Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 1 Maret 2018   23:26 WIB
Wahai Aku

"Terbalik namun kembali, jika kembali tidak berbalik"
Mengambil ampunan dan meminta maaf kepada orang lain, mungkin mudah untuk bisa kita tepati. Berbeda halnya dengan diri sendiri, melihat dan menerawang kepada sang Aku. didalam raga yang berbentuk, bernafas dan bergerak, ada sebuah ruh yang sedari dulu ada, kita lahir karena ada ruh didalam raga dan itulah yang dinamakan hidup. Kemampuannya berhalusinasi untuk sebuah rasa, penasaran, ketidakpedulian, kesombongan, halus, amarah dan sifat lainnya, mereka semua bermuara dihati. Hati itu seperti hulu sungai, kotor maupun bersihnya sebuah aliran sungai, tergantung dari hulu, sehingga perasaan dan sifat yang berada di hulu air menjadi faktor penentu. Bersangkutan dan semuanya akan menjadi tersisir, memaknai hidup dan bersyukur akan artinya bernafas setiap detik tanpa kita sadari.

"Aku tak lebih dari mereka, akankah aku bisa menjadi seperti mereka."
Pikiran inilah yang selalu berbicara sangat lantang dikepala sang kesepian ini. Kata yang seakan akan menjadi perwakilan dari tidak percaya diri. Bagi sebagian orang mungkin bisa sangat mudah untuk mengaturnya, namun tidak denganku.

"Hebat, dia bisa melakukannya, tapi tidak denganku. Apakah aku bisa melakukannya." 
Ilusi kata seperti ini selalu berdentang dalam hati dan pikiran, karena terlalu memperhatikan kemampuan orang yang memiliki kemampuan berbeda dengan kita. Dan tak pernah satu kali pun kita berpikir untuk tidak menjadi berbeda dengan orang yang hebat, karena kita pikir bahwa kemampuan setiap orang, sifat, keputusan yang diambil oleh semua orang itu haruslah sama. Jika sang hebat memilih satu warna hitam dan kita berwarna putih, maka bagaimana pun caranya kita harus menjadi warna hitam. Karena, dia berbeda dengan kita dan dalam artian tidak berbeda dalam kurun waktu yang sama. Mungkinkah perpaduan sebuah warna menjadi wakil dari sebuah masalah. Mungkin juga, warna kita berbeda dan tidak sama, karena kita adalah yang terbaik tapi kita tidak melihatnya dan sadar akan hal itu.

"Aku tidak bisa melakukan ini, dan kenapa orang lain bisa."
Risau macam ini selalu terngiang didalam kepala dan merajuk pada hati di ujung jalan, melewati pepohonan ambisi yang berdiri tegak di pinggiran jalan. Hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa, karena mereka dipagari pagar panjang membentang bernama Ucapan Kelemahan Memadukan satu warna dan warna lain, maka akan tercipta warna baru dan itu berbeda namun tetap indah, saat kita menggoreskan warna pada sebuah kanvas putih dan perlahan kita menggambar sebuah pola yang indah dan menarik, untuk menyelesaikan pola tersebut kita harus membagi waktu dan memperhitungkan setiap goresan yang akan menghasilkan tebal tipisnya sebuah pola pada gambar, dan ambisi kita adalah menyelesaikannya menjadi mengagumkan dan indah. Dan itulah ambisi, tidak memikirkan apa yang orang lain katakan dan terus maju untuk melewati rintangan tanpa peduli omongan orang lain.

"Kenapa aku harus melakukannya, sedangkan orang lain tidak."
Problematika jaman persamaan dan hidup linier yang harus dikalikan dan diperhitungkan, seperti bilangan pada bilangan faktor ataupun  dieliminasi dan harus dibuat sama terlebih dahulu, untuk menemukan hasil yang benar. Itulah faktor kegagalan yang menjadi poin pertama dalam menggapai bahagia, harus menjadi sama dan malu menjadi berbeda

"Berdiri tegak atau duduk tersingkirkan."
Kisah klasik yang dimutasi menjadi gen tak terbantahkan pada jaman sekarang, sebuah teori masa lalu yang di adopsi menjadi teori perubahan masa kini. 

"Bersyukur atau pulang menjadi keji kembali."

Kata terakhir yang harus kau bawa pada setiap kesempatan, dalam kesepian maka kau akan berwarna saat mengenal Tuhan.

Bangkitlah, wahai Aku. Perjalanan masih panjang dan kau seharusnya tak hidup seperti ini,memikirkan apa kata orang lain, sedangkan kau hanya punya dua tangan untuk menutupi kedua telingamu, atas ribuan ejekan yang bisa siapa saja menghunuskannya pada setaiap media seperti udara dan penglihatan. Jika kau mengenal dirimu, maka kau akan mengenal tuhan, dan baik budi pekerti pun tak akan menghapuskan santun yang terbuang.

Karya : Mashel D. Wakey