Buah Hati Cahaya Mata

Buah Hati Cahaya Mata

Kelik Nursetiyo Widiyanto
Karya Kelik Nursetiyo Widiyanto Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Mei 2018
Buah Hati Cahaya Mata

Minggu pagi. Tak ada kabut. Mentari bersinar terang. Kami sekeluarga sedang menghabiskan waktu bersama. Aku, istri dan kedua anakku menghabiskan waktu di minggu pagi itu bersama Uwa, Kakek dan Neneknya ngaliwet di saung kecil di dekat ladang. Saung kecil ini pernah kami sulap jadi taman bacaan, namun karena intensitas membuka taman bacaan ini tak sering, anak-anak di kampung tak lagi berkunjung ke saung. Pun buku yang kami bawa tak seberapa.

Selepas subuh, kami sepakat menghabiskan family time di saung. Ngaliwet menjelang shaum. Munggahan mereka sebut. Saung berukuran 6X4 meter, berdinding bilik bambu, beratap genting merah. Lantainya mengalas 30 cm dari atas permukaan tanah. Kolong rumah tempat ayam berteduh saat malam dan hujan. Letak saung di lembah bawah jalan desa. Dikelilingi pepohonan perdu, pohon berpokok keras serta tanaman sayuran dan buah-buahan. Di depannya halaman luas, cukup sebagai tempat menjemur gabah atau bermain anak-anak. Tebasan angin memapar dedauan, harmoni melodi kidung alam. Bau tanah tanpa pestisida, wewangi menyejukkan cocok untuk relaksasi. Surga itu ada di sini.

Sambil menanti nasi liwet matang, aku dan anak-anak bermain di halaman. Berlari mengejar ayam. Tidak satu. Tapi dua, tiga dan banyak lagi. Jago dan betina. Kami pun main kucing-kucingan. Kadang aku jadi kucing, seringnya mereka mengejar aku. Aktivitas fisik seperti ini bagi mereka sangat menyenangkan, tidak bagi aku. Belum lama berlari nafas sudah tersengal-sengal. Umur yang sudah uzur serta berat badan yang tak ideal, menghambat aktivitas bermain. Tapi kami saling tertawa, bercanda, sedikit marah, tapi itu menyenangkan.

Anak lelakiku, terbiasa beraktivitas dengan alam. Ketika peringatan hari lahirnya yang ketiga, kami bersama menanam pohon di ladang. Seratus bibit albasia kami tanam. Saat ini dia merengek ingin memelihara biawak. Tentu kami tolak. Sebelumnya banyak hewan piaraan dia pelihara. mulai dari ikan cupang, kura-kura hingga kelinci. Saat ini dia sedang memelihara merpati. Dua pasang merpati ia urus. Dari pagi setelah subuh ia sudah memberinya makan. Terkadang ia memandikannya. Biar giring, alasannya. Saking ingin merpati, ia rela menahan hawa jajan dan menabung untuk membeli sepasang merpati. Kini ia tahu bagaimana “menjodohkan” merpati, mulai dari mencari jodoh yang tepat, proses PDKT hingga sang sepasang merpati saling mencinta. Merpati memang setia. Merpati tak pernah ingkar janji. Dimanapun sang jantan diterbangkan, ke sarang ia akan kembali.

Anak keduaku, perempuan. Sangat dekat denganku. Setiap pulang ke rumah, ia selalu nempel. Maklum, tak punya teman di sekitar rumah. Temannya hanya di sekolahnya. Saking dekatnya, tidur kami pun bersama. ia sangat senang bila menjelang tidur diusap-usap kepalanya sambil diceritakan kisah-kisah. Istimewanya, dia kini pandai berbahasa Indonesia setelah keseringan menonton film kartun di tv. Bahkan kemampuan berbahasaindonesianya ini diamalkan dalam kesehariannya dengan kami, orangtuanya. Melihat kemampuan komunikasi verbalnya, mungkin setelah besar ia akan menjadi News Anchor televisi.

Duaaarrrrr.... tiga bom meledak di sekitar gereja di Surabaya. Belasan orang menjadi korban. Bom bunuh diri terjadi lagi. Tambah mengenaskan ketika tahu, pelaku itu satu keluarga dan ada anak-anak di sana. Dalam alam bawah sadar, saya heran, kenapa anak-anak? Tidak cukupkah agama difitnah para teroris, Kini anak-anak pun dibawa-bawa. Tak habis pikir. Sering aku melihat di berita anak-anak di Palestina berjuang membela negaranya. Tak sedikit pula mereka menjadi korban. Bahkan dihadapan orangtuanya sendiri, seorang anak dibunuh tentara Israel, karena keukeuh membela tanah airnya. Masih terlihat di pelupuk mata, anak-anak berambut emas di Suriah jadi korban salah sasaran. Ingat juga ada meme anak di Suriah, kulit putihnya berubah gelap akibat debu asap senjata. Anak-anak ini korban keganasan hawa nafsu orangtua, Sementara para teroris yang meledakan gereja di surabaya kemarin, tak masuk di akal melibatkan anak-anak demi... entah apa yang dia perjuangkan.

Terorisme tak punya agama. Tak perlu pula punya nasab. Tak perlu terorisme diturunkan dari orangtua ke anak. Terorisme bukan harta yang bisa diwariskan. Sungguh keji menjadikan anak sebagai tameng dan melibatkan mereka membenci manusia lainnya. Tak ada agama yang mengajarkan anak-anak agar menanamkan kebencian kepada penganut agama lain. Semua agama di dunia ini, melindungi anak-anak. Sebab, anak-anak adalah masa depan. Merekalah aset terpenting keberlangsungan kemanusiaan di dunia.

Anak-anak adalah korban paling tak berdaya dari peperangan. Korban paling lemah dalam perang kebencian. Anak penting ditanamkan membela kebenaran dan kejujuran, anti penjajahan dan berjuang untuk keadilan. Anak-anak perlu diberi pemahaman nilai luhur ajaran agama adalah akhlak (perbuatan). Akhlak mulia. Di sisi lain, anak-anak tak perlu diajari membenci, merasa paling benar apalagi membunuh.

Malam menjelang keberangkatan, anak-anak tak ingin jauh. Selepas mengaji, kami bermain lagi. Mulai dari mewarnai, hingga ucang-ucang angge. Di detik-detik pamitan, anak perempuanku menangis sejadi-jadinya, tak ingin babahnya pergi.

“Babah pergi kerja untuk kebersamaan kita kelak.” ujarku.

Sang kakak menimpali, “Tak perlu kaya, Aa hanya pengen bersama terus.”

Segera saja ku peluk dan kecup kedua buah hati.

Sepanjang perjalanan, ku ingat kisah Nabi yang bermain dengan cucu-cucunya Hasan dan Husen. Riang mereka bermain dan bersenda gurau. Sangat dekat mereka. Rasanya tak ada satupun ajaran sang nabi untuk mengorbankan anak-anak untuk kepentingan diri dan hawa nafsu dan menjadikan anak-anak mesin pembunuh. Nabi sangat cinta anak-anak. I do love you, both of you. Semoga Allah Swt melindungi kalian dari ajaran yang menjauhkan mu dari esensi agama sesungguhnya.

Peluk Cium Babah dari lantai 10.

  • view 114