Serba Bisa

Hanif Mahaldi
Karya Hanif Mahaldi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2017
Serba Bisa

Kenapa aku bisa bilang begitu?

Harap maklum rekan. Namanya laki-laki setidaknya dituntut harus hebat. Karena akan menjadi kepala rumah tangga. Membawa keluarganya mengarungi samudra dengan kerasnya ombak dan hantaman musim dan cuaca tak tertebak. Sehingga sosok lelaki inspiratif rasanya sudah biasa. Hingga melipir sejenak, menengok pada sosok perempuan.

Serba bisa dan luar biasa.

Pernah dengar ungkapan, "dibalik suksesnya seorang pria, ada wanita yang setia dibelakangnya," kan? Hal ini terbukti di berbagai tautan dan cerita sosial media yang saya simak. Cerita-cerita yang akan saya bagi ini sederhana, namun lupa redaksinya. Maklum ingat saja di kepala tapi lupa-lupa persis detilnya (hanya ingat yang penting saja).

Seorang suami, seorang bapak tentunya, datang ke toko buku. Hanya mampir menunggu istrinya belanja di mall. Seorang rekan juga masuk ke toko buku tersebut. Sama-sama mencari buku. Hingga rekan tadi tak sengaja mendengar pembicaraan seorang suami tadi dengan istrinya.

"Pa, disini toh, ayo." Ajak sang istri setelah selesai berbelanja.

"Bentar Ma, ini loh, menarik judul dan sampulnya." Menunjukkan satu buku.

"Alah Pa, toh nanti juga gak dibaca. Menuh-menuhin tempat saja." Sahut sang istri ketus. Hingga suami tadi pergi mengikuti sang istri keluar dari toko buku tanpa membeli buku yang dimaksud.

Lantas rekan tadi mendekat ke arah rak buku tempat suami tadi berdiri. Ternyata yang dimaksud adalah buku agama dan rekan tadi menarik kesimpulan, "bahkan seorang istri pun mampu membuat hidayah untuk suami tadi tertahan. Karena tak mendukung niat baik suami ingin mengenal lebih jauh tentang agama."

Well, ungkapan di awal cerita ini ada benarnya. Istri berperan besar dalam tindakan suami. Baik langsung maupun tidak langsung. Begitu juga dengan kesuksesannya.

Tapi itu kan cuma segelintir saja.

Bagiku contoh serupa diluar sana banyak sekali. Sama banyaknya dengan contoh seorang suami yang sukses berkat dukungan sang istri.

Betapa luar biasanya perempuan. Untuk dirinya sendiri saja mampu menjadi hebat apalagi untuk suami dan keluarga. Contoh yang berlawanan dari cerita sebelumnya juga banyak.

Misalkan, seorang perempuan, melanjutkan jenjang S2, setelah menikah, lalu setelah lulus mencoba berbisnis, dan berhasil. Cerita ini nyata saya baca sembari mencari hal yang inspiratif di mbah google. 

Raisa Azmi (silahkan cari sendiri ya kisah lengkapnya), sukses membangun bisnis fashion jilbab hingga mempekerjakan 30 karyawan dan juga beromset 1,5 milyar rupiah. Padahal bisnis tersebut dijalani setelah menikah dan masih menjalani pendidikan S2. Hebat bukan main. Aku sendiri mencoba berbisnis semasa kuliah dan ya tahu sendiri kegagalan pun terjadi hingga kini belum memulai lagi. Sedangkan Raisa didukung suami, melanjutkan S2, dan juga berbisnis. 

Padahal bisnis tidak mudah. Ya, itu benar sekali. Apalagi punya omset sudah milyaran. Makin susah lagi. Mampu membuatnya stabil dan mempekerjakan karyawan hingga lebih dari 10 orang. Wah-wah, tidak terbayang beban penuh isi kepala bisa tumpah kemana-mana.

Ah, kan itu contoh satu aja. 

Jangan pesimis kawan. Kali ini pengalamanku sendiri. Sebagai penulis, aku sudah hidu p nyaman dengan idealisme diri sendiri. Istilahnya "makan gak makan ya nulis". Tidak perduli dengan masa depan jadi apa. Tidak perduli karya-karya saya bisa best seller atau tidak. Semuanya cuma nulis. Hingga akhirnya usia semakin berkurang, dan tahun demi tahun dilalui.

Bertemu seorang rekan dan aku ungkapkan curahan hati. Bahwa aku butuh pekerjaan tetap dan berharap dirinya bisa mempekerjakanku dengan posisi apa pun. Karena biaya hidup bulanan ternyata tidak bisa jika dari idealisme nulis tadi. Hari pertama masuk kerja, aku menggarap sosial media. Intinya menjadi jembatan antara produk dengan konsumen. Sulit luar biasa karena produk yang harus aku tangani merupakan produknya kaum perempuan.

Baju ibu hamil dan menyusui lebih tepatnya. Pertama, jujur aku cuek sekali. Karena kupikir ya, produk jualan biasa, fashion perempuan, dan khusus untuk perempuan menikah dan sedang masa-masa akan punya momongan. Pandangan itu berubah seketika saat soft launching diadakan dan dihadiri 100% perempuan. Baik dari kalangan mahasiswi sampai ibu-ibu anak 2 dan 3. Antusias mereka begitu tinggi. Rumpi sana sini. Foto-foto selfi tak henti-henti. Aku disana menjadi orang yang bantu-bantu seadanya kesana dan kemari. Hingga akhirnya sesi tanya jawab pun berlangsung.

Seorang Ibu bertanya pada owner dan co-founder yang juga perempuan berkeluarga, ibu yang telah sukses berbisnis.

"Mbak, mau tanya, bagaimana ya mengarahkan anak perempuan saya untuk bisa terjun berbisnis juga. Tentunya bisnis yang lebih islami seperti produk Lactivers ini?"

Aku cukup kaget karena pertanyaan co-founder untuk sang Ibu adalah "emang anak ibu usia berapa ya? Sudah mau diarahkan berbisnis."

"Usianya 9 tahun mbak, emang dia sudah mulai jualan yang dia sukai, lihat-lihat dari sosial media juga dianya. Takutnya dia nanti jual produk yang kurang sreg sama saya"

Aku terdiam. Jika aku diposisi seorang Bapak yang punya anak perempuan yang lagi coba-coba bisnis, aku tidak akan ambil pusing. Toh bisa saja setahun kemudian anak itu bosan berbisnis atau mencoba yang lain karena pergaulan teman-temannya. Karena merasa takjub aku simpan dan catat dalam smartphone apa yang ibu itu tanyakan. Seorang ibu bisa menjadi hebat luar biasa karena mampu memikirkan banyak hal untuk keluarganya. Aku memaklumi jika kapasitas otakku saja tidak akan memaksa sampai seperti itu. Dengan alasan tentu sebagai bentuk perhatian kepada anak, apa pun yang anak inginkan, kita dukung saja.

Tetapi aku melihat sisi lain dari ibu tersebut berupa dukungan dan kekhawatiran. Agar kedepannya saat terjadi perbedaan pendapat dengan ibunya saat sang anak berbisnis bisa diselesaikan dengan baik.

Salut bu. Salut.

Hingga acara selesai, semangat ibu-ibu itu tetap membara. Banyak yang bertanya tentang cara menjadi agen, keunggulan produk, demo cara menyusui dengan baju tersebut, dan lainnya. Aku pun mengambil banyak pelajaran.

"Apa iya kalau semua laki-laki sukses berbisnis yang sudah berkeluarga, cara pikir istrinya bisa sehebat ini?"

Bisa jadi. Tidak hanya dalam bisnis, dalam hal lain pun demikian. Peran perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata. Hingga meruntuhkan semua sudut pandangku terhadap perempuan.

Bisa berbisnis lebih hebat dari pria. Bisa meneruskan jenjang S2 dan S3. Bisa menjadi orang-orang penting di negara dan perusahaan. Terlebih lagi, menjadi guru yang hebat untuk anak-anak.

Pencarian di mbah google pun harus saya akhiri karena lelah, hingga menemukan satu komentar menarik yang merupakan fakta penelitian di sebuah situs web, "Fyi, tingkat kecerdasan anak itu 80% dari ibunya loooh, jadi kalopun ujungnya berakhir di dapur toh pasti anak2nya udah bakat cerdas juga dari lahir :)))"

Ya, ya, (buru-buru cari istri yang pinter dan sholehah) Huehehehe..

Sekian, dan salam bahagia.. 

Gambar thumbnail adalah Raisa Azmi di SC dari okezone. Gambar artikel dari Lactivers.

  • view 153