sekolah dulunya, sinar matahari pagi mengintip, menerobos lewat lubang itu, sinar matahari mencoba menyapa masuk ke dalam kelas, menemani mereka kembali belajar, sinarnya membuat cahaya kecil silau dalam ruang kelas.

Nora dan seluruh siswa bergotong royong membangun sekolah darurat, mereka diwajibkan membawa atap daun rumbia yang sudah dianyam, setiap siswa membawa 10 lembar atap. Dan bagi yang mempunyai pohon jati, diminta membawa batangnya untuk tiang penyangga atap daun rumbia, agar kokoh dan tak rubuh jika ada gempa susulan.

Sejak gempa terjadi, banyak hal-hal lucu yang terjadi. Jika setiap kali gempa susulan datang, meski sedang belajar seluruh siswa akan segera berhamburan keluar kelas darurat, guru-guru mereka juga. Mereka akan berlarian menuju halaman sekolah. Lalu berdoa masing-masing, dan untuk kemudian mereka tertawa bersama, terbahak-bahak. Menertawakan tingkah masing-masing, yang begitu trauma dan waspada terhadap goncangan meski hanya sedikit saja.   

Karena mereka sadar, ketika bersama semua pasti bisa bangkit lagi, karena bersama kita bisa membuat peradaban baru, membuat kehangatan yang baru, saling mendukung untuk kembali memulai awal yang baru. Mengenal orang luar dari daerah mereka, yang datang dari kota-kota besar. Mereka membawakan kami cerita-cerita baru, membuka persahabatan baru, persaudaraan yang baru. Meski kita tidak sama, kita tetap bisa kerja bersama.  Membangun bersama, belajar bersama, tertawa bersama. untuk kemajuan anak-anak sekolah, masa depan bangsa, masa depan Untuk indonesia. 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 262