Quantum Hernowo

Kelik Nursetiyo Widiyanto
Karya Kelik Nursetiyo Widiyanto Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Mei 2018
Quantum Hernowo

Mas Hernowo, beberapa kali kami bertemu langsung, salah satunya dalam sebuah acara pelatihan menulis buku yang diselenggarakan oleh kawan di sebuah penerbit. Selain memberikan kiat menulis buku, beliau banyak pula menceritakan proses kelahiran beberapa buku di Mizan. Salah satunya, Mizan pernah "menculik" Kang Jalal beberapa hari dan mengkarantinanya di sebuah penginapan hanya agar Kang Jalal menyelesaikan satu bukunya. Penuturannya yang khas menunjukkan beliau bukan sekedar seorang editor tapi bak pelatih bertangan dingin melahirkan buku-buku yang kemudian best seller di Mizan. 

 

Dari buku-buku beliau saya yang masih kuliah dan belajar menulis mendapatkan pencerahan berharga bagaimana memulai sebuah tulisan. Quantum Writing, Mengikat Makna hingga Quantum Learning dan Quantum Teaching membuka wawasan bagi penulis pemula untuk memulai menulis. Bahkan mulai dari mencari ide, mengembangkan dan memilah gagasan untuk mulai menuangkannya. Semuanya menjadi solusi bagi saya yang baru belajar menulis. 

 

Tepas Bandung (TP), tempat saya berguru bagaimana menulis didirikan oleh angkatan pertama jurusan jurnalistik IAIN Bandung (UIN). Setiap sabtu pagi kami melingkar di ruang senat mahasiswa fakultas untuk berbagi tulisan. Beragam tulisan kami buat sesuai dengan minat dan bakat. Salah satu rujukan kami dalam memecah kebuntuan dalam masalah bagaimana cara menulis, ya dari buku-bukunya Mas Hernowo. Kami mempraktikan bagaimana mapping gagasan, bagaimana menulis cepat, hingga estafet menulis. Karena dibawakan dengan cara menyenangkan, otodidak kami ini berbuah banyak karya. 

 

Dari hasil belajar mandiri dengan saling "mengkritisi" tulisan yang dibuat setiap minggu, kami saling berlomba agar tulisan yang dibuat minggu itu bisa dimuat di media massa. Sebenarnya, karena tidak ingin menjadi bulan-bulanan senior di Sabtu pagi, saya mengerahkan segala kemampuan untuk menulis yang terbaik sebelum diserahkan ke senior-senior. Tapi, ya tetap saja akhirnya, dikritisi juga. Tapi, saya tak menyerah. Saya terus mendalami metode menulis Mas Hernowo itu dengan diiringi memperkaya bahan bacaan. Terkadang, ketika sudah mentok, tulisan itu seperti gangsing, berputar di situ saja. Saya menyebutnya, juggling kata-kata. Bersyukur punya Mursyid seperti Roni Tabroni, Ai Varida, Heri Ruslan, Adin Khamaedin, Abdul Jalil Hermawan, Cep Dul Wahab, Widawati, Agus Teater, Dewi Radio, dll. Mereka jadi partner belajar yang menyenangkan.

 

Beberapa dari mereka kemudian banyak diminta berbagi metode kepenulisan di berbagai tempat. Salah satu alasan mereka banyak diminta menjadi pemateri, karena nama mereka minimal satu bulan sekali terpampang di media nasional atau regional. Pun, mereka membagikan metode menulis Mas Hernowo ke berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa IAIN, anak SMA, guru hingga teman dekatnya.  Menulis surat cinta untuk pujaam hati pun pakai metode ini.  Dan hasilnya, lebih banyak ditolak hahaha...  Mungkin selain metode menulis yang baik, menulis surat cinta harus dengan hati. Tak cukuk pakai ballpoint, apalagi tulisannya sandi rumput, yang berakibat tulisan jadi multitafsir. 

 

Selamat jalan Mas Hernowo. Jariyah ilmu dari buku-bukumu yang best seller mulai yang ori hingga yang repro (penjual buku sekarang menyebut buku bajakan dengan repro atau KW, padahal tetap aja buku bajakan) sangat bermanfaat bagi saya, khusunya dan anggota Tepas Bandung, umunnya. Mungkin tanpa metode mu, kami semua saat itu akan tetap buntu. Selamat jalan Mas Hernowo. 

  • view 108