Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 7 Agustus 2017   15:58 WIB
KISAH DARI NEGERI MERAJINGGA

Kisah dari negeri Merajingga sangatlah terkenal. Cerita yang sering dijadikan dongeng sebelum tidur oleh orang tua pada anaknya secara turun temurun. Peradaban yang diceritakan oleh para orang tua di merajingga adalah kisah setangkai bunga yang menjadi merah tanpa sebab musabab. Mungkin mereka mempercayainya bahwa itu adalah mistis, maklum masyarakat di sana masih percaya akan makhluk astral dan hal yang berbau kencur padahal itu sama sekali bukan hal yang mistis

 

Selain terkenal dengan keragaman pakaian dan kaus kakinya, negeri Merajingga terkenal dengan produk pertanian yaitu kunyit, namun kunyit ini bukan sembarang kunyit ia mempunyai warna ungu ke merahan. Ini di sebabkan oleh tanah di negeri ini sangat subur dan jenis tanahnyalah yang membuat cita rasa setiap tanaman menjadi berbeda dari setiap musim ke musim. Tidak sampai disitu, tanaman yang unik lainnya adalah tanaman jeruk kojongkang, warna kulitnya berwarna hitam, dagingnya berwarna hijau dan berbau buah anggur, jika dimakan maka rasanya seperti buah delima. Perpaduan yang sangat harmonis untuk sebuah buah jeruk. 

 

Raja yang memimpin di negeri Merajingga sekarang adalah anak dari raja yang kakeknya adalah seorang raja dan sebelum itu ayahnya adalah seorang raja yang pernah memimpin negeri yang sering disebut negeri kencar kencur. 

 

Kenapa negeri ini disebut negeri kencar kencur ? pasti anda bertanya-tanya kan ? 

 

Yap, penyebutan negeri kencar kencur adalah karena satu hari sang putri raja yang bernama Putri Lengleiya Simurama terjangkit penyakit yang sangat aneh, kulitnya tiba tiba memutih dan menurut seorang tabib yang pernah menangani sang putri, penyakit yang menyerangnya itu adalah penyakit yang langka dan sangat susah sekali obatnya. Penyakit yang menurut buku resep ketabiban Rekresia Asmari adalah penyakit Paria Haseum Sesekeleun. 

 

Karena tak kuasa melihat sang putri tercinta yang bermahkota permata merah jingga kesakitan oleh  penyakit yang kalau disingkat oleh bahasa xylendrapananjakan adalah penyakit sesekeleun ini, sang raja pun kemudian mengadakan sayembara. Siapa saja yang bisa menyembuhkan penyakit sang putri, imbalannya adalah sebuah pulau yang berada di atas langit ke dua sebelah kanan pulau carita pandeuri. Pulau yang di jadikan hadiah oleh sang raja adalah pulau karungsing penineungan, pulau yang terkenal dengan emas dan batu berwarna hijau bacannya. Selain imbalan sebuah pulau, sang raja pun akan menikahkan sang putri dengan sang penyembuh jika yang mengobatinya adalah pria yang gagah berani, mapan dan tampan, kalau pria yang menyelamatkannya tidak memenuhi kriteria itu akan menjadi penjaga di pulau katresna samudera. Jika yang mengobati adalah wanita, masih muda dan umurnya maksimal 30 tahun, cantik, pintar dan penyabar akan dijadikan anak angkat oleh sang raja, yang tidak lain adalah menjadi saudara sang putri dan akan mendapatkan gelar putri prajasatimuktriya prakestia. Tapi kalau kriteria sang penyelamat tak memenuhi syarat, maka wanita itu akan menjadi penunggu gunung salaput yang berada di ujung pulau karungsing panineungan.

 

Pada suatu malam  sang raja bermimpi aneh, beliau bermimpi bertemu dengan penjaga kepulauan kencurai maledra, sosok yang besar dan berwajah kucing persia berwarna merah menyala. Penjaga itu memberitahukan sang raja, obat untuk menyembuhkan sang putri adalah dengan mencari seorang petani yang rumahnya berada di dekat pesawahan, petani itu menanam tanaman  Kaempferia Galanga. Tanaman itu bisa menyembuhkan penyakit putri dan cara penyembuhannya hanya meminum air rebusan tanaman dan putri harus menghabiskan air itu sekitar satu teko emas kerajaan sampai habis dan sang putri akan sembuh.

 

Mimpi itu pun membawa sang raja untuk mencari petani yang menjadi petunjuk dalam mimpinya.

 

Dalam pencarian sang raja pun bertemu dengan petani itu, memang sangat mudah untuk menemukan petani Kaempferia Galangai  itu. Raja dan pengawalnya baru melewatkan  tiga windu lebih 5 tahun saja untuk bisa bertemu dengan petani itu, ia melakukan apa yang sesuai dengan petunjuk yang ada mimpinya.

Singkat cerita sang putri telah terbebas dari penyakit yang dideritanya. Sesuai dengan janji sang raja akhirnya  si petani pun menikah dengan putri dan mereka tinggal di pulau karungsing panineungan.

Apakah kalian tahu? Ternyata si Petani adalah sahabat Sang Putri ketika masa kanak-kanaknya dulu. Sayangnya ketika mereka berdua  beranjak dewasa, mereka terpisah karena orang tua si petani pindah ke wilayah lain dan itu menyebabkan hubungan mereka renggang. Alangkah bahagianya sang Putri ketika tahu bahwa si Petani adalah sahabatnya, kebahagiaannya bertambah saat ayahnya memberitahukan si petanilah yang akan jadi calon suaminya. 

Bertetapan dengan hari pernikahan Sang Putri dengan Si Petani, Sang raja pun membuat undang undang untuk penanaman tanaman  Kaempferia Galannga atau yang disebut tanaman kencur, agar di tanam di seluruh penjuru negeri. Karena merasa haru bahagia sang raja pun meninggal dunia dan tahtanya diberikan kepada pangeran indrayana prajandana yang tidak lain adalah saudara sang putri. 

 

Tiba tiba pada satu malam tanaman kencur memiliki nyawa dan memporak porandakan seisi pulau kerajaan,  mereka tidak tahu bahwa kencur yang di tanam oleh para petani di seluruh negeri adalah kencur terkutuk, tanaman kencur dari jelmaan  anak buah penyihir darota marojay. Kemudian dengan mengerahkan kekuatan penduduk, mereka memusnahkan kencur itu. Kencur penyihir pun berlarian tak tentu arah, seperti kocar kacir. Dan dari kejadian itu salah satu anak dari keluarga kerajaan  kelope lopi yang sedang berlibur akhir pekan, memberikan julukan negeri kencar kencur kepada negeri merajingga. Kata "Kencar-Kencur" ini konon katanya adalah plesetan dari "kocar-kacir."

Sebagai bukti untuk penamaan negeri kencar kencur, dibuatlah monumen tanaman Kaempferia Galanga yang mempunyai nama lain 'kencur' di pusat negeri merajingga. Untuk mengenang para pahlawan dan sebagai bukti keberanian penduduk dalam melawan kencur penyihir itu.

Karya : Mashel D. Wakey