Latar Belakang Karya Saya Adalah Ahok

Mas Halfi
Karya Mas Halfi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 November 2016
Latar Belakang Karya Saya Adalah Ahok

Mungkin sebagian orang masih bertanya, apa kelebihannya blogger sehingga saya mengangkatnya menjadi sebuah inspirasi menulis. Pertanyaan itu wajar adanya, karena seseorang perlu tahu atas dasar apa suatu karya dibuat.

Sama halnya dengan karya ilmiah, perlu adanya latar belakang masalah sebelum pembahasan pokok dipaparkan. Karenanya pada artikel ini biarkan saya sedikit berbicara dasar pijak mengapa saya mengangkat topik blogger.

Bismillah,

Belakangan Indonesia dibuat gaduh dengan aksi panggung Pilkada DKI Jakarta. Kegaduhan itu bukan karena apiknya persaingan politik, bukan, melainkan nuansa jatuh menjatuhkan dari masing-masing kandidat.

Secara tidak langsung itu semua mirip dengan hukum rimba. Siapa yang kuat dan berhasil menyungkurkan lawannya, dialah yang menang. Ibarat kata, apa yang terjadi saat ini adalah manifestasi dari perpolitikan kita.

Atas dasar perlawanan, Ahok salah seorang kandidat kuat secara sengaja dimasukkan ke perangkap buatan dan  diserbu oleh kandidat lainnya agar membatalkan dalam kontes Pilkada DKI. Isu yang diusung pun sebenarnya sederhana, yakni perkataan Ahok yang dianggap memiliki muatan 'penistaan terhadap Al Quran'.

Berangkat dari sini, lawan Ahok yang sudah dari dulu bernafsu menjatuhkannya memanfaatkan kesempatan kecil ini menjadi 'basoka' untuk menjatuhkannya. Berbagai cara mereka jalani agar tujuannya sukses.

Mulai dari memperbesar masalah, memberikan seruan pada pengikutnya untuk melawan bersama, sampai melakukan gerakan turun jalan guna menjebloskannya. Semua ini adalah bukti nyata betapa 'terlihatnya' hasrat mereka untuk memenangkan jagoannya.

Meski yang diangkat adalah isu Agama, tapi apa yang mereka lakukan sudah terkesan 'melampaui batas'. Seolah yang namanya Ahok dikesankan seperti Abu Lahab yang benci dan memerangi Islam, sehingga harus dilenyapkan.

Ironi, mengapa ironi, karena cara-cara yang mereka lakukan sudah tidak menunjukkan esensi identitasnya. Yang seharusnya dilakukan secara baik-baik, justru mereka menghalalkan semua cara untuk mencapainya.

Dari sekian cara yang telah dicanangkan, perang media maya adalah salah satunya. Melalui media maya para kandidat saling baku hantam. Hal yang seharusnya ditutup rapat dan tak layak dipublikasikan, mereka pun menyebarkannya.

Alih-alih apa yang mereka suarakan bersifat apa adanya, hampir seluruh suara mereka selalu ada yang ditambahi dan dikurangi. Bisa dikatakan pula, suara mereka yang berserakan di dunia maya tak akan pernah lepas dari misi utamanya, yakni menjatuhkan Ahok.

Saya sendiri sudah bosan dengan itu semua. Bagaimana tidak, hampir kesana kemari saya jalan-jalan di internet, selalu ada konten yang bermuatan 'jatuhkan, lawan, hancurkan’ dan perkataan-perkataan 'bodoh' lainnya.

Sampai saya tak habis pikir, sebenarnya nenek moyang mereka siapa sih, kok sampai-sampainya di negeri Indonesia bukan persatuan yang dijadikan pedoman, justru kepentingan golongan. Naudzubillah juga, hati saya sampai berkata ‘kalau seperti ini terus, besar kemungkinan Indonesia akan perang saudara seperti di Suriah' .

Dari sini sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan satu hal, bahwa blogger bukan seperti 10 + 10 hasilnya berapa, tapi 20 itu berapa tambah berapa.

Artinya adalah blogger adalah sesuatu yang tidak hanya bisa dipahami dari satu sudut pandang saja, melainkan dari sudut pandang mana saja bisa.

Tak ubahnya dengan kasus Ahok. Ketika blogger dipegang oleh kepentingan politik, ia akan menjadi senjata kuat untuk melangsungkan kampanye, mencari pendukung, menunjukkan eksistensi kualitasnya, serta menjatuhkan lawan.

Begitu pula dengan ekonomi. Bila blogger dipegang oleh kepentingan ekonomi, bisa dipastikan ia akan menjadi ujung tombak promosinya. Selain murah, mudah, efektif dan jangkauannya tak terbatas.

Dan semua kepengtingan akan serupa. Inspirasi.co misalnya, ketika dunia blogging dipegang oleh kepentingan inspirator, maka ia akan menjadi rumah inspirasi terbaik. Setiap dinding dan isi rumahnya terbangun dengan nilai-nilai inspirasi.

So, Itulah alasan kenapa saya mengangkat topik blogger sebagai acuan untuk menulis, tidak lain dan tidak salah adalah karena siapapun yang memegang kendali informasi, dialah yang berkuasa untuk mensiasati.

  • view 248